Gerimis yang mengguyur makam seakan menjadi simbolisasi kesedihanku yang sedang berjongkok di timbunan tanah yang menutupi jenazah di dalamnya. Pria itu berdiri tak jauh dariku. Tepat di sisi sebelah di mana pusara berada. Selepas tangisanku mereda, aku baru menyadari kehadirannya. Kulihat matanya menatapku penuh amarah.
"Puas lu sekarang! Dari awal gua udah tau lu gak bisa jaga Keke. Tapi gua gak nyangka lu juga matiin dia!"
"Itu kecelakaan, Bang! Kecelakaan!"
"Gak bakal terjadi kalo lu gak bikin dia lari malem-malem di tengah hujan badai dalam keadaan nangis dan putus asa..."
"Kita gak bisa nyegah siapa pun untuk pergi. Kita cuma bisa jaga dia selama dia masih bersama kita..."
"Dan lu jelas gak bisa jaga dia! Gua nyesel lepasin dia buat lu! Kalo bukan gara-gara kelakuan lu, dia pasti masih hidup sekarang!"
Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk mataku. Namun sebelum aku sempat membalas perkataan menyakitkan itu, Juna pergi meninggalkanku. Ucapan pria itu terdengar tidak adil. Tapi aku sadar Juna benar.
Sejak Keke memutuskan Juna untuk kemudian memilihku, dunianya mungkin terasa jungkir balik.
Mulai dari kenyataan bahwa aku ternyata bukan cinta sejatinya, sampai pada keadaan ekonomi yang memaksanya bekerja siang-malam demi memenuhi kebutuhan hidup kami dan membayar kontrakan kumuh tempat kami berdua tinggal, sementara aku hanya mabuk-mabukan sepanjang waktu.
Keke mengambil pekerjaan sambilan sebagai LC di malam hari demi menambal kebutuhannya yang tidak dapat ditutupi oleh gajiku yang tidak seberapa. Tapi gengsinya jauh lebih besar hingga mengalahkan penyesalannya mencampakkan Juna yang sebenarnya masih mencintai Keke.
Juna benar, selama Keke masih bersamanya, Juna mampu memenuhi kebutuhan Keke dan memuaskannya dengan kasih sayang dan memenuhinya dengan perhatian dan kesetiaan.
Malam itu, aku menawarkan kesempatan pada Keke untuk kembali pada Juna dan akhirnya bukan hanya aku yang kehilangan Keke tapi juga Juna karena pada malam aku merelakannya untuk pergi, Keke benar-benar pergi untuk selamanya.
Sejak pemakaman Keke minggu lalu, tidak satu malam pun kulewati tanpa air mata. Aku meratap saat Juna tidak sudi menerima permohonan maafku karena Keke sudah terlanjur pergi dan tak bisa kembali. Tapi tidak ada ratapan yang lebih hancur dari saat aku meratapi ranjang kosong di mana aku biasa memeluknya dan tersadar aku takkan bisa mendapatkan belahan jiwaku itu kembali.
"Sekiranya waktu mengampuni dan membawaku ke tempat di mana aku bisa memeluknya sekali lagi, akan kulakukan apa saja untuk menjaganya tetap di sisiku. Apa saja!"
.
.
.
"Halo..."
Aku menatap seorang gadis yang sedang berdiri di hadapanku. Gadis itu cantik, tinggi badannya di atas rata-rata wanita Indonesia, dan dia terlihat menjadi semakin tinggi dengan high heels yang dia kenakan. Tubuhnya yang padat dan ranum dibungkus seragam ketat yang menunjukkan jati dirinya sebagai sales promotion girl sebuah produk rokok. Yang paling menarik perhatianku adalah rambut panjangnya yang pirang, yang aku yakin bukan sepuhan.
"Sorry... saya lagi ngelamun. Meja nomor berapa?"
"Saya bukan mau bayar," sahut gadis itu seraya tersenyum. "Saya mau menawarkan produk."
"Oh, apa itu?" ekspresiku berubah tak senang. Orang-orang seperti ini biasanya hanya membuang waktu dengan pertanyaan dan pembicaraan yang tak tentu arah, padahal ia sudah melihat aku sedang bekerja.
"Kebetulan saya sedang mendapat tugas ke tempat ini, khusus untuk menawari Anda ini..." Gadis itu mengeluarkan satu slop rokok berwarna keemasan dengan gambar sebuah bangunan di bagian depannya, yang seingatku mirip kuil Parthenon di Yunani. Sebuah tulisan emboss tertera di atas gambar kuil itu, Phoenix!
"Kok saya belum pernah denger namanya. Produk baru, Kak?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya..."
"Bedanya dengan produk-produk lain apa, ya? Soalnya banyak banget merk rokok yang dijual di sini!" Aku menunjuk rak display rokok yang terpajang di samping mesin kasirku.
Gadis itu membuka sebuah kotak rokok dan menawariku tanpa bertanya apakah aku perokok. Tapi sepertinya dia tahu kalau aku perokok. Selain pemabuk aku juga perokok berat. Selama aku meratapi Keke, dalam sehari aku bisa sampai menghabiskan dua setengah bungkus sebagai ganti minum-minuman keras. Rasanya tidak satu hari pun terlewatkan tanpa sebatang rokok terselip di jari tanganku kecuali di waktu bekerja seperti ini.
"Sorry, bukan maksud menolak tapi saya tidak merokok di jam kerja," jelasku.
"Wah, sayang sekali! Padahal saya ingin menunjukkan rokok ini beda dari yang lain," katanya.
"Semua produsen rokok juga bilangnya begitu, Kak!" Aku tertawa.
"Yang ini lain. Rokok lain bisa bikin orang hidup cepet mati. Sementara yang ini bisa bikin orang mati hidup lagi..."
Aku tertawa lagi mendengar perkataannya. "Bukan mati dalam arti yang sebenarnya, kan?"
"Kenapa Mas gak coba sendiri aja," katanya. Ada suatu kekuatan di dalam tatapan mata biru gadis itu, memberi pengertian tergila yang membuatku seketika paham tanpa penjelasan verbal. "Meski... melawan takdir itu berbahaya," ia menambahkan.
"Baik, saya akan tetap mencobanya," kataku mantap. "Melakukan apa saja," aku menambahkan setengah menggumam.
"Baiklah kalau begitu, silahkan!" Gadis itu menutup kembali kotak rokok itu dan memberikannya padaku.
"Makasih, Kak..."
"Athena," katanya. "Nama saya Athena!"
"Nama yang bagus."
"Terima kasih, Senja."
Aku terkesiap.
Belum sempat aku menanyakan dari mana dia tahu namaku, gadis itu tahu-tahu sudah pergi. Dan yang paling membuatku tak habis pikir, dia kelihatannya tidak mau repot-repot menawarkan rokok itu kepada pelanggan lain di kantin ini.
.
.
.
"Kamu mau ke klub lagi?" tanya Pelangi, temanku yang ikut menjaga kantin, melihatku berkemas-kemas sore itu.
"Nggak," jawabku. "Gua mau mampir ke makam sebentar."
"Oke, hati-hati!" katanya setelah sejenak terdiam menatapku dengan raut wajah prihatin. "Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan buat telepon aku!"
Aku hanya mengacungkan ibu jariku sebagai jawaban.
Selain teman kerjaku, Pelangi sebetulnya adalah sahabat Keke. Dulu kami bertiga bekerja di tempat ini. Tapi dia acuh dan judes. Pelangi mulai peduli padaku hanya setelah tahu aku ternyata tak bisa move on dari sahabatnya.
Jarak dari kantin ke pemakaman Keke lumayan jauh sehingga aku baru sampai dua jam kemudian dengan naik bis. Namun dua jam kali ini tidak terasa karena rasa penasaran yang menggebu-gebu. Jantungku sampai menderu bagai genderang perang setelah aku berada di atas makam kekasihku. Rasa penasaranku hanya akan terpuaskan oleh sebuah jawaban.
Dimulai dari...
Aku menggali tanah yang masih basah. Menggali dengan sekop yang ditinggalkan kuncen kuburan di sebuah gubuk dekil di area pemakaman. Menggali dan terus menggali hingga ujung sekop menyentuh kayu keras yang tak lain peti mati Keke.
Aku bergegas menyingkirkan tanah di sekitarnya dan membuka tutup peti. Semilir bau tak sedap dari mayat Keke yang mulai membusuk menghambur ke penciumanku, tapi aku tak peduli. Aku duduk di pinggiran peti dan mengambil sebatang rokok Phoenix. Menyalakannya dengan pemantik, kemudian mengepulkan asapnya ke udara. Rasanya tidak berbeda dengan rokok-rokok biasa, malah lebih pahit.
Aku menghisap rokok dalam satu tarikan napas panjang dan mengepulkannya ke seluruh wajah Keke. Kepulan asap rokok itu menyeruak ke dalam hidung Keke dan menelusup masuk hingga ke pori-pori kulitnya. Aku sampai bisa melihat asap keluar dari sana di antara kulitnya yang mulai membusuk.
Lima menit...
Tidak ada reaksi apa pun!
Begitu pula lima menit berikutnya.
Aku menghisapnya lagi dan menghembuskan asapnya. Hampir saja menganggap diriku bodoh karena percaya sebatang rokok bisa membangkitkan orang mati.
Bisa saja itu hanya slogan pemasaran, kan?
Tapi tak lama kemudian, aku mendengar Keke terbatuk-batuk, di tengah kepulan asap.
Cukup ngeri juga melihat wajah Keke yang lebam dan nyaris hancur itu menatapku. Tapi bagaimanapun juga dia kekasihku. Aku meledak dalam kebahagiaan. Kupeluk gadisku itu kemudian menangis sesenggukan melepas kebahagiaan yang tiada tara.
.
.
.
Fajar telah merekah ketika taksi yang membawaku dan Keke sampai di rumah kontrakan kami. Aku tidak menyangka bahwa aku sudah menggali makam selama semalaman. Tapi tidak percuma karena belahan jiwaku sekarang telah kembali.
Wajah dan kulitnya yang semula terlihat nyaris hancur, sekarang terlihat jauh lebih baik dibandingkan saat baru menariknya dari dalam peti mati beberapa jam yang lalu.
"Aku lapar," katanya lemah.
Dengan antusias aku membimbingnya ke dapur dan membuatkan semangkuk mie instan kesukaannya.
Aku baru saja selesai mencuci panci bekas rebusan mie ketika kudengar Keke berkata, "Lagi!"
"Waduh! Kamu laper apa kesurupan, makannya cepet banget?" Aku menggodanya sembari tertawa melihat mangkuk dan gelas yang sudah kosong. Dengan bersemangat, aku memasak mie instan lagi dan menghidangkannya di meja. Tak sampai lima menit, mie instan itu sudah tandas.
"Lagi," katanya hingga membuat aku terperangah dengan mata dan mulut membulat. Begitu seterusnya hingga persediaan mie instan untuk satu bulan tandas dalam beberapa menit.
Tujuh hari terbaring dalam peti mati tanpa makan, kurasa siapa pun sanggup menyantap makanan sebanyak itu.
"Kamu pasti laper banget?" Aku mengelus kepalanya dengan perasaan prihatin. "Biasanya kamu susah makan."
Keke mengangguk.
"Sekarang kamu mandi, ya. Ganti baju, terus istirahat. Aku kerja dulu."
"Aku juga mau kerja," katanya.
"Nggak," bantahku buru-buru. "Mulai sekarang, kamu di rumah aja. Biar aku aja yang kerja."
.
.
.
"Apa lu bilang? Keke idup lagi? Lu gila?" Juna berteriak marah di seberang telepon selulerku.
"Gua serius, Bang! Sekarang dia ada di kontrakan. Kalo lu gak percaya lu boleh cek ke tempat gua. Gua ikhlas!"
Setelah berhasil meyakinkan Juna mengenai kebangkitan Keke, aku menutup panggilan dan tersenyum. Aku tidak menyalahkan Juna jika ia terkejut mendengar kabar itu. Athena benar, rokok Phoenix bahkan membuat semangat yang mati dalam diriku bisa ikut bangkit seiring dengan kebangkitan Keke.
"Kamu kayaknya seneng banget? Abis dapet pacar baru apa gimana, nih?" Pelangi menatap heran dengan alis bertautan.
"Lu pasti gak bakal percaya kalo gua cerita," sergahku.
"Cerita aja!"
"Keke hidup lagi!"
"Jangan bercanda, Ja!"
"Sumpah! Gua gak becanda!"
"Kok bisa?"
"Kemaren ada SPG rokok nawarin gua rokok ini..." aku memberikan kotak rokok merk Phoenix pada Pelangi. "Setelah gua isep rokok ini... semuanya berubah!"
Pelangi memeriksa kotak rokok itu dengan tatapan aneh. "Yakin, isinya bukan ganja atau semacamnya? Kamu gak lagi teler dan berhalusinasi Keke masih hidup, kan?"
Aku tertawa. "Ntar pulang kerja lu ikut ke kontrakan gua deh. Tapi lu bawain makanan buat dia, ya!"
"Boleh, tapi kalo ini cuma modus biar aku mampir ke kontrakan kamu jangan harap besok-lusa kita masih temenan lagi," ancamnya. Tapi kemudian berubah pikiran setelah kami sampai di kontrakan tempat aku tinggal dengan Keke. "Ternyata kamu gak becanda, Keke memang hidup!" Serunya gembira seraya menyerbu ke arah Keke dan memeluknya.
"Kamu bawa apa? Aku laper banget!" Keke menunjuk kantong yang ditenteng Pelangi.
"Pas," kata Pelangi. "Ini memang aku beli khusus buat kamu. Senja gak usah dibagi!"
"Heh!" Aku memprotes.
Pelangi tertawa sementara Keke mulai membuka bungkusan itu dengan tak sabar dan melahap semuanya tanpa menyisakannya sedikit pun untuk aku dan Pelangi.
"Dia kayaknya laper banget," kata Pelangi. "Emang kamu gak ninggalin makanan sebelum pergi?" dia menyalahkanku.
"Dia udah abis dua belas mangkok mie waktu sarapan tadi," aku berkilah. "Oh, ya. Tadi Juna ke sini nggak?" Aku bertanya pada Keke.
Keke menggeleng.
Juna pasti menganggapku benar-benar sudah gila. "Ya, udah. Aku keluar dulu, ya. Mau beli makanan lagi buat aku sama Pelangi. Kamu masih mau makan?"
Keke mengangguk.
Aku dan Pelangi tertawa saja menanggapinya.
Aku bergegas keluar dan tertegun. Di depan pintu dekat keset aku melihat sepasang sepatu pria yang sepertinya aku tahu milik siapa---Juna!
Berarti Juna ada di sini. Tapi kenapa Keke bilang tidak ada? Dan... kemana pria itu sekarang?
Apakah dia bersembunyi di suatu tempat di dalam kontrakan kami saat aku pulang. Dengan perasaan tak menentu, aku memutar tubuhku seraya mengetatkan rahang.
Keke duduk sendirian di sofa seraya menatapku dengan tersenyum manis.
"Ke mana Pelangi?" aku bertanya dengan alis bertautan.
Keke mengedikkan bahunya.
Aku bergegas ke kamar dan memeriksanya, kemudian memeriksa dapur juga. Semua ruangan di seluruh rumah. Bahkan pintu kamar mandi terbuka lebar.
Mustahil!
Kontrakan kami hanya memiliki satu pintu keluar dan aku berdiri menghalangi pintu itu ketika Pelangi masih berada di dalam, tidak mungkin Pelangi menguap begitu saja, kan?
Kuhubungi nomor ponsel Pelangi, bersamaan dengan nada sambung yang berdering di ponselku, aku mendengar suara samar dering telepon seluler milik Pelangi. Suaranya terdengar sangat dekat, tapi di mana?
Aku memandang berkeliling. Mencari-cari dari mana datangnya suara samar itu dan suaranya semakin keras ketika aku mendekati kulkas. Aku membuka pintu kulkas itu dan tercekat melihat isi kulkas itu penuh dengan organ tubuh manusia. Jantung, limpa, usus, sepotong kaki yang kuyakin milik seorang pria, juga potongan tangan wanita yang menggenggam ponsel yang sedang menyala. Ponsel milik Pelangi. Tangan Pelangi!