Sudah satu tahun ini aku dan seluruh karyawan di perusahaan ku di wajibkan bekerja dari rumah , karena wabah pandemi masih meningkat . Sudah banyak sahabat ku yang terkena bahkan sampai ada yang meninggal dunia juga . Banyak dari sahabat dan kerabat yang di kirim ke sebuah tempat untuk melakukan isolasi dan treatment ketat, pengobatan langsung dari para tenaga medis agar tidak menulari orang lain .
Saat ini aku tinggal di asrama yang sudah di siapkan oleh perusahaan tempat ku bekerja . Di asrama di isi oleh beberapa karyawan yang datang dari luar kota, seperti aku . Ada yang sudah berkeluarga , ada yang masih single seperti ku .
Untuk yang berkeluarga di berikan kamar sendiri-sendiri dengan dapur dan kamar mandi di dalam nya . Sementara untuk yang single satu kamar di isi oleh empat orang , kamar mandi dan dapur berada di luar kamar .
Dan setiap hari terdapat petugas yang di kirim perusahaan untuk membersihkan dan merapikan asrama dari luar sampai dalam . Kecuali untuk yang membawa keluarga , mereka membersihkan dan merapikan sendiri .
Jadi ketika di wajibkan kerja dari rumah , atau istilah keren nya Work From Home di singkat WFH , betapa ramai nya asramaku . Mereka tidak dapat pulang ke kota masing-masing , mengingat angka kematian yang tinggi.
Kebetulan kamar ku terdiri dari berbagai divisi , jadi kami berinisiatif untuk tetap menggunakan masker meski pun di dalam ruangan , karena ruangan tersebut terisi full sehingga agak susah untuk menjaga jarak .
Bahkan kami membuat peraturan sendiri , siapa pun yang lupa atau tidak pakai masker , maka akan di denda dan di beri sangsi . Denda nya yaitu membelikan makanan tiga kali sehari selama satu minggu untuk penghuni satu kamar secara cuma-cuma alias gratis . Dan sangsi nya adalah dengan menyediakan masker medis untuk penghuni kamar selama satu minggu dan gratis juga .
Aku berada satu kamar dengan Ihsan dari IT , Febri dari GA , Roni dari Accounting , dan aku dari bagian Desain alias tukang gambar . Saat wfh , kami semua memakai zoom untuk meeting dengan divisi masing-masing . Biasa nya aku di meja gambar , ada pengait untuk handphone yang aku pasang untuk meeting online atau pun menerima telepon dari yang lain .
Sehingga aku bisa merevisi gambar ku sesuai rancangan yang di minta perusahaan sambil menerima telepon atau sambil meeting membahas desain , sebelum gambar tersebut aku tuang kan ke dalam versi 3D melalui computer .
Sedangkan Ihsan dan Febri duduk di lantai , Roni di meja yang di sediakan di dalam kamar. Karena hanya ada satu meja dalam kamar .
Sementara itu penghuni asrama lainnya ada juga yang nge zoom di ruang tamu bahkan sampai ke meja dapur juga terisi , dan suara nya seperti suara lebah . Sangat ramai , bersahut-sahutan karena masing-masing ikut bicara saat meeting bersama divisi masing-masing .
Hari berganti minggu , minggu berganti bulan , dan kami masih menjalani hari-hari dengan wfh di sertai dengan prokes yang sangat ketat . Bahkan kami sudah menjalani vaksin lengkap demi mengantisipasi agar tidak tertular virus yang sedang mewabah di seluruh dunia ini , termasuk di negara kami .
Kini perusahaan ku mengadakan system rolling . Sehari ke kantor , sehari wfh . Dan mengadakan tes sebulan sekali untuk seluruh karyawan .
Sementara ini aku dan teman-teman asrama merasa sudah baik-baik saja keadaanya , maka kami tidak lagi menerapkan wajib masker saat sedang di kamar.
Hingga pada suatu hari saat makan siang di kantin kantor , aku mulai merasa kurang enak badan . Namun aku tidak terlalu ambil pusing . Karena aku berpikir ini hanya masuk angin .
Sesampai di asrama , aku minum vitamin dan langsung beristirahat . Agar besok sudah pulih dan segar kembali saat kerja .
Namun perkiraan ku salah ,esok hari nya aku masing kurang sehat. Untung nya hari ini jadwal aku wfh . Sehingga aku bisa lebih santai kerja nya .
Namun aku mulai memakai masker kembali , daya tahan tubuh ku sedang turun jadi harus ekstra ketat jangan sampai tertular virus , pikir ku .
Hari berikut nya aku kembali kerja ke kantor , kondisi ku masih belum fit . Badan ku mulai demam , dan lidah ku pun mulai pahit jika memakan makanan apa pun . Hingga sore nya aku merasa lemas , kehilangan indera penciuman ku , tidak bisa merasakan makanan apa pun , semua terasa hambar .
Aku pun segera di bawa ke klinik yang ada di gedung sebelah perusahaan ku , dan ketika di tes ternyata hasil nya positif mengidap virus . Karena kondisi ku yang sudah mulai turun , akhir nya dengan penanganan prokes ketat aku segera di bawa ke rumahsakit rujukan pemerintah khusus penanganan virus , yaitu Wisma Atlit .
Sesampai nya di sana , aku segera di tangani oleh tim medis yang memakai alat pelindung diri lengkap . Mulai dari di infus , pemberian obat melalui infus mau pun yang langsung di minum .
Berangsur-angsur kondisi ku mulai membaik . Namun belum boleh kembali ke asrama karena masih harus di observasi . Setelah empat hari , aku di pindahkan ke kamar rawat inap biasa .
Masih dengan proses kesehatan yang ketat , pemberian vitamin dan obat-obatan serta menu makanan yang padat gizi . Aku juga di berikan jadwal untuk olahraga dan jemur badan . Semua nya di awasi langsung oleh tim medis .
Setiap pagi setelah sarapan Jam tujuh tiga puluh , aku wajib keluar untuk olahraga ringan dan jemur badan .
Hari ini pun aku keluar kamar, berjalan santai menuju tanah lapang yang di seberang gedung . Tanah tersebut di tumbuhi rumput-rumput pendek , ada beberapa kursi taman juga . Aku masih memakai masker , membawa hand sanitizer , dan air mineral botol kecil . Aku juga membawa handphone dan sebuah buku. Rencana nya habis olahraga ringan , aku akan berjemur sambil membaca buku .
Sesampai nya di tanah lapang , aku lihat di sebelah ujung ada sekelompok bapak –bapak dan ibu – ibu yang sudah berumur sedang berolahraga bersama ,mereka senam-senam ringan , kemudian terdapat penghuni wisma yang lain menyebar , mereka mencari posisi masing-masing . Mata ku mulai menyapu , mencari posisi yang kosong dan berjarak agak jauh dari yang lain .
Setelah sepuluh menit berdiri mengawasi sambil mencari tempat , aku mendapatkan tempat yang agak kosong ke arah selatan lapangan . Aku pun segera berjalan kesana , handphone dan handsanitizer sudah masuk kedalam kantong celana ku . Buku dan air mineral botol ku letakkan di atas rumput .
Dan aku pun mulai pemanasan . Ku ambil napas dalam-dalam , lalu ku hembuskan perlahan dari hidung . Ku ulangi sebanyak empat kali, kemudian ku renggangkan kedua tangan dan kaki ku , lalu aku mulai menggerakkan anggota tubuh ku ke kiri dan ke kanan . Setelah itu aku melakukan lari di tempat , untuk mengeluarkan keringat . Semua nya ku ulangi tiga sampai empat kali .
Setelah berolahraga ringan selama tiga puluh menit , aku pun mencari bangku kosong untuk berjemur sambil membaca buku yang tadi sudah ku bawa .
Ternyata semua bangku penuh , bangku panjang tersebut terisi maksimal tiga orang . Dua di ujung dan satu di tengah . Sebenar nya bangku tersebut bisa terisi lima sampai enam orang untuk kondisi normal . Namun karena ini kondisi pandemi jadi harus berjarak .
Tiba-tiba ujung mata ku menangkap sebuah bangku yang menghadap ke lapangan yang ada tanaman bunga nya , dan jarak kursi itu memang agak jauh dari kursi-kursi yang lain .
Dengan mata berbinar aku segera berjalan ke arah kursi tersebut . Sesampai nya di sana ternyata sudah ada yang duduk , seorang wanita . Duuh tadi ga keliatan kalau udah ada yang nempatin , cewek pula , harus ikut duduk atau mutar balik nih , batin ku dengan grogi . Tapi ini kan baru satu orang , masih banyak kosong nya ,pikir ku .
Dan memang posisi wanita itu terhalang serumpun pohon yang ada dibelakang kursi taman tersebut. Itu lah kenapa tadi Danar hanya bisa melihat ujung kursi yang terlihat kosong .
“ Mas , silahkan kalau mau ikut duduk di sini .. Masih bisa kok “ ucap wanita yang sedang duduk .Aku yang masih berdiri pun menjadi grogi . Maklum interaksi ku Sembilan puluh persen lebih banyak ke teman lelaki .
“Eehh ooh iyaa mbak , makasih banyak ..” ucap ku . Lalu aku pun duduk di ujung kursi . Sementara wanita itu tetap di posisi tengah . Ku lihat ia menggunakan masker yang di lapisi juga dengan faceshield .
Aku pun langsung membuka buku , aku melirik wanita itu . Ia sedang memainkan handphone nya . Ku teruskan membaca .
Entah apa yang ia buka di handphone nya, namun ku dengar sesekali ia tertawa cekikikan . Aku pun menurun kan sedikit buku yang sedang ku baca , kali ini ku lihat wajah nya secara keseluruhan .
Karena ia sudah mengganti masker dengan faceshield . Ku perhatikan dari balik buku, wajah nya , dari samping terlihat hidung nya yang mancung , bibir tipis nya senyam senyum , mata nya yang sipit sedang membaca sesuatu dari handphone nya , rambut di ikat sedikit ke atas , kulit nya putih . Wajah nya asli tanpa polesan make up sedikit pun , mulus dan sedikit oval bentuknya .
Sayang nya aku hanya tukang gambar rumah atau gedung , tidak biasa menggambar mahkluk Tuhan yang indah ini , pikir ku . Ku perhatikan lagi tubuh nya yang sedang duduk , hmm bertubuh mungil , benak ku sambil tersenyum kecil.
Wanita yang sedang di intip tersebut seakan merasakan, tiba-tiba ia menengok ke arah ku . Saking terkejut nya tanpa sengaja aku menjatuhkan buku ku . Segera ku ambil dan ku bersihkan .
Kemudian wanita itu pun menyodorkan tissue basah ke hadapan ku .
“ Pake ini mas, buat bersihin buku nya ..” ucap nya ramah .
“Eh duh jadi merepotkan mbak nya nih “ jawab ku malu-malu . Namun tetap ku ambil juga tissue basah yang sudah ia sodorkan . Ku ambil selembar lalu ku usapkan pada buku ku .
“Sudah , cukup .. terimakasih banyak mbak “ ucap ku kikuk.
“Sama-sama , mas “
“ Mas nya tinggal di kamar inap berapa ?” tanya nya dengan lembut .
“Saya di kamar inap 427 , mbak ‘ jawab ku .
Tanpa sengaja mata ku menatap ke arah nya , dan tatapan kami pun beradu .
Deegg , jantung ku mo copot rasa nya .. aku pun langsung menunduk .
“ Wuah kita bertetangga rupa nya , mas .. aku di kamar 429 “ ucap nya sumringah .
“Kenal kan , nama ku Ardelia .. “ ucap nya sambil menangkupkan kedua tangan di dada nya .
Memang sejak pandemi , kita semua di larang untuk bersentuhan dan harus menjaga jarak . Menggunakan masker atau faceshield setiap saat , kecuali di dalam ruangan tertutup.
“Saya Danar , mbak .. mbak Ardelia sudah berapa lama di sini ?” tanya ku sopan
“ Aku sudah dua mingguan . mas .. Mungkin dalam satu atau dua hari lagi sudah bisa pulang . Karena memang sudah terasa sangat sehat sekarang “ ucap nya
“ Ooohh , ya semoga aja mbak Ardelia bisa segera kembali berkumpul bersama keluarga dan anak-anak , juga bisa beraktifitas lagi .. “ ucap ku .
Tiba-tiba Ardelia tertawa lepas , dan aku pun bingung . Duuhh jangan-jangan aku salah ngomong , apa nya yang lucu ya , dalam hati ku .
“Mas Danar ini .. Emang Ardel keliatan tua banget ya sampai di kira udah punya anak ?” jawab nya dengan memanyunkan bibir nya .
Aku pun jadi merasa tidak enak , karena sudah menyinggung nya .
Duuhh gimana ini , mungkin ia dan suami nya belum di karuniai keturunan kali ya .. Gadis secantik ini pasti suami nya juga keren , dalam hati ku .
Aku yang masih melamun pun di buyar kan dengan suara tertawa Ardelia .
“Heyy mas , kok bengong .. aku Cuma bercanda kok , ga bener-bener cemberut “ jawab nya
“Eeh iya.. engga kok , aku Cuma nebak-nebak aja .. Soalnya kan Ardelia cantik jadi pasti sudah ada yang punya , atau bahkan sudah punya putra putri .. Biasa nya gadis secantik kamu , yang ngantri banyak jadi nya cepet punya pasangan dan lainnya “ jawab ku panjang lebar .
“Maaf ya kalau perkataan ku terlalu terus terang “ ku lirik wajah nya Ardelia , untuk memastikan bahwa ia tidak tersinggung dengan ucapan ku barusan .
“Iya ga pa-pa , mas .. lebih enak terus terang jadi ga kayak main kuis , tebak-tebakan terus “ ucap nya . Kami pun tertawa .
“ Tenang aja mas , aku belum punya pasangan , apalagi anak .. beuh masih jauh , mas “ ucap Ardelia sambil mengibaskan tangan nya dengan mimic lucu .
Iiihh ini anak bikin aku gemes aja deh gaya nya , batin ku .
“ Ooohh , ternyata masuk sini ada hikmah nya juga ya , aku jadi nambah temen .. wanita pula “ jawab ku sambil nyengir .
“ iyaa ,aku juga ..” ucap Ardelia terkekeh .
“Hmm , mas .. “
“Ehh Del ..”
Tiba-tiba kami berbarengan , seketika kami pun terdiam dan akhirnya tertawa ..
“ kamu dulu ..”
“ Mas dulu deh..”
“Ehh kok barengan lagi yaa “ ucap ku . Sementara Ardelia tertawa geli ..
Dia pun memberikan kode , dengan menaruh telunjuk di bibir nya , aku pun mengangguk walaupun belum tahu maksud nya apa .
Kemudian ia berkata “ Boleh ga kalau Ardel minta kita tukeran nomer telepon ?” ucap nya sambil nyengir manja .
“Ooohh tentu aja boleh , tadi juga aku sebenar nya mau minta nomer kamu “ jawab ku .
Lalu kami pun bertukar nomer . Dan hari berikut nya akan janjian lagi di lapangan untuk olahraga dan berjemur bersama , sampai Ardelia pulang.
Dua hari kemudian Ardelia pulang ke rumah , sedangkan aku masih masuk masa observasi sampai dua belas hari kedepan .
Menjelang kepulangan Ardelia , aku memberikan sebuah buku novel yang bergenre komedi sebagai hadiah. Buku tersebut memang sengaja aku bawa dari asrama sebagai pengisi waktu luang , dan masih baru . Belum pernah aku baca , namun aku sudah tahu isi garis besar nya dari synopsis nya .
“Del , ini hadiah kecil buat kamu .. Lumayan buat ngilangin bete “ ucap ku sambil memberikan sebuah buku novel .
“Wuah makasih banyak , mas .. Mmm kayak nya lucu nih “ ucap ku sambil membaca judul nya .
“Nanti aku baca sepanjang jalan deh “ kata ku sambil senyum ke arah mas Danar .
Ku lihat mas Danar menggangguk sambil tersenyum .
“Hati-hati di jalan ya Del .. Sampai ketemu lagi nanti ya “ ucap ku sambil mengantar nya ke depan lobi gedung .
Adelia pun melambai kan tangan nya sebelum masuk ke dalam taksi yang akan membawa nya kembali ke kos an nya .
Ardelia Pov
Setelah berpamitan dengan mas Danar , aku pun segera kembali ke kos an ku . Mas Danar memberi ku hadiah sebuah buku novel , kalau baca dari judul nya saja aku sudah bisa nebak ini cerita nya komedi . Aku tersenyum senang menerima hadiah ini , dan pasti nya akan aku baca sesampai di kos nanti .
Setelah masuk ke taksi , aku merasa sedih . Entah kenapa , apa mungkin karena aku sudah merasa nyaman dengan mas Danar ? Beberapa hari ini bisa ngobrol apa saja , bercanda , dan mas Danar itu lucu . Dengan sikap nya yang apa ada nya , terkadang polos juga , batin ku .
Aku senyum-senyum sendiri mengingat kedekatan ku dengan mas Danar . Kok belum apa-apa aku sudah kangen ya dengan mas Danar , benakk ku .
Lalu aku pun teringat dengan buku novel pemberian mas Danar , ku keluarkan dari tas ku . Ku ambil dan ku dekap sambil ku hela napas dalam . Semoga kamu segera pulang , mas .. batin ku .
Ketika aku buka buku tersebut , tiba-tiba ada sebuah kertas terjatuh dari dalam buku tersebut .
Eeh apa ini .. apakah pembatas buku nya , pikir ku . Setelah aku ambil dan aku cek , ternyata sepucuk surat .
Ku lihat bagian bawah nya tertulis sebuah nama . Dan itu membuat jantung ku berdegup . Segera ku selipkan kembali kertas itu ke dalam buku , ingin rasa nya aku segera tiba di kos agar aku bisa langsung membaca isi surat itu .
Namun aku harus bersabar karena ternyata agak sedikit macet di jalan .
Setelah dua jam perjalanan , akhir nya aku tiba di kos an . Aku pun menyempatkan untuk say hello dengan teman-teman satu kos dan juga ibu kos . Lalu aku masuk ke kamar ku untuk bersih-bersih diri .
Ketika aku akan membereskan barang-barang ku , ku lihat lagi buku novel dari mas Danar . Namun aku ingin membaca nya dengan tenang , sehingga aku selesaikan dulu kerjaan beres-beres ku .
Pov end .
Sekitar jam setengah delapan malam , handphone ku berbunyi . Ku lihat nama yang tertera di layar , oohh mas Danar ,batin ku girang . Dan segera ku angkat ,
“ Halo , mas “ sapa ku , entah kenapa aku merasa senang sekali di telpon oleh mas Danar .
“Halo , Del .. sedang apa ?’ tanya mas Danar
“ Baru selesai makan malam , mas .. Mas sudah makan ?” tanya ku
“Sudah .. “ jawab ku . Lalu kami pun mengobrol sampai kurang lebih satu jam .
Aku menunggu respon Ardelia setelah membaca surat ku , namun sampai telepon ku tutup ia tidak membahas tentang surat itu. Apa ia belum tahu kalau ada surat ku ? atau surat itu hilang yaa ? pikir ku , dengan cemas .
Ardelia pov,
Setelah ngobrol dengan mas Danar di telepon , aku segera mengambil buku novel dan mengeluarkan sepucuk kertas yang terselip . Jantung berdebar kencang , penasaran dengan isi nya . Ku buka perlahan kertas yang terlipat rapi . Sebuah tulisan tangan yang sangat rapi .
Aku pun mulai membaca nya ,
“ Dear Ardelia ,
Sungguh beruntung nya diri ku bisa mengenal mu , keceriaan mu membawa kenyamanan tersendiri yang langsung merasuk ke dalam relung hati ku yang paling dalam .
Kisah-kisah yang keluar dari bibir indah mu telah menemani hati ku yang selama ini kosong . Senyum dan tawa mu telah menghidupkan kembali hati ku yang terkubur .
Hadiah kecil ini semoga dapat mempertahankan keceriaan mu dan menghapus penat mu. Agar pada saat kita bertemu kembali nanti, aku masih bisa melihat dan merasakan kehangatan dari senyuman manis mu .
Dan ketika rindu menerpa , ku sapa kau lewat doa .
Semoga kau menerima semua rasa ku ini , dan bersedia merajut asa bersama .
Salam sayang
Danar,
Ku tutup dan ku lipat kembali surat mas Danar , ku dekap erat . Ada rasa haru , dan senang , tenyata mas Danar itu romantis , pikirku. Ku simpan dengan hati-hati surat itu di dalam kotak khusus , dan ku taruh kotak tersebut di dalam lemari baju ku .
Pov end .
Besok nya ketika aku menelpon Ardelia , terdengar suara nya yang ceria , sangat membuat hati ku berbunga-bunga .
“Halo Del .. Sudah makan siang belum ?” tanya ku , karena saat ini aku menelpon nya saat ia sedang jam istirahat kerja .
“ Halo mas , baru mau makan nih mas ..”
“Mmm Mas , makasih ya buku nya .. sudah ku baca , dan aku suka “ ucap ku sambil tersipu .
“Ooohh iya Alhamdulilah kalau kamu suka .. tapi Cuma itu aja , ga ada yang lain ,Del ?” pancing ku
Terdengar suara Ardelia terkekeh “ Surat nya juga .. “ ucap Ardelia , seolah menjawab keingintahuan ku .
Aku sempat tersipu mendengar nya , namun segera ku sembunyikan .
“Ya sudah kalau begitu kamu makan dulu ya , nanti malam mas telpon lagi ya “ ucap ku dengan lembut .
“Iya mas , dah ..” ucap nya .
Setiap hari aku menelpon nya , sekedar menanyakan kabar . Ardelia bekerja di instansi pemerintah , dan sedang menjalani ikatan dinas nya selama dua tahun .
Dari situ lah aku mengerti kenapa dulu ia bilang masih jauh untuk menikah dan punya anak . Ardelia juga bukan tipe yang suka gonta ganti pasangan , sejak putus dengan mantan nya semasa kuliah dulu , ia belum berniat untuk buru – buru mencari pengganti nya .
Aku yang kini berusia dua puluh tujuh tahun dan Ardelia saat ini berusia dua puluh empat tahun . Seperti nya kami masih menikmati masa-masa berkarir .
Kami banyak membuka hal-hal tentang diri kami masing-masing , sehingga aku berpikir ini awal yang bagus untuk mengetahui cocok atau tidak nya jika hubungan ini berlanjut ke jenjang yang lebih jauh lagi. Uuhh pede banget aku , batin ku sambil terkekeh .
Setelah hampir empat belas hari , aku di nyatakan sehat dan hasil tes ku negative oleh tim medis , Sehingga besok aku sudah kembali ke asrama .
Aku pun segera memberikan informasi ini ke Ardelia , teman sekamar ku , atasan ku dan juga keluarga ku . Mereka semua menyambut gembira .
Dan yang paling gembira di sini adalah aku , karena aku dan Ardelia sudah membuat jadwal untuk bertemu . Ini petemuan kami setelah dari Wisma Atlit .
Aku merasa nyaman ngobrol dengan Ardelia , ia bisa membuat ku relax dan apa ada nya . Anak nya juga memiliki sifat yang terbuka dan apa adanya . Jujur , aku merasa cocok dengan nya , di tambah lagi paras nya yang cantik .
Kali ini aku ingin meminta Ardelia untuk menjadi kekasih ku , aahh semoga ia juga memiliki perasaan yang sama . Minimal kita jalani saja dulu , pikir ku .
Aku berdandan rapi , celana jins panjang warna krem , kaos hitam , sepatu santai . Tak lupa semprot parfum dari atas sampai bawah , sampai bikin teman sekamar ku keki .
“Wooii mandi parfum lo ..udah kayak mbak kunti aja wangi nya “ ledek Ihsan.
“Biasa , orang ganteng mah banyak yang sirik ..” ucap ku sambil mencibir nya dan berlalu keluar kamar . Di ikuti tawa semua teman satu kamar.
Ku nyalakan motor , dan ku ikuti lokasi yang di kirimkan oleh Ardelia melalui aplikasi handphone. Adelia juga merantau di kota ini, ia berasal dari kota B.
Sesampai nya di tempat kos , kulihat Ardelia sudah duduk di teras depan . Ku buka helm ku , dan ia pun segera menghampiri ku sambil tersenyum .
“Dengan ibu Ardelia ..?” tanya ku sambil terkekeh . Ia pun ikut terkekeh dan langsung memakai helm yang ku berikan. Lalu naik ke motor ku .
“Sesuai aplikasi ya pak ..” ucap nya balas meledek ku . Kami pun tertawa bersama . Hari ini kami akan menghabiskan waktu dengan makan dan nonton di mall .
Namun tanpa sepengetauan Ardelia misi khusus yang akan ku lakukan nanti ketika makan bersama nya .
Jalanan masih belum ramai karena masih banyak yang tidak keluar rumah jika tidak urgent , mall pun tidak terlalu padat pengunjung nya . Aku dan Ardelia segera memesan tiket film dan cemilan . Selama kurang lebih dua jam kami menonton film action .
Setelah itu , kami mencari tempat makan . Akhir nya Ardelia memilih salah satu restoran bakmi yang ada di dalam mall ini . Kami pun mencari lokasi duduk di balkon yang menghadap ke jalanan . Semilir angin menerpa wajah kami .
Tidak terlalu bising , dan tidak banyak debu karena memang suasana pandemi masih berlangsung sehingga masih banyak yang membatasi untuk beraktifitas di luar .
Aku dan Ardelia pun segera memesan makanan dan minuman sesuai selera kami masing-masing. Sambil menunggu pesanan kami datang , kami ngobrol dan bercanda.
‘ Del , ada yang mau aku omongin nih ke kamu ..” ucap ku dengan wajah serius . Ada rasa grogi , deg-deg an takut tidak sesuai harapan ku . Namun aku harus menyampaikan dulu sebelum keduluan orang lain , pikir ku .
“Ada apa , mas .. kok jadi serius gitu mukaa nya, aku jadi deg-degan “ jawab Ardelia dengan wajah cemas.
“ Gini del , mas tahu kita baru aja kenal beberapa minggu .. tapi mas merasa nyaman , dan bisa terbuka sama kamu .. Mungkin Del sudah bisa narik kesimpulaan dari cerita – cerita mas sebelum nya , kalau mas susah buat deket sama cewek “ ucap ku , sambil menghela napas .
Ardelia masih diam.
“ Del cantik , pintar , mandiri , ramah , bisa bikin mas terbuka dan relax .. mm mas suka dan sayang sama kamu , Del .. Mau ga kamu jadi pacar mas ?” tanya ku sambil menunduk .
Jantung ku berdegup kencang menanti jawaban Ardelia . Aku berdoa dalam hati semoga Ardelia juga memiliki rasa yang sama .
Sepi .. Hening .. Ku angkat wajah ku , ku tatap wajah nya Ardelia . Wajah nya memerah , ia pun tertunduk sambil memainkan tissue di tangan nya.
Perlahan , ku beranikan diri menyentuh tangan nya yang sedang memainkan tissue di atas meja , ku genggam dengan lembut .
Ku tatap wajah nya yang memerah , lalu ia pun perlahan mengangkat wajah nya dan tersenyum .
Aku pun balas senyum , dan ku lihat ia mengangguk .
“Jadi ..?” tanya ku terputus , sengaja .. biar ia melanjut kan dan menjawab pertanyaanku yang tadi .
“ Iya Ardel mau, mas .. “ jawab nya sambil tersipu .
Alhamdulilah , akhir nya lulus juga dari status jomblo ku selama ini , batin ku .
Hari ini resmi aku dan Ardelia menjadi sepasang kekasih . Hari dan tanggal bersejarah yang akan aku catat agar bisa di rayakan ke depan nya .
*********
Waktu terus berlalu , hubungan ku dengan Ardelia semakin lancar , kini Ardelia sudah menyelesaikan ikatan dinas nya .
Dan sudah mendapatkan penempatan juga , beruntung nya penempatan Ardelia tidak pindah kota . Sehingga tidak perlu berpisah , karena kami masih berada satu kota .
Karena hubungan ini sudah cukup untuk saling mengenal secara pribadi , maka aku dan Ardelia memutuskan untuk melakukan pengenalan ke keluarga masing-masing , sebelum rencana berikut nya berjalan .
Aku dan Ardelia bergantian saling mengunjungi keluarga , kadang kami ke kampung Ardelia di kota B , kadang ke kampung ku di kota P . Kedua orangtua dan keluarga besar kami telah merestui dan saling mendukung hubungan kami .
Bahkan Ardelia juga selalu kirim makanan ke asrama ku , dan membuat teman-teman ku iri . Karena pasangan mereka yang berbeda kota .
Satu tahun kemudian ,
Setelah persiapan selama dua bulan , tiba saat nya hari yang di nanti pun tiba , hari ini aku dan Ardelia melangsungkan pernikahan di kota B , tempat keluarga Ardelia berada .
Tidak hanya keluarga besar tapi Semua teman-teman kerja, kami undang. Agar kami bisa berbagi kebahagiaan ini bersama orang-orang terdekat .
“Saya terima nikah nya Ardelia Zarah binti Abdi Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas di bayar tunai ..” Ucap ku dengan lancar dan lantang , meski pun jantung ku berdegup kencang dan tangan ku gemetar .
“Sah ..?” tanya pak penghulu kepada saksi-saksi pernikahan .
“Sah .. sah ..” Para saksi pun menjawab dengan mantab .
“Alhamdulilah ..” terdengar ucapan dari para hadirin yang berada di acara akad nikah ku dan Ardelia .
Aku menghela napas lega , tak kusangka aku bertemu jodoh ku di Wisma Atlit , batin ku sambil tersenyum menatap Ardelia yang kini sudah sah menjadi nyonya Danar Priambudi .
The End.