Anya Antrisya. Seorang gadis 20 tahuan yang untuk pertama kalinya menaruh hatinya sepenuh jiwa untuk mengagumi sesosok yang didambakannya. Anya selalu menjaga hatinya. Bertahan dan ia tak pernah jatuh. Meski sempat mengagumi, ia tak pernah tahu bagaimana rasanya meletakkan hatinya pada seseorang. Namun, sosok itu merupakan lain cerita. Untuk kali pertama, Anya tahu seperti apa rasanya berharap dengan sepenuh hatinya.
Saat itu harinya seperti penuh dengan bunga. Tidak ada sedikitpun waktu yang terlewat tanpa memikirkannya. Melakukan apapun, sosok itu selalu hadir dalam bayang dan mengukir senyum di wajah Anya meski hanya membayangkan. Sosok itu seperti candu, yang tak pernah luput meski hanya seujung waktu.
Anya begitu antusias untuk segala tentangnya. Meski awalnya dilanda penuh ragu. Namun saat sosok itu menanggapinya, ia pun menjadi sangat menggebu. Anya merasa sangat bahagia. Sekedar notifikasi pun menjadi spesial ketika notifikasi khusus dirinya berbunyi. Sedang tidur pun akan terbangun. Sedang makan pun, makanan menjadi hidangan yang nanti-nanti. Tidak lupa, tiap doa yang Anya panjatkan selalu tentangnya. Berharap kelak bisa bersama dengannya. Mabuk. Mabuk rasa yang menggebu tak tentu arah. Itulah Anya saat ini.
Hati Anya kian merekah. Harapnya melambung semakin dalam. Seluas lautan, sedalam samudera, juga setinggi langit yang tak tergapai, ia sangat sangat menyukainya. Jika saja bisa mengintip masa depan, ia ingin tahu akhir kisah dirinya dengannya. Tapi apalah arti sebuah logika, ketika perasaan begitu menggelora. Anya lupa, bahwa akhir sebuah kisah tidaklah selalu bahagia tentang dirinya. Bukankah kebahagiaan dia yang Anya doakan, bisa saja tanpa dirinya di dalamnya?
Ketika musim semi menghiasi harinya, tidak lama kemudian petir menggelegar. Hatinya dipenuhi rasa takut dan cemas. Tatkala ia akan semakin jauh dari sang pujaan hati. Yang tentu saja masih ia simpan seorang diri. Cintanya sepihak. Dalam diam. Dalam hening. Namun teramat dalam. Ia telah sangat menunjukkannya. Ia juga telah berdoa sepanjang waktu untuknya. Ia telah begitu mendamba dan berharap begitu banyak pada sosok yang bahkan tidak mengenal baik diri Anya sendiri. Rasa takut, cemas, juga harap yang melambung begitu tinggi membuat Anya tidak karuan. Tapi hatinya bertahan. Percaya bahwa "semua akan indah pada waktunya."
Sosok itu menjadi bayangan yang kian rapuh. Jauh dan tak tergapai seiring jarak yang kian melebar. Hati Anya dipenuhi rasa takut dan cemas, tapi kepercayaannya masih bertahan dengan kuat bahwa sosok itu tak akan pergi. Tak akan menjauh lebih dari ini. Ia hanya perlu terus menjaga komunikasi. Tetap seperti sebelumnya. Dan sosok itu tak akan hilang. Tapi... di suatu malam yang cerah, hatinya mendung dan badai menggelegar hebat dalam dadanya. Membuat matanya menjadi begitu lelah mengeluarkan serpihan memori dan harapan yang berbalik menusuk relung jiwanya begitu dalam. Anya jatuh dengan sempurna, remuk tak bersisa.
Sebuah foto sosok yang ia dambakan, prewedding dengan gadis yang bukan dirinya beserta sederet kata undangan pernikahan menjadi ujung tombak yang menghunus Anya tepat di jantungnya. Anya hancur. Rasanya dunia Anya telah runtuh. Anya kehilangan guratan senyum dan musim semi nya. Menorehkan luka dan menyayat begitu hebat. Dengan tubuh gemetar dan buliran air mata yang tertahan di matanya, Anya mencoba mengetik komentar. "Selamat ya, semoga bahagia".
'Ah, ternyata ini akhir kisah kita...' pikir Anya. 'Yang selalu membuatku ingin tahu..' lanjutnya lalu meluruh di atas dedaunan kering di taman terbengkalai. Anya termenung. Malam itu membisu, dengan isak tangis Anya yang bersatu padu dengan guratan pilu.
Di bawah rembulan yang bersinar terang, malam indah bertabur bintang, dengan hamparan danau dan kunang-kunang yang lalu lalang menjadi tombak lain yang menusuk Anya. Nuansa sekitar begitu indah dan membahagiakan, tapi hatinya seperti berada di ujung kehidupan. Air matanya terus mengalir, sebanyak rasa sakit yang diterimanya saat itu. Di tengah keindahan, ia hanya memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya yang berderai air mata.
Butuh waktu bagi Anya untuk membenahi hatinya kembali. Anya tidak pernah mengira akan jatuh saat ia sudah membangun tembok begitu tinggi. Tembok yang bertahan selama 20 tahun lamanya, dihancurkan oleh sosok itu. Tapi bukannya penuh kebahagiaan, justru penuh dengan rasa sesak yang mengantarkan mati perasaannya. Hari pernikahan sosok itu telah lalu, menyisakan hati yang tak lagi bergeming akan rasa sakit ataupun kebahagiaan. Hampa. Kosong. Datar. Cahaya telah redup. Mendatangkan kehidupan abu-abu.
Waktu pun berlalu. Di malam sunyi ketika ia kembali memandang langit yang bertabur bintang, Anya merindukannya. Merindukan seseorang yang kini tak lagi ada di hatinya. Tapi masih menggenang di pelupuk memorinya menjadi bagian dari masa yang lampau. Anya merindukannya. Merindukan sosok yang mengubah musim panasnya menjadi musim semi, sebelum akhirnya mendorongnya hingga mendatangkan musim dingin yang membekukan hati dan jiwanya. Anya rindu, segenap aksara pun menjadi saksi bisu. Betapa Anya merindu.
Kepingan rindu terus menyatu
Membentuk bayang siluet yang semu
Angan membawaku kembali bertemu
Meski hanya dalam bunga tidur yang membuat c.a.n.d.u
Ah, ternyata aku masih sangat merindu
Padahal kamu hanyalah ingin yang menggebu
Yang tak lagi bisa ku harapkan bersatu
-Anya Antrisya (1994)
Ketika kamu mempercayai bahwa semua akan indah pada waktunya, jangan pernah lupa untuk terus mengingat bahwa sebelum semua menjadi indah... Masa suram, kelam, badai, mendung, dan gelap yang merundung akan panjang. Maka bertahanlah, sampai kamu benar-benar menemukan keindahan yang ditunggu-tunggu penuh damba dan kesabaran.