KISAH CINTA Dua Sahabat
Author: Sedang Sibuk
Cast Tokoh 👇🏻
Amanda Manopo ast Kavya
Mischa Candrawinata ast Verry
Glenca Chysara ast Mahi
Rendy Jhon ast Samir
Selamat Menonton FTV versi SanitaComel 😆
..........................
Di sebuah kota Jakarta, terdapat dua gadis cantik.
Almahira Farhana👇🏻
Gadis cantik berusia 21 tahun berparas lembut, periang, mandiri, dan pekerja keras.
Merupakan anak tunggal dari pasangan Fahri dan Maira.
Kavya Anggraini👇🏻
Gadis berusia 21 tahun centil, dan pandai bergaul,, dia tinggal sendiri dirumahnya, hanya bersama pembantunya dikarenakan orang tuanya pindah ke luar kota. Dan kavya memilih menetap di Jakarta ,, dia anak tunggal dari pasangan Syarul dan Kayla.
Mereka adalah sahabat sejak dini, sejak duduk di bangku sekolah,, karena tempat tinggal mereka berada dilingkungan yang sama, mereka menjadi sangat dekat sejak kecil.
Hari ini mereka mendapat cuti dari kantor tempat mereka bekerja,, kedua gadis itu sedang duduk santai di balkon kamar mahi.
"Hey, mahi ,, liburan begini, apa kita dirumah saja?" kavya melirik mahi
"Umm, ntahlah" balas mahi acuh
"Bagaimana kalau kita liburan?" kavya terlihat antusias
"Liburan? Boleh juga,, kau ingin berlibur kemana?" mahi bertanya balik
"Hah, kita berlibur kerumah tante mu saja,, kau bilang tante mu tinggal di Bandung kan? Kebetulan aku belum pernah melihat kota Bandung" kavya memasang wajah sok imut
"Hmm, baiklah,, aku setuju" mahi tersenyum menatap kavya
"Asik, kapan kita akan pergi?" kavya terlihat senang
"Hari ini juga bisa" jawab mahi santai
"OK, kalau begitu aku bersiap dulu ya" kavya meninggalkan kamar mahi,,
Setelah kavya pergi,, mahi juga mempacking barang yang akan dia bawa untuk liburan.
Sekitar 1 jam kemudian, mahi sudah bersiap untuk berangkat,, gadis itu sedang menunggu sahabatnya di mobil.
Tak lama kavya datang sambil berlari setelah menaruh koper di bagasi,, kavya langsung masuk ke mobil.
"Kau lama sekali,, aku sudah jenuh menunggu mu dari tadi" mahi terlihat kesal
"Maaf, aku susah memilih baju yang pas" kavya sedikit cengir
"Kau memang selalu begitu kavya" mahi memutar bola matanya malas.
Mahi langsung fokus menyetir ke jalanan yang cukup padat lalu lintas.
Mereka berangkat pukul 09:00 pagi
Dan sampai dibandung pukul 11:30 karena memakan perjalan lebih kurang 2 setengah jam.
Sesampainya disana mereka disambut dengan hangat oleh tante nya mahi yang bernama Marisa.
"Hai tante" sapa mahi dan kavya bersamaan
"Tante apa kabar?" tanya mahi
"Alhamdulillah tante sehat , orang tuamu gimana kabarnya?"
"Papi dan mami alhamdulillah baik kok tante"
"Syukurlah kalau begitu"
"Oh ya tante boleh tidak aku dan sahabat ku kavya akan menginap 1 pekan ini karena saat ini kami sedang liburan"
"Tentu saja boleh" jawab marisa,
"Ayo masuk" kata marisa mempersilahkan mahi dan sahabatnya
"Terimah kasih tante" mahi dan kavya berbarengan
"Ini kamar untuk kalian berdua beristirahatlah tante tinggal dulu ya"
Mahi langsung menaruh dan mengeluarkan serta menyusun barang yang ada dikopernya , begitu juga dengan kavya sampai akhirnya mereka pun selesai.
Tok - tok !!!
Mahi membuka pintu dan ternyata tante marisa sudah ada di depan pintu,,
"Ayo kita makan siang" ajak marisa karena waktu sudah munjukkan pukul 1 siang
Mahi dan kavya berjalan menuju ruang makan mengikuti tante marisa , disana sudah ada om fazar suami marisa.
^karena tantenya tidak memiliki anak jadi hanya tinggal berdua dengan suaminya^
Mereka makan dengan hening tanpa bersuara hingga selesai , setelah itu mahi membantu marisa membersihkan piring kotor,,
Sementara kavya langsung beranjak dari meja makan kembali ke kamar untuk beristirahat.
Selesai sudah mahi membantu marisa,, dia langsung menghampiri sahabatnya yang sudah berada di kamar duluan.
Dikamar terlihat kavya sudah tertidur,, mahi pun ikut berbaring di sebelah kavya.
Tak terasa hari sudah sore mahi terbangun dari tidurnya,, mahi bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mahi menatap kavya yang masih tertidur,,
"Kavya" mahi menepuk lengan gadis itu
"He, kavya bangun" teriak mahi
"Hmmm" hanya itu suara yang keluar dari mulut kavya
*ahh, dasar tukang tidur* batin mahi geleng kepala
"Kebakaran" teriak mahi tepat di sebelah telinga kavya
"Hah, kebakaran? Dimana kebakaran" sontak kavya langsung bangkit berdiri kebingungan.
"Hahaha" mahi terkekeh melihat kavya
"Mahi, kau mengerjaiku" teriak kavya kesal
"Makanya kalau ku suruh bangun ya bangun,, ini mala molor terus" ucap mahi sambil tertawa
"Ihh, mahi" kavya melempar bantal
"Aww, kavya kau" mahi terkena pukulan bantal dari kavya
Mahi juga melempar balik, akhirnya kedua gadis itu perang bantal di sore hari.
"Sudah,, kau mandi sana" ucap mahi menyudahi perang bantal mereka
"Bau tau" mahi menutup hidungnya, mengejek
"Enak aja, aku gak bau ya" kavya mencium tubuhnya sendiri
"Cepat mandi,, setelah itu kita jalan jalan" balas mahi sambil merapikan tempat tidur.
"Memang nya kita mau kemana mahi? Apa kau tidak lelah diperjalanan tadi, lebih baik kita istirahat saja dulu"
"Ayolah kavya, cepat" pinta mahi
"Aku sudah sangat bosan diam mulu dikamar, lagian aku ingin melihat pemandangan indah disore hari"
"Yaya, baiklah aku ikut apa mau mu mahi" teriak kavya masuk kedalam kamar mandi.
Setelah berdandan dan memastikan penampilan mereka,, mereka pergi dan tidak lupa berpamitan dengan tante marisa , akhirnya mereka tiba di sebuah kebun teh.
Mahi begitu menikmati udara yang sejuk begitu juga dengan kavya,,
Saat mereka sedang asik berjalan disekitar kebun, ternyata ada seorang pemuda yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.
Samir Daulay 👇🏻
Seorang pemuda bernama samir yang merupakan anak dari pemilik kebun teh tersebut, dia berpropesi sebagai seorang pelukis.
*sungguh cantik , baru kali ini aku melihat gadis seperti dia, siapakah dirinya* samir tersenyum menatap mahi
Samir akhirnya memberanikan diri untuk mendekati mahi dan kavya,,
"Hai" sapa samir pada mahi,
"Bolehkah aku berkenalan denganmu?"
Mahi pun terkejut melihat pemuda yang sudah ada di depannya,, tidak dengan kavya yang melihat pemuda itu dengan penuh arti.
*sungguh tampan pemuda ini , aku harus mendapatkannya* kavya senyum tidak jelas
Mahi tersenyum dan mengulurkan tangannya,
"Aku mahi dan ini teman ku kavya"
"Aku samir, senang bertemu dengan mu" samir tersenyum
"Sedang apa kalian disini?" tanya samir pada mahi,
"Kami sedang berlibur" jawab mahi santai
"Ya, itu benar,, kami mengunjungi tante mahi yang ada disini" kavya menimpali
*pantas saja aku tidak pernah melihat mu,, dan kau berhasil membuat ku jatuh cinta padamu* batin samir.
Mahi terlihat biasa saja , tidak dengan kavya yang terlalu kecaperan pada samir.
"Rumah tantemu dimana? biarkan aku mengantar kalian pulang" samir menawarkan diri
"Tidak jauh dari sini kok samir , jadi tidak perlu repot - repot..." belum selesai mahi bicara
"Ya tentu saja, itu bagus" kavya sudah mengiyakan tawaran dari samir.
"Kavya kamu apa apaan sih , baru juga kenal main langsung bilang iya aja" bisik mahi pada kavya
"Ya ampun mahi gak apa kali dari pada kita balik sendiri kan mendingan di anter" sahut kavya.
Akhirnya mahi pun setuju dianter pulang sama samir.
Diperjalanan menuju rumah tante marisa mahi hanya diam,, sedangkan kavya selalu menggoda samir yang sedang menyetir, membuat pemuda itu risih terhadap nya.
Sekarang mereka sudah sampai dirumah tante marisa,,
"Terimah kasih sudah mau mengantarkan kami pulang" mahi menundukkan wajahnya
"Sama sama" balas samir sambil melajukan mobilnya.
"Assalamualaikum" mahi dan kavya masuk kedalam,
"Walaikum salam" jawab marisa.
"Kalian dari mana saja? Sampai petang gini baru pulang?" tanya marisa
"Hanya jalan - jalan saja kok tante" jawab mahi.
Hari kedua di Bandung, samir datang kerumah tantenya mahi.
Tok - tok !!
"Mahi coba lihat siapa yang datang" suruh marisa
Mahi pun membuka pintu , dia terkejut ternyata samir yang ada di depan rumah tantenya.
*samir, mau apa dia datang kerumah tante* mahi terlihat heran
"Siapa yang datang mahi" kata marisa
"Samir tante pemuda yang mengantarkan kami semalem" sahut mahi
"Suruh masuk , jangan biarkan tamu terus diluar mahi"
"Baik lah tante"
"Silahkan masuk" samir mengikuti mahi masuk kerumah tante marisa,
"Hai tante" sapa samir pada marisa.
"Ternyata kamu samir,, apa yang membuat mu datang kerumah?" tante tanya marisa
"Samir ingin mengajak mahi jalan jalan tante, apakah boleh?" melirik mahi
"Tentu saja boleh, tanyakan sendiri dengan mahi" jawab marisa,
"Kira tante tadi ada masalah" lanjut marisa
"Tidak kok tante" samir tersenyum
Ternyata suami marisa (om fajar) bekerja di tempat perkebunan milik orang tua samir sehingga tante marisa mengenal samir.
Akhirnya mahi mau di ajak jalan dengan samir,, sedangkan kavya sangat tidak suka melihat mahi dan samir jalan bersama.
Samir dan mahi berpamitan dengan tante marisa.
"Kau ingin mengajakku kemana samir?" mahi penasaran
Samir tidak menjawab hanya fokus dalam menyetir.
Hingga mereka tiba di sebuah galeri,, tempat yang biasa diadakan pameran lukisan
"Ayo masuk" ajak samir pada mahi, samir memperlihatkan semua hasil lukisannya pada mahi
Mahi pun takjub dengan hasil karya samir
"Apa kau yang melukis ini semua samir, sungguh indah samir" mahi terpukau dengan keindahan lukisan
"Ya dari kecil aku memang sangat suka melukis , sampai sekarang aku terus melukis"
Tak sengaja mahi melihat sebuah lukisan, lukisan itu ternyata gambar dirinya saat sedang berada di kebun teh waktu itu.
^ya lukisan itu begitu indah dipandang mata guys,, apa lagi yang lukis cowo ganteng wk :D^
"Samir lukisan ini apa kau juga yang melukisnya? kau melukis diriku secara diam diam? kau sangat curang" gadis itu sedikit kesal
"Ya mahi, karna dari awal aku melihat mu aku sudah menyukaimu" samir menatap mahi
"Apa?" mahi terkejut
"Tapi kita kan baru saja bertemu samir, kenapa kau begitu cepat menyukai diriku"
"Ya mungkin inilah yang dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama" samir masih terus menatap gadis di hadapannya
"Sekarang sudah sore samir,, sebaiknya kau mengantar ku pulang , tante pasti sudah menungguku" mahi terlihat risih dengan sikap samir
Samir mengantarkan mahi pulang dengan mobil nya.
Hari demi hari dilewati mahi dan samir semakin akrab,, sepertinya mereka sudah saling menyukai, membuat kavya semakin iri dengan mahi.
Hingga tiba waktunya mahi dan kavya kembali ke jakarta, karna waktu cuti mereka sudah selesai.
Samir sangat sedih mendengar kabar tersebut,, dan lansung menemui mahi.
"Samir aku akan kembali ke jakarta" pamit mahi
"Mahi tidak bisakah kau lebih lama lagi disini? aku masih ingin dekat dengan mu" samir memohon
"Maaf samir tapi aku harus pulang, aku masih harus bekerja" mahi juga terlihat sedih
"Bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?" tanya samir,
Mahi memberikan nomor ponselnya pada samir.
"Terimah kasih" kata samir.
Ternyata kavya melihat mereka berdua,, dia cemburu terhadap mahi, merasa mahi telah mengambil pemuda yang dia sukai.
Akhirnya mahi dan kavya berpamitan pada tante marisa,
"Tante terimah kasih karna sudah memberikan kami tinggal disini" mahi memeluk tantenya
"Tidak usah berterimah kasih tante sudah menganggapmu seperti anak tante sendiri" marisa menepuk bahu gadis itu
"Kami pulang ya tante,, tante baik baik di sini ya jaga kesehatan" mahi melepas pelukannya
"Ya tante akan jaga kesehatan kamu juga harus begitu ya , hati hati di jalan" marisa tersenyum
"Dah tante" mahi melambaikan tangan, yang juga dibalas oleh marisa.
Diperjalanan menuju jakarta mahi dan kavya tidak saling bicara, mungkin kavya masih iri dengan mahi.
Setibanya dijakarta mahi dan kavya kembali kerumah mereka masing masing.
Ditempat lain samir masih memikirkan mahi sambi melukis , hingga dia pun ber'inisiatif mengirim pesan pada mahi.
**Kepada Mahi ❤ :
Mahi gimana kabar mu , apa kau sudah sampai jakarta ?
Pesan Terikirim**
Drt ... drt... ponsel mahi pun bergetar.
Mahi membuka pesan dari samir.
**Isi percakapan dalam chat
Mahi : Aku baik samir , ya aku sudah sampai dijakarta
Samir : Syukurlah kalau begitu , aku sangat mencemaskan mu
Mahi : Apa benar begitu samir?
Samir : Ya mahi
Percakapan pesan pun berakhir**
Dirumah nya mahi sedang memikirkan kenapa sepanjang perjalanan tadi kavya sama sekali tidak bicara denganya,
*apa sebenarnya yang terjadi* pikir mahi
Ke'esokan harinya mahi mengunjungi kavya kerumah nya, mahi ingin bertanya kenapa kavya mendiaminya
Tok - tok ...
"Assalamulaikum"
"Waalaikum salam" sahut kavya sambil membukakan pintu,
"Masuk mahi" ajak kavya
"Kavya kenapa sih kamu jadi begitu cuek dengan ku,, apa aku ada salah padamu?"
"Mahi apa kau tidak peka terhadapku sebagai seorang sahabat?" kavya to the point
"Jika memang aku ada salah tolong jelaskan,, jangan diami aku kayak gini dong" mahi menatap kavya heran
"Kamu mau tau kenapa aku kayak gini? aku begini karna aku cemburu melihat mu bersama dengan samir"
"Apa? jadi gara gara ini kau menjauhiku? jangan begitu kavya kau adalah sahabat terbaikku" mahi sedikit kaget
"Kalau begitu menjaulah dari samir,, karna aku sangat suka padanya" pinta kavya
"Baiklah aku akan berusaha menjauh dari samir,, jika itu membuat mu senang dan tidak merusak persahabatan kita kavya" mahi mengalah
Mahi akhirnya izin pulang pada kavya , tanpa mendengar jawaban kavya mahi langsung pergi meninggalkan rumah kavya.
Mahi terlihat sedih , karna dia harus menjauhi orang yang dia sayang demi persahabatan nya.
Sampai dikamar, gadis itu menangis ,, karena merasa serba salah.
Sampai beberapa hari mahi tidak membalas dan mengirim pesan pada samir,, hal itu dilakukan agar kavya tidak marah padanya, walau hatinya terasa sakit.
Ditempat lain samir menunggu kabar dari mahi,, mengapa sampai sekarang mahi tidak membalas pesan atau pun mengirim pesan padanya.
*apakah dia sakit?* samir mencemaskan mahi
Hingga akhirnya samir berencana untuk menyusul mahi kejakarta,, dia pun pergi kerumah tante marisa untuk bertanya alamat mahi yang di jakarta.
Samir pergi ke jakarta dengan mobil yang dia miliki,, tidak lupa dia berpamitan pada orang tuanya
^Mah, Pah, doakan samir ya biar menang melawan perang Hati, seperti itulah kira kira wkwk^
Akhirnya samir sampai di jakarta, dia pun mencari hotel untuk beristirahat,, karna dia sampai di jakarta saat malam hari.
Malam telah berganti pagi, samir langsung mencari alamat rumah mahi yang diberikan oleh tante marisa.
Tidak susah samir mencari rumah mahi, karna memang tidak jauh dari tempat hotel samir menginap.
Ting nong, ting nong !!!
^Suara bel berbunyi^
Mahi membuka pintu, dia pun terkejut dengan kedatangan samir
*bagaimana samir tau rumah ku* mahi bertanya tanya
"Samir , kenapa kau bisa ada disini?" tanya mahi
"Aku hanya merindukan mu mahi" pemuda itu ingin memeluk
"Sudah lah samir jangan temui aku lagi , lebih baik kamu kembali saja ke bandung" mahi mendorong samir
Gadis itu langsung menutup pintu dengan terpaksa, membuat samir merasa heran.
"Mahi tolong buka pintu nya, jelaskan padaku apa yang terjadi? mengapa kamu berubah" samir berusaha membujuk
Mahi hanya menangis di balik pintu, tidak sanggup untuk menjawab
"Tolong jawab aku mahi, apa ini semua gara gara kavya?" samir mulai emosi
="Flasback"=
Disaat pertama kali samir bertemu dengan mahi dan kavya , ternyata kavya selalu berusaha mendapatkan perhatian dari samir.
Namun samir tidak pernah merespon kavya,, saat diperjalanan pulang kerumah tante marisa kavya selalu mencari cara agar bisa dekat dengan samir.
Dan disaat samir datang untuk mengajak mahi jalan,, ternyata kavya lebih dulu menjumpai samir sebelum mahi membukakan pintu.
Kavya berjalan mendekati samir,
"Samir" panggil kavya
"Ada apa?" Samir menoleh
"Aku menyukai mu samir" kavya memegang tangan samir
"Tapi aku tidak menyukai mu kavya,, gadis yang ku cintai, adalah mahi,, berhentilah mendekati ku kavya" tolak samir melepas tangan kavya
Mendengar itu membuat kavya sangat sakit hati,, dia pun berlari pergi meninggalkan samir.
="Flasback done"=
Samir menceritakan semua yang terjadi pada mahi
"Kalau kau sudah tau jadi tolong lah menjauh dari ku samir,, aku tidak mau hanya karena dirimu, aku menyakiti kavya" pinta mahi
"Tapi cinta tidak bisa dipaksakan mahi,, aku tidak pernah suka terhadap kavya , apalah lagi mencintainya mahi"
"Aku janji mahi aku akan membuat kavya mengerti,, tanpa harus mengorbankan cinta kita" lanjut samir
Samir melangkah pergi,, sedangkan mahi masuk kedalam kamar sambil menangis
"Mahi kenapa kau menangis?" tanya ke dua orang tuanya,
Gadis itu tidak menjawab terus berlari menuju kamarnya.
^karna weekend jadi orang tua mahi ada dirumah guys^
Karna merasa khawatir maminya menyusul mahi ke kamarnya,
"Mahi sayang ada apa dengan mu nak? buka dong pintunya mami ingin bicara"
Mahi membuka pintu,
"Mami masuk ya sayang" ucap maira
"Coba cerita sama mami, apa yang sebenarnya terjadi"
"Aku bingung harus bagaimana mam, aku telah mencintai seorang pemuda,, namun ternyata kavya juga mencintainya" mahi curhat pada maminya
"Mami hanya bisa memberikan saran,, lebih baik kamu bicarakan masalah ini secara baik baik dengan kavya sayang, jangan hanya menyikiti dirimu sendiri mahi" maira mengelus rambut putrinya.
Ditempat lain samir masih kelihatan resah, dia tidak ingin berpisah dari mahi
Akhirnya samir mengirim pesan pada kavya, untuk membuatnya mengerti kalau cinta tidak bisa dipaksakan
Drt .. drt ..
Ponsel kavya bergetar
Dari Samir :
Kavya aku ingin bertemu denganmu , temui aku di taman mini.
^kavya membaca pesan dari samir^
Tanpa membalas pesan samir , kavya langsung menghampiri samir ke tempat yang samir beritau.
Tiba lah kavya di tempat janjian dengan samir,, samir sudah menunggunnya disana
"Hai samir" sapa kavya,
"Maaf membuat mu menunggu" kavya terlihat senang
"Ya tidak papa , silakan duduk kavya" kata samir
"Kavya langsung saja ya aku tidak mau bertele tele,, apa yang kau katakan pada mahi sehingga mahi menjauhiku?"
"Aku tidak mengatakan apa pun , aku hanya bilang jika aku menyukai mu itu saja"
"Mana mungkin pasti kau mengatakan lebih dari itu kavya" samir sedikit emosi
"Ya samir , aku memang menyuruh mahi untuk menjauhi mu , apa salah samir jika aku juga mencintai mu?" kavya setengah berteriak
"Tapi tidak kayak gini cara mu kavya , ini salah kavya" samir berusaha memberi pengertian
"Apanya yang salah samir ?" tanya kavya
"Tentu saja salah , kau memaksakan orang untuk mengorbankan cintanya, hanya karna egomu saja" samir menekan kalimat akhirnya
"Kenapa samir? apa kau tidak bisa mencintai ku" kavya menangis
Hiks .. hiks ..
"Sudah lah kavya , kau tidak perlu menangis,, lebih baik jika kau intropeksi dirimu" samir pergi meninggalkan kavya
Kavya masih terduduk di taman sambil menangis
*apa salah jika aku mencintainya , apa aku sudah egois* batin kavya
Hiks .. hiks ...
Dirumah mahi pun masih bingung memikirkan semua yang terjadi
Mahi pun ingat akan saran nya mami nya, untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.
Mahi menghubungi samir , untuk membicarakan tentang kavya
Kring .. Kring ..
Ponsel samir berbunyi
Samir mengangkat ponsel nya
**Percakapan melalui telfon
Samir : "Hai mahi , apa kau tidak menjauhi diriku lagi" goda samir
Mahi : "Apa'an sie samir , aku ingin membicarakan hal yang serius dengan mu"
Samir : "Memang apa yang kau mau bicarakan mahi , apa ini tentang kavya lagi" samir terlihat malas
Mahi : "Ya samir , kita harus bertemu saat ini juga"
Samir : "Oke , dimana kita akan jumpa"
Mahi : "Terserah kau saja samir"
Samir : "Ya sudah kalau begitu"
Pangilan pun berakhir**
Akhirnya mereka sekarang sudah bertemu ditempat yang mereka sebut dalam telvon tadi.
Arborea cafe 👇🏻
Arborea Cafe adalah salah satu Cafe baru yang ada di Jakarta atau tepatnya berada di Manggala Wanabakti di kompleks Kementerian Lingkungan Hidup.
Mahi berjalan masuk untuk menemui samir.
"Hai samir" sapa mahi.
"Apa kau sudah lama menunggu ku"
"Tidak kok , aku pun baru saja tiba" sahut samir
"Ya sudah sekarang kita mulai dari mana mahi, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Samir aku sangat mencintai mu,, tapi aku juga tidak ingin melihat sahabat ku kavya bersedih" mata gadis itu mulai berkaca kaca
"Jadi apa yang kau inginkan sekarang mahi?"
"Tidak bisakah kavya juga bahagia seperti kita saat ini samir? aku ingin kavya juga mendapatkan pemuda yang baik seperti dirimu samir"
"Kalau memang mau mu begitu,, aku bisa memperkenal kan kavya pada teman ku arjun" samir memberi saran
"Ya baiklah , tapi ingat jangan membuat kavya sakit hati lagi"
"Ya aku janji, arjun teman ku memang belum memiliki pacar,, jadi akan ku pastikan kavya bahagia bila bersamanya" ujar samir
"Terimah kasih samir,, aku sangat beruntung bisa mengenalmu, aku mencintai mu samir" mahi menggenggam tangan samir
"Aku juga mencintai mu mahi" samir tersenyum
Keduanya saling berpelukan, melepas rindu.
Di sisi lain, kavya beranjak pergi dari taman,, dia pulang sambil memikirkan akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Sampainya dirumah dia langsung merebahkan dirinya di atas sofa,,
^karna orang tuanya sedang dinas diluar kota , kavya hanya sendiri dirumah guys^
Weekend telah berakhir, hari ini mahi dan kavya masuk kerja
Mereka bekerja di perusahaan Mitra Alumindo, bagian pemasaran.
Seperti biasa mahi menjemput kavya kerumahnya untuk bekerja,, karna mahi tidak mempermasalahkan kejadian kemarin.
"Kavya ayo kita harus bekerja" ajak mahi
"Apa kau masih marah padaku?" tanya mahi
"Tidak" Kavya dengan pelan berjalan masuk kemobil milik mahi
Sampai lah mereka dikantor,, mahi memakirkan mobilnya.
Mahi dan kavya memang sangat dekat, bahkan mereka bekerja ditempat yang sama.
Mereka mulai bekerja,, seperti biasa mereka memeriksa berkas yang ada diatas meja mereka masing masing.
^mahi dan kavya satu ruangan namun beda meja guys^
Tidak ada percakapan diantara mereka,, hanya suara ketikan komputer yang terdengar.
Jam istirahat telah tiba
"Kavya apa kau tidak ingin makan siang?" ajak mahi
"Kau duluan saja , nanti aku menyusul" kavya fokus menatap monitor
"Ya sudah kalu begitu" mahi meninggalkan kavya seorang diri
Tak lama kavya menyusul mahi untuk makan siang,, terlihat mahi sedang menikmati makan siangnya dikantin.
Kavya menghampiri mahi,
"Apa kau tidak membenciku karna aku telah membuat mu menjauh dari samir?"
"Tidak kavya, kita bersahabat sudah cukup lama,, jadi mengapa aku harus marah hanya karna itu" mahi tersenyum
"Hmm, Kau memang orang yang baik,, tidak seharusnya aku melakukan hal seperti kemarin mahi" kavya menyesal
"Sudah lah jangan itu lagi"
"Maafkan aku mahi, aku terlalu egois" kavya murung
"Ya kavya , aku sudah memaafkan mu" mahi tersenyum manis
"Terima kasih mahi, kau sangat baik" kavya juga tersenyum
Bel telah berbunyi, menandakan istirahat telah usai.
Mahi dan kavya kembali keruangan untuk lanjut bekerja,,
Tak terasa waktu sudah sore,, tiba waktunya mereka untuk pulang.
Mahi sudah lebih dulu keluar ruangan menuju tempat parkir, dia menunggu kavya keluar kantor
Selama perjalanan pulang, kedua gadis itu tidak bicara sampai tiba dirumah kavya.
"Kavya apa kau ada waktu malam ini? aku ingin mengajak mu untuk nonton" mahi memulai obrolan
"Umm boleh, aku juga suntuk dirumah sendirian" kavya setuju
"Oke, jangan lupa jam 7" teriak mahi, sambil melajukan mobil pulang kerumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam,, sesuai janji mahi segera bergegas untuk menjemput kavya
Tin .. tin ...
^suara klakson mobil mahi^
Kavya yang mendengarnya langsung keluar dan menutup pintu rumah, mereka pun berlalu pergi
Mereka menuju (Grand Indonesia Shopping Town)👇🏻
Grand Indonesia merupakan mall di Jakarta. Mall ini dibuka pada tahun 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Grand Indonesia merupakan Family Friendly Lifestyle Mall yang berkonsep untuk menyediakan seluruh kebutuhan keluarga dalam satu tempat.
Sesampainya di sana mahi memakirkan mobilnya.
Kavya terkejut melihat disana sudah ada samir dan seorang pemuda
*ya tuhan, kenapa dia harus disini juga,, dan siapa itu?* kavya menghela nafas
"Mahi apakah itu samir , siapakah pemuda yang bersamanya?"
"Ya itu samir , pemuda itu bernama arjun,, temannya samir" dengan santai mahi tersenyum
="flasback"=
Pada saat dicafe ternyata mahi dan samir sudah merencanakan agar kavya bisa bertemu dengan arjun.
Samir menelfon arjun
Samir : "Arjun bisakah kita bertemu sekarang"
Arjun : "Ya sharelok aja, aku sedang dijalan"
Yang di seberang langsung mematikan telfonnya.
Sesuai permintaan, samir mengirim lokasi tempatnya berada kepada arjun,,
Dengan cepat arjun menggunakan motor sport miliknya tiba ditempat yang dikirim samir,,
Arjun Prasetya 👇🏻
Arjun seorang penyanyi (vokalis band), yang banyak di kejar kejar para gadis,, sifatnya yang frendly kesemua orang membuat para gadis jatuh hati,, namun tetap saja dia masih menjomblo. ^sadboy guys 🤣^
Pemuda itu sampai dicafe,, tempat dimana samir dan mahi berada.
"Samir" pemuda itu memanggil samir
"Arjun" samir menoleh ke arah pemuda tersebut
Kedua pemuda itu saling berpelukan
"Hai samir,, bagaimana kabar mu? Sudah lama kita tidak bertemu"
"Alhamdulillah kabar ku sangat baik arjun"
"Jadi untuk apa kau mengajakku ketemuan disini?" tanya arjun
"Akan ku jelaskan nanti" samir mempersilakan arjun duduk
"Perkenalkan ini pacar ku" samir menggandeng mahi
"Salam kenal" arjun mengulurkan tangannya kepada mahi
"Bro bisakah kamu membantuku" tanya samir
"Memang apa yang bisa ku bantu sam"
"Aku ingin memperkenalkan mu pada seorang gadis,, apa kau bersedia?"
"Apa? seorang gadis" arjun menatap samir dengan bingung
"Ya, gadis itu bernama kavya,, dia temannya pacarku" samir menjelaskan
"Baiklah, akan ku pikirkan" arjun masih heran
"Ayo lah arjun, kavya gadis yang baik,, dia sangat cocok untuk mu"
Samir memohon
"Oke, akan ku coba" arjun menghela napas berat
="flasbak done"=
Mahi telah menceritakan semua pada kavya
"Kavya ku harap kau tidak marah padaku" mahi menatap kavya
"Aku hanya ingin melihat mu juga bahagia" lanjut mahi
"Mahi, kau memang sahabat yang baik" gadis itu terharu
"Kau juga memikirkan kebahagianku, padahal aku sudah jahat padamu" kavya memeluk mahi
"Sudah jangan terus ber'terimakasih, lebih baik kita temui mereka" ajak mahi
"Baiklah" kavya melepaskan pelukannya.
Dua gadis itu berjalan mengampiri kedua pemuda yang sudah menantikan kedatangan mereka.
"Samir" teriak mahi
"Hai,, kenapa lama sekali?"tanya samir
"Biasalah, namanya juga wanita,, pasti dandannya bikin lama" sahut arjun
*apa-apaan dia se'enaknya saja berbicara tentang wanita* kavya menatap arjun dengan ilfil
"Oh ya, perkenalkan ini kavya,, sahabatku" mahi menarik kavya
"Dan ini arjun" samir juga menarik arjun
^Kavya dan arjun mengulurkan tangannya,, maklum ya guys masih malu malu^
"Samir,, ayo pesan tiket film yang genre horor (makmum 2)" bisik mahi pada samir
"Kenapa horor?" Samir bicara dengan pelan
"Kavya sangat takut jika lihat film horor,, itu bisa membuat dia dekat dengan arjun" mahi menjelaskan
"Oke" samir mengerti
Mereka ber'empat masuk kedalam bioskop,, samir dan mahi dengan sengaja meninggalkan kavya dan arjun ber'dua.
"Sebentar ya, kami beli popcorn dulu,, kalian masuk saja duluan" ucap mahi menarik tangan samir
"Ayo, biar mereka saja dulu" bisik mahi di telinga samir
Samir hanya mengikuti kemauan mahi,, setelah memesan popcorn mereka menyusul ke bioskop.
Acara film sudah dimulai, samir dan mahi duduk bersebelahan,, begitu juga dengan arjun dan kavya.
Semua terlihat sedang menikmati film, tidak dengan kavya yang merasa takut.
Tanpa sengaja kavya memeluk arjun,, arjun yang melihat gadis itu ketakutan membiarkan dirinya dipeluk.
^cari cari kesempatan ya guys wkwk^
Acara film telah selesai,, mereka ber'empat keluar dari bioskop
"Mahi apa kau sengaja memesan tiket film horor!" kavya sedikit marah
"Maaf kavya,, tapi itu keinginan samir" mahi mengelak
Samir tergelak mendengar namanya di sebut,,
*apaan sih mahi* matanya membulat kaget
"Kau tau kan aku sangat takut melihat film horor" gadis itu menghela napas
"Ya aku tau, lain kali tidak akan lagi" mahi tertawa
"Jangan tertawa" gadis itu marah.
^Sedangkan 2 pemuda tampan hanya menyaksikan perdebatan diantara 2 gadis tersebut^
Mereka ber'empat melanjutkan double date mereka,, dimana arjun dan kavya mulai saling mengenal.
"Ayo kita makan" ajak samir
"Ya boleh juga,, aku juga sudah lapar" sahut mahi
"Kita makan dimana?" arjun dan kavya bersamaan
"Cie-cie yang udah kompak" ejek mahi
"Ya nie yang lagi kasmaran" samir ikut menggoda.
Arjun dan kavya hanya saling pandang, terlihat wajah kikuk mereka.
"Bagaimana kalau kita makan di (social house)" mahi memberi saran
"Aku setuju,, karena kita bisa melihat pemandangan disana" kavya antusias
"Ya baiklah" samir dan arjun ikut setuju
Kebetulan (social house) juga berada di (grand indonesia shopping town)
Mereka sudah tiba di tempat makan, mereka mencari tempat yang nyaman.
Social House, cafe yang memiliki desain keindahan alam, jadi serasa di alam terbuka.
"Mahi, kau mau pesan apa?" tanya samir pada mahi
"Terserah mu saja" sahut mahi
Sedangkan arjun dan kavya sudah memesan terlebih dahulu
Mereka makan tanpa suara, hanya ketukan sendok dan piring yang terdengar.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22:00 malam,, mereka pun beranjak dari (social house).
Mahi dan kavya izin pulang duluan pada samir dan arjun
"Samir, aku pulang ya" mahi masuk kedalam mobil yang di'ikuti kavya
"Ya mahi, hati-hati dijalan" samir melambaikan tangan
Mahi dan kavya sudah berlalu pergi,, tinggallah samir dan arjun.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" Tanya samir pada arjun
"Dia gadis yang baik, sepertinya aku menyukainya" arjun tersenyum
"Lanjutkan bro, jangan sampai terlepas" ledek samir
"Samir,, awas kau ya" pemuda itu ingin memukul samir
"Ayo kita pulang,, ini sudah malam" ajak samir.
Disisi lain kedua gadis sudah sampai dirumah kavya.
"Terimah kasih" ucap kavya pada mahi
"Sama sama kavya" mahi melaju dengan mobilnya
Kavya pun masuk kedalam rumah,, gadis itu membersihkan diri dan langsung istirahat didalam kamar.
Tak lama mahi juga sudah sampai dirumah,, dia masuk dan terlihat mami dan papinya sedang berada diruang keluarga.
"Mami papi" mahi menyapa orang tuanya
"Anak mami sudah pulang" tanya maira
"Dari mana saja mahi" fahri juga bertanya
"Nonton papi sama kavya" mahi menjawab pertanyaan papinya
"Lebih baik sekarang kamu istirahat sayang" titah maria
"Ya mam,, mahi masuk dulu" mahi pun berlari ke kamarnya
Cek..lek...
Mahi membuka pintu kamarnya,, dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Kira-kira kavya suka tidak ya pada arjun?" Kavya berbicara sendiri
"Lebih baik sekarang aku membersihkan diri dan tidur,, besok aku akan tanya kavya" ujarnya lagi
Malam telah berganti pagi, mahi terbangun dari tidurnya.
Gadis itu membuka mata,, dia beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
Selesai mandi, mahi langsung memilih baju dan berdandan,, seperti biasa setelah itu mahi keluar kamar.
"Selamat pagi papi, mami" mahi mencium pipih fahri dan maira bergantian
"Pagi sayang, anak papi cantik sekali" fahri tersenyum
"Haha, papi" mahi terkekeh dipuji oleh papinya
"Sudah sudah, sarapan dulu" tegur maira
Mahi duduk di tempatnya,, maira mengambilkan lauk di piring fahri dan mahi.
"Masakan mami memang yang terbaik" ucap mahi sambil mengunyah makanan
"Tentu saja, papi mau nikah sama mami,, karena mami kamu jago masak" fahri menimpali
"Haha, lucu sekali" maira terlihat kesal
"Kamu lihat itu? Mami mu terlalu sensian" bisik fahri kepada mahi
"Itu karena papi selalu meledek mami" balas mahi tertawa
"Mahi, kamu juga harus belajar memasak nak,, karena nantinya kamu juga akan menikah" maira menasehati anaknya
"Itu tidak perlu,, anak kita akan menjadi istri dari pria kaya, mereka pasti akan menyewa pembantu" fahri selalu memanjakan anaknya
"Kenapa kamu selalu membelanya,, aku mengatakan itu agar dia tau, apa yang harus dilakukan saat menjadi seorang istri" maira terlihat kesal
"Tentu saja, kamu tidak perlu cemas ,, dia pasti akan tau, tenang saja" ucap fahri tersenyum
Mahi hanya tertawa melihat kedua orang tuanya berdebat...
"Papi, mami,, aku sudah selesai, aku berangkat ya" mahi pamit
Tidak lupa gadis itu menyalami kedua orang tuanya.
"Mahi, selesai bekerja langsung pulang ya nak,, ada yang ingin papi sampaikan" ucap fahri sebelum mahi pergi
"Iyah papi" mahi menganggukkan kepala mengerti
"Hati hati ya nak" teriak fahri
Setelah kepergian mahi,, maira langsung menghampiri fahri.
"Apa kamu serius ingin mengatakannya?" Maira terlihat gelisah
"Tentu saja,, aku tau yang terbaik untuk anak kita" tegas fahri
"Tapi kamu tidak bisa memaksanya,, bagaimana jika dia tidak menerimanya" maira berusaha membujuk suaminya
"Dia pasti akan menerimanya" balas fahri tanpa beban.
Di sisi lain, mahi sudah berada di depan rumah kavya,, setiap harinya mereka selalu berangkat bersama.
"Kavya" teriak mahi dari luar
"Yaya, sebentar" sahut kavya
Kavya berlari menuju mobil mahi,, gadis itu terburu buru masuk ke dalam mobil.
"Tumben lama" mahi melirik kavya
"Iya, aku kesiangan" kavya merapikan rambutnya
"Kebanyakan mikirin arjun ya?" mahi menyenggol lengan kavya
"Apa sih mahi,, gak gitu juga kali" jawab kavya malas
"Bagaimana dengan arjun? Kau suka?" Tanya mahi penasaran
"Ntahlah,, dia sedikit menyebalkan, tapi dia juga baik,, aku belum berfikir terlalu jauh" kavya menghela nafas
"Ya uda cepetan jalan" lanjut kavya
"OK" mahi langsung menginjak gas mobilnya
Sampailah mereka di perusahaan Mitra Alumindo,, kavya berjalan lebih dulu, di susul oleh mahi.
Kedua gadis itu memasuki kantor,, mahi sudah duduk di mejanya, begitu juga dengan kavya.
"Hai cantik" sapa verry
Pria itu mendatangi meja kavya.
"Ada apa lagi ini verry? Kau tidak pernah bosan menggangguku" kavya terlihat jengkel
"Ahh, jangan galak galak dong,, kalau kau tidak keberatan? Siang nanti makanlah bersamaku" verry tersenyum itu membuatnya semakin tampan
"OK, aku akan menunggumu" kavya setuju
"Sungguh?" Verry terlihat senang
"Ya, tapi mahi akan ikut bersama kita" pinta kavya melirik mahi
"Ahh baiklah,, tidak masalah" verry setuju
"Sampai nanti ya cantik" verry pergi meninggalkan kavya
Verryando Nugraha 👇🏻
Verry merupakan atasan kavya dan mahi di kantor,, pria itu orang kepercayaan bos di kantor... namun, verry sejak pertama jumpa sudah menyukai kavya,, namun pria itu tidak berani mengatakannya, hanya sering mengganggunya saja.
"Kavya, apa kau yakin ingin makan bersama kak verry?" Tanya mahi
"Tentu saja, aku sudah berjanji itu harus ku tepati" kavya tersenyum
"Sudahlah, aku masih banyak kerjaan" lanjut kavya kembali bekerja
*sepertinya kak verry menyukai kavya, bagaimana ini? kalau kavya juga suka dengan kak verry,, nasib arjun bagaimana* mahi sedikit bingung
Tak terasa jam istirahat telah datang, kavya sedang merapikan meja kerjanya.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya verry yang sudah ada di depan meja kavya
"Harus ku akui, kau orang yang tepat waktu" kavya tersenyum
"Ayo, waktu kita sangat sedikit" ajak verry
"OK, ayo mahi" kavya menarik tangan mahi
Di kantin mereka makan bersama,, namun dengan posisi verry di depan kavya dan mahi di samping kavya.
"Kavya, apa kau punya pacar?" Verry to the point
"Uhuk uhuk" kavya langsung tersedak
"Hey, pelan pelan saja cantik" verry memberikan minum
"Untuk apa kau menanyakan itu?" Kavya menatap verry heran
"Tidak ada, aku cuma ingin tau" verry bersikap santai
"Tidak, aku belum punya pacar" balas kavya
*jadi dia jomblo kan, itu bagus* batin verry
Mahi yang mendengar itu sedikit tidak nyaman,,
*kan sudah ku duga* batin mahi
"Mari kita bertukar nomor,, jujur saja aku ingin mengenal mu lebih dekat" verry memberikan ponselnya
"Hah? Nomor?" Kavya sedikit terkejut
"Ya, bolehkah?" Verry mulai terlihat seperti badboy yang mendekati gebetan
"Oh ya, tentu" kavya mengetik nomornya di ponsel verry
"OK" verry langsung menelfon nomor tersebut
Ponsel kavya pun berdering,,,
"Aku cuma ingin memastikan, kalau kau tidak memberi nomor yang salah" verry mengedipkan sebelah matanya
"Dan ya, jangan lupa simpan itu nomorku" ucap verry tersenyum
*ahh, kenapa senyuman itu membuatnya semakin tampan, ahh* kavya langsung geleng kepala, menjauhkan pikirannya.
Mereka akhirnya selesai makan,, dan melanjutkan kerjaan mereka,, sampai akhirnya waktu kerja berakhir.
Mahi sudah menunggu di mobil, kavya ingin menghampiri mahi.
"Ayo kavya" ajak mahi
Ssstttttt....
Verry dengan motor sportnya berhenti tepat di depan kavya,,
"Ehh" kavya terkejut
"Ayo naik, ku antar kau pulang" verry memberi tumpangan
"Tapi aku biasa pulang bersama mahi" tolak kavya
"Mahi akan pulang sendiri,, hari ini kau pulang bersamaku, ya kan mahi?" Verry meminta persetujuan
"Hah" kavya sedikit kaget
"Mahi apa itu benar?" Tanya kavya
Mahi terlihat bimbang, satu sisi dia tidak ingin kavya dekat dengan verry,, namun disisi lain verry memohon padanya.
"Ya kavya, hari ini aku ingin menemui papi di cafe" ucap mahi berbohong
"Nah, sudah dengar kan" ucap verry
"Ayo, naik" lanjut verry tersenyum
Kavya naik dan duduk di bonceng verry,, sebelum pergi verry berterimakasih dengan mahi, melalui isyarat.
Mahi didalam mobil menghela nafas berat, menatap kepergian kavya.
*aku gak tega melihat kak verry,, tapi arjun? apa yang harus ku lakukan* mahi sedikit frustasi.
Mahi langsung pulang kerumah sesuai janji dengan papinya,,, tidak membutuhkan waktu lama, untuk mahi sampai dirumah.
Setelah menaruh mobil di bagasi,, mahi masuk kerumah, terlihat fahri sudah ada diruang tamu menunggunya.
"Papi" panggil mahi saat masuk rumah
"Sayang kamu sudah kembali" fahri tersenyum
"Kemarilah,, papi ingin bicara" lanjut fahri
Mahi ikut duduk di samping papinya,,
"Ada apa papi?" Mahi tersenyum
"Apa kamu menyayangi papi?" Fahri bertanya balik
"Tentu saja aku sayang papi,, kenapa papi menanyakan itu?" Mahi terlihat heran
"Papi, apa ada masalah?" Tanya mahi
"Tidak ada masalah sayang" fahri tersenyum
"Lalu apa yang ingin papi katakan" mahi masih tersenyum
"Mahi, papi ingin kamu menuruti keinginan papi" fahri mulai menatap anaknya serius
"Apa itu papi?" Mahi masih menunggu jawaban
"Papi akan menikahkan mu dengan anak teman papi,, dan papi sudah mengatur pertemuan kalian" ucap fahri menatap mahi
"Mahi, papi ingin yang terbaik untukmu sayang,, dia pemuda yang baik, yang berasal dari keluarga terpandang,, kamu pasti akan bahagia bersamanya" lanjut fahri
Duaarr
Seperti dijatuhi beton kiloan ton,, hati mahi tersambar petir.
Gadis terdiam tanpa suara mendengar perkataan papinya,, hanya tangannya saja yang bergetar.
"Papi.." mahi belum bicara
"Besok, kita akan makan malam bersama keluarga pak fandy di cafe,, kamu akan bertemu anaknya disana, dan papi harap kamu tidak mengecewakan papi" tegas fahri
Setelah mengatakan semuanya, fahri langsung meninggalkan mahi sendiri.
*kenapa ini harus terjadi? apa yang akan ku katakan pada samir, hiks hiks* gadis itu mulai menangis
Mahi langsung masuk ke kamarnya,, maira yang melihat semuanya, menyusul anaknya ke kamar.
"Mahi" maira menghampiri mahi
"Jangan menangis nak" maira mengelus rambut anaknya
"Mami, kenapa papi ingin menikahkan aku dengan pria yang tidak ku kenal" ucap mami sambil terisak
"Mami, aku mencintai pria lain,, bagaimana aku bisa menikah dengan pria itu" mahi masih terisak
"Iya sayang,, mami tau itu sayang" maira memeluk anaknya
"Maafin mami sayang,, kamu yang sabar ya sayang" maira tidak bisa berbuat apapun
"Hiks hiks" tangisan mahi pecah semakin keras di pelukan maminya.
Tak lama ponsel mahi berdering,, ada panggilan dari samir.
Mahi mengusap air matanya,, lalu mengambil ponsel dan menatap maminya.
"Angkat aja sayang,, gapapa" maira tersenyum, lalu pergi.
**Mahi menjawab panggillan dari samir
Mahi : "Halo samir" mahi menahan tangisannya
Samir : "Mahi, kau baik baik saja? Suara mu terdengar serak"
Mahi : "Aku baik baik saja,, ada apa samir?" Mencoba tenang
Samir : "Aku merindukan mu mahi,, besok malam kita bisa bertemu?"
Mahi : "Aku tidak janji samir" airmata mahi mulai netes
Samir : "Baiklah, besok aku akan menghubungimu lagi,, jangan tidur larut malam ya"
Mahi : "Iya samir"
Mahi langsung mematikan telfon**
"Huh, hiks hiks" mahi kembali menangis
"Samir maafkan aku" teriak mahi stress
Gadis itu terus menangis sampai tertidur....
Malam telah berganti pagi,, namun mahi tidak bersemangat untuk ke kantor,, gadis itu mengambil ponsel.
Hendak memberi kabar kepada kavya,
Di waktu yang sama,, kavya sedang membetulkan penampilannya, gadis itu sudah terlihat rapi.
Kring kring kring.....
Ponsel kavya berdering
**Kavya langsung menjawab
Kavya : "Ya mahi, ada apa?"
Mahi : "Kavya, maaf sepertinya aku tidak bisa masuk" dengan suara lemas
Kavya : "Apa kau sakit?" Kavya cemas
Mahi : "Tidak, aku hanya tidak enak badan itu saja"
Kavya : "Baiklah, lagi pula aku di jemput verry" kavya tersenyum di depan cermin
Mahi : "Kau berangkat bersama kak verry?" Mahi kaget
Kavya : "Ya, semalam dia mengantarku sampai rumah, dan pagi ini dia bilang akan menjemputku"
Mahi : "Ya sudah, aku tutup ya"
Yang di seberang menutup telfon**
Terdengar suara klekson motor dari luar, yang ternyata verry sudah datang.
Kavya langsung berlari keluar rumah,,,
"Cepat sekali, aku pikir kau akan lama datang" ucap kavya
"Aku tidak sabar untuk melihatmu" balas verry tersenyum
"Haha, dasar raja gombal" kavya terkekeh
Verry langsung tancap gas menuju Mitra Alumindo,, setelah sampai di kantor.
Kavya langsung turun dan masuk ke kantor,, verry mengikutinya di belakang.
"Kenapa mengikutiku? Kita kan beda bagian" kavya heran
"Iya aku ingin mengantarmu sampai dimeja kerjamu" ucap verry santai
Kavya hanya menanggapi dengan tersenyum.
*kenapa aku merasa jika dia sangat perhatian,, apa dia menyukaiku? ahh, sepertinya aku terlalu pede* kavya menepis pikirannya
"Sampai nanti cantik" verry melambaikan tangan pergi
Kavya hanya geleng kepala melihatnya.
Hari itu kavya kerja sendirian,, karena teman dekatnya tidak masuk,, dan verry lah yang selalu menemaninya saat bekerja, sesekali pria itu datang ke meja kavya sekedar mengganggu.
Tak terasa waktu kerja selesai,, kavya hendak berjalan pulang.
"Kenapa sendiri? Mana mahi" Tanya verry
"Dia tidak masuk hari ini" kavya terlihat murung
"Mungkin dia ada keperluan" verry hanya menebak
"Ntahlah, aku juga tidak tau" kavya menghela nafas
"Ayo naik, kau sendirian kan" seru verry
Kavya tersenyum lalu naik ke motor sport milik verry.
Sementara mahi yang seharian dirumah, terus melamun,, dan makanan yang ada di hadapannya tidak dimakan.
"Sayang, kok mie nya cuma di kaduk kaduk aja,, dimakan dong sayang" maria menatap anaknya
"Gak laper mam" sahut mahi, gadis itu langsung masuk kamar membanting pintu.
"Pasti dia merasa sedih" maira menghela nafas.
Didalam kamar, mahi terlihat stress.
"Ahhh" mahi menyerak semua barang yang ada di meja riasnya
"Kenapa hidupku harus begini,, samir? Apa yang harus ku lakukan" mahi menutup wajahnya dengan bantal.
Di tempat lain, di hotel (tempat samir menginap),, arjun juga terlihat ada dikamar samir.
"Samir, sepertinya aku sangat menyukainya" ucap arjun yang sedang menatap layar ponsel
"Benarkah? Itu bagus, artinya aku gak sia sia mengenalkan kalian berdua" balas samir sambil mengancing kemejanya
"Aku sudah dapat Ig nya,, ternyata dia sangat cantik dan sosialita" arjun masih fokus menscroll akun sosmed kavya
"Ya aku tau,, dia memang selalu update status setiap hari" samir tertawa kecil
"Kau rapi sekali? Mau jalan sama mahi?" Tanya arjun menoleh ke samir
"Iya, aku merindukannya" samir tersenyum menatap kaca
"Haha, dasar bucin" arjun tertawa
Diam diam arjun menyalin nomor kavya dari ponsel samir.
"Bilang aja iri? Makanya jangan jomblo mulu" samir mencibir
"Ahh, sialan kau samir" arjun melempar bantal ke samir
"He, baju ku bisa kusut" samir mengelak
"Kau lihat nanti,, aku gak bakal jomblo lagi" ucap arjun bangga
"Sudah pulang sana,, nanti tante rina marah samaku, kau dari pagi sudah disini" samir mendorong arjun keluar
"Yaya, bawel,, kau sama aja dengan ibuku, seharusnya kau yang jadi anaknya bukan aku" gerutu arjun
"Enak saja,, tante rina itu sangat menyayangi mu, kau harus bersyukur punya ibu seperti tante rina" samir menasehati
"Iya aku tau,, aku selalu menjadi kesayangan ibuku" arjun tersenyum
"Sudah pergi sana" samir mendorong arjun agar keluar kamar
"Iya iya" arjun pergi pulang kerumahnya.
Disisi lain, sudah sampai di depan rumah kavya,, kavya turun dari motor milik verry.
"Makasih ya, uda di anterin pulang" ucap kavya tersenyum
"Tentu saja, dengan senang hati" verry tersenyum
"Sampai besok ya cantik" verry pamit
Verry sudah menghidupkan motornya,, memakai helm hendak pergi.
"Verry" panggil kavya
"Ya" verry menoleh
"Hati - hati dijalan" kavya tersenyum malu
Verry tidak menjawab, hanya tersenyum menganggukkan kepala.
Setelah verry menghilang dari pandangannya,, kavya berlari masuk kerumahnya.
Gadis itu terduduk di sofa,, kavya memegang dadanya.
"Kenapa aku ded deg kan begini?" Kavya bicara sendiri
"Ahh, verry kau manis sekali" teriak kavya sambil jingkrak
Namun tak lama gadis itu di kagetkan oleh bunyi ponselnya,,
"Ehh, siapa?" Kavya mengecek ponselnya.
"Siapa ini" gumam kavya
**Kavya menjawab telfon
Kavya : "Halo"
Arjun : "Hai, apa kabar?"
Kavya : "Siapa ya?" Kavya masih bingung
Arjun : "Arjun, cowo paling tampan dunia akhirat" dengan bangganya mengucapkan
Kavya : "Oh, arjun? Teman nya samir ya?"
Arjun : "Ya benar sekali"
Kavya : "Ada apa arjun? Dari mana kau dapat nomorku?"
Arjun : "Aku minta pada samir" jawab arjun berbohong
Kavya : "Oh, begitu,, lalu kenapa kau menelfonku" kavya cuek
Arjun : "Kalau kau tidak sibuk, malam ini bisa kita jalan?"
Kavya : "Jalan? Berdua?"
Arjun : "Ya, berdua hanya kau dan aku"
Kavya : "Umm, boleh"
Arjun : "Yes, kirimkan alamatmu,, biar nanti aku menjemputmu" arjun terlihat kesenangan dirumahnya
Kavya : "OK, nanti ku sharelok"
Kavya menutup telefon**
*tidak ada salahnya kan kalau jalan dengan arjun,, lagi pula kami cuma temenan* pikir kavya.
Tak terasa hari sudah gelap, tepat jam 20:00 (8 malam),, dirumah mahi terlihat fahri dan maira sudah rapi.
Sementara mahi masih mengurung diri dikamarnya,, gadis itu sedang menerima telfon.
**Mahi : "Maaf samir, aku tidak bertemu sekarang" mahi mulai sesak
Samir : "Gapapa mahi,, apa ada masalah? Aku merasa kau sedang tidak baik baik aja" samir cemas
Mahi : "Tidak samir, aku baik baik saja" mahi berbohong
Samir : "Baiklah,, kau istirahat yang cukup ya, cepat sembuh sayang" samir mulai membiasakan panggilan sayang
Mahi : "Makasih ya sayang" begitu juga dengan mahi
Samir : "Aku tutup ya telfonnya"
Yang di seberang mematikan panggilan**
Mahi menatap layar ponselnya, terdapat fotonya bersama samir.
"Aku tidak bisa mengatakan dengan jujur padamu samir, maafkan aku" mahi mulai menangis
Tok..tok..tok !!
"Mahi, cepat nak" panggil fahri dari luar
"Kita bisa terlambat mahi" fahri tidak sabar
Mahi pun beranjak dari kasurnya,, mengusap airmata dan tersenyum.
"Baiklah, kau harus kuat mahi" gadis itu menguatkan dirinya sendiri
Cek..lek
Mahi membuka pintu,, papi dan maminya sudah menunggu.
"Ayo sayang, sudah waktunya" ucap fahri
Mahi hanya mengekor papinya di belakang,, mengikuti langkah kaki dan masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, mahi terus menatap jendela mobil,, gadis itu termenung.
Disisi lain verry sedang meneguk air dingin, di apartmentnya,, pria itu duduk bersandar di sofa.
Kring..Kring !!
Ponsel berbunyi
**Verry menjawab panggilan
Verry : "Ya ayah, ada apa?"
Pak Fandy : "Cepat kesini verry" yang di seberang membentak
Verry : "Kemana ayah? Aku di apartment"
Pak Fandy : "Vong Kitchen, ayah tunggu"
Verry : "Vong Kitchen? Kenapa mendadak sekali ayah" verry heran
Pak Fandy : "Datang saja,, ayah sudah bersama ibu disini"
Verry : "Ibu juga ada? Tidak biasanya kalian menemuiku di cafe, katakan ada apa ayah?" Verry penasaran
Pak Fandy : "Ayah beritau setelah kau datang"
Tut..tut..tut
Panggilan diputuskan**
"Aneh sekali" verry terlihat bingung
Verry langsung bergegas menuju tempat yang dikatakan ayahnya.
Sementara dirumah kavya,, gadis itu sudah terlihat cantik.
Suara klekson motor arjun telah terdengar,, kavya keluar rumah.
"Hai" sapa arjun
"Apa aku terlambat?" Arjun menatap kavya
"Tidak, ayo" kavya langsung naik ke motor arjun
"Ok, let's go" arjun langsung melajukan motornya
Saat boncengan kavya ragu ragu memeluk arjun, tangan kavya berada di atas paha arjun.
Arjun yang melirik, pun langsung menarik tangan kavya agar melingkar di pinggangnya.
"Ehh, arjun" kavya kaget
"Sudah, biarkan tetap seperti ini" pinta arjun
*hah? Apa apa'an si dia,, main tarik tarik aja* gerutu kavya kesal
Tak lama arjun berhenti di sebuah taman,, kavya terlihat takjub akan keindahan taman tersebut dimalam hari.
Taman Menteng 👇🏻
Taman Menteng adalah sebuah taman yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Taman ini dulunya ditempati oleh Stadion Menteng.
"Ayo, kita jalan saja" ajak arjun setelah memakirkan motornya
Mereka berjalan menyusuri taman,, tanpa persetujuan gadis itu, arjun menggandeng tangan kavya.
Kavya hanya menatap tangannya di genggam pria itu, namun tidak marah.
"Ayo duduk disitu" arjun menarik kavya ke tempat yang dia lihat
Mereka berdua duduk menikmati angin dimalam hari, dan juga memandang pesona keindahan taman menteng.
"Kau suka tempat ini?" Arjun menatap kavya
"Hmm, aku suka" kavya tersenyum, lalu menoleh ke arjun
"Terkadang aku datang kesini, hanya untuk manggung" ucap arjun
"Manggung?" Kavya tidak paham
"Ya, aku ini penyanyi,, seorang vokalis" jawab arjun santai
"Oh berarti kau bisa bernyanyi?" Tanya kavya
"Tentu saja,, jika tidak, mana mungkin aku jadi vokalis band" arjun menatap kavya
"Ayo makan, aku lapar" arjun memegang perutnya
"Ayo" kavya mengikuti langkah kaki arjun
Mereka makan di pinggiran taman, arjun memesan batagor sama pedagang kaki lima.
Arjun memang berasal dari keluarga kaya, namun pria ini lebih senang makan di pinggiran jalan.
Kavya duduk menunggu,, setelah memesan arjun kembali menghampiri kavya.
"Tunggu sebentar masih dibuat" ucap arjun sambil duduk
Kavya hanya tersenyum.
"Gak keberatan kita makan disini?" Tanya arjun
"Enggak" kavya menggeleng
"Aku sering makan di pinggiran jalan" lanjut kavya tersenyum
"Oh ya?" Arjun sedikit tak percaya
"Iya" kavya angguk kepala
Arjun tersenyum menatap kavya.
*gadis ini sangat berbeda dari gadis yang sering ku temui,, gadis cantik yang sederhana* arjun mulai jatuh cinta
Tak lama pedagang menyajikan batagornya pada mereka,, mereka masing masing makan dengan lahap.
"Arjun" kavya menatap arjun
"Hem" arjun menoleh
"Pipih mu ada sausnya" kavya tertawa
"Oh" arjun langsung mengambil tisu
"Dimana?" Tanya arjun
"Sini, biar ku bersihkan" kavya meraih tisu yang ada di tangan arjun
Dengan pelan kavya mengelap saus di pipih arjun,, itu membuat arjun terkesima, pria memperhatikan wajah gadis itu.
*astaga, jantung ku berdetak kencang sekali* arjun gerogi
"Dah, bersih" kavya tersenyum
"Ma..makasih" arjun salting
Kavya hanya tertawa melihat arjun.
Disisi lain, mobil pak fahri berhenti tepat di sebuah cafe mewah.
Vong Kitchen 👇🏻
Vong Kitchen menjadi favorit pecinta kuliner, terutama kuliner Eropa karena restauran ini adalah satu-satunya di Jakarta yang pengolahan makanannya dilakukan oleh Chef dengan gelar Michelin.
Fahri keluar dari mobil bersama'an dengan maira, dan juga disusul oleh mahi di belakangnya.
Mereka memasuki cafe,, dan menuju meja no.7 sesuai dengan janji,,
"Hai, fandy" sapa fahri saat tiba
"Hai, fahri" fandy berdiri menyambut sahabatnya
Keduanya saling memeluk satu sama lain.
"Bagaimana kabarmu fahri?" Tanya fandy
"Ayo duduklah" fandy mempersilahkan
"Kabarku baik,, bagaimana dengan mu?" Fahri tanya balik
"Tentu saja aku baik, istriku selalu mengurusku" fandy sedikit tertawa
"Ya, kau benar ,, kita beruntung mendapatkan kedua wanita ini" ucap fahri
"Hahaha" keduanya tertawa,
Mereka saling melepas rindu, karena lama tidak berjumpa.
"Maira, kau semakin cantik ya" melly ikut bergabung.
"Ehh, melly masyaallah,, sudah lama sekali ya" maira terlihat senang
Keduanya saling bercium pipih,, sementara mahi hanya duduk melihat kedua orang tuanya saling cakap.
"Jadi ayah sengaja ngajak ibu ke cafe,, karena mau ketemu fahri dan maira?" Tanya melly
"Iya bu, ayah rasa sekarang sudah waktunya" fandy tersenyum
"Ayah uda bicara sama fahri dan maira?"
"Sudah bu, ayah sudah bicarakan berdua dengan fahri,, iya kan fahri?" Menoleh ke fahri
"Iyah mel, fandy uda bilang semuanya,, maira juga tau" ucap fahri
"Oh ya kenalin,, anak kami, mahi" lanjut fahri
"Sayang, ini om fandy dan tante melly,, sahabat papi dan mami" fahri memperkenalkan
"Fandy, melly, ini anak kami, Mahi"
"Halo om, tante" ucap mahi dengan sopan
"Cantik sekali, tante harap kamu bisa menjadi menantu dirumah kami ya" melly tersenyum membelai pipih mahi
Mahi hanya tersenyum, tidak bisa berkata apa apa.
*jadi ini orang tua dari pria itu,, tapi kenapa anaknya tidak ada* batin mahi
"Ayah, ibu uda suka sama mahi" melly terlihat senang
"Iyah ibu tenang aja ya,, bentar lagi anak itu datang" ucap fandy santai
"Maira, anak mu mirip sekali denganmu" ucap melly
"Haha, tapi masih cantikkan maminya kan" maira terkekeh
Mahi hanya tersenyum saja menanggapi canda'an para orang tua.
Tak lama verry tiba di cafe,, pria itu langsung masuk, verry melihat ke sekitar cafe.
*siapa 3 orang yang ada disitu?* pikir verry yang hanya melihat punggungnya saja.
Setelah melihat kedua orang tuanya, verry langsung menuju meja dimana orang tuanya berada.
"Ayah" panggil verry yang menghampiri
"Nah, itu anakku sudah datang" ucap fandy
Mahi terlihat gugup saat mendengar itu.
*pria itu sudah datang* batin mahi menundukkan wajahnya
"Nak, cepat kemari,, duduklah" fandy memanggil
"Ada apa ayah?" Tanya verry yang sudah duduk
"Kenalin, om fahri sahabat ayah,, itu istrinya tante maira"
"Hai, om, tante,, aku verry" sapa verry tersenyum
"Verry, ternyata kamu lebih tampan dari yang om kira ya" fahri memuji
"Hehe, om bisa aja,, om jauh lebih tampan" verry sedikit tertawa
"Oh ya, kenalin ini anak om , mahi" ucap fahri
"Mahi?" Verry merasa tak asing dengan nama itu
Verry langsung menatap gadis yang ada di sebelah fahri,, gadis itu masih menundukkan wajahnya tak dapat terlihat.
"Nak, ayo kenalan dulu sama anak om fandy" maira membujuk
Perlahan mahi mulai mengangkat wajahnya,,, menatap verry.
"Kak verry" ucap mahi pelan
"Mahi" verry telihat kaget
"Ada apa verry? Apa kamu mengenal mahi?" Tanya fandy
"Ya ayah,, kami satu kantor" ucap verry
"Benarkah itu mahi?" Tanya fahri
"Iya papi, kak verry atasan ku di kantor" mahi angguk kepala
"Wah, itu bagus ,, berarti kalian sudah dekat kan" melly menimpali
"Ibu, ayah, tapi kenapa kalian tiba tiba menyuruh ku kesini?" Tanya verry heran
*apa? Jadi kak verry gak tau apa apa soal pernikahan itu* mahi terkejut
"Apa ada hal penting?" Tanya verry lagi
"Ayah sengaja menyuruh mu kesini, karena ayah ingin mengatakan sesuatu"
"Katakan ayah" verry menatap ayahnya
"Ayah dan om fahri sepakat, akan menikahkan kamu dan mahi secepatnya" tegas fandy
"Apa? Menikah?" Verry terbelalak
"Iya menikah,, ayah rasa sudah waktunya untuk kamu berumah tangga verry, dan mahi adalah gadis yang tepat untuk kamu"
"Tapi ayah..." verry masih ingin bicara
"Ayah tidak ingin penolakan verry,, secepatnya ayah akan mengurus pernikahan mu dengan mahi" tegas fandy
Tangan mahi bergetar mendengar perkataan fandy,, mahi menahan sesak didadanya.
"Kalau begitu, aku ingin bicara berdua dengan mahi" ucap verry menekan nada bicaranya
"Tentu saja sayang, kamu boleh berdua dengan mahi,, karena kalian akan menjadi suami istri" melly tersenyum
"Mahi, ikut denganku" verry menarik tangan mahi dengan kuat
Mahi terburu buru mengikuti langkah verry yang sangat cepat,, tangannya sampai sakit.
"Kak verry, sakit kak" mahi meminta tangannya di lepaskan
Setelah menjauh dari orang tuanya, verry melepas tangan mahi begitu saja,,
"Maaf" ucap verry datar
"Kak verry mau bicara apa?" Tanya mahi
"Mahi, jujur saja,, aku tidak bisa menerima pernikahan ini,, karena aku sangat mencintai kavya" verry to the point
"Dan aku ingin melamarnya,, aku harap kau bisa menolak pernikahan ini, katakan pada om fahri,, kalau kau tidak menyukaiku" lanjut verry memohon
"Kak verry, apa kakak pikir semudah itu? Jika kakak tidak ingin menikah, kenapa kakak tidak menentang keinginan om fandy?" Mahi menatap verry
"Aku tidak bisa menolak permintaan ayahku mahi" verry juga menatap mahi
"Mahi, aku mohon padamu" verry memegang bahu mahi
"Aku juga tidak bisa menolak permintaan papi, maaf kak,, jika kakak ingin, kita cari jalan masing masing" mahi pergi meninggalkan verry.
Mahi kembali ketempat orang tuanya berada,, dan verry juga menyusul.
*ah sial, kenapa semua jadi kacau begini* verry tertekan
"Apa yang kalian bicarakan sayang?" Bisik maira ditelingah mahi
"Tidak ada mam" mahi terlihat murung
*mami tau apa yang kamu rasakan nak, tapi maaf mami juga tidak bisa melakukan apapun sayang* maira merasa kasihan pada anak nya
Tak terasa lama sudah kedua keluarga itu berbincang bincang,, selesai sudah pertemuan keluarga itu.
Fahri beserta keluarga izin untuk pulang,, tinggallah fandy bersama istri dan anak nya.
"Ayah haruskah perjodohan ini terjadi?" Verry memberanikan diri untuk bertanya
"Tentu verry,, kenapa kau bertanya seperti itu" fandy penasaran
"Tidak bisakah aku memilih pasangan hidup ku sendiri ayah?" Verry berusaha agar tidak dijodohkan
"Ayah sudah terlanjur janji dengan om fahri,, tidak mungkin ayah membatalkan verry" fandy menekan kata-katanya
"Sudah-sudah kalian jangan ribut disini,, gak enak dilihati orang" melly melerai fandy dan verry
"Aku pergi" dengan kesal verry meninggalkan kedua orang tuanya
"Sebaiknya kita juga pulang sekarang" ajak melly pada suaminya.
Di tempat lain, Di taman arjun dan kavya masih ngobrol santai sambil menikmati batagor,,
"Arjun,, bisakah kita pulang sekarang?" Kavya bertanya
"Kenapa harus buru-buru?,, belum juga terlalu malam" arjun masih ingin berdua dengan kavya
"Aku sudah lelah ingin ber'istirahat" gadis itu memohon
"Ya baiklah,, ayo kita pulang" arjun tidak tega melihat gadis itu
Arjun mengambil motornya ditempat parkir,, kavya menunggu dipinggir taman
Tiba-tiba diperjalanan menuju rumah kavya hujan turun,, pemuda dan gadis itu berhenti sejenak.
"Kavya ayo pakai ini" arjun memberikan jaketnya pada kavya
"Kamu yakin?,, nanti kamu bisa kehujanan" gadis itu menatap arjun
"Sudah pakai,, aku tidak ingin kau sakit nantinya" arjun memaksa
*kau sungguh pria yang baik arjun* batin kavya
Mereka melanjutkan perjalanan,, tibalah sudah dirumah kavya.
"Terimah kasih,, sudah mengajakku jalan-jalan" ucap gadis itu
"Tidak perlu berterimah kasih" sahut pemuda itu
"Dah kavya" arjun melaju dengan motornya.
Pria itu menghilang dari pandangannya,, kavya memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Ehh, jaket arjun" kavya tersadar lupa mengembalikan jaketnya
"Ya dia sudah pergi jauh" kavya menghela nafas
"Lain waktu deh, aku kembalikan" gadis itu pun masuk kerumahnya.
Di jam yang sama, mobil fahri sudah didepan rumah,, mahi langsung berlari masuk kerumahnya.
"Mahi" teriak fahri
Namun mahi tidak perduli, dan tetap berlari,, gadis itu menangis mengunci dirinya dikamar.
Maira juga berlari mengejar anaknya, hatinya cemas akan keadaan sang anak.
"Mahi, sayang ini mami nak" maira mengetuk pintu kamar mahi
"Buka pintunya sayang" maira membujuk
Namun usahanya gagal,, mahi tetap tidak ingin buka pintu.
"Dimana mahi?" Fahri datang
"Ini semua gara gara kamu, kalau kamu gak maksa mahi untuk menikah,, dia gak mungkin mengurung diri dikamar" teriak maira meluapkan emosinya
"Apa maksud kamu maira? Apa salah aku menikahkan anak kita dengan pria yang baik" Fahri bingung
"Ya itu tidak salah,, tapi apa kamu pernah bertanya padanya? Apakah dia mencintai seorang pemuda? Tidak, kamu tidak pernah menanyakan itu fahri, kamu tidak pernah memahami perasaan anak kita" ucap maira kecewa
Maira meninggalkan fahri sendiri didepan kamar mahi,, sementara fahri terdiam memikirkan perkataan istrinya.
*apa yang dikatakan maira itu benar? Apa mahi mencintai seorang pria?* fahri terus berfikir.
Malam telah berganti pagi, mahi masih belum keluar dari kamarnya,, gadis itu sudah terlihat cantik dan rapi, namun entah kenapa tidak ada senyuman di wajahnya.
Sementara maira sedang menyiapkan sarapan di meja,, fahri duduk memandang istrinya, tapi maira sama sekali tidak menatap suaminya.
Sepertinya maira masih kecewa,, fahri mencoba mendekati.
"Maira" panggil fahri
Maira tidak perduli, dan ingin pergi...
"Tunggu" fahri menahan tangan istrinya
"Ada apa?" Maira cuek
"Kenapa kamu seperti ini maira? Apa kamu sedang marah?" Tanya fahri
"Kamu masih bertanya kenapa aku bersikap dingin padamu? Akan lebih baik jika kamu pikirkan sendiri" ucap maira, lalu pergi ke kamarnya
Fahri terdiam seribu bahasa,, tak lama mahi keluar dari kamarnya.
Mahi sekilas melirik papinya,, namun gadis itu terlihat malas, tetap berjalan hendak pergi dari rumah.
"Mahi, mau kemana nak?" Tanya fahri yang melihat anaknya langsung pergi
"Ke kantor" jawab mahi dingin
Gadis itu pergi dengan mobilnya,, dan fahri masih merenung.
*kenapa maira dan mahi? Menjauh dariku,, sebenarnya ada apa ini* pikir fahri.
Mahi berangkat pagi sekali, karena emosi dia lupa menjemput temannya.
Dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya,, pikirannya sedang kacau.
Ada 15 panggilan dari kavya, namun tak di hiraukan,,, tidak butuh waktu lama, gadis itu sampai di kantornya.
Sementara, dirumah kavya,, gadis itu mondar mandir tidak jelas.
"Kenapa mahi tidak mengangkat telfon dariku" gumam kavya
"Apa dia marah? Tapi apa salahku" kavya bertanya tanya
"Ahh, sudahlah,, jika terus menunggunya, aku bisa terlambat"
Kavya bergegas pergi ke kantor,, gadis itu berjalan kaki dari rumahnya menuju halte.
Kavya masih menunggu bus selanjutnya,, namun bus belum datang.
"Lama sekali,, bisa bisa aku telat" kavya panik
Gadis itu terus melihat jam di tangannya,, kadang duduk kadang berdiri.
"Aduh, gimana ini" kavya mulai stres
"Mahi, kau kenapa sih?" Kavya bergumam sendiri
Sebuah motor sport melaju dengan kencang melewatinya ,,, namun motor itu berjalan mundur kembali.
Kavya menatap heran,,
*kenapa mundur lagi* pikir kavya
Pria itu membuka helmnya,,,
"Cepat naik, apa kau ingin terlambat"
"Verry" kavya terkejut
"Ehh, apa boleh?" Kavya meminta persetujuan
"Apa aku harus mengatakannya dua kali" ucap verry
Mendengar itu kavya langsung naik ke motor verry.
Verry langsung tancap gas kencang,,,
"Hey, pelan sedikit" pinta kavya
"Biar cepat sampai,, pegangan" balas verry, menambah kecepatan motornya
Tak punya pilihan, gadis itu pun memeluk pinggang verry,, kavya menutup matanya, jujur saja dia takut naik motor kencang.
Ciittt...
Verry memberhentikan motornya tepat di halaman parkir,, namun tangan kavya masih melingkar di pinggannya.
"Kavya" panggil verry lembut
Masih tidak ada respon,,
"Kavya, kau membuatku susah bernafas" ucap verry
"Ehh" gadis itu langsung membuka mata
"Sudah sampai?" Tanya kavya
"Kau terlalu erat memelukku,, cepat lepaskan" pinta verry
"Maaf ya" kavya tersenyum malu
Setelah itu kavya turun dari motor verry,,
"Ayo, sebelum bos datang" ajak verry
Verry berjalan lebih dahulu,, kavya mencoba mengimbangi langkah verry.
Verry yang melihat itu, berjalan dengan pelan,, sampai kavya bisa berjalan di sebelahnya.
"Makasih ya, untuk tumpangannya" kavya tersenyum
Verry juga tersenyum,, mereka berdua masuk kedalam kantor, layaknya sepasang kekasih.
"Ehh verry baru datang" sapa seorang karyawan kantor lain
"Hehe, iyah nih" balas verry
"Kavya, kalian berangkat bareng?" ucap karyawan wanita itu
"Iyah kak" jawab kavya kikuk
"Sudahlah jasmine, lebih baik kita mulai kerja" seru verry, menetralkan situasi
Jasmine Deolinda 👇🏻
Sekertaris direktur, seletingan dengan verry,, atasan wanita yang di segani para karyawan kantor, termasuk kavya dan mahi,, gadis ini naksir verry, namun usahanya mendekati verry selalu gagal.
"Ayo, kavya" verry menarik tangan kavya
Mereka meninggalkan jasmine,,
*kavya, ternyata kau selangkah lebih maju dariku* jasmine menatap tidak suka ke arah kavya pergi.
Jasmine pun kembali ke ruangannya..
Dan verry mengantar kavya sampai di mejanya,,
"Sudah sampai" ucap kavya tersenyum
"Kalau gitu, semangat ya" verry tersenyum
Mahi menatap kavya dan verry,,
*sepertinya mereka semakin dekat* pikir mahi
"Mahi" panggil kavya
Verry pun ikut menoleh,,
"Kenapa kau tidak menjawab telfonku,, apa kau marah?" Kavya langsung to the point
"Benarkah? Aku tidak tau kau menelfonku,, ponselnya ku getarkan" jawab mahi berbohong
"Oh pantas saja" kavya manggut manggut
"Kak verry" sapa mahi kikuk
Verry hanya menghela nafas,, mereka saling pandang merasa canggung.
"Aku ke ruangan ku ya" ucap verry, pamit pada kavya
"Oke" kavya tersenyum
Setelah verry pergi, kavya langsung melanjutkan pekerjaannya begitu juga dengan mahi.
Keduanya fokus dengan tugas mereka, tidak saling bicara sampai waktunya makan siang.
"Mahi, ayo aku sudah lapar" kavya memegang perutnya
"Ayo" mahi beranjak dari mejanya
Seperti biasa mereka makan di kantin,, selama berada di kantin, kavya terus melihat ke sekeliling.
Dan itu di perhatikan oleh mahi,,
"Kau cari siapa kavya?" Tanya mahi
"Hah, tidak ada" kavya berusaha santai
"Kavya, kita berteman sejak kecil,, aku tau persis dirimu, kau pasti berbohong kan" ucap mahi menatap kavya
"Hmm, baiklah ,, aku akan jujur padamu" kavya menghela nafas
"Aku mencari verry, tapi sepertinya dia tidak makan di kantin" lanjut kavya
"Kenapa aku merasa kau semakin dekat dengannya" pikir mahi
Aku juga tidak tau" kavya menata lurus ke depan
"Mahi, aku rasa aku jatuh cinta dengan verry" kavya tersenyum
Duaarr...
"Uhuk uhuk" mahi kaget terbatuk batuk
"Hey, makannya pelan dong" kavya menepuk punggung mahi
"Ini minum" kavya memberi air di gelas
Mahi yang tersedak langsung meminum air itu.
"Kenapa kau terlihat kaget begitu sih?" Kavya penasaran
"Tidak, itu bagus,, lalu apa rencanamu?" Mahi berusaha tenang
*sial, kenapa aku harus berada di posisi ini lagi* gerutu mahi
"Ntahlah,, aku belum tau, verry mencintai ku atau tidak" kavya sedikit murung
"Ya meskipun dia perhatian padaku,, tapi itu belum tentu dia juga mencintaiku kan" lanjut kavya
*kau salah kavya,, kak verry itu sangat mencintaimu, bahkan dia ingin melamarmu* batin mahi
"Menurutmu? Apa verry juga mencintaiku?" Tanya kavya antusias
"Mungkin saja" balas mahi
"Apa harus ku katakan padanya" kavya terlihat semangat
"Hah? Ya tentu, apapun itu aku mendukungmu kavya" ucap mahi memegang tangan kavya
*aku juga ingin melihatmu bahagia kavya, ntah itu bersama verry atau arjun,, jika kau bahagia bersama verry, aku akan menggagalkan pernikahan itu* mahi tersenyum
"Mahi, kau adalah sahabat terbaik" kavya memeluk mahi
Kedua gadis itu berpelukan,, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan mereka.
Waktu kerja telah selesai,, mahi mendatangi ruangan verry.
Tok..tok..tok
"Masuk" ucap verry
Mahi pun masuk setelah mendapat izin,, verry menoleh ke arah pintu
"Mahi" verry sedikit kaget
"Tidak biasanya kau ke ruanganku,, ada apa?" Tanya verry
Mahi duduk di depan meja verry,,
"Kak verry, aku tidak ingin melanjutkan pernikahan dengan kakak" mahi to the point
"Aku akan mengatakannya pada papi,, dan aku ingin kak verry juga mengatakannya pada om fandy dan tante melly" ucap mahi serius
"OK,, aku akan mengatakan pada orang tuaku, setelah kau mengatakannya" ucap verry
"Aku permisi kak" mahi melangkah pergi
"Kak verry" mahi berbalik
"Apa ada lagi?" Tanya verry
"Tolong antar kavya pulang,, aku ada urusan" ucap mahi
Verry pun mengangukkan kepalanya,, mahi lalu pergi meninggalkan ruangan verry.
Disisi lain, kavya mencari keberadaan mahi di parkiran.
"Mahi" teriak kavya saat melihat mahi
Kavya berlari menghampiri,,
"Kau tadi kemana? Meninggalkan ku begitu saja" kavya cemberut
"Aku tadi ke toilet" jawab mahi berbohong
"Oh, ayo kita pulang" kavya hendak masuk ke mobil mahi
"Kavya, maafkan aku,, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu" tolak mahi
"Kenapa?" Kavya heran
"Aku ada janji dengan samir,, aku ingin menemuinya"
Setelah mengatakan itu, mahi langsung masuk ke mobil dan pergi.
Kavya yang ditinggalkan merasa aneh,,
"Kenapa aku merasa mahi seperti menyembunyikan sesuatu" gumam kavya
Kavya ingin pergi menuju halte,, namun verry dengan cepat memotong jalannya.
Ssstttt...
"Aku tidak akan membiarkan mu pulang naik bus,, ayo ikutlah denganku" ucap verry
"Mau kemana?" Kavya tertegun menatap verry
"Ini kejutan,, kau akan tau sendiri nanti" verry tersenyum
Kavya mau ikut dengan verry,, mereka pergi meninggalkan kantor.
Dan ternyata jasmine melihat keduanya pergi,, gadis itu mengepalkan tangannya.
"Verry, kenapa kau lebih memilih gadis itu dari pada aku" ucap jasmine.
Jasmine akhirnya pulang dengan hati yang hancur.
*kenapa cintaku tidak pernah terbalaskan,, dimana kekuranganku verry?* jasmine menahan rasa sakit dihatinya
Di sisi lain,, mahi sudah berada di hotel samir sekarang.
"Samir,, aku merindukanmu" gadis itu memegang tangan samir
"Aku juga merindukan mu" samir pun memegang tangan gadis itu
"Sayang ada yang ingin ku katakan padamu,, ku harap kamu tidak marah" mahi menghela napas berat
"Ada apa sayang,, sepertinya kamu terlihat tidak baik-baik saja" samir sedikit cemas
"Sebenarnya beberapa hari aku tidak menemui mu karna papi telah menjodohkan ku dengan seorang pemuda,, hal itu membuatku frustasi sayang" mahi menjelaskan tentang keadaannya
"Apa?,, dijodohkan" samir sangat kaget mendengarnya
"Iya sayang" mahi murung
"Terus kamu terima perjodohan itu?" Samir emosi
"Tenang dulu sayang,, aku memang belum mengatakan apapun pada papi, tapi aku sudah bicara dengan pria itu,, dan dia tidak ingin menikah denganku, dia juga sudah mencintai gadis lain" jelas mahi
"Jadi kalian berdua ingin menggagalkan pernikahan itu kan" samir mulai melunak
"Iyah sayang,, dan satu lagi" mahi menggantung ucapannya
"Apa itu sayang? Katakan saja terus terang" samir menatap mata mahi
"Gadis yang di cintai pria itu adalah kavya, dan kavya juga mencintainya" mahi menghela nafas
"Kavya?" Samir sedikit kaget
"Samir, aku tidak ingin menyakiti hati arjun,, tapi aku ingin kavya bahagia dengan pilihannya" ucap mahi
"Aku harap kamu bisa membuat arjun mengerti" lanjut mahi
"Baiklah, kamu tenang aja sayang,, aku akan coba bicara dengan arjun, bagaimana pun arjun harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya" samir tersenyum
Mahi memeluk samir dengan erat,, samir juga membalas pelukannya, keduanya saling melepas rindu.
Samir mengangkat wajah gadis itu, mendekatkan wajah mereka.
"Jika aku melakukan sesuatu, apa kamu akan marah?" Tanya samir tersenyum
Mahi hanya menatap wajah samir,, dengan berani samir mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir mahi,, gadis itu tidak marah, mahi tersenyum.
Mereka berdua melanjutkan ciuman itu lebih dalam,, cukup lama mereka berciuman, tangan samir mulai beranjak nakal ke bagian yang lain.
"Cukup sayang" mahi melepas penyatuan bibir mereka
"Kamu akan mendapatkan lebih setelah kita menikah" ucap mahi tersenyum malu
Samir hanya tersenyum menatap gadis yang di cintainya,, pria itu menghargai permintaan mahi.
Mahi pun pamit pulang kerumah, samir mengantar sampai depan hotel.
"Hati hati sayang" ucap samir
"Iya sayang" mahi tersenyum
"Aku akan datang kerumah mu, setelah kamu mengatakan semuanya pada papimu" samir membelai pipih mahi
"Aku pasti akan mengatakan pada papi" mahi tersenyum
Tak lama mahi menghilang dari pandangan samir.
Ditempat lain verry mengajak kavya kesebuah tempat makan.
"Verry kenapa berhenti disini?" tanya kavya
"Ya kita makan dulu,, aku sudah lapar" verry memegang perutnya yang sudah bunyi
"Baiklah aku ikut saja" gadis itu mengikuti verry
"Kavya ada hal penting yang ingin ku katakan padamu,, ku harap kau bisa memahaminya" ucap verry
*ada hal apa sebenarnya,, kenapa wajah verry begitu serius?* gadis itu sedikit heran
"Ya katakanlah" jawab kavya santai
"Jujur saja kavya aku sudah menyukai mu dari dulu" verry mengutarakan perasaan nya
"Uhuk-uhuk,, apa aku tidak salah dengar verry" kavya kaget mendengarnya
"Tidak kavya, aku memang menyukaimu,, apa kau mau menjadi pacarku?" Verry memegang tangan gadis itu
"Ya verry aku mau jadi pacarmu,, jujur aku juga sangat menyukai dirimu" gadis itu juga menggengam tangan verry
"Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui kavya,, ku harap kamu bisa mengerti keadaan ku" verry terlihat murung
"Ada hal apa verry,, mengapa kamu jadi murung?" Tanya kavya
"Akan ku ceritakan,, tapi kau harus siap mendengar semuanya" verry mencoba menjelaskan
"Ya verry, jangan ada yang ditutupi,, aku akan berusaha tetap tenang" kavya ingin tau
"Sebenarnya aku telah dijodohkan dengan mahi" verry bicara dengan jujur
"Apa?,, jadi untuk apa kau mengutarakan perasaan padaku verry?" kavya mulai menangis
"Kavya dengarkan aku, aku dan mahi telah sepakat untuk menolak perjodohan ini,, karna kami tidak saling menyukai" verry berusaha menenangkan gadis itu
"Apa benar begitu verry?" gadis itu akhirnya mengerti
"Tentu kavya" jawab verry antusias
*aku percaya padamu verry,, karna aku tau pemuda yang dicintai mahi adalah samir* gadis itu tersenyum.
Mereka melanjutkan makan mereka dengan hening hingga selesai.
Disisi lain mahi sudah tiba dirumah nya,, gadis itu memasukan mobilnya kedalam garasi.
"Assalamualaikum" mahi masuk kedalam rumah
"Walaikum salam" jawa kedua orang tua gadis itu
"Mahi sini,, papi ingin bicara sayang" titah fahri
"Iyah papi" dengan malas mahi mengampiri papinya
"Apa yang ingin papi bicarakan?" lanjut mahi
"Papi ingin tau kenapa kamu begitu cuek terhadap papi mahi" tanya fahri
"Tidak ada papi" mahi berbohong
"Jawab jujur mahi,,papi tidak mau dicuekin terus seperti ini nak " fahri menatap anaknya
"Jika memang papi ada salah tolong jelaskan,, jangan bikin papi bingung mahi" lanjut fahri
"Papi ingin tau kenapa mahi seperti ini,, mahi begini karna papi memaksa mahi menikah dengan kak verry tanpa bertanya pada mahi terlebih dahulu" mahi sedekit emosi
"Papi tidak pernah taukan apa yang mahi rasakan,, mahi sudah mencintai pemuda lain papi" mahi menangis didepan fahri
"Kau lihat sekarang fahri,, kau membuat anak mu menangis" maira memeluk anaknya
"Baiklah jika memang perjodohan ini membuat mahi sedih,, papi akan membatalkanya" ucap fahri pada anaknya
"Papi serius,, aku menyangimu papi terimah kasih" mahi memeluk papinya
"Ya sayang, demi kebahagiaan mu,, papi akan menanggung resikonya, meskipun papi harus kehilangan kontrak kerja sama dengan om fandy" ucap fahri tersenyum
Ditempat lain verry dan kavya masih jalan bersama, kini verry mengajak kavya ke toko emas.
"Verry ngapain kita kesini?" tanya kavya
"Sudah ikut saja" verry menarik tangan kavya
"Ya tapi untuk apa verry?" Gadis itu sedikit bingung
"Tuan, selamat datang tuan,, kenapa anda tidak konfirmasi kedatangan anda tuan?" pegawai toko menunduk hormat pada anak bos mereka
Kavya sedikit heran *kenapa pegawai ini memanggilnya tuan*
"Aku ingin membeli kalung untuk calon istriku" bisik verry
"Ya, baiklah tuan" pegawai tersebut mengangguk mengerti
"Tolong berikan kalung berlian mewah yang kalian miliki" ucap verry pada pegawai toko emas
Pegawai toko memberikan kalung berlian yang begitu mengkilau kepada verry.
"Apa kau suka kavya?" Tanya verry
"Ini bagus sekali verry,, apa aku pantas menerimanya?" Gadis itu tidak enak hati
"Tentu kavya, karena ini bukti cinta ku padamu,, jadi jangan menolaknya" verry memakaikan kalung dileher gadis itu
"Terimah kasih verry" kavya memeluk very
"Sama-sama kavya" verry juga memeluk gadis itu.
"Tapi kenapa mereka begitu hormat dengan mu verry? Mereka juga memanggil mu tuan" Tanya kavya heran
"Aku..." verry belum bicara
"Tuan verry adalah anak dari pemilik toko ini nona" sang pegawai sudah memotong lebih dulu
"Hah? Apa itu benar?" Kavya terkejut menatap verry
"Iya sayang" verry tersenyum membenarkan perkataan si pegawai toko
"Ternyata kau bukan sembarang orang ya,, jadi keluarga mu itu orang terpandang ya" kavya sedikit murung
"Kok kamu jadi murung sih? Jangan dong, nanti cantiknya hilang sayang" bujuk verry
"Aku takut orang tua kamu gak setuju, kamu berhubungan sama aku" kavya sedikit cemas
"Percaya sama aku, aku pasti akan melakukan segalanya untuk hubungan kita sayang" verry tersenyum
Sejenak kavya berfikir.
"Iyah aku percaya sama kamu" kavya melunak, dan langsung memeluk verry
"Aku mencintai mu verry" kavya mendekapkan wajahnya, di dada bidang verry
"Aku lebih mencintaimu sayang" verry membalas pelukan gadisnya dengan erat
Disisi lain samir bersiap untuk berkunjung kerumah arjun,, dengan cepat dia tiba dirumah arjun.
Ting nong...
^suara bel berbunyi^
Cek..lek
Tante rina membuka pintu.
"Eh samir,, ayo masuk" rina mempersilakan samir untuk masuk
"Apa arjun ada tante ?" samir menanyakan keberadaan arjun
"Ada,, dia sedang berada kamarnya" sahut rina
"Samir boleh menemuinya tante" samir meminta izin untuk ke kamar arjun
"Tentu samir,, anggap saja rumah sendiri" jawab rina dengan santai
Samir menghampiri arjun dikamarnya,, terdengar suara arjun yang sedang bernyanyi.
"Tok tok tok" samir mengetuk pintu kamar arjun
"Arjun apakah aku boleh masuk?" samir meminta izin
"Ya samir masuk lah" teriak arjun dari dalam
"Arjun sedang apa kau" tanya samir
"Aku sedang berlatih untuk acara manggung malam ini" sahut arjun
"Suaramu sudah oke,, kau tidak perlu banyak latihan" samir memuji arjun
"Apa yang membuat mu datang kemari" tanya arjun
"Ada hal penting yang harus ku katakan padamu" samir terlihat gugup
"Apa yang ingin kau katakan,, kenapa kau gugup?" arjun menatap samir dengan tajam
"Akan ku katakan,, tapi janji dulu kau tidak akan marah padaku" samir mencoba menjelaskan
"Ya katakan saja,, aku tidak suka ada rahasia diantara kita" arjun penasaran
"Sebenarnya ini tentang kavya arjun,, kata mahi ada pemuda lain yang telah menyukai kavya dan sepertinya kavya juga menyukainya" samir memberitau semua nya
"Apa?,, ber'arti sudah tidak ada harapan lagi untukku samir" arjun terlihat sedih
"Jangan sedih arjun,, mungkin kalian belum berjodoh" samir berusaha menenangkan temenya itu
"Tapi aku mulai menyukainya samir,, haruskah aku melepaskanya?" Arjun menghela napas berat
"Semua terserah padamu arjun,, tapi apapun keputusan kavya, ku harap kau bisa menerimanya dengan ikhlas" samir menasehati arjun
"Terimah kasih samir, aku mengerti" ucap arjun
"Tidak perlu berterimah kasih,, semua sudah terjadi, karena aku juga yang telah memaksamu bertemu dengan kavya,, maafkan aku arjun" samir merasa bersalah
"Sudahlah jangan minta maaf,, aku akan coba mengutarakan perasaan ku, apapun jawabannya aku tidak masalah" arjun tersenyum
"Baiklah,, kau memang teman terbaik, aku permisi ya" samir menepuk bahu arjun
Samir melangkah pergi keluar dari kamar arjun,,
"Hey, jangan lupa datang ke acara manggung ku nanti malam" teriak arjun dari dalam
"Yaya, oke" sahut samir dari luar
Samir pamit pada rina,, hendak pulang.
"Tante, samir permisi ya" ucap samir, menyalami rina
"Loh, kok cepat sekali pulangnya?"
"Iyah tante,, samir masih ada kerjaan"
"Ya sudah,, hati hati ya" rina tersenyum
Setelah kepergian samir,, rina melihat ke kamar anaknya.
"Arjun" panggil rina
"Ya ibu, ada apa bu?" Arjun menoleh
"Nak, kamu kan sudah dewasa,, kamu pasti punya pacar kan, kapan kamu kenalin ibu sama pacar kamu?" Tanya rina
"Loh, ibu kok mendadak kepo sih" arjun kaget
"Ya kan ibu pengen kamu cepet nikah arjun" rina sangat berharap
"Ya kan nanti bakal nikah juga kok bu,, mending ibu masak deh, aku laper" arjun mengubah topik
"Kan kamu ya gitu terus menghindar kalau di suruh nikah,, kan banyak sih jun, cewe yang ngejar kamu kok kamu gak pilih salah satu aja" celetuk rina
^Berhubung ibu nya arjun orang yang to the point dan asal jeplak kalo ngomong, jadi wajar ya kalau agak judes guys^
"Aku gak suka mereka bu,, uda deh ibu jangan terlalu kepo, mending ibu masak sekarang" arjun mendorong pelan ibunya keluar kamar
Setelah nya arjun langsung mengunci pintu kamarnya.
"Huuff, selalu saja di tanya soal cewe,, dasar ibu" gerutu arjun kesal
Arjun pun melanjutkan kembali latihannya.
Tak terasa hari sudah mulai gelap,, verry mengantar kavya pulang kerumah.
"Sayang, kau tinggal sendiri dirumah? Kok aku gak pernah lihat orang tua mu?" Tanya verry sambil memperhatikan rumah kavya
"Iya, aku sendirian,, bi rani selepas beres beres rumah langsung pulang" balas kavya
"Orang tua aku di bogor, karena papah di pindahkan tugas ke bogor" lanjut kavya
"Kau tidak ikut ke bogor?" Tanya verry penasaran
"Enggak, aku uda betah di jakarta" kavya tersenyum
"Kau tidak mampir dulu?" Kavya menawarkan
"Hah? Serius boleh?" Verry terlihat semangat
"Ya boleh lah,, kenapa enggak?" Kavya heran
"Yakin? Kau tidak takut berdua dirumah dengan ku" verry tersenyum nakal
"Takut? Ngapain harus takut dengan mu? Emang kau hantu" ucap kavya tanpa beban
"Ayo masuk" ajak kavya, sambil berjalan hendak masuk kerumah
"Sayang, lingkungan dirumah mu sepih ya" verry senyum penuh makna
Kavya membuka pintu dan masuk, di ikuti oleh verry,, rumah yang besar, namun hanya 1 orang di menempatinya.
"Iya sepih, soalnya papah buat rumah ini agak jauh dari tetangga" ucap kavya
Kavya membuka jas kerjanya, gadis itu sekarang hanya mengenakan kaos lengan pendek.
Verry yang melihat kavya hanya mengenakan kaos sedikit ketat, yang memperlihatkan lekuk tubuh gadis itu,, langsung menelan salivanya sendiri.
Pikiran verry mulai kemana mana, apa lagi mereka hanya berdua dirumah itu,, verry memang masih perjaka, tapi jujur saja verry termasuk cowo nakal yang pernah pacaran dengan banyak gadis.
Meskipun tidak pernah berhubungan, namun tidak sedikit gadis yang pernah berciuman, dan yang pernah terjamah olehnya.
"Mau minum apa? Teh? Kopi?" Suara kavya memecah pikiran verry
"Hah? Kopi boleh juga" verry tersenyum, pria itu mencoba mengalihkan pandangan
*buang jauh jauh pikiran kotor mu verry, kau tidak boleh merusaknya* batin verry
"Ini diminum ya" kavya selesai membuat kopi
"Makasih ya sayang" verry tersenyum
Panggilan sayang membuat wajah kavya merah padam, gadis itu tersenyum malu.
Ada sekitar 2 menit, keduanya hanya diam dan saling pandang.
"Umm, sayang bisa gak? Duduk di sebelah aku" pinta verry, mencoba membuka suara
Kavya menuruti dan duduk tepat di sebelahnya,,
"Ver, maafin aku ya selama ini aku gak peka" kavya menyender di bahu verry
Dan itu membuat perasaan verry semakin tidak karuan, nafasnya kian memburu.
"Iyah gapapa kok sayang,, ya kan waktu itu kau tidak tau kalau aku suka padamu" verry menggenggam tangan kavya
Verry menoleh, menatap wajah kavya,, mereka sangat dekat.
"Kau terlihat tampan verry" kavya membelai wajah pacarnya itu
*sial, aku tidak tahan lagi* batin verry, menatap bibir mungil di hadapannya
Veery langsung menarik leher kavya,
Cup
Satu kecupan di bibir berhasil verry dapatkan, kavya terbelalak.
"Maaf sayang, ku harap setelah ini kau tidak membenci ku" ucap verry
Lalu verry menyesapkan tangannya di rambut gadis itu, dan kembali mel*mat bibir mungil kavya.
*kau manis sekali sayang* verry memejamkan matanya,
Menikmati ciuman itu, lidahnya terus menjelajah lebih dalam lagi,, sampai kavya kewalahan karna kehabisan nafas.
"Hmm..hmm" kavya memukul dada verry
Verry pun melepaskan perpagutan mereka,, menatap gadisnya dengan sayang.
"Apa kau ingin membunuh ku verry? Aku bahkan tidak bisa bernafas" kavya cemberut kesal
"Maaf sayang,, abis kau terlalu manis, membuat ku jadi gila" verry tersenyum menggoda
"Apa kau marah padaku? Sebelumnya aku tidak minta izin padamu" Tanya verry menyesal
"Tidak, aku tidak marah,, aku hanya kesal, kau membuat ku tak bisa bernafas" ucap kavya malu
"Jadi kau tidak marah ya? Kalau begitu, ayo kita lanjutkan" ucap verry
Verry mendorong tubuh kavya, gadis itu bersandar di sofa.
Cup
Mereka kembali berpagutan, memadu kasih dan saling mendalami ciuman itu.
Beralih ke sisi lain, samir sudah mendapat kabar dari mahi,, jika orang tuanya menyetujui hubungan mereka.
Samir pun di minta datang kerumah mahi,, tak lama samir sudah tiba dirumah mahi.
"Assalamulaikum" ucap samir
"Wa'alaikumsalam" ucap sang pemilik rumah berbarengan
"Samir ya?" Sapa maira
"Iya tante" samir menyalami maira
"Ayo sini masuk,, duduk dulu" maira tersenyum
"Makasih tante" samir pun duduk
"Tante panggil mahi sama papinya dulu ya" ucap maira, lalu berlalu
Diruang tengah, mahi sedang duduk sama papinya mengobrol.
"Papi, samir uda dateng,, dia di depan" panggil maira
"Mahi, kamu duluan ke depan nanti papi nyusul" ucap fahri
"Iya pi" mahi beranjak ke depan
"Samir" teriak mahi saat melihat samir
"Hai" samir menoleh
"Kapan kau datang?" Mahi terlihat senang, dan duduk di sebelah samir
"Aku baru saja tiba" balas samir
"Samir, aku merindukan mu" mahi menyederkan kepalanya ke bahu samir
Dan maira dapat melihat itu.
"Jangan begini mahi, nanti papi mu marah" samir bergeser menjauh
"Iya baiklah" mahi pun melepaskan pegangan tangannya
Tak lama fahri datang dari ruang tengah,,
"Kamu yang bernama samir?" Fahri menatap tajam
"Iya om" samir sedikit gerogi
"Jadi kamu menyukai anak saya?" Fahri to the point
*apa'an si papi, kok galak amat* mahi mengerutkan dahinya
"Iya om" samir masih menjawab dengan tenang
"Kamu tidak hanya main main kan dengan anak saya? Apa kamu serius?" Bentak fahri
"Saya serius menyukai anak om,, dan saya ingin menikahi mahi" balas samir dengan mantap
Mahi tersenyum senang mendengar itu.
"Ternyata kamu berani juga ya" fahri menatap samir
"Baiklah,, saya terima lamaran kamu, dan secepatnya kalian akan menikah" fahri tersenyum
"Om serius?" Samir sedikit tak percaya
"Iya, tapi sebelum itu,, bawalah orang tuamu kemari untuk membicarakan tanggal pernikahan" fahri menepuk bahu samir
"Baik om,, secepatnya saya akan bawa orang tua saya" samir antusias
"Bagus,, saya suka sifat optimis kamu, kalau begitu saya tinggal ya" fahri permisi
"Om" panggil samir
"Ya?" Fahri menoleh
"Boleh saya keluar dengan mahi?" Takut takut bertanya
"Kamu bilang apa barusan?" Fahri menatap tajam
"Itu kalau boleh" samir menciut
"Baiklah, bawa pulang sebelum jam 9" tegas fahri
"Baik om" samir terlihat senang
Fahri pergi meninggalkan mereka, maira juga menyusul suaminya.
"Ayo" samir menarik tangan mahi
"Ehh, mau kemana sih?" Mahi heran
"Arjun malam ini manggung,, aku mau lihat" pinta samir
"Oh jadi arjun? Kirain mau kemana" mahi sepertinya malas menonton konser
"Ayolah sayang" samir memohon
"Aku sudah janji dengannya" bujuk samir
"Yaya, baiklah" mahi tak tega
"Hehe" samir cengir
Mereka berdua pergi menuju konser arjun.
Sementara di belakang panggung, arjun sedang di makeup
"Duh, ganteng banget bintang kita" ucap sang Makeup Artist
"Cepat sedikit, jangan banyak omong lu" bentak arjun
"Galak banget sih" sang perias melanjutkan tugasnya dengan fokus
"Berikan ponselku" pinta arjun, masih tetap menutup mata
Manejernya langsung gerak,, mengambil ponsel arjun, dan memberikannya pada pemiliknya.
Arjun pun menerima ponselnya,, dia langsung membuka mata,
"Hey, jangan buka mata dulu belum selesai" merepet lah si perias
"Tunggu, Sebentar" titah sang vokalis band itu
"Kau menunda waktu saja" cibir sang Makeup Artist
"Diamlah" arjun menutup mulutnya
"Aku ingin menelfon dulu, pergilah kau" mengusir perias nya
"What? Jujun waktunya 20 menit lagi jun" ucap sang perias
"Yaya, aku tau,, 5 menit aja, sana pergi" arjun mendorong periasnya
"Dasar kau" si perias pun pergi meninggalkan ruangan
Arjun langsung menghubungi orang yang ingin dia telfon.
Tuutt...tutt... begitulah bunyinya
Disisi lain, ponsel kavya berdering.
Itu mengejutkan keduanya,, kavya masih bersama verry
"Arjun" ucap pelan kavya, takut terdengar pacarnya
"Aduh, angkat tidak ya" melirik verry yang di sebelahnya
Karena ponsel terus berbunyi, itu membuat verry heran
"Kenapa gak di angkat?" Tanya si pria
"Itu.. itu" kavya bingung
"Itu apa?" Verry mulai menatap tajam
"Ahh, ya mahi bilang aku harus kerumahnya malam ini" ucap kavya berbohong
"Jadi kau pulang dulu ya sayang" kavya berusaha membuat verry pergi dari rumahnya
"Sekarang?" Tanya verry
"Ya sebentar lagi, aku uda janji dengannya" lagi lagi gadis itu berbohong
"Ya sudah sekalian aja ku antar"
Duaar
Kavya keringat dingin,,
*mampus salah ngomong kan* kavya mulai panik
"Yaya, sebentar ya, aku jawab dulu" kavya tersenyum
Hendak pergi ke kamar,,
"Kalau mahi yang telfon ngapain di kamar jawabnya" tanya verry dengan nada dingin
"Sini, biar ku angkat" lanjut verry, ingin mengambil ponsel
"Ahh, biar aku saja ya" kavya menjauh sedikit
"Aku angkat disini kok"
Verry hanya menatap diam.
"Hallo" ucap kavya menjawab telfon
[Hallo, kavya,, kau dimana?] Tanya arjun
"Aku dirumah,, kenapa?"
[Malam ini aku manggung,, apa bisa kau datang?] Arjun berharap
"Hmm, aku..aku tidak janji ya" kavya bingung
[Atau kau ingin aku menjemputmu]
"He, jangan jangan" tolak kavya
Verry menatap sinis, mulai curiga,,
Seppp
Dengan cepat merebut ponsel kavya,, dan menaruh nya di telinganya.
[Kenapa? Apa kau marah padaku?] Arjun masih menunggu jawaban
Verry diam tak menjawab,, hanya menatap kavya tajam
[Kavya, kau mendengarku? Lagi pula jaket ku kan masih ada padamu, sekalian bawa saja] pinta arjun
Dan tiba tiba, tut panggilan di matikan.
"Kenapa suara mahi? Berubah?" Pertanyaan bodoh langsung terucap
"Maaf" kavya menunduk
"Siapa dia? Sepertinya kalian dekat" verry mulai cemburu
"Tidak,, itu temannya samir" ucap kavya
"Samir? Oh jadi ada yang lain lagi,, atau masih banyak lagi?" Verry terus menyudutkan pacarnya itu
"Hah? Kau ini bicara apa sih? Aku dan arjun hanya teman" jelas kavya
"Arjun? Yang tadi menelfon arjun?" Tanya verry tetap dengan nada dingin
"Iya, dan dia itu temannya samir,, pacarnya mahi" balas kavya
"Pacar mahi?" Verry melunak
"Iya, jika tidak percaya tanya saja"
"Yaya baiklah,, lalu kenapa jaket arjun ada padamu?" Mulai sinis lagi
"Itu waktu hujan..." belum sempat selesai
"Hujan? Kau jalan berdua dengannya begitu?" Lansung di potong verry
*aduh, pusing kalo dia uda cemburu ya* batin kavya
"Iya eh tidak" kavya jadi serba salah
"Aduh, bukan gitu,, memang pernah jalan berdua, tapi gak ada apa apa kok sumpah" ucap kavya
"Gak sengaja aja turun hujan,, jadi jaketnya ketinggalan samaku,, nah, belum sempat ku kembalikan" lanjut kavya
"Jadi sekarang mau di kembalikan?" Tanya verry
"Iya, begitu tadinya" kavya angguk kepala
"Terus menyuruh ku pulang? Biar bisa ketemu berdua gitu?" Masih aja panas
"Aigoo, enggak lo sayang" bujuk kavya
"Ya uda yuk, anterin" pinta kavya
"Malas" verry merajuk
"Uda lah aku pulang" pria itu melangkah pergi keluar rumah
"Ya uda pulanglah,, aku dijemput arjun" ancam kavya
"He" verry berbalik
"Jangan macam macam ya,, cepat naik" terakhir mau juga
"Hmm, katanya mau pulang" ledek kavya
"Gak jadi,, gak rela lihat kamu di bonceng cowo lain" verry memalingkan wajahnya
"Ya uda ayo" kavya langsung naik ke motor verry
Mereka langsung menuju lokasi,,
"Dimana dia?" Tanya verry
"Aku dengar dia manggung di Monas" ucap kavya
"Oh, jadi dia anak band" verry manggut manggut
"Bukan, dia vokalisnya" balas kavya
"Oh" verry merasa tak suka
Langsung meninggikan kecepatannya menuju monas.
Sementara, di belakang panggung arjun masih bingung.
"Kok tiba tiba terputus ya telfonnya" pikir arjun
"Jun, ayo cepat makeup lagi" teriak si perias
"Yaya" arjun duduk lagi di depan cermin
"Merem dulu" ucap si perias
"Jangan semprot pelembab, aku jijik" pinta arjun
"Yaya, bawel"
"Aku gak suka baunya" vokalis yang satu ini banyak mintanya
Dengan tenang arjun di makeup,,, di luar panggung, terlihat samir sudah datang bersama mahi.
Alun alun monas sudah ramai orang,, terutama para gadis, banyak yang menanti sang idola (siapa lagi? kalau bukan arjun).
"Apa belum mulai?" Tanya mahi
"Belum, kita temui arjun dulu" ajak samir
Samir menarik tangan mahi agar tetap bersamanya,, menuju tenda tempat arjun beristirahat.
"Maaf, selain petugas di larang masuk" cegah beberapa bodyguard
"He, si arjun itu memang gak bilang apa?" Samir berusaha melece petugas keamanan
"Anda kenal dengan tuan arjun?" Tanya petugas itu
"Ya, dia adikku" ucap samir tipu
"Sejak kapan dia jadi adikmu?" Mahi tercengang
"Suttt, diam aja" bisik samir
"Payah, mereka gak bisa di sogok" bisik samir lagi
"Tunggu saya konfirmasi dulu" hendak menelfon arjun
"Ehh, tunggu tunggu,, biar aku saja" ucap samir
Samir langsung menelfon arjun,, yang tak lama di angkat.
"He, bodyguard mu ini, dia menghalangi jalanku" ucap samir
[Hah? Kau mau masuk ke tenda] arjun heran
"Iyah, masa aku nunggu di luar,, kau tidak sopan ya, aku ini kakakmu" sengaja biar petugas itu dengar
[Kau ini bicara apa sih? Sejak kapan ibuku menikahi ayahmu] arjun terbelalak
"Uda cepat kesini,, jangan banyak tanya, jadilah adik yang baik" samir menekan suaranya
[Dasar, kau selalu buat susah,, yaya aku kesana]
Yang di seberang mematikan telfon.
"Lihat dia datang sebentar lagi" ucap samir pada petugas itu
Terlihat arjun keluar dari tenda menghampiri,, pria itu sudah sangat tampan, persis seperti idol kpop.
"Selamat malam tuan" petugas itu hormat
"Hey, arjun katakan padanya" samir belagak
Arjun menghela nafas, menatap samir
"Dia kakak ku" dengan suara tertekan arjun mengatakan
"Maaf tuan,, kami tidak tau" petugas itu menyesal
"Sudah, cepat masuk" arjun melirik keduanya
Dia jalan lebih dulu, di ikuti samir dan mahi,, mahi hanya geleng kepala.
"Masih ada 10 menit lagi,, makanya aku tidak keluar" ucap arjun
"Yaya, tuan" ledek samir
"Haha, dasar" arjun tertawa
"10 menit lagi? Itu artinya jam 19.30" tanya mahi
"Iya, benar" arjun mengangguk
"Apa samir sudah cerita?" Tanya mahi
"Sudah, aku tau" arjun menghela nafas
"Kavya, dia menyukai orang lain kan" lanjut arjun
"Kau baik baik saja?" Tanya mahi lagi
"Tentu saja aku baik,, banyak cewe yang mengejar ku" arjun sok bangga padahal galau
"Hmm, kau tidak bisa menutupi nya dariku arjun" samir menatap arjun
"Sudahlah, kau membuatku ingin menangis saja" arjun memalingkan wajah
"Kan sudah ku duga" samir menepuk bahu arjun
"Maaf ya arjun" mahi tidak enak
"Ya sudah,, mungkin saja jodohku sedang menuju kemari, di antara kerumunan para gadis" arjun menatap langit langit.
Di waktu yang sama pula, jasmine keluar dari mobilnya,, dan dia juga berada di dekat daerah monas.
Gadis itu berjalan dengan anggun, dan berpenampilan modis.
Auranya sangat memikat, sampai semua orang melirik ke arahnya,, jasmine menuju ke konser, tak lama dia menghubungi seseorang.
"Papah, aku sudah datang"
[Kau sudah sampai? Baiklah, papah akan menyusul,, kau dimana?]
"Aku dekat parkiran,, cepatlah, aku risih disini" gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri
[Ya tunggu papah disitu]
Jasmine pun mematikan sambungan.
Sementara di dalam tenda peristirahatan, tuan erwin beranjak dari duduknya.
"Tuan, anda mau kemana?" Tanya arjun yang juga ada diruangan bersama temannya (samir dan mahi)
"Putriku sudah datang,, aku ingin menjemputnya, dia di luar panggung" ucap tuan erwin
Tuan erwin selaku donatur acara dalam konser arjun,, dialah yang membiayai seluruh acara, dan juga honor arjun.
"Oh jadi anak bapak akan hadir disini" arjun kepo
"Ya, aku menyuruhnya datang,, karena ini kali pertama aku mengadakan konser di jakarta" ucap pak erwin
"Biasanya dia tidak mau,, tapi dia sangat menyayangiku" pak erwin tersenyum
"Sepertinya putri bapak gadis yang baik,, apa dia sudah menikah?" Arjun penasaran
"Hmm, dia belum menemukan pasangannya,, ya sudah aku tinggal dulu ya" pak erwin langsung pergi
"Samir, sepertinya ucapan ku jadi kenyataan" arjun menatap kepergian pak erwin
"Cih, kau begitu yakin" samir mencibir
"Kau lihat saja,, putri pak erwin pasti tertarik padaku" arjun merapikan rambutnya
"Dasar, baru bilang suka kavya,, sekarang mau gebet cewe baru" samir memukul arjun
"Ku bilang aku mulai suka bukan suka,, otakmu dimana" arjun balik mukul
"Huh ku kira kau serius" samir mendengus
"Ya aku serius,, kali ini aku serius" balas arjun mantap
"Yaya, semoga berhasil" samir memberi semangat
"Jun, cepat sudah waktunya" teriak manejer dari luar
"Baiklah, aku harus manggung sekarang" arjun menatap samir
Arjun pun berlari menaiki panggung yang telah tersedia,,
"Ayo, kita lihat dia" ajak samir, menarik tangan mahi
Mereka memilih berdiri tidak jauh dari panggung,, agar dapat melihat arjun.
Disisi lain, kavya dan verry sudah tiba di monas,, mereka berjalan di antara banyaknya kerumunan orang, verry tetap menggandeng tangan pacarnya itu.
"Sayang, disini terlalu ramai, berisik" bisik verry
"Gapapa ver, namanya juga konser" balas kavya
"Nah, itu mahi dan samir,, ayo kita kesana" ajak kavya, menarik tangan verry
Verry pun terpaksa mengikuti pacarnya itu,,
"Mahi, samir" teriak kavya saat sudah dekat
Keduanya menoleh bersamaan,,
"Kavya" serentak keduanya, dan saling pandang
"Hai,, sudah lama kalian disini" tanya kavya
"Tidak juga kok" jawab mahi
Sementara samir dari tadi hanya memperhatikan verry.
"Oh ya samir,, ini verry pacarku" kavya memperkenalkan verry pada samir
*jadi ini pria yang ingin dijodohkan dengan mahi dan dia ternyanta menyukai kavya,, dan saat ini mereka sudah jadian* samir menghela nafas berat memikirkan arjun
"Hai, senang berkenalan dengan mu" samir mengulurkan tangan begitu juga verry.
Mereka berempat kembali menantikan arjun tampil.
Dan tiba saat nya arjun tampil diatas panggung,, semua penonton sudah saling bersorak memangil nama arjun.
Arjun menyanyikan sebuah lagu,, dia bernyanyi begitu menjiwai dan pandangannya tak lepas dari kavya yang sedang bersama verry sampai selesai bernyanyi.
^ini lah lirik lagu nya gusy sangat menyentuh hati 😭😭😭^
(Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja)
Vocal : Judika
Andai aku bisa memutar waktu
Aku tak ingin mengenalmu
Mengapa ada pertemuan itu
Yang membuat aku mencintaimu
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Terus mengingatmu
Memikirkanmu
Semua tentang dirimu
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Tak seperti kamu
Yang mampu tanpaku
Bagaimana
Mungkin kini kau bersama yang lain
Walau hatimu untukku
Adakah kesempatan untuk cintaku
Bahagia walau kita berbeda
Uu-oo-uu-oo-uu-oo
Huu-uu-oo-uu-oo
Mungkin kamu bukan untukku
Tapi kau selalu di hatiku
Oo-uu-oo
Hal itu tentu membuat kavya merasa tidak enak dengan arjun,, verry pun bisa menebak isi hati pria itu, kalau pria itu menyukai pacarnya,, karna tatapan pria itu dari tadi tertuju pada gadis disampingnya.
Sementara samir dan mahi, hanya saling pandang, berpikir hal yang sama.
Dan terlihat jasmine tengah memperhatikan sang penyanyi, namun dia tidak menyadari keberadaan verry dan kavya.
*pria itu bernyanyi hanya menatap lurus ke depan,, seperti ada seorang gadis yang dia sukai, namun suaranya sangat merdu* batin jasmine, gadis itu tersenyum menikmati lagu yang dibawakan arjun.
Begitu selesai bernyanyi arjun langsung turun dari panggung menghampiri kavya tanpa memperdulikan pria yang ada disamping gadis itu.
"Arjun maafkan aku" kavya menghela nafas
"Sssttt" arjun menutup mulut kavya dengan jarinya
"Apa yang kau inginkan?" verry mengepalkan tanganya menahan amarah
"Diam disitu dan jangan bicara" arjun menunjuk verry
Verry pun terbelalak dan makin geram,, namun hanya memperhatikan arjun.
"Kau tidak perlu khawatir,, ku harap kau bisa menjaganya dengan baik" arjun menatap verry
"Aku sudah tau semuanya,, jadi kalian tidak perlu meminta maaf" arjun mengambil jaket dari tangan kavya dan pergi meninggalkan mereka
"Tunggu" teriak kavya
Seketika langkah arjun terhenti dan menoleh.
"Terimakasih untuk semua yang kau lakukan,, ku harap kau mendapatkan gadis yang lebih baik dariku" gadis itu meneteskan air mata
Arjun pun hanya tersenyum,, dan berlalu pergi.
Sedangkan samir dan mahi hanya bisa diam menyaksikan semua itu.
Sementara jasmine yang tak sengaja melihat hal itu juga sedih karna cintanya tidak terbalaskan,, gadis itu berlari sambil menangis menuju tenda peristirahatan.
"Kenapa kau tidak pernah memandangku verry, apa yang kurang dari diriku?" Teriak jasmine berbicara sendiri
Tanpa disadarinya, ternyata arjun sudah berada didalam lalu mendengar perkataan jasmine.
"Kau tidak perlu menangisi pria itu,, masih banyak pria lain yang bisa menghargai dirimu" ucap arjun menghela nafas berat
Jasmine kaget dan langsung mengusap air matanya.
"Sejak kapan kamu ada disini?" tanya jasmine
"Belum lama si, yang pasti aku lebih dulu ada disini dibandingkan kamu" jawab arjun santai
"Apa kamu mendengar semua yang kukatakan barusan" jasmine merasa malu
"Ya suara mu begitu nyaring" ejek arjun
"Sebenarnya kamu ini siapa, perasaan hanya orang penting yang ada disini" cibir arjun
"Aku jasmine anak pak erwin" sahut jasmine melipat tangannya
*jadi ini anak pak erwin, ternyata cantik juga* arjun tersenyum
"Aku arjun, sang vokalis" arjun mengulurkan tangannya
"Jadi kau? Arjun si penyanyi" jasmine mulai tersenyum kembali
"Ya namaku arjun,, sudah jangan menangis lagi,, ntar cantiknya hilang loh" arjun menggoda
"Cih, dasar tukang gombal" cibir jasmine
Diluar tenda samir dan mahi masih bersama kavya dan juga verry.
"Kavya apa kau baik-baik saja" tanya mahi
"Ya aku baik" jawab kavya lemas
"Kalau begitu kami pulang duluan ya" mahi menggandeng samir
"Aku sudah katakan pada papi, jangan lupa dengan janji kakak" bisik mahi saat melewati verry, tanpa di dengar oleh samir dan kavya
"Ya hati-hati" jawab verry dan kavya
Samir dan mahi pergi meninggalkan kedua pasangan itu.
"Samir ayo cepat, ini sudah hampir jam 9" mahi takut jika terlambat pulang
"Ya sayang,, ini juga uda cepat, jangan terlalu takut" samir fokus menyetir
Akhirnya mereka tiba dirumah mahi,, terlihat fahri sudah menunggu di depan rumah, menatap tajam ke samir,, samir pamit pulang dan tak lupa bersalaman.
Disisi lain, verry memegang tangan kavya, mereka menuju motor verry di parkirkan.
"Apa kau tidak menyesal beby?" Verry menatap kavya
"Kenapa aku harus menyesal?" Kavya balik bertanya
"Ku kira kau menyukainya" verry pasang muka manyun
"Haha, kau cemburu ya?" Kavya tertawa
"Haiss, orang cemburu masih aja ketawa" verry makin kesal
"Ululu, sayang, kau menggemaskan sekali ya,,, aku hanya menyukaimu, hanya kau" tutur kavya tersenyum
"Benarkah?" Senyuman langsung mengembang di bibir verry
Dan kavya membalas dengan anggukan kepala.
"Ayo, aku ingin mengenalkan mu pada ayah dan ibuku" ajak verry
"Hah? Tapi apa tidak terlalu cepat?" Kavya sedikit ragu
"Tidak,, aku serius denganmu beby, aku ingin menikahi mu" verry membelai wajah kavya
Seketika air mata menetes dari sudut mata gadis itu,, kavya menangis haru.
"Jadi apa kau mau menikah denganku?" Verry memegang tangan kavya
"Aku mau" kavya tersenyum
Mereka berdua pergi meninggalkan alun alun monas, dan menuju kediaman orang tua verry.
Tak lama, tibalah mereka didepan gerbang rumah yang megah dan mewah,, verry membunyikan klekson, dan security langsung membuka gerbang.
Begitu masuk halaman rumah, kavya melihat sekeliling,, terlihat di depan rumah ada taman dan beberapa lampu di hias dengan indah, juga terdapat kolam ikan yang semakin menambah keindahan taman tersebut.
Verry mematikan motornya, berhenti tepat di depan rumah.
"Ayo, kita masuk" ajak verry
Kavya hendak melangkah namun dia ragu,, jantungnya berdetak kencang.
"Tunggu, aku takut ayah dan ibumu tidak menyukaiku" kavya cemas
"Jangan takut, ada aku bersamamu" bisik verry, lalu menggenggam tangan kavya
Keduanya langsung masuk kedalam rumah, diruang tamu terlihat fandy dan melly sedang duduk santai,, sesekali melly memijit kepala fandy.
"Ayah, ibu" panggil verry
Fandy dan melly menoleh bersamaan,, dan sedikit terkejut dengan kedatangan anak mereka,, namun lebih terkejut lagi ketika melihat gadis cantik yang ada di belakang verry.
"Verry, apa yang membuatmu datang kesini?" Tanya fandy
"Iya, bahkan tidak mengabari ibu" melly menimpali
"Dan siapa gadis itu? Kenapa kau bawa kerumah kita" melly to the point
"Verry, apa kau bisa menjelaskan ini" fandy sedikit menekan suaranya
Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan orangtuanya,, membuat kavya sedikit takut menatap fandy dan melly.
"Aku kesini karena ada yang ingin aku katakan pada ayah dan ibu" ucap verry
"Maaf jika aku datang tiba tiba"
"Apa yang ingin kau katakan?" Fandy penasaran
"Ayah, aku ingin mengenalkan pacarku" lanjut verry
Fandy dan melly seketika terbelalak kaget,, namun belum merespon.
"Ini kavya, dia pacarku" verry menarik tangan kavya
"Hallo om, tante,, saya kavya" gadis itu tersenyum
Fandy dan melly hanya saling pandang heran,, karena selama ini verry tidak pernah membawa seorang gadis kerumah orangtuanya.
Kavya pun menyalami tangan fandy dan melly,, keduanya tersenyum menatap kavya.
"Apa kalian serius? Berpacaran?" Fandy menyelidik
"Iya ayah aku serius, dan aku ingin menikahinya" ucap verry mantap
"Hah? Menikah?" Teriak melly kaget
"Iya ibu, aku dan kavya sepakat untuk menikah" verry membenarkan ucapannya
Fandy dan melly terbelalak, mata mereka membulat seketika mendengar kebenaran yang ada,, mereka saling pandang bingung.
Sementara kavya terlihat takut, melihat reaksi orangtua sang pacar yang kaget.
"Verry, bisa kita bicara empat mata" pinta fandy
"Tentu ayah" verry pun mengangguk
"Ayah tunggu di luar" fandy beranjak keluar rumah
Verry hendak menyusul ayahnya, tapi kavya menahan.
"Verry, aku takut" gadis itu panik
"Uda gapapa, ibuku baik" bisik verry
"Tunggu saja disini"
Verry pun keluar menemui ayahnya,, dan kavya tinggal berdua dengan melly.
"Duduk aja, kenapa berdiri terus" ucap melly menatap kavya yang masih berdiri
"I..iya tante" kavya malu
"Sini, kamu kan pacar verry,, apa tidak mau kenal sama ibunya?" Melly tersenyum
Gadis itu pun langsung duduk, meski masih malu malu kucing.
"Uda lama kenal verry?" Tanya melly
"Sudah tante" balas kavya
"Kok bisa kenal sama verry?" Melly mulai interogasi
"Saya satu kantor dengan kak verry tante" jawab kavya kikuk
"Oh, kalian satu kerjaan" melly manggut manggut
Tak lama pelayan meletakkan minuman di atas meja.
"Ayo diminum dulu" melly menawarkan jus yang di sediakan
"I..iya tante, makasih" kavya tersenyum
"Siapa tadi nama kamu?" Tanya melly setelah meminum jusnya
"Kavya, tante" kavya menunduk malu
"Kamu serius, mau menikah dengan verry?" Melly mulai mode serius, menatap tajam
"Kalau kamu serius sama anak saya,, saya tidak masalah, tapi kalau kamu berani mengkhianati anak saya,, saya tidak akan diam saja" lanjut melly menekan nada bicaranya
"Jadi kamu jangan main main dengan ucapan kamu,, karena saya bisa memantau kamu kapan saja" ucap melly
Kavya langsung menelan salivanya sendiri, merinding? Tentu saja, siapa yang tidak merinding jika calon mertuanya model begitu.
"Iya tante,, saya yakin, saya mencintai kak verry" ucap kavya mantap dengan lantang
"Baiklah, saya percaya,, tapi ingat, saya tidak semudah itu memberikan anak saya pada seorang gadis,, maka jadilah calon istri yang baik" lagi lagi melly menatap tajam kavya
Dan kavya hanya membalas dengan senyuman di bibir.
Sementara di luar rumah, tepatnya di teras,, fandy dan verry juga dalam mode serius.
Verry duduk di depan ayahnya,, dan fandy menatap anaknya dengan seksama,, keduanya masih saling tatap.
"Ada apa ayah?" Verry membuka suara
"Apa kau sengaja melakukan ini? Hanya untuk membatalkan pernikahan mu dengan mahi?" Fandy to the point
"Apa ayah serius menanyakan itu?" Verry tidak percaya, kenapa ayahnya tidak bisa memahami dirinya
"Aku tidak pernah melakukan hal apapun, jika itu tidak di luar kesadaranku ayah,, dan ayah justru tau sendiri seperti apa aku" verry menekan suaranya
"Ahh, baiklah,, mungkin kau memang berpacaran dengan gadis itu,, tapi, apa kau benar benar mencintai gadis itu? Kau sungguh ingin menikahinya?" Fandy melontarkan begitu banyak pertanyaan
"Harus berapa kali aku mengatakannya ayah? Aku mencintainya, aku ingin menikahinya, apa itu masih kurang?" Verry mulai emosi
"Hah, kau ini selalu saja membuat kepala ku mau pecah" fandy mulai stress
"Apa yang harus ku katakan pada keluarga fahri? Dia pasti marah padaku" gerutu fandy bingung
"Hemm, akan lebih baik jika ayah menemui om fahri,, mungkin ayah akan terkejut dengan apa yang di katakan om fahri" ucap verry sedikit mengulas senyum
Lalu verry meninggalkan ayahnya yang masih berfikir,,
"Hey, apa maksudmu? Jangan main teka teki denganku, anak sialan" fandy menjadi emosi
"Ahh, kenapa aku jadi emosi begini,, ahh, apa fahri sudah tau hal ini?" Pikir fandy
"Wah, jangan jangan anak itu sudah menemui fahri,, wah, bisa kacau bisnisku,, anak sialan itu selalu bikin susah" fandy terus merepet sendiri
Tak lama diapun masuk kembali kedalam rumah,, dia melihat istrinya mengobrol dengan gadis yang di bawa anaknya itu.
"Emm, navya" panggil fandy
"Kavya, bukan navya" pekik melly
"Hah, terserahlah,, ya itulah maksudku" ucap fandy asal
"Jawab jujur nak? Kau tidak di paksa dengan anak itu kan" fandy masih emosi tak ingin menyebut nama anaknya sendiri
Kavya pun bingung,, mendengar pertanyaan fandy
"Ahh, maksudku si verry,, anakku cuma verry tidak ada yang lain" tutur fandy
"Oh, tidak om,, kak verry tidak pernah memaksa kok" kavya tersenyum
"Itu mustahil" lirih fandy pelan, tanpa di dengar yang lain
"Anakku itu pria yang kasar, dia suka marah tanpa sebab,, apa kau yakin ingin menikah dengannya?" Fandy sekali lagi ingin mendengar jawaban kavya
*apa maksud ucapan ayah? Tega menjelekkan anaknya sendiri* batin verry
"Aku tau dia pria yang mudah marah,, tapi aku yakin, aku bisa merubahnya menjadi lebih baik" tutur kavya tersenyum menatap verry
"Apa ayah masih punya alasan lain? Sudahlah, lebih baik persiapkan pernikahan ku secepatnya" verry mencibir menatap fandy
"Baik, ayah akan siapkan sesuai keinginanmu" ucap fandy dengan kesal
*Lihat? Dia yang mau menikah, aku yang harus mengurus semuanya, dasar* batin fandy, melotot ke verry
"Aku ini anakmu ayah,, sifat ku itu menurun darimu" bisik verry di telinga fandy
Hal itu sukses membuat fandy terdiam seribu bahasa,, tentu saja, ayah dan anak ini memang tidak jauh beda,, sama sama keras kepala.
Melly pun tertawa sendiri melihat suami dan anaknya,, dia sampai geleng kepala.
"Aku masih ingin melakukan hal yang lain,, jadi kami pulang ya" verry mengedipkan matanya menatap orangtuanya
"Bye, ayah ibu" ucap verry, sambil menggandeng tangan kavya
"Om, tante,, saya pamit ya" ucap kavya
Gadis itu hendak bersalaman dengan orangtua pacarnya,, namun verry langsung menariknya keluar.
"Ehh, tapi.." kavya kaget
"Nanti kemalaman di jalan bahaya" ucap verry
Verry pun melajukan motornya keluar gerbang,,
"Hey, jangan kau rusak gadis itu,, awas saja kau verry" teriak fandy kesal
"Dasar, anak nakal" gerutu fandy, menghela nafas kasar
"Sudahlah, aku yakin verry tidak akan berbuat hal aneh,, apa kau meragukan didikan ku?" Tanya melly menatap suaminya
"Tidak sayang,, aku bukan meragukan didikan mu, aku hanya takut anak itu salah mengambil langkah" tutur fandy
"Itu tidak akan terjadi,, verry masih di batas normal,, kau tenang saja" melly meyakinkan suaminya.
Mereka pun kembali masuk kedalam rumah.
Disisi lain verry sudah tiba dirumah kavya,, kavya turun dari motor verry.
"Terima kasih sayang, sudah mengajakku bertemu dengan orang tuamu" ucap kavya senang
"Sama-sama beby" verry tersenyum
"Aku pulang beby" ucap verry
"Hati-hati sayang" kavya memeluk verry
"Bye" verry melaju dengan motornya
.................
Ditempat lain arjun masih bersama dengan jasmine,, mereka masih asik mengobrol.
"Jasmine,, kau mengenal pria yang tadi ?" Tanya arjun
"Ya aku mengenalnya,, dia teman sekantor ku" jawab jasmine
"Hmhm,, apa kau begitu mencintainya?" Arjun penasaran
"Mau tau aja urusan orang,, dasar kepo" jawab jasmine acuh
"Bukan kepo,, hanya ingin tau" lagi lagi arjun penasaran
"Apa salah jika aku mencintainya,, dimana kekuranganku arjun?" jasmine mulai menangis lagi
"Tidak ada yang kurang jasmine,, tapi memang cinta tidak bisa dipaksakan,, aku tau bagaimana perasaan mu,, karna aku juga mengalaminya" arjun mencoba tetap tegar
"Terima kasih arjun kau sudah mau mendengar keluh kesahku" spontan jasmine memeluk arjun
Arjun kaget dan membiarkan gadis itu memeluknya
"Sudah jangan menangis lagi,, kan masih ada aku disini" arjun menghapus air mata jasmine
"Maaf" jasmine melepas pelukannya
"Tidak perlu minta maaf,, lebih baik sekarang kau coba buka pintu hati buat yang lain dan move'on dari pria itu" arjun memberi semangat
"Ya aku akan berusaha ikhlas" jasmine tersenyum
"Oh ya minta nomor handphone mu lah" dengan berani arjun bicara
"Ya tentu" jasmine pun memberikan nomor handphonenya
Mereka pun keluar dari tenda,, karna arjun harus tampil untuk yang kedua.
"Arjun semangat" teriak jasmine
"Pasti" arjun tersenyum.
....................
Dan masih di waktu yang sama, fandy masih merenungi apa yang dimaksud sama anaknya tadi.
Karena hari sudah malam fandy pun tidur dan memutuskan besok pagi dia akan mengunjungi fahri dirumahnya.
Pagi telah tiba, dengan cepat fandy bersiap untuk menemui fahri
"Ayah, mau kemana pagi-pagi gini udah rapi aja?" tanya melly pada suaminya
"Ayah ingin mengunjungi fahri bu" jawab fandy
"Ayah tidak sarapan dulu" melly menatap heran suaminya
"Tidak bu,, ayah sarapan diluar saja" sahut fandy sambil melangkah
"Hati-hati yah" teriak melly
Tidak butuh waktu lama untuk fandy tiba dirumah fahri,, fandy turun dari mobilnya.
Ting nong ... ting nong
^suara bel berbunyi^
"Maira coba lihat siapa yang datang" titah fahri pada istrinya
"Ya" mairah menuju pintu utama
Maira membukakan pintu,, dia terkejut ternyata fandy yang datang kerumahnya pagi-pagi begini.
"Ehh, pak fandy,, masuk dulu pak" maira menyuruh fandy
"Terimah kasih" fandy mengikuti maira
"Siapa mi?" tanya fahri penasaran
"Ada pak fandy, di depan pi" sahut maira dari ruang tamu
Fahri langsung berjalan ke ruang tamu,, dimana fandy sudah menunggunya.
Dengan perasaan tak enak campur penasaran, fahri menghampiri fandy.
"Ada apa fan? Pagi pagi begini datang?" Tanya fahri yang sudah duduk di depannya
"Itu ri, gimana ya? Aku juga bingung mau mulai dari mana" fandy sedikit ragu
"Maksud mu apa fan? Apa ada masalah?" Fahri juga heran
"Iya, itu ri" fandy masih ragu
"Dari tadi itu itu mulu yang kamu bilang fan,, aku jadi bingung" balas fahri
"Sebenarnya ada apa? Bilang aja fan" ucap fahri menatap sahabatnya itu
"Ini soal verry dan mahi,, tentang pernikahan itu ri? Kira kira bagaimana?" Fandy mulai bicara
"Jadi kamu datang pagi pagi, mau bahas pernikahan anak anak?" Tanya fahri dengan wajah sedikit bimbang, antara mau jujur dan tidak
*bagaimana ini? Aku harus bilang apa ya? Aduh, nanti fandy tersinggung terus marah lagi* fahri segan
"Iya ri, sebenarnya bukan cuma itu,, ada yang mau aku bilang"
*aku mulai dari mana ini? Nanti fahri marah, terus mutusin pertemanan gimana? Aduh, anak itu bikin aku pusing* batin fandy
"Emangnya ada apa fan?" Tanya fahri yang penasaran
"Sebelumnya, apa gak ada yang ingin kamu bicarakan ri?" Fandy balik nanyak
*awas aja kalo anak itu bohong, awas kau verry* gerutu fandy dalam hati
"Kenapa kamu tanya seperti itu fan?" Fahri pun terkejut dengan pertanyaan fandy
*apa fandy uda tau semuanya? Padahal aku belum bilang apa apa, jangan jangan mahi ini* fahri salah mengira
"Ya mana tau ada yang ingin kamu sampaikan ri?" Fandy kokoh tak ingin bicara dahulu
"Humm, sebenarnya ada fan" Fahri menghela nafas
"Tapi ku harap hal ini tidak mempengaruhi hubungan keluarga kita,, anakku mahi, dia menolak menikah dengan anakmu,, dia sudah punya kekasih" Tutur fahri
"Hah? Apa benar itu ri?" Fandy tercengang kaget
"Iya, aku bahkan sudah bertemu dengan pemuda itu" Ucap fahri serius
"Maaf ya fan,, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk menikahkan anak kita" Lanjut fahri mendengus kasar
"Kamu ini ngomong apa si ri? Ngapain minta maaf" Ucap fandy
"Lah, aku serius fan" Fahri heran melihat respon sahabatnya
"Iya aku tau,, kamu tenang saja ri, masalah ini tidak akan merubah pertemanan kita" Ucap fandy tenang
"Ahh, serius kamu? Terus anakmu gimana? Nanti dia kecewa dong" Fahri tak enak
"Anakku juga sudah punya pacar" Balas fandy to the point
"Loh? Kenapa kamu baru bilang fan" Fahri menatap fandy kesal
"Aku juga baru tau tadi malam,, anakku datang bawa pacarnya" Seru fandy
"Jadi keadaan kita sama ya fan" Pikir fahri
"Iya, makanya aku datang pagi pagi ,, tapi aku gak berani bilang takut kamu marah" Ucap fandy tertawa
"Dasar kamu fan" Fahri ikut tertawa
Keduanya tertawa lepas setelah mengatakan yang sebenarnya.
Maira yang melihat dari arah dapur sedikit heran,, entah apa yang dibicarakan suaminya itu? Sampai tertawa keras.
"Ini pak, diminum dulu tehnya" Maira meletakkan teh panas di atas meja
"Gak usah repot repot buk mai" Sahut fandy
"Ya gapapa pak,, toh sekali sekali main kerumah" Balas maira
"Ya uda, aku tinggal dulu ya" Lanjut maira, lalu pergi meninggalkan keduanya
Setelah lama mereka berbincang,, tak lama mahi muncul dari kamarnya.
"Ada om fandy" Ucap mahi saat melewati ruang tamu
"Iya, sini salami om fandy dulu" Ucap fahri
"Hallo om" Mahi menyalami fandy
"Wah, kamu sudah terlihat rapi dan cantik,, pasti mau berangkat kerja ya?" Tanya fandy
"Iya om" Mahi tersenyum
"Pi, aku berangkat dulu ya" Mahi menyalami papinya
"Gak sarapan dulu sayang?" Tanya fahri menatap anaknya
"Sarapan dikantor aja deh pi" Balas mahi, lalu berlalu pergi keluar rumah
Setelah mahi pergi ke kantor,, Fandy dan fahri kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Oh ya fan, Jadi kapan rencana verry lamarannya?" Tanya fahri
"Aku gak tau ri,, Terserah anak itu, Aku cukup memberi restu saja" Ucap fandy mantap
"Iya benar fan,, Seharusnya kita jadi orang tua itu peka ya fan, Tapi kita gak tau keinginan anak kita" Tutur fahri
"Iya ri,, Kalau aku tau mereka punya pacar,, Tak mungkin juga aku menjodohkan mereka ri" Fandy menimpali
"Ya sudah, Aku balik dulu ya ri" Fandy pamit
"Kok cepet fan,, Gak sarapan sini?" Fahri menawari
"Gak usah, Aku mau langsung ngecek ke toko emas ri" Pekik fandy
Fahri pun mengantar fandy sampai ke depan rumah,, Tak lama fandy pergi mengendarai mobilnya menjauh dari rumah fahri.
................
Di lain tempat, Mahi sudah berada didepan rumah kavya,, Seperti biasa gadis itu ingin menjemput temannya.
Namun selang 5 detik, Verry juga tiba didepan rumah kavya,, Dan akhirnya mahi dan verry saling pandang terkejut.
"Ma..hi" Verry sedikit heran
"Kak..verry" Mahi juga tidak kalah heran
Lalu tak lama kavya keluar dari rumah, Gadis ini sudah terlihat cantik mempesona,, Tapi kavya di kejutkan oleh dua orang yang menjemputnya.
"Kalian datang untuk menjemputku?" Tanya kavya, Dan keduanya mengangguk
Kavya menjadi bingung di antara kekasih dan sahabat, Keduanya sama pentingnya.
"Siapa yang datang lebih dulu?" Tanya kavya
"Mahi sudah ada disini sebelum aku tiba,, Tidak masalah, Jika kau ingin pergi bersamanya,, Aku bisa pergi sekarang" Verry tersenyum
Verry hendak pergi mengendarai motornya,, Namun mahi menghalangi.
"Kak verry" Panggil mahi
"Kau memanggilku?" Verry berbalik
"Pergilah bersama kavya,, Aku masih ada urusan yang harus di selesaikan" Mahi memberi kesempatan pada verry
"Kalau begitu aku permisi" Mahi tersenyum pada kavya
Sebelum pergi, Mahi mendekati kavya dan berbisik di telinganya.
"Ku beri kau waktu untuk berdua, Selamat pacaran" Bisik mahi, Mengedipkan matanya
"Mahi kau.." Kavya tersenyum malu
Mahi pun langsung pergi meninggalkan dua insan yang sedang di landa kasmaran.
"Ayo, Kita bisa pergi sekarang" Ajak verry
Kavya pun mengangguk dan naik ke motor sang pujaan hati, Lalu memeluk pinggang verry dengan erat.
...................
Sementara di kantor, Jasmine sudah lebih dulu datang dan sudah ada diruangannya,, Gadis itu terlihat fokus memeriksa pekerjaannya didepan laptop.
Bunyi notif pesan masuk, Mengalihkan pandangannya.
Jasmine langsung mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk, Melihat nama Arjun yang tertera dilayar sedikit membuatnya tersenyum.
Arjun :
Good morning, the most beautiful woman in the world❤. Jika saat ini kau sedang bekerja? Maka jangan lupa tersenyum 😊
Membaca isi pesan dari arjun, Sontak membuat jasmine tertawa,, Sampai satu ruangan melihatnya heran.
"Dasar tukang gombal" Gumam jasmine masih tersenyum
Setelah membalas pesan dari arjun, Dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
................
Dan di seberang sana, Tepatnya dirumah pria yang mengirimi pesan ke jasmine. Siapa lagi? Ya sudah jelas arjun.
Melihat pesannya telah di balas oleh gadis yang dia temui tadi malam,, Wajahnya langsung sumringan.
"Dia membalas pesanku? Apa ini sungguhan?" Gumam arjun kesenangan
Arjun langsung membaca pesan balasan dari jasmine.
Jasmine :
Baiklah, Jangan lupa tersenyum juga untukmu Tuan gombal🤗
Melihat jasmine merespon dengan baik,, Justru membuat arjun senyum senyum gak jelas, Dan itu di perhatikan sang ibu.
"Heh, Jun" Rina memukul bahu anaknya
"Hah, Apa bu?" Arjun menoleh kaget
"Kamu ini kok senyum senyum sendiri, Kek orang gila dijalanan aja" Celetuk rina
"Astaga, Ibu" Arjun geleng kepala
"Tega bener, Anak sendiri dikatain gila" Pekik arjun
"Abis kamu memang gila, Gak ada yang lucu mesem mesem,, Abis lihat apa sih?" Tanya rina
"Lihat bidadari bu" Jawab arjun asal
"Bidadari? Makin lama kok beneran gila kamu jun" Gerutu rina
"Emang kamu jaka tarub? Yang bisa lihat bidadari mandi,, Sadar jun sadar" Pekik rina
"Ibu gak percaya? Emang jaka tarub doang yang bisa lihat bidadari? Aku juga bisa bu" Sih arjun makin ngasal bicara
"Dasar, Makanya cepet cari pacar,, Kelamaan jomblo bikin otakmu eror jun" Gerutu rina
Lalu rina pun pergi meninggalkan anaknya sendiri yang sedang senyum senyum sambil menatap layar ponselnya.
.................
Beralih ke kantor, Kavya dan verry sudah tiba di halaman parkir,, Mereka masuk ke dalam gedung kantor bersama, Pegangan tangan verry tak pernah lepas bahkan saat masuk kedalam kantor.
Para karyawan yang melihat pun saling berbisik dan bergosip.
"Ehh, Lihat itu,, Kavya kok mesra banget ya sama pak verry?" Bisik karyawan lain
"Iya bener,, Ada hubungan apa ya mereka?" Karyawan yg lainnya ikut nimbrung
"Dasar kavya, Emang keganjenan jadi cewe" Mereka terus berbisik
Bahkan bisikan itu sampai ke telinga kavya tanpa mereka sadari,, Sontak kavya langsung berhenti.
"Ada apa bebby?" Verry kaget tiba tiba berhenti
"Sepertinya mereka tidak menyukai hubungan kita" Ucap kavya menunduk malu
Verry yang mendengar itu menjadi emosi, Dan langsung mengumpulkan semua karyawan.
"Perhatian, Semuanya" Teriak verry
"Tolong berkumpul sebentar" Teriak verry lagi
Semua karyawan pun berkumpul,, Begitu juga karyawan yang menggosip tadi,, Kavya sendiri pun kaget.
"Ada apa pak?" Tanya sekretaris verry
"Saya ingin menyampaikan kabar gembira pada kalian" Verry tersenyum
"Wah, Apa itu pak?" Para karyawan terlihat antusias
Begitu jasmine yang tak sengaja lewat pun ingin mendengar kabar gembira yang di maksud verry.
"Sebentar lagi saya akan menikah" Ucap verry
Sontak semua karyawan kaget.
"Apa itu benar pak?" Tanya karyawan yang kurang percaya
"Ya, Itu benar ,, Dan kavya adalah calon istri saya" Verry menggenggam tangan kavya
Yang lainnya ikut terkejut sekaligus terkagum mendengar penuturan manajer perusahaan.
"Jadi jangan ada yang menyebarkan gosip yang tidak baik tentang hubungan saya,, Jika saya mendengarnya, Maka kalian saya pecat" Ancam verry
Dan semuanya mengangguk tanda mengerti,, Kavya terharu dengan apa yang dilakukan verry, Verry hanya tersenyum mengusap lembut rambut kavya.
Hal itu dilihat oleh jasmine secara langsung.
*Jadi mereka akan menikah? Tidak mungkin ada kesempatan untukku* Batin jasmine
Jasmine langsung pergi meninggalkan kantor,, Dia merasa tidak sanggup jika harus bekerja hari itu.
Disaat jasmine keluar dari kantor, Selisih 3 detik mahi datang,, Mahi langsung menuju meja kerjanya.
Namun disaat mahi ingin duduk, Tiba tiba revi menariknya ke sudut.
"Ehh" Mahi yang kaget berteriak
"Ssttt, Jangan kenceng kenceng" Revi menutup mulut mahi
Mahi pun menganggguk mengerti,, Lalu revi membuka mulutnya.
"Ada apa mbak?" Mahi bingung
"Ada berita baru" Ucap revi
"Berita baru?" Mahi masih bingung
"Lah? Lo gak tau?" Revi justru heran
"Engga mbak, Emang ada apa?" Tanya mahi
"Lo temen deketnya masa gak tau, Heran gue" Pekik revi
"Emang kenapa mbak?" Mahi penasaran
"Berhubung lo bawahan yang baik,, Gue kasih tau deh" Cibir revi
"Pak verry mau nikah" Ucap revi mantap
"Hah? Nikah?" Mahi pun terkejut
"Biasa aja kali, Gak usah kaget juga" Celetuk revi
"Iya, Maaf mbak" Mahi cengir
"Mbak tau dari mana?" Mahi kepo
"Ya kan, Pak verry sendiri yang umumin tadi sama semua karyawan,, Makanya lo kalo dateng jangan lambat" Balas revi
"Dan lo mau tau gak? Siapa calon istrinya?" Bisik revi
"Siapa mbak?" Mahi heran
"Sini" Revi menyuruh untuk mendekat
Mahi pun mendekatkan telinganya ke revi.
"Kavya, Cewe yang disebelahmu itu" Bisik revi
"Kavya?" Mahi menutup mulutnya kaget
"Ho'oh, Hebat ya dia,, Bisa dapetin pak verry" Ucap revi
"Hehe, Mungkin pak verry yang memang suka sama dia mbak" Mahi mencoba membela
"Ahh, Entahlah,, Kayaknya gue harus cari gebetan baru, Bye mahi" Pekik revi
"Haha, Iya mbak ,, Silahkan" Mahi tersenyum kecut
Setelah revi pergi, Mahi kembali ke meja kerjanya.
"Dasar, Narik aku cuma mau gosip" Mahi geleng kepala menghela nafas
"Tapi kavya kok belum kelihatan ya" Mahi mengidarkan pandangan
Tapi dengan cepat dia melanjutkan kembali pekerjaannya,, Tak lama kavya muncul dan duduk di mejanya.
"Kavya" Panggil mahi
"Hai, Kau sudah disini?" Kavya tersenyum
Mahi langsung menggeser kursinya ke dekat kavya.
"Kavya, Apa itu benar?" Tanya mahi
"Apa itu?" Kavya mencoba mencerna
"Berita yang beredar di kantor hari ini" Mahi menekan suaranya
"Oh, Haha,, Soal itu" Kavya tiba tiba tertawa
"Heh, Ini anak mala ketawa" Mahi menimpuk kavya dengan berkas di tangannya
"Kau serius mau nikah sama kak verry?" Mahi mode serius
"Bagaimana menurutmu?" Kavya tersenyum
"Entahlah,, Jawab saja dengan jujur" Mahi cemberut
"Ya, Itu benar ,, Kami memang akan menikah" Kavya tersenyum manis
"Wah, Selamat kavya" Mahi memeluk kavya ikut senang
"Kau akan datang di pernikahanku kan? Mahi, Aku ingin kau mendampingiku" Kavya menggenggam tangan mahi
"Baiklah, Aku pasti akan mendampingimu" Mahi tersenyum
"Uhh, Makasih banyak" Kavya memeluk mahi
"Apa orang tuamu akan kesini?" Tanya mahi
"Humm, Aku sudah beritau mereka,, Nanti mereka akan pulang kesini" Kavya menghela nafas
..................
Satu bulan telah berlalu,, Dan besok adalah hari pernikahan Verry dan Kavya,, Seluruh undangan telah disebar ke penjuru kota Jakarta.
Terlihat calon pasangan pengantin ini sedang fiting baju pengantin di sebuah butik mewah milik keluarga verry.
"Tolong layani dia, Dan berikan semua pilihan gaun pengantin yang terbaik" Titah verry
"Baik pak"
Tak lama terpampanglah semua gaun yang mewah dan indah di hadapan kavya.
"Pilih yang cocok untukmu, Beby" Verry melingkarkan tangannya di pinggang kavya
"Coba saja semuanya, Aku menunggumu disini" Verry mencium pipih kavya
Lalu pria itu duduk di sofa yang tersedia di butik,, Kavya mulai mencoba gaun yang ada,, Lalu memperlihatkan hasilnya pada verry.
"Bagaimana? Apa ini terlihat bagus?" Tanya kavya
"Tidak, Kau terlihat gemuk beby" Celetuk verry
Jawaban verry sontak membuat kavya tercengang,, Dan langsung memukul lengan verry.
"Apa maksudmu? Jadi aku ini gemuk?" Kavya cemberut
"Tidak, Bukan begitu beby,, Tapi, Belakangan ini kau memang terlihat lebih berisi" Ucap verry
"Belakangan ini?" Kavya mengerutkan dahinya
"Atau jangan jangan, Karena..." Verry menatap kavya
"Kenapa? Kau menatapku seperti itu?" Kavya heran
"Sepertinya tubuh mu semakin subur.. Semenjak tidur bersamaku" Bisik verry, Lalu mengedipkan mata genit
"Ihh,, Sayang" Kavya yang malu, Mencubit lengan verry
"Jangan berani membicarakan itu didepan umum" Ucap kavya kesal
"Aduh, Beby ,, Baiklah, Aku tidak akan mengatakan apapun" Verry meringis
Kavya pun melepaskan cubitannya,, Verry mengelus lengannya yang sakit.
"Coba saja yang lain,, Lagi pula ini tidak cocok untukmu beby" Pinta verry
Pada akhirnya kavya terus mencoba gaun sampai 5 kali,, Dan gaun terakhir adalah pilihannya,, Setelah kavya memilih gaun pengantinnya, Gantian verry yang memilih tuxedo untuk pernikahan.
"Beby, Apa aku terlihat berbeda?" Tanya verry saat memperlihatkan tuxedo yang dia kenakan
"Apapun yang kau kenakan, Kenapa selalu terlihat tampan" Wajah kavya memerah
"Benarkah?" Verry tersenyum senang
"Haruskah ku pilih yang ini?" Verry melihat dirinya sendiri di cermin
"Kenapa tidak? Kau bahkan sudah mencoba sampai 7 kali" Cibir kavya
"Aku memilih, Karena aku ingin terlihat sempurna di pernikahan kita beby" Verry cemberut
"Baiklah, Kau sangat sempurna ,, Tuxedo sudah menemukan pemiliknya" Puji kavya
"Sepertinya kau tidak tulus mengatakan itu" Verry buang muka, Lalu masuk keruang ganti
"Hah? Apa katanya? Tidak tulus?" Kavya tercengang.
Setelah fiting baju pengantin, Mereka pun pergi untuk mempersiapkan yang lainnya.
................
Hari sudah berganti, Hari ini tepat pernikahan Verry dan Kavya akan di langsungkan.
Berada di gedung Grand Slipi Convention Hall, Jakarta Barat.
Di ruangan pengantin, Penata rias sedang merias wajah sang calon pengantin,, Kavya duduk tepat di depan cermin.
Tak lama mahi datang bersama dengan samir,, Dan langsung menghampiri.
"Kavya" Teriak mahi
"Mahi, Samir" Kavya hanya melihat dari kaca, Karena tidak bisa menoleh
Sedangkan mahi langsung memeluk sahabatnya itu dari belakang,, Sampai si perias kesusahan.
"Wah, Akhirnya kau akan menikah juga ya" Ucap samir
"Hehe, Iya" Kavya tersenyum
Tak lama penata rias pun selesai merias wajah kavya,, Gadis itu terlihat sangat cantik bak seorang ratu dari kayangan.
"Huwaa, Kau cantik sekali,, Aku iri melihatmu" Mahi terharu dan meneteskan air mata
"Terimakasih, Sudah mau mendampingiku sejauh ini" Kavya juga ikut menangis
Keduanya berpelukan saling melepas rindu lama tak bertemu.
"Kau jangan menangis, Nanti makeup mu jadi jelek" Lirih mahi menghapus air mata kavya
"Kau yang menangis, Jadinya aku ikut menangis" Ucap kavya sambil terisak
"Humm, Sepertinya kalian butuh momen ya,, Kalau begitu aku tunggu di luar ya" Pekik samir
"Ya, Keluarlah,, Aku akan menyusul sekalian mengantar kavya" Balas mahi
Dan kedua gadis itu berpelukan kembali seperti tak ingin berpisah,, Sampai akhirnya pembaca acara datang memperingatkan.
"Untuk pengantin wanita, Dimohon bersiap untuk keluar"
"Ya, Pengantin wanitanya sudah siap" Mahi yang menjawab
"Kami akan keluar sebentar lagi"
"Baik nona" Sang pembawa acara pergi
"Ayo kavya, Sudah saatnya untuk pernikahanmu" Ajak mahi
"Aku masih deg deg'an" Kavya gugup
"Tarik nafas dalam dalam lalu buang" Mahi mencoba menghilangkan rasa gugup kavya
"Sudah lebih baik?" Tanya mahi
"Humm, Terimakasih" Kavya tersenyum
Mahi pun menggandeng tangan kavya, Keluar dari ruangan menuju ke altar pernikahan,, Dan terlihat pengantin pria sudah menunggu.
Kavya menatap lurus kedepan sambil berjalan perlahan, Begitu juga dengan mahi yang mendampinginya.
Para tamu undangan terpukau akan kecantikan sang pengantin wanita,, Semua kerabat dan teman juga turut hadir di pernikahan ini.
Dan di barisan paling depan terdapat orang tua kedua mempelai ,, Bersama dengan teman dekat sang pengantin.
Termasuk om fahri, tante maira, samir, arjun, dan juga jasmine ikut menghadiri pernikahan.
Setelah mengantar kavya ke atas panggung,, Mahi ikut duduk di samping samir bersama yang lainnya.
Di atas panggung terlihat kedua pengantin duduk berhadapan dengan tuan kadi dan ayah dari pengantin wanita.
Ayahnya kavya menjabat tangan verry dan memulai ijab kabul.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Verryando Nugraha bin Fandy dengan anak saya yang bernama Kavya Anggraini dengan mas kawin berupa uang senilai dua juta rupiah, dibayar tunai" Ucap ayah kavya
Verry langsung membalas dengan sekali nafas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kavya Anggraini binti Dino dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai" Ucap verry lantang
"Bagaimana para saksi? Sah?" Tanya tuan kadi
"Sah"
"Alhamdulilah"
Setelah itu tuan kadi memulai doa sampai selesai,, Selesai berdoa, Verry langsung memeluk kavya yang sudah sah menjadi istrinya.
Rasa legah karena telah berhasil mempersunting sang kekasih, Verry meneteskan air matanya sambil mengecup kening kavya.
"Beby, Terimakasih" Verry tersenyum
"Humm" Kavya menggangguk dan juga menangis haru
Para tamu undangan juga bertepuk tangan,, Termasuk arjun dan jasmine yang duduk bersebelahan.
Air mata juga menetes di pipih mereka, Antara terharu bercampur sedih karena mereka harus merelakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Setelah itu kedua pengantin langsung sungkeman kepada kedua orang tuanya,, Setelah acara sungkeman selesai, Maka pesta pun dimulai.
Verry dan kavya, Duduk di pelaminan bak raja dan ratu sehari,, Keduanya terlihat sempurna dan serasi.
"Aku masih tidak menyangka kita sudah menikah" Lirih kavya
"Aku juga" Verry tersenyum
"Akhirnya aku memilikimu sepenuhnya" Bisik verry
"Beby, Aku sudah tidak tahan" Bisik verry dengan tatapan nakalnya
"Heh, Dasar mesum" Kavya mencubit pinggang verry geram
"Gpp mesum, Uda sah kok" Verry tersenyum menggoda istrinya
"Ihh, Kamu" Kavya memalingkan wajah malu
Verry pun tertawa melihat respon sang istri yang malu malu,, Lalu mahi dan samir menghampiri mereka.
"Kavya" Mahi memeluk kavya lagi
"Selamat, Karena kau sudah melepas masa lajangmu" Mahi menangis lagi
"Kenapa wanita kalau bertemu selalu menangis?" Tanya verry
"Entahlah, Aku juga tidak tau" Samir mengangkat bahunya
"Kalian lebay sekali" Pekik verry
Dan berhasil membuat kedua wanita itu memukul bahunya.
"Sudah, Kalau begitu selamat ya bro" Ucap samir
Lalu bersalaman dengan verry,, Begitu juga kavya dan mahi yang saling memeluk dan berpegangan tangan.
"Sampai kapan kau akan terus memegang tangan istriku?" Celetuk verry
"Ihh, Kak verry,, Pelit banget sih" Balas mahi cemberut
Mereka terus mengobrol, Lalu tak lama jasmine datang,, Membuat mereka berhenti mengobrol.
"Kau datang? Ku kira kau tidak akan datang" Ucap verry menatap jasmine
"Tentu saja aku datang,, Meskipun aku belum bisa melupakanmu,, Tapi, Bukan berarti aku membencimu" Balas jasmine
"Aku ingin minta maaf jika selama ini aku berusaha merebut verry darimu, Kavya" Jasmine menatap kavya
"Aku sudah memaafkan mu jasmine" Balas kavya tersenyum
"Pada akhirnya aku mengerti,, Jika verry hanya bisa mencintaimu saja, Dan sudah seharusnya aku mundur" Jasmine tersenyum
"Aku hanya ingin mengucapkan, Selamat atas pernikahan kalian,, Semoga kalian selalu bahagia" Jasmine tersenyum dengan air mata yang mulai menetes
"Kalau begitu aku permisi" Jasmine pamit
"Jasmine" Verry memanggilnya
"Ya" Jasmine berbalik
"Terimakasih, Dan maaf jika aku sudah menyakitimu" Ucap verry
"Tidak masalah, Mungkin saat ini aku memang terluka,, Tapi, Seiring berjalan waktu aku pasti akan baik baik saja" Jasmine tersenyum.
......................
Singkat hari, Tak lama seminggu kemudian Mahi dan Samir pun menikah ,, Dan di hari itu juga Arjun melamar Jasmine di hadapan semua orang.
~Tamat~