Dadaku naik turun akibat insiden kejar-kejaran dengan seorang laki-laki berjas hitam yang sedang diselimuti amarah.
Lenganku sempat dicekal olehnya. Namun, aku berhasil kabur dengan taktik otak cerdik ini.
-Flash Back-
"Kampr*t lo tama, beraninya dia selingkuh di belakangku. Kalau mau selingkuh milih-milih dong, kenapa harus sama mak lampir itu. Tunggu pembalasan dariku," ucapku bermonolog.
Hati ini dirundung rasa kecewa, amarah, sedih. Kulampiaskan perasaan nano-nano ini pada kaleng minuman. Satu tendangan kulayangkan pada kaleng minuman bekas.
Bugh
"Arghhh, sial! Siapa yang berani melempar sampah ini ke kepalaku?" ucap lelaki itu, menelisik ke segela arah. Membuat diriku kalang kabut.
"Astaga!!! Bagaimana ini?" batinku, merasa panik. Gimana gak panik coba? Tatapannya menusuk tajam ke arahku.
Eh, kenapa dia berjalan ke sini?
Aku yang sadar akan bahaya, langsung membalik tubuh dan dengan segera meninggalkan tempat itu. Sayang beribu sayang, nasib buruk menghapiriku ketika kurasakan sebuah tangan mencekal lenganku kasar.
"Hei wanita kurang ajar! Mau kabur, setelah membuat kepalaku terluka? Ck... Kau harus bertanggung jawab!" geram lelaki itu.
Perasaan kepalanya gak papa deh, bedarah kagak, benjol juga kagak. Aku harus putar otak agar bisa kabur dari lelaki ini.
"Hu... Kenapa kamu gak mau mengakui anak di dalam kandunganku ini mas. Hiks..." raunganku yang sengaja aku besarkan. Dan tada..... Rencanaku berhasil, orang-orang mulai menjadikan kami sebagai tontonan.
Lelaki itu membelalakan matanya, "Hei, Apa maksudmu wanita kurang ajar!" desisnya, semakin menguatkan cengkramannya di lenganku.
"Mas... Tega kamu! Tidak mau mengakui buah cinta kita, dan lihat! Sekarang kamu pun melakukan kekerasan terhadapku."
Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik-bisik, bahkan ada yang secara terang-terangan mencibir lelaki berjas hitam ini.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari lenganku. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung bergerak secepat kilat.
Fyuh... Selamat.
-Flash Back Off-
Karna insiden tadi, penampilanku jadi kurang maksimal. Sapuan lembut kugerakkan dibajuku agar baju itu kembali rapi.
Hari ini adalah hari pertama aku bekerja setelah melakukan wawancara kemarin. Aku bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan. Sangat bersyukur ada pekerjaan yang bisa aku dapatkan, sangat sulit menemukan pekerjaan untuk tamatan SMA yang tidak punya pengalaman dalam bekerja sepertiku.
Kupasang wajah ceria ketika memasuki cafe. Ruangan yang didominasi dengan warna hitam menyambut mataku, cafe ini benar-benar keren.
Pasti pemilik cafe memiliki aura elegan dan calm.
"Raya tifani," panggil seseorang.
Aku menoleh ke orang tersebut. "Eh, selamat pagi, buk." sapaku pada manager cafe ini, dia lah yang mewawancaraiku kemarin. Kelihatannya usia manager di cafe ini masih muda, tampak dari wajahnya yang masih sekitar 25 tahunan.
"Pagi. Kamu datang terlalu cepat, tapi tidak apa. Pemilik cafe ini tidak menyukai orang yang memakai waktu karet. Pertahankan ya," ucap buk manager.
Aku mengangguk, dan bergegas meletakkan tas selempangku di dalam loker. Sepi, sepertinya para pekerja yang lain belum datang. Cafe ini buka pukul 10.00 pagi. Tapi karna terlalu bersemangat, aku berangkat dari rumah pukul 07.00. Dan sampai di sini sekitar pukul setengah sembilan, itu pun karna insiden kaleng bekas tadi.
Tak berselang lama, para pelayan cafe dan tiga chef berdatangan. Ada sekitar enam pelayan cafe, termasuk aku.
***
Cafe sudah dalam keadaan rapi dan bersih, para pembeli pun mulai berdatangan. Keadaan cafe yang ramai membuat semangat kerjaku semakin membara.
Akhirnya jam makan siang tiba, rasanya perutku mulai keroncongan. Untung aku sudah membawa bekal dari rumah, lumayan kan untuk menghemat.
Aku tengah asik makan bersama para pekerja yang lainnya, bahkan chef di sini tidak sombong dan ikut bergabung bersama kami. Mudah untukku berbaur dengan orang-orang baru di sini, karna para pekerja yang baik dan ramah.
Rasanya tenggorokanku tercekat, kala seseorang masuk ke dalam dapur cafe ini.
D-dia... Astaga! Dia laki-laki tadi pagi.
Kepanikanku semakin menjadi ketika lelaki itu mulai berjalan ke arah kami, matanya menyorot ke padaku.
Siapa dia? Kenapa bisa masuk kemari?
"Ehem," deheman singkat itu mampu membuat bulu kudukku merinding.
"Selamat siang pak," Sambut para teman-teman kerjaku.
Aku semakin takut mendengar sapaan dari mereka, apa dia pemilik cafe ini? Jika benar, habislah riwayatku.
"Apa dia pelayan baru di cafe ini?" tanya lelaki berjas hitam itu.
"Ya, dia adalah pelayan baru di cafe ini pak, sudah saya wawancarai dan menurut saya kinerjanya juga bagus," jawab buk manager.
"Em, baiklah. Setelah selasai makan siang, kamu datang ke ruangan saya. Saya ingin memastikan kelayakan pekerja saya," ucapnya membuatku takut.
Aku mengangguk pelan, sepertinya aku akan kehilangan pekerjaan.
Salah satu teman seprofesiku menunjukkan ruangan lelaki yang merupakan bosku. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya sebelum membuka pintu.
Tok...tok...
"Masuk!"
Seringai mengerikan lelaki itu membuat nyaliku menciut.
"Duduk," titahnya.
Lelaki di depanku tak kunjung buka suara, membuatku semakin ketakutan.
"Ck, tanpa perlu repot-repot mencari. Akhirnya aku menemukan wanita yang tengah mengandung anakku," ucapnya dengan menekan kata 'mengandung anakku'.
Susah payah aku menggerakkan bibir, "M-maaf,"hanya kata itu yang sanggup aku utarakan saat ini.
"Permintaan maaf ditolak!"
Tak kusangka, lelaki di depanku ini benar-benar menyebalkan. Tanpa pikir panjang aku mengutarakan apa yang ada diotakku saat ini.
"Maaf pak, saya ingin mengundurkan diri saja." Aku menunduk, sambil memilin ujung baju kerja yang diberikan buk manager tadi pagi.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, membuatku menyipitkan mata, heran.
"Kau sudah membuatku malu, dan kau harus tanggup jawab!"
Apa katanya? Tanggung jawab?
"Gak mau!!!" bantahku, lalu membalik badan untuk segera keluar dari ruangan dengan aura mencekam ini.
Aku tersentak, merasakan cekalan dari lelaki sialan ini.
"Lepas!"
Bukannya melepaskan cekalan tangannya dari lenganku, kini dia malah menghimpitku ke dinding.
Aku yang kelabakan, semakin memberontak dan berusaha melepas cekalan kuat di lenganku. Tapi, semuanya sia-sia karma tenaga lelaki ini yang begitu kuat.
Tubuhku terhimpit dinding dan juga lelaki luknut ini, mata itu menatapku dengan sorot yang tajam. Kulihat matanya yang berubah menjadi warna merah keemasan.
S-setan... Tuhan tolong aku.
"M-maaf pak, saya janji akan menebus kesalahan saya," ucapku pasrah.
Tak ada jalan lain, aku yakin laki-laki ini bukan manusia biasa. Mana ada manusia yang matanya bisa berubah menjadi warna seperti itu dalam sekejap. Menyelesaikan masalah dengan lelaki ini, lalu pergi jauh. Kurasa inilah langkah yang harus kuambil.
Senyum puas terbit diwajah lelaki itu, menambah tingkat keseramannya, yah walau bisa dibilang dia tampan.
Sedikit loh ya, sedikit tampannya! Seram, itu kata yang cocok untuk lelaki seperti dia.
"Hm, baiklah. Kamu harus tetap bekerja di sini, dan..."
Aku mengernyitkan dahi heran, masih menunggu kelanjutan apa yang akan dia ucapkan.
"Jadi pacarku!" ucap lelaki itu yang terdengar seperti perintah.
Aku menggeleng kuat, "Saya tetap bekerja di sini pak, tapi untuk menjadi pacar saya tidak mau." tolakku.
"it's okay," ucap lelaki itu.
Fyuh... Lega aku mendengar ucapannya.
"Tapi, akan kubuat kau tidak bisa tidur setiap hari," ucapnya santai.
Laki-laki itu mundur sendikit. Kilau jingga memancar, seketika tubuhku membeku.