Selasa jam 3 sore, nampak sekelompok cewe ABG beranggotakan 3 orang sedang berjalan santai di trotoar. Bisa ditebak dari lagu Grenade karya Bruno Mars yang disenandungkan Ayu, mereka sedang mencari referesing dari diputusin mantan.
"Cause wat yu don't anderstain is
I catch grenade for ya..
Throw mi hand on a blade for ya..
I jump in front of train for yaa..
But you dont do the same~~ ohh oh."
Karena pelafalan bahasa Inggris Ayu masih jelek, dia bernyanyi seadanya.
"Udah 'Yu, suara lo jelek gak usah nyanyi." Caino yang ada disebelah Ayu muak dengan suara cempreng Ayu yang dirasa tidak pas menyanyikan lagu mellow. "Suka suka gw napa?! Mulut mulut gw!" Ayu yang kesal dengan komentar Caino mengemut es krim ungu yang dia beli di warung saat mereka lewat. "Yu, Ayu!! Jangan makan es krim!! Lo 'kan radang bego!" Macha yang peka mengambil paksa es krim Ayu. Macha tau dia akan 'dicakar oleh harimau', tapi ini lebih baik daripada Ayu jatuh sakit.
Ayu menderita radang akut sejak kecil karena pola makan yang tidak sehat. Setiap hari dia sanggup menghabiskan 3 batang es krim dan dia cukup bangga karena itu padahal hal tersebut akan membuat penderitaan jangka panjang untuknya. Sampai tepat dihari Ayu demam tinggi, dokter men-cap es krim dan minuman dingin lainnya seperti barang haram untuk Ayu konsumsi. Disamping itu, biaya untuk oprasi sangat mahal sehingga dia tetap mempertahankan amandelnya. Lagipula es krim yang Ayu beli itu rasa anggur padahal dia benci anggur.
Dan detik itulah, Macha menyadari temannya memang berniat mengakhiri hidup dengan cara yang bodoh.
"Ini rasa anggur Ayu, daripada lo makan lalu buang mending gw yang makanin."
"Jangan Macha! Gw tuh sekarang suka anggur! Beneran!"
Perang perebutan es krim pun pecah diantara Ayu dan Macha. Tapi terpadamkan dalam sekejap saat es krim Ayu habis dimakan Caino sekali gigitan. Maklum, Caino penggemar es krim segala rasa . "Es krim rasa anggur? Lo gak kesurupan 'kan Ayu?" Setelah membuang stick es krim, Caino merasakan perasaan yang sama dengan Macha. Yaitu kasihan dengan Ayu yang sudah bosan hidup.
"Yu, kita kesini buat refreshing jadi tolong lo jangan radang dulu sebelum kita minum. Nanti usaha kita sia-sia!" Mendengar kata - kata motivasi Caino, Ayu merenung tindakan nekatnya. "Maaf. Gw masih kesel gara - gara Ramza. Si Lelaki jahanam!" Puk, puk, puk. Tepukan lembut Caino dan Macha seperti membelai pundak Ayu. Mereka juga tau rasanya diputusin sepihak seperti Ayu. Apalagi Caino yang diputusin karena dia tomboy.
"Aduh anakku sayang jangan sedih~ kita udah sampai kafenya." Macha menyadarkan yang lain kalau mereka sudah sampai. Karena hanya Macha yang tau kafenya, Ayu dan Caino menyangka tempat tersebut adalah toko bunga karena pot - pot mini dan rangakaian bunga tropis didepan toko.
Dengan langkah penuh tekad untuk Move-On, Ayu, plus Caino masuk. Didalam kafe ternyata nyaman sekali. Nuansa kafe seperti bertema 'Modern Indoor Garden' dengan ruangan seperti tempat bersantai. Bahkan ada bench disamping kasir dan akuarium kecil dipojok ruangan. Kursi dan meja berwarna putih dengan paduan kayu coklat serasi dengan warna tanaman disekitarnya. Rangkaian bingkai kata-kata Quotes menghiasi dinding kafe bersama rangkaian ornamen-ornamen menarik lainnya menonjolkan ciri-ciri khas kafe yang mainstream.
Disana terdapat kursi untuk 2 - 6 orang pelanggan, tetapi para Trio memilih tempat khusus 4 orang karena memiliki pemandangan indah dengan berhiaskan bunga - bunga tropis seperti Kembang Sepatu, Kamboja, Mandelvilla, dan lainnya. Macha berada didalam, samping Ayu dan Caino didepan Ayu.
Setelah menunggu beberapa lama, munculah seorang barista yang akan menanyakan pertanyaan biasa kepada pelanggan. "Permisi nona - nona, kalian mau pesan apa?". Deg, deg, suara jantung ke 3-nya yang berdetak kencang. Usut punya usut, ini disebabkan wajah si barista yang manis-ganteng seperti Aktor Korea. Bahkan Caino hampir lupa jika mereka masih di Indonesia. Dan Macha juga mengurungkan niat untuk berfoto bersama Oppa dengan kearifan lokal ini.
Mengusir ke bengongan kawan-nya, Macha menjawab pertanyaan si barista.
"Saya Green Tea ekstra jasmine."
"Jus Avocado Choco Milk."
Caino yang sadar dari lamunannya mulai memesan jus. Sedangkan Ayu yang masih terpaku, dibuat membisu dengan manis dan gantengnya wajah Barista tersebut.
"Ehm, nona, anda mau pesan apa?" Pertanyaan singkat itu menyadarkan Ayu dari lamunan. Ayu yang salting gugup dan menjawab dengan spontan "La.. Latte krim putih pake Karamel..." Saking spontannya, Ayu baru sadar jika dia memesan seperti anak SD. Damn it, Ayu malu dengan spontanitas-nya. Sekarang dia berharap bisa terjun kelubang yang dalam sambil berteriak keras. Diapun berusaha menukar kata - katanya. Namun, "Mak.. Maksudku.. Argh! Macha menunya mana?!" Benar-benar canggung dan mati gaya. Tapi untungnya si Barista mengerti dan tersenyum. "Latte dengan White Cream plus Caramel 'kan?"
Dag, Dig, Dug. Jantung Ayu seperti diajak naik Rollercoaster setelah melihat senyuman 1000 Ampera si Barista. Seketika Ayu lupa jika dia baru putus.
Setelah barista tersebut menanyakan kembali pesanan mereka, diapun pergi. Tiba - tiba Macha dipanggil Ayu dan Caino bersamaan. Macha mendapat komentar bernilai A+ dari mereka karena berhasil membawakan mereka ke kafe yang luar biasa seperti ini sampai bisa membuat mereka bisa Move-On. "Biasa aja lo nemu tempat Rare gini." Caino sangat bangga dengan kehebatan teman-nya. "Iya makasih." Macha tersanjung atas pujian Caino.
Ayu yang sedang melihat bunga-bunga, tiba-tiba memikirkan sesuatu yang janggal menurutnya. "Menurut lo barista tadi mirip murid sekolah kita gak sih?" Refleks, Macha dan Caino menengok ke arah Ayu. "Masa sih? Setau gw, cowo sekolah kita pada dekil semua, apalagi si Ramza" Caino merasakan ketidakmungkinan dalam pertanyaan Ayu. Karena selama Caino bersekolah, jujur saja, tidak ada satupun siswa maupun siswi yang cakep menurutnya. Kebanyakan diatas rata-rata, namun tidak mencapai tingkat ke-cakep-an minimum. Dan yang paling diherankan, jika ada yang berusaha keren jatuhnya adalah cari perhatian.
"Tapi, sumpah. Mirip kayak seseorang! Siapa ya?" Ayu berusaha mengingat wajah yang cocok dengan si Barista. Tapi percuma, dia sudah lupa.
🍵🥑☕
Beberapa saat kemudian, "Ini pesanan-nya." Akhirnya Barista yang sama menyajikan minuman mereka. "Green Tea ekstra Jasmine, Avocado Choco Milk, dan.."
"Latte dengan White Cream plus Karamel."
Ayu masih terpaku dengan pesanan-nya. Dia teringat - ingat momen saat kecanggungan melanda hatinya untuk sebuah pesanan Latte. Hanya Latte!
"Mas, yang tadi.. Maaf." Ayu meminta maaf untuk kesalahan ambigu-nya. Padahal dia tidak perlu. "Tidak apa-apa." Si Barista ikut dalam acara maaf memaafkan Ayu. Datang lagi perasaan tak karuan dihati Ayu. Untuk menenangkan hatinya, dia mengaduk Latte dengan sendok yang disediakan dan mengambil tegukan pertama.
Hati Ayu tiba-tiba menjadi damai. Dia seperti merasakan perasaan duka dan kesedihannya terangkat hanya dengan Latte pesanannya. Ayu pun menurunkan kembali gelasnya dan berkata pada Barista yang akan pergi, "Tunggu mas!" Reflek si Barista tersebut menengok. Kemudian Ayu dan si Barista saling bertatapan cukup lama.
Saking lamanya Macha dan Caino gregetan ingin menyaksikan adegan manga Shoujo saat tokoh utamanya menyampaikan perasaan cinta terpendamnya, walau baru pertama kali bertemu. "Ada apa nona?" Barista tersebut merasa canggung dengan Ayu. "Itu.." Akhirnya Ayu mengucapkan kata pertamanya. "Terima kasih atas Latte-nya! Ini sangat enak!"
"Sama - sama!" Penutupan dengan senyuman manis khas barista tadi membuat Macha dan Caino bisa tidur dengan tenang. Akhirnya adegan akhirnya tidak aneh seperti kebanyakan film Shoujo gagal. "Dan.." Mereka menarik kembali perasaan-nya. Ternyata Ayu masih mau berbicara.
"Kamu Marko 'kan?"
CTAR--!!
Matahari masih bersinar tapi suara petir seperti muncul diantara mereka.
"Emh, sepertinya anda salah deh." Si Barista berusaha menyangkal. "Masa sih? Sepertinya tadi.., Aku lihat ada.., Tulisan.. Marko?" Sambil berusaha melihat Name Tag si Barista yang seperti disembunyikan, Ayu terus berbicara. Lelah dengan usaha Ayu, Barista tersebut berkata, "Kalo tidak ada hal lain lagi saya pergi."
Dari sikap tubuh Barista yang gugup, Ayu semakin penasaran. Karena waktu untuk mengejar sedikit, terpaksa dia menggunakan senjata rahasianya. "Marko! Nilai Ujian PKN lo dapet 67! Besok harus Remedial!!" Reflek, barista tersebut menengok ke arah Ayu. "Eh?!! Serius lo 'Yu? PKN remed??"
Tertangkap basah, Bukan hanya ketahuan nama aslinya Marko, tapi ternyata dia mengenal Ayu. "TERNYATA EMANG LO!!" Reaksi Ayu seperti berhasil memecahkan kasus misteri. Kawan-kawan Ayu juga ikut terkejut seperti Ayu. "Marko anak MIPA 2!" Ucap mereka kompak.
"Jangan keras - keras, kalian bukan satu-satunya pelanggan, woy." Si barista kesal dengan sikap berlebihan mereka. Atau bisa dibilang, Marko yang kesal.
- Bersambung - ☕