SAVAGE LOVE (PART 2)
Baca part pertama kalo kalian penasaran cerita lengkapnya 🔥🔥
Aegi mengunyah makanannya pelan, sedikit khawatir dengan suasana kaku antara ayahnya dan CEO Leonard Company, Edwind Leonard Horlock.
"Sudahi saja basa-basimu! Jelaskan rencanamu tadi malam!"
Perkataan Abraham membuat Edwind sedikit gugup, nyatanya ia tak bisa berkutik di depan pengusaha ulung itu. Ia mulai menyesali ide bodohnya.
Edwin menegakkan posisi duduknya, "Tadi malam aku berbuat kesalahan, tapi kuharap kau bijak untuk tak menjadikanku sebagai musuh!"
Abraham meletakkan gelasnya, menatap tajam Edwind.
"Apa aku cukup bodoh untuk percaya orang yang mau membunuh anakku?"
"Hahahaha!" Edwind berusaha tertawa santai, "Seperti perkiraanku, kau tahu semua yang terjadi di kota Horlock!"
Aegi mengernyitkan dahi, teringat sikap Nesia tadi malam.
"Apa maksud anda?" Aegi berdiri dari tempat duduknya.
Abraham bertepuk tangan sambil tertawa mengejek, "Anak ini yang akan membalas perbuatanmu!"
Edwind tak terpengaruh profokasi laki-laki tua itu, balas tersenyum tipis.
"Apa kau yakin Abraham? Dia akan menghukumku atau menghukummu?"
Abraham terlihat geram, meskipun menguasai banyak hal di kota Horlock, keberadaan pria di di depannya itu tetap mengganggu.
"Gadis bodoh itu sudah terbunuh"
Perkataan singkat Edwind membuat wajah Aegi merah padam, pemuda itu tak bisa menahan amarahnya. Ia menarik paksa ujung taplak meja, membuat semua benda diatasnya jatuh bebas ke lantai. Suara benda pecah menggema di ruangan luas itu sesaat.
Selain itu tak ada hal lain yang dilakukannya, meskipun tangannya ingin meninju seseorang. Aegi pergi meninggalkan tempat dengan penuh amarah
Edwind tertawa melihat tingkah Aegi, tak menyangka anak yang selama ini menjaga image karena ayahnya melakukan hal yang tak sopan itu.
Abraham tertegun, tak menyangka puteranya punya hasrat yang membuatnya mampu melanggar image yang dipertahankannya selama ini.
***
Pemuda tersangka pembantaian keluar George dan Leonard itu menatap kosong detektif di depannya.
"Jadi kau marah karena wanita itu terbunuh?"
"Heuh! Aku sudah muak dengan pertanyaanmu!"
"Lalu kenapa kau tak membalas dendam saat itu juga pada orang yang paling bertanggung jawab atas kematiannya?"
Pemuda berambut cokelat memandang serius detektif.
"Apa kau ingin kuajari cara balas dendam yang sempurna?"
Detektif menangkupkan tangannya, "Kurasa aku tak perlu!"
***
Aegi terus menatap nisan yang masih mengkilap, senada dengan bucket bunga segar diatasnya.
Sudah berhari-hari pemuda itu datang kesana pagi hari dan pulang saat malam. Entah kenapa ayahnya tak menghentikan tindakan bodohnya.
Setelah genap sepuluh hari Aegi tak lagi mendatangi makam Nesia, atau meminta orang untuk membawa bunga kesana.
Pemuda itu kembali bekerja seperti biasa, mengembangkan risetnya. Cabang laboratorium pengolahan energi tersebut tersebar ke seluruh benua Sesia. George Company dan Leonard Company yang memutuskan masih bekerja sama meraup banyak keuntungan. Meskipun Leonard Company tak menampakkan diri ke publik.
Butuh satu tahun untuk menciptakan energi buatan dan butuh satu tahun pula untuk membuatnya menjadi teknologi termaju di benua Sesia.
Aegi berdiri di depan ribuan wartawan, di auditorium yang sama seperti dua tahu lalu dia menawarkan risetnya pada para kepala negara.
"Bagaimana anda bisa mendapatkan ide cemerlang ini?" salah satu wartawan bertanya.
Aegi mengetuk pelipisnya, "Kalau kalian berpikir jernih, pintu menuju lubang semut pun bisa kalian temukan!"
Seisi auditorium tertawa, kecuali Aegi yang memasang wajah serius.
"Benar bukan?" Aegi menegaskan pernyataannya.
Sekali lagi seisi auditorium tertawa, karena siapapun bisa menemukan pintu lubang semut, hanya saja pasti seukuran semut.
Moderator mengalihkan pada wartawan lain yang mengantre untuk bertanya, menghentikan kegaduhan karena lelucon Aegi.
Salah seorang wartawan maju ke podium peserta pers, "Saya Barry Jonathan Lexy, terimakasih atas waktunya, pertanyaan saya sederhana dan bertujuan untuk memotivasi banyak orang."
Wartawan itu mendekatkan mikrofonnya, "Pengorbanan apa yang telah anda dan tim lakukan untuk mendapat pancapaian gemilang ini?"
Wartawan menutup pertanyaannya dengan beberapa kata basa-basi.
Seisi auditorium tak sabar mendengar jawaban ilmuan terpenting di benua Sesia itu. Mereka tak menyadari tatapan kosong yang tersirat dari ekspresinya.
"Pengorbanan kalian bilang?" Aegi mengetuk jamnya di dekat mikrofon, "Waktu, tentu saja itu yang paling banyak dikorbankan. Tapi, dari semua yang kami korbankan, darah dan nyawa hal terpenting yang kita korbankan."
Para wartawan tertawa, mengira Aegi membuat lelucon dengan mengatakan nyawanya yang dikorbankan.
"Kenapa kalian tertawa?" pertanyaan singkat Aegi membuat para wartawan terdiam.
"Aku serius saat bilang nyawa dan darah yang dikorbankan. Apa kau tahu dengan siapa kami bekerja? Keberhasilan ini bukan hanya milik George Company. Ada tim riset dari perusahaan lain yang membantu kamu."
Seisi auditorium mulai ribut, saling menanyakan apakah mereka pernah mendengar hal yang dikatakan Aegi.
Tim keamanan dari perusahaan George Company mulai panik. Ketua mereka yang berjaga di balik panggung, mendapat telepon dari Perusahaannya.
Kepala keamanan itu buru-buru menyuruh bawahannya mematikan sekring listrik karena atasannya geram mendengar pernyataan Aegi di depan ribuan wartawan. Hal itu wajar karena bisa dibilang, hari itu mungkin menjadi puncak kesuksesan proyek energi buatan.
Sebelum Aegi meneruskan pernyataan yang membuat para wartawan kaget, listrik gedung itu mati.
Aegi tahu hal itu pasti terjadi, dia merogoh kacamata dari tasnya.
"Mode penglihatan malam" katanya singkat yang membuat kacamata bereaksi menampilkan mode penglihatan malam untuk pemakaianya.
Aegi meninggalkan tempat itu dengan mobil sport yang sudah ia siapkan diparkiran gedung. Melaju menuju bandara.
Jet pribadinya sudah menunggu, staf kepercayaannya memberi hormat.
"Saya sudah menyiapkan semua yang bos minta" Alexius mempersilahkan Aegi masuk.
"Kendaraan yang kuminta?"
"Tentu sudah bos, mobil sport tercepat yang berhasil kita menangkan di lelang."
Alexius menggaruk kepalanya, "Tapi bos, untuk apa kau meminta semua itu?"
Aegi mengibaskan tangannya, "Kau tak perlu tahu! yang pasti aku akan menjamin biaya hidupmu!"
Aegi melempar kunci yang diambil dari tasnya. Alexius sedikit kebingungan dengan maksud kunci yang diterimanya.
"Itu kunci propertiku yang sama sekali tak berhubungan dengan perusahaan, semua yang kujanjikan ada disana! Koordinatnya sudah kukirim lewat surel!"
Alexius semakin bingung, "Memangnya bos mau pergi kemana?"
Aegi tersenyum tipis, "Aku hanya pergi ke tempat yang dekat!"
Alexius membiarkan Aegi istirahat, meskipun ia sedikit bingung dengan pernyataan terakhir bosnya.
***
Pemuda berambut cokelat duduk di kursi tersangka dalam persidangan penentuan hukuman untuknya.
Orang-orang yang hadir di persidangan elit itu terlihat geram melihat wajahnya yang tak merasa bersalah. Jaksa mulai membacakan tuntutan.
"Terdakwa, Aegi George Horlock dituntut atas tindakan percobaan pembunuhan dengan jumlah korban 250 orang, termasuk ayah dan ibu terdakwa. Karena tindakan keji dan tak beradap ini kami memberi tuntunan hukum mati untuk terdakwa, sekian!"
Pengacara dari pihak Aegi berdiri setelah diperintahkan hakim untuk memberi pembelaan. Pengacara itu tak lain detektif yang menginterogasi Aegi.
"Kami tidak setuju dengan tuntutan jaksa! Meskipun terdakwa melakukan kejahatan yang pantas mendapat hukuman mati, terdakwa masih orang penting yang berhasil membuat seluruh penduduk Sesia melewati krisis energi. Mempertimbangkan kemungkinan krisis yang sama bisa terjadi, terdakwa pantas dibiarkan hidup untuk antisipasi masalah di masa mendatang."
Orang-orang di ruangan itu mengalami pro kontra, ada yang setuju dengan pendapat pengacara namun juga tidak terima dengan kejahatan Aegi, ada yang menentang penuh pendapat pengacara.
Hakim mengetuk palu, menghentikan kegaduhan. Setelah 20 menit berdiskusi, hakim utama membuat putusan.
"Setelah mempertimbangkan semua bukti dari keseluruhan perkara dan jasa besar tersangka, kami memutuskan terdakwa mendapat hukuman penjara seumur hidup dengan syarat tersangka harus mematuhi jika sewaktu-waktu tersangka dipanggil pemerintah untuk berkontribusi dalam pengembangan energi buatan."
Palu diketuk, keputusan final hakim sudah ditentukan. Seisi ruangan gaduh, ada yang terima, ada yang merasa lega, termasuk pengacara sekaligus detektif yang menyelidiki Aegi yang tersenyum pada pemuda itu.
Aegi hanya membalas dengan senyuman tipis, tak menyangka detektif itu cukup gila untuk membelanya yang seorang tersangka kejahatan kelas kakap. Sekarang Aegi tahu kenapa di menjadi detektif nomer satu di negaranya.
Sidang yang sudah berlangsung berkali-kali itu akhirnya menemukan titik final.
Sehari sebelum persidangan....
"Apa kau kasihan padaku?" Aegi menatap kesal detektif yang terlihat iba padanya.
Detektif itu menggeleng, "Aku tak merasa kasihan, aku hanya mau memastikan satu hal."
Aegi mengerutkan dahi, "Apa lagi yang mau kau pastikan?"
Detektif menatap serius, "Dari keseluruhan ceritamu, ada satu hal yang masih janggal! Apa benar kau membunuh orang tuamu?"
Aegi tersenyum kecil, "Kau lebih pintar dari dugaanku!"
"Jadi apa jawabanmu?"
"Aku tak membunuh mereka" jawab Aegi singkat.
***
Setelah meledakkan dua laboratorium dan membakar rumah para petinggi George Company dan Leonard Company, Aegi pulang ke rumahnya, hendak melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya pada rumah para petinggi George Company yang lain.
Pemuda itu memasuki ruangan ayahnya, mau berkata jujur setidaknya sekali sebelum pria sepuh itu meninggal.
"Kau tak perlu repot-repot membunuh ayah!"
Aegi tersentak dengan perkataan ayahnya, "Aah, jadi ayah sudah tahu?"
Abraham tersenyum, "Ayah sudah cukup senang saat kau memiliki keinginan hingga menentang perintah ayah"
Aegi mengerutkan dahi, "Apa yang mau ayah katakan sebenarnya?"
"Tak perlu basa-basi, ayah tak akan menyelamatkan diri. Lagipula ayah tak akan punya muka jika semua bawahan ayah sudah mati."
"Jangan bangunkan ibumu dan jangan membencinya karena tak pernah membelamu!"
Aegi mengepalkan tangan, dia melihat ragu alat ditangannya, alat yang menentukan semua bom rakitan yang ditanam di beberapa bagian rumah itu meledak atau tidak.
Malam itu, malam kedua yang paling disesalinya setelah kematian Nesia, karena memutuskan meledakkan rumah.
***
"Sudah kuduga, ada peluru di kepala orang tuamu saat di autopsi, mereka tak mati karena ledakan, itu pasti peluru bunuh diri!"
Aegi mengangkat alis, "Apa itu lucu bagimu?"
"Tentu tidak, kini aku yakin kau bukan orang jahat 100%!"
"Itu berarti, kau tetap menganggapku orang jahat!"
Detektif itu menghela nafas, menyodorkan kartu namanya.
"Aku bukan hanya seorang detektif, aku memiliki gelar hukum istimewa yang membuatku bisa menjadi detektif sekaligus pengacara!"
Aegi mengerutkan dahi, tak memahami alur pikir detektif di depannya.
"Jadi apa maumu?"
Detektif itu tersenyum lebar, "Aku akan memastikan otakmu itu masih berguna di masa depan! Kau bisa membuat sidang ulang jika kau berhasil membawa dunia selamat dari krisis yang lebih besar!"
Detektif itu beranjak dari tempat duduknya, menoleh sesaat dan mengetuk pelipisnya.
"Otak!" pria itu tersenyum lebar.
Aegi memandangi kepergian sang detektif dengan sedikit takjub dan membaca kartu nama yang diserahkannya.
"Jeremy George Horlock?"
Aegi pernah mengingat nama itu, nama seseorang yang sering disebut-sebutnya saat mengobrol dengan Nesia, pria dengan IQ tertinggi di generasinya.
Aegi tersenyum sendiri, berpikir alasan Jeremy memilih menjadi pegawai pemerintah mungkin sama dengan hal yang dialaminya.
***
EPILOG
Aegi kecil memperhatikan anak-anak yang berlarian di taman. Ia tak pernah memikirkan hal semacam itu menyenangkan.
Aegi menunggu ayahnya yang mendapat telepon dadakan dari kantor. Anak itu duduk di samping ibunya di salah satu kursi taman.
Seorang anak perempuan menangis di sebelah kursi yang didudukinya, es krim gadis kecil itu meleleh dan jatuh ke tanah.
"Ibu, dia terlihat sedih!" Aegi menunjuk gadis kecil itu.
Sang ibu tersenyum, "Kalau begitu, buat dia tak sedih lagi!"
"Bolehkah?"
"Tentu saja boleh!" sang ibu tersenyum hangat.
Aegi berlari menuju penjual es krim, sedikit kebingungan memilih rasa es krim. Akhirnya dia membeli tiga es krim dan membawanya dengan susah payah pada gadis kecil yang menangis. Ibunya tersenyum melihat tingkah anak itu.
Aegi menyodorkan semua es krimnya.
"Ambillah jika kau mau!"
Gadis kecil itu mengusap air matanya, mengambil ragu-ragu es krim yang disodorkan padanya.
Setelah beberapa menit, mereka menghabiskan semua es krim dan mengobrol hal-hal menyenangkan.
"Namaku Aegi, siapa namamu?" Aegi mengulurkan tangan.
Gadis kecil itu balas menjabat tangannya, "Namaku Nesia, senang bertemu denganmu!"
Nesia tersenyum lebar, menunjukkan dua gigi kelincinya. Aegi juga melakukan hal yang sama, dua gigi taring kecilnya yang menonjol terlihat keren di mata gadis kecil itu.
END