Siang itu Renata hanya duduk termenung di bawah pohon mangga di halaman belakang sekolahnya. Sekolah sudah mulai sepi, tinggal beberapa siswa yang sedang menunggu jam ekstra di sore hari.
Renata biasa menunggu di cafe seberang sekolah sebelum ekstra menari yang diikutinya di mulai. Tetapi kali ini Renata hanya duduk termenung di bawah pohon mangga dengan sebuah ponsel di tangannya.
Beberapa kali notif dari pesan whattsaap terdengar lirih di tangannya. Tetapi Renata tak juga membukanya.
Renata hanya termenung berdiam diri saja. Matanya terlihat menerawang seperti sedang bergelut dengan banyak masalah.
" Re, papa mau kamu berhenti sekolah dan pindah ke Aussie bersama papa. Papa tidak mau kamu tetap stay di Jakarta tanpa pengawasan papa mama. Jadi mengertilah ! Papa tidak mungkin bolak balik Aussie - Jakarta setiap hari. Perusahaan di sana sedang memerlukan papa. " ucap Papa Dirga terdengar tak terbantahkan tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke sekolah.
" Tapi Pa, Rere gak mau pindah. Masa setiap tahun pindah school. Rere sudah lelah pindah sekolah dan selalu beradaptasi dengan lingkungan baru. Rere berani koq tinggal sendiri. Percaya sama Rere, Pa Ma. Rere bisa jaga diri, " Ucap Rere menyanggah permintaan Papanya.
Tapi perintah Papanya adalah seperti titah raja yang harus dilaksanakan.
Rere termenung sejenak. Hari ini terlalu banyak kejutan yang membuat Renata tak bersemangat mengikuti jam pelajaran di kelas.
Apalagi tadi pagi ketika dirinya masuk ke kelas. Seperti biasa Renata duduk paling belakang di sisi kanan. Setelah meletakkan tas di bangku dan meletakkan buku tebal di laci tanpa sengaja mata indahnya melihat sebentuk kertas dengan amplop berwarna biru muda yang terletak di lacinya.
Ada tulisan di amplop biru " teruntuk Renata " Sebuah tanda tanya tercetus dalam pikirannya.
" Dari siapa ? " gumam Renata. Matanya menatap sekeliling kelasnya. Masih lengang dan hanya dirinyalah yang baru datang di kelas itu.
Tangannya meraih lembaran kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku baju seragamnya. Karena dari arah pintu muncul teman - teman sekelasnya yang mulai berdatangan.
Sepanjang pelajaran hari ini Renata tidak konsentrasi karena selain terpikir dengan kepindahannya ke Aussie, juga soal surat beramplop biru muda yang membuatnya penasaran.
Renata mengambil lembaran kertas dari saku bajunya dan membacany sekilas. Hatinya sedikit berdesir. Ada sesuatu yang mengusik hatinya dan membuatnya bergetar.
Renata perlahan membaca sekali lagi baris - baris kata yang tertulis rapi.
Teruntuk : Renata
Hari itu aku pertama kali bertemu denganmu
Gadis cantik dengan rambut panjang yang selalu tergerai indah
Wajah cantik dengan senyum manis yang menawan
Aku terpana melihatmu
Terpana dengan parasmu
Aku tertarik
Tapi ternyata dirimu bukan gadis yang mudah berteman
Kau seakan acuh dengan semua orang di sekelilingmu
Ku coba menarik perhatianmu dengan cara apapun
Tapi tak juga ku dapati mata indahmu memandangku
Aku hanya bisa memandangmu dari jauh
Mengagumi dirimu yang cantik dan cerdas
Apalagi dirimu yang terlihat gemulai saat menari di event ulang tahun sekolah minggu lalu
Hatiku semakin tertarik
Re, bolehkah aku menjadikanmu gadis terindah yang menjadi cita - citaku ?
~ dari seorang yang mengharapakanmu.
Renata meremas kertas tersebut.
" Lebay, " gumamnya jengah. Tapi sebuah perasaan berdesir membuat wajahnya bersemu merah.
" Selalu seperti ini, inilah yang membuatku enggan untuk bergaul. Aku lebih senang menutup diri, supaya aku tidak mudah jatuh hati dan akhirnya patah hati di masa SMA. Apalagi papa yang selalu berpindah tugas. Aku tidak mau kehilangan kekasih sekaligus sahabat seperti saat dengan Al. Akh ... bikin bad mood aja. " Renata melempar kertas yang sudah diremasnya ke sembarang arah.
Kemudian Renata bangkit berdiri dan meninggalkan halaman belakang dengan langkah menghentak.
Sesaat setelah Renata pergi, seseorang muncul dari sisi yang lain di bawah pohon mangga. Arjuna Diwangkara melangkah mendekati kertas yang dibuang Renata tadi. Senyumnya terlihat kecut, perasaannya tak terbalas.