Mungkin ini yang di sebut masa unyu unyu,mengalami cinta monyet saat memakai seragam putih biru, masa centil di mana andrenalin terpacu. ingin mencoba sesuatu yang baru dan berlomba lomba menjadi terbaik dan jaim.
Ternyata masa itu datang juga padaku, gadis gembul dengan postur tinggi rambut ikal dan jika aku tersenyum ada ginsul di gigiku yang terlihat jelas.
Seperti gadis-gadis pada umumnya masih suka menye-menye dan
berseloroh sesuka hati.
Hingga di pertengahan musim kenaikan kelas saat pelajaran baru dimulai suara ramai dalam kelas seketika reda, saat Pak Kepsek mengetuk pintu kelas dan berdiri
dibelakangnya tiga cowok keren menurutku sih.
Hingga beberapa saat setelah berbicara dengan guru mapel waktu itu. Akhirnya Pak Kepsek memanggil tiga murid baru ini.
"Kenalkan nama kalian," ucap pak kepsek lagi.
Sembari tersenyum satu persatu mereka memperkenalkan diri.
"Kenalkan nama saya Suga."
Sembari menjawil teman di sampingnya.
"saya Iluy."
Kembali menjawil teman satunya lagi.
"Saya Eris," ucapnya sembari tersenyum.
"Senang berkenalan dengan Kalian," ucap mereka bersamaan.
Serasa satu kelas terhipnotis dengan kehadiran mereka, masih dengan suasana anget-anget kuku dengan kehadiran tiga cowok baru sebut saja Suga, Eris dan Iluy.
Teman sekelas cewekku berlomba untuk mendekat dengan mereka berbagai cara mereka lakukan agar menarik simpati mereka.
Mungkin untuk saat itu. Mereka cowok terkeren tinggi di atas rata rata dengan postur tegapnya benar benar produk unggulan dengan wajah yang cakep menurutku atau mungkin aku terpesona dengan sekilas menatapnya.
Apalagi saat tatapanku tertuju pada Eris cowok tinggi, rambut lurus di potong rapi namun terkesan
macho dan senyumnya serasa makan gula satu pabrik, legit banget.
Namun, tetap saja aku si gembul dengan segala kekuranganku mereka menyebutku seperti itu, tetapi meski aku si gembul tapi otakku bukan gembul paling tidak aku masih peringkat satu di kelasku mungkin itu yang teman-teman suka dariku.
Tak terasa waktu berlalu begitu saja tanpa sengaja aku pun sering memperhatikan sosok Eris ini dari jauh entah saat dikantin, digerbang masuk ataupun saat dia sedang nongkrong diparkiran.
Tak tahu malu memang dan aku sangat menyadarinya aku menyukainya dalam diam dan sering mencuri-curi pandang saat di dalam kelas.
Aku sadar hatiku berdebar saat melihatnya apalagi saat berpapasan dengannya. Ada resah di hatiku saat mendapatinya tak masuk kelas.
"Hei .... "Melamun suara Sinta mengejutkan aku saat menatap bangku kosong diujung sana.
Aku menanggapinya hanya tersenyum kecut dan kembali merebahkan kepalaku di meja.
"Gila ...."Teriak hatiku karena aku kembali memikirkan sosok Eris.
Bukan sulap bukan sihir, kedatangan Eris membuat semangat tersendiri untukku dan seketika wajahku ceria hingga akhirnya lambat laun teman teman menyadari sikapku ini.
Hingga dengan senang hati mereka menggodaku dengan menjodoh-jodohkan aku dengan Eris.
Tapi cowok ini tetap pada jalurnya tampak kalem dan tersenyum berbeda denganku yang langsung nampak blingsatan dan wajahku seketika merah padam.
"Cie-cie yang di tunggu dipintu gerbang," ucap Suga tiba-tiba saat aku datang dan memasuki gerbang sekolah. Namun, aku diam saja tak menanggapi hanya dadaku yang berdebar dengan kencang.
Dan ucapan-ucapan itu seringku dengar hingga akhirnya aku memilih pintu belakang untuk masuk meski sedikit memutar.
"Wei ... mbul ditunggu didepan kok malah lewat belakang," ucap Iluy tiba-tiba mengejutkan aku.
"Husss ... berisik," ucapku sembari melangkah masuk ke kelas.
Suasana makin rame saat masuk kelas kini aku tak berani sedikit pun menatap bangku paling ujung.
"Huufff ...." Rasa panas seketika seluruh wajahku.
Ya, semakin hari godaan teman-teman semakin meningkat kini mereka sudah berani menggodaku dengan menulis namaku dan nama Eris dipapan tulis hingga pada akhirnya kami berdiri di depan kelas dengan memakai tulisan pasangan serasi tahun ini.
Saat ini lah baru aku tersadar dan malu dengan sikapku hingga aku akhirnya mengubah semua perasaanku memendam rasa sukaku dengan memacu semangatku agar di kelas tiga nanti aku bisa masuk ke kelas favorit.
Ternyata usahaku benar-benar membuahkan hasil akhirnya aku masuk juga di kelas andalan dan itu artinya aku tak sekelas dengan Eris dan Suga, tetapi Iluy satu kelas denganku.
Hingga waktu berjalan begitu saja di pertengahan semester tiba-tiba Iluy mendekatiku. "Mbul pinjem buku biologi aku tadi belum nyatet alasan Iluy saat itu. Tanpa banyak bicara aku langsung mengeluarkan buku biologi yang dipinjamnya.
Sedikit memeriksa halaman tengahnya. "Selain biologi bukumu yang lain tengahnya ada yang kosong enggak?"tanyanya aneh.
"Is ... minjem rewel amat," sembari aku keluarkan buku fisikaku memang masih banyak yang kosong.
"Awas kalau kembalinya, bukunya habis tengahnya," sembariku berikan buku itu.
Hingga tak terasa sudah satu minggu Iluy meminjam buku itu tetapi Iluy juga tak kunjung masuk sekolah.
Dengan perasaan dongkol akhirnya aku kembali membeli buku baru dan menyalin kembali catatan fisika.
Hampir dua minggu akhirnya Iluy masuk sekolah kembali dengan tanpa merasa bersalah mengembalikan buku yang dipinjamnya.
"Terima kasih,Ya," ucapnya sembari meletakkan buku yang dipinjamnya ke atas mejaku.
Merasa aku tak memerlukan buku itu akhirnya aku memasukkan begitu saja buku itu dalam tasku .
Hingga akhirnya di minggu ketiga setelah Iluy mengembalikan bukuku teman-teman mulai cerita tentang kepindahan Eris yang secara
tiba-tiba.
Sesaat hatiku berdesir merasa ada sesuatu yang ikut menghilang di hatiku. Perasaaan yang selama ini kupendam dan aku tutupi.
Sesaat aku terdiam mencoba menahan rasaku dan mencoba kembali menutup rapat perasaanku.
Hingga di suatu sore tanpa sengaja aku tengah memilah buku yang telah kupakai, satu persatu kuperiksa hingga saat tanganku membuka tiap lembar buku fisika yang dipinjam Iluy.
Hatiku berdesir hebat saat tiba di tengah-tengah buku nampak foto diriku yang di lukis dengan krayon terlihat nyata dan hidup.
kemudian kini tanganku membuka lembar lainnya
nampak tulisan tangan yang aku sendiri kurang mengerti, ini bukan tulisan tangan Iluy tetapi kini mataku tengah membaca kata pembuka dari tulisan ini.
To. some one
Dear , my gembulku
Maaf... aku telah meminjam bukumu dengan lama nanti aku kembalikan beserta bunganya saat kita di pertemukan kembali.
Saat gembulku membaca ini. Berarti aku sudah jauh. Ya, jauh sekali dan aku tak bisa menyebutkan itu di mana.
Hai, Mbul ... masih ingat dengan aku ... teman yang kau tinggal maju selangkah dan tak pernah menoleh kembali ke arahku
Mbul ... terima kasih sudah menjadi bagian dari ceritaku meski itu hanya satu tahun dari perkenalan kita meski secara tak langsung.
Mbul ... aku suka panggilanmu meski menurutku namamu lebih cantik Ariani Damayanti
Mbul ... jangan merasa aku tinggalkan kuharap kau ikhlas jika bayanganmu dan gambarmu menjadi teman sepanjang perjalanku.
Mbul ... aku hanya berharap kau suka dengan lukisanku.
Mbul ... jika nanti kita
dipertemukan lagi, jangan pernah berubah aku akan mengingat senyum dan gigi gingsulmu itu.
Dan aku ingin kau terus mengingat hukuman yang kita jalani berdua di depan kelas.
Mbul ....
Mbul ....
Aku tak bisa mengatakan saat ini. Tapi suatu saat nanti jika kita bertemu dan memang kau untukku aku pastikan aku akan meyakinkan itu padamu.
From. my yang selalu mengingatmu.
Seakan jatungku berhenti berdetak saat itu juga,berulang kali kubaca ini ungkapan rasa atau sekedar ke isengan Eris. Sesaat air mataku jatuh dengan sendirinya. ya, ternyata kami sama-sama memendam rasa secara diam-diam.
To some one
Terima kasih sudah menjadikanku cerita yang indah dan aku percaya semuanya akan tetap indah. Ini lah yang kutulis di akhir surat Eris.
END