Jika dalam sekejap aku memiliki uang 200 miliar. Kehidupan seperti apa yang akan kujalani?
***
Stage 1.
Selain nekat, tiada yang spesial dari diriku. Aku hanya anak gelandangan yang terlahir dari seorang wanita pelacur, yang memilih mengakhiri hidupnya di luar kawasan Gate 8 tahun lalu.
Sedangkan tempat ini. Tempat kelahiranku, adalah rumah bagi para mafia dan buronan kelas kakap berkumpul.
East Gate.
Jdor!
Jdor!
BOOOMB!
Tidak lagi asing bahkan ditelinga anak anak seperti kami, suara tembakan dan dinamit berskala kecil menjadi pemandangan sehari-hari di kota ini. Kami yang hidupnya melarat dan masih mengharapkan simpati oranglain pun hanya bisa termenung menatap kepulan asap, kala sebuah ledakan baru saja menggema dari bangunan emas di puncak Gate.
Yeah, susunan kota yang menyerupai gunung ini memang menempatkan alun-alunnya berada dibawah pilar East Gate tersebut. Kalau tidak salah, bangunan emas itu serupa gedung putih, bernama Goldehom.
"Wahh, sepertinya benar-benar terjadi keributan diantara petinggi Goldehom kali ini," Seorang anak penjaja Koran yang mendadak berhenti didepan lapak mengemisku, menoleh kala kebingunganku menyapu telinganya.
"Apa maksudmu?" Tanyaku. Dari perawakan anak itu, kemungkinan usia kami sama... Dia lalu menyodorkan selembar koran padaku.
"Kau belum membaca beritanya? Televisi lokal sudah menayangkannya, mengatakan setelah King Arslanka overdosis obat, para petinggi East Gate mengadakan pertemuan di Goldehom. Mereka memperebutkan gelar King selanjutnya lewat pemungutan suara para Elite. Banyak orang mengira pertemuan itu akan berakhir dengan keributan besar. Dan benar saja..." Tuturnya.
Mata lelahnya kembali menatap Goldehom diatas kami. Penjelasannya barusan serupa dengan berita koran yang kubaca.
"Apa akan ada evakuasi?" Tanyaku, namun.
"Pfft!" Dia terbahak.
"Boooodoh! Kau pikir kita hidup di kota metropolitan sejahtera?? Sarden seperti kita hanya perlu mengevakuasi diri sendiri jika ingin hidup... Pemerintah East Gate dan kepolisian takkan mau menurunkan pekerjanya untuk mengevakuasi masyarakat!" Celetuk nya bersama senyuman miris, sebelum membulatkan mata menatapku.
"Tunggu! Kau bisa membaca?!"
Aku mengangguk.
"Cih! Kalau begitu seharusnya kau tahu diri! Orang yang memilih menghabiskan waktunya belajar ketimbang berlatih pistol, mestinya pergi sebelum mati konyol dikota ini! Kenapa kau disini?!" Bentaknya bersama toyoran kasar ditengah keningku. Aku reflek meringis, tapi...
"Kenapa... yah?" Bersama tawa yang kemudian menghias bibirku, dapat ku saksikan anak penjaja Koran itu menatap heran ke arahku.
"Kalau ditanya begitu aku jadi bingung menjawabnya... Tapi," senyumku mengembang. "Mungkin karena kota busuk ini adalah satu-satunya rumahku. Aku takkan pergi kemanapun meski East Gate berakhir esok pagi." Kataku.
"Hah!? Kau gila!"
"Hahahaha!"
Yeah... Dia benar.
Itulah jawaban gila dari seorang gelandangan cilik yang bahkan tidak memiliki atap berteduh dari hujan dan dinginnya malam.
Gelandangan yang mengandalkan otak sepertiku, memangnya bisa apa?
***
Stage 2.
"Aku mendengarnya~"
"Huh?!"
Baiklah, aku sedikit berbohong tadi.
Bukannya tidak memiliki tempat berteduh dari hujan dan dinginnya malam tapi, aku malu... Maksudku, bangkai mobil yang terletak dipuncak menara terbengkalai disudut East Gate ini, tak layak disebut rumah bagi siapapun yang melihatnya.
Tidak ada kamar maupun kamar mandi, hanya sebuah bantal usang dan kain soek yang kuletakkan didalam bangkai tersebut untuk menghangatkan tubuh.
"Shh... Permata kecil, aku mendengarmu bicara sangat mencintai kota ini, bukankah... Begitu?"
Ini masalah...
"Huekk!"
Sial!
Aku baru pulang dari mengemis di alun-alun. Perutku lapar, badanku letih dan sebegitu buruk kah nasibku hingga menepati seorang pria memuntahi satu-satunya bantal usang ku?!
"Huekkk!!!"
Untuk kedua kalinya, dia memuntahkan isi perutnya yang berupa darah. Dia nampak lemah, pucat dan tubuhnya yang kurus menampakan tajam garis tulang pipinya. Akupun merasa iba tapi sayangnya, bukan itu keadaan gawatnya.
"Kau ... Perutmu terkoyak??" Manikku membulat.
"Kurang lebih, iya~"
Penampakan jasnya yang tertebas pedang mencekat tenggorokan ku kala darahnya mengalir keluar.
Panik? Tentu! Tapi anehnya ketimbang merasakan sakit atau Shock hipovolemi, pria itu justru tertawa... "Setidaknya ususku tidak berceceran keluar, bukan? Aku lumayan beruntung bisa melarikan diri dari incaran Samurai Michael," katanya... Lalu sambil tertatih menutup luka tebasan dengan tangan, dia keluar dari bangkai mobil bersama sebuah koper yang entah sejak kapan tergenggam.
"Kau... Namamu Alanka, kan?"
"Huh?" Meski dalam keadaan terluka, aura yang pria itu keluarkan terasa berbahaya. Langkahku pun berjalan mundur beriringannya.
"Bagaimana kau tahu? Siapa kau dan apa urusanmu denganku?!"
"Ck, ck... Berteriak pada orang tua? Anak muda jaman sekarang tidak sopan~"
"Apa peduliku?! Aku tidak mengenalmu!"
Benar! Aku takkan mungkin membuat kecerobohan sebesar ini.
Selama 14 tahun hidupku, aku tidak pernah berurusan dengan para kriminal di kota.
Meski East Gate adalah kota mafia, Aku selalu menghabiskan waktuku mencari uang dengan cara yang halal dan mencari tempat perlindungan. Menara inipun ku datangi setelah menganalisa kemungkinan hadirnya serangan yang minim dari para kriminal. Menara ini sudah lama diabaikan penduduk kota jadi,
"Kau pasti sangat pemberani hingga memilih meninggali bangunan yang bahkan ditakuti petinggi Goldehom, Permata kecil..." langkahnya terhenti saat diriku terpojok diantara pembatas menara. Bulu kudukku merinding menyadari selangkah lagi mundur, tubuhku akan menjadi hamparan organ.
"Cih, jadi kau salah satu dari orang Goldehom? Apa tujuanmu datang kemari?!" Seruku.
"Tujuanku? Tujuanku yah...Tentu saja untuk menemuimu~"
"Hah?!"
Dia pasti sudah gila!
"Omong kosong! ... Dengar, pak tua! Jika tempat ini diperlukan untuk keperluan petinggi Goldehom, aku akan pergi sekarang juga. Kalian bisa menggunakan menara ini, tapi jangan libatkan aku dalam urusan kalian baik sekecil apapu--"
"Apa kau tidak takut mati?"
Bibirku terkatup.
"Apa... maksudmu?"
Pria itu menunjuk kebawah menara. "Semua orang tahu. Dinamit yang tertanam didasar tempat ini adalah ancaman bagi seluruh kota. Para petinggi dan pasukan penjinak sudah berusaha mengatasinya, tapi sampai sekarang hasil dari kerja keras mereka hanyalah sia-sia. Dinamit itu bisa meledak dengan satu gesekan dalam porosnya, karena itulah polisi memasang batas terlarang dan para petinggi Goldehom enggan mendekati menara... Menara Deathy ini, adalah sarang kematian." tuturnya.
"Katakan, kenapa kau tinggal disarang kematian, permata kecil?"
"Ck!" Entah mengapa dia begitu penasaran dengan alasanku menempati menara Deathy. Aku jadi bingung memberinya jawaban.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan dari orang asing?"
Pria itu tersenyum. "Yah... Kau menjawab pertanyaan dari penjaja Koran di alun-alun, bukan?"
Cih! Sejak kapan dia memata-mataiku?!
DEG!
A-apa dia tahu soal kemampuanku?
Ditengah kepanikan yang membuncah menduga-duga banyak hal, pria kurus berambut blonde itu menunggu jawabku dengan kecurigaan besar. Sial. Tampak jelas dari raut wajahnya, meski lukanya teramat sakit, dia menepis semua rasa itu hanya untuk terus bicara.
"Kau tidak mau menjawab?"
"Ukh!" Di hadapannya, aku merasa sangat tertekan.
"Dengar, pak tua. Melibatkan ku dalam waktu luangmu hanya membuatmu menyesal! Aku hanya gelandanga--"
"Apa aku terlihat seperti orang yang hanya menghabiskan waktu luang, dalam kondisi seperti ini?" Darah dari perutnya kembali menetes.
Dia tak mengalihkan mata meski bibirku kembali terkunci oleh kalimatnya... Dan saat itulah aku tersadar telah terpojok dalam topik nya.
"Kebanyakan orang dewasa hanya melebih-lebihkan banyak hal. Orang dewasa terlalu banyak berpikir hingga minim bertindak dan pada akhirnya ketakutanlah yang menyelimuti mereka... Aku hanya melakukan hasrat berdasarkan rasa penasaran yang mereka pendam." Tuturku.
"Apa yang kau lakukan?"
"Play with those Dyna-- eh?!"
Keparat!!
Kenapa mulutku begitu ceroboh menjawabnya menggunakan bahasa asing?!
"Kau--"
Siall!
Sesuai dugaanku, pria itu membulatkan matanya mendengar kata-kata ku... Suaranya disana seolah tercekat menyaksikan gelandang sepertiku berbicara dengan bahasa asing yang hanya dipelajari orang-orang elite.
"Ka-kau belajar bahasa itu secara otodidak?"
"APA ITU SALAH?!"
"Huh?!" Matanya melebar menerima teriakanku, namun sesaat setelah itu.
"Pfft! Hahahaha!"
Saat kupikir dia akan menginterogasi ku tentang penjinakan dinamit dan darimana aku menguasai bahasa asing, pria pucat itu justru terbahak menjatuhkan tubuhnya kelantai menara... Koper yang dia genggam ikut tergeletak dan parahnya terbuka secara mendadak.
"Hahahaha! Kau memang unik sama sepertinya!" Bahaknya. Sedangkan jiwa miskinku meronta-ronta didepannya.
"Untunglah... Untunglah aku menemuimu disaat terakhirku,"
Tunggu, tunggu! Tepatnya siapa kau sampai memiliki uang sebanyak itu?!
Ditengah kebingunganku melihat gepokan uang tersusun didalam koper tersebut, pria pucat yang hampir sekarat itu mengatur nafasnya seraya melambaikan tangan.
Apa dia ingin aku mendekat?
"Hei... apa kau pikir orang tua yang tubuhnya terus mengeluarkan darah ini bisa menyerangmu?"
Alisku bertaut. "Bisa saja, bukan? Kau pasti memiliki satu atau dua pistol tersembunyi dibalik jas mu! Terlebih kau adalah orang Goldehom! Aku tidak mau berurusan dengan para kriminal seperti kalian! ... Kalian bisa mengambil menara Deathy. Aku pergi!"
"Pergi?"
Melangkah melewati kopernya dan dirinya yang terbaring lemah. Aku mencoba acuh dengan berpikir, sudah usai urusanku dengannya.
Aku hanya gelandangan cilik yang berusaha bertahan hidup dikota terkutuk ini. Sedangkan dia, dia adalah elite yang menjadi bagian dari petinggi Goldehom... Kehadirannya di sini pasti sekadar singgah karena tubuhnya terluka. Lukanya pun, pasti ada hubungannya dengan keributan para petinggi disana.
"Permata kecil. Setidaknya bantu aku,"
"Tidak mau!"
"Haha, sombong sekali. Padahal aku hanya ingin kau mengambil uang itu,"
Tap.
Langkahku terhenti. "Ha??"
"Ambillah..." lirihnya.
Sedangkan disini, melihatnya terbaring dengan seulas senyum memintaku mengambil koper itu, hatiku bergetar menyalahkan diri telah menoleh kebelakang.
"Ambillah dan jadilah King menggantikan ku, Alanka."
"A?!--" Among kosong macam apa dia?!
***
Stage 3.
"K, king-- KAU KING??" Darahku mendesir menuju kaki, kala otakku kosong terblokir berpikir.
"Hahaha-- Ukh! Huekk!"
Tapi mengesampingkan dulu keterkejutanku. Paman pucat itu lagi-lagi bertingkah bodoh. Dia baru saja nekat tertawa padahal sedikit saja tekanan pada perutnya dapat berakhir melayangkan nyawanya.
"Hei, setidaknya jika ingin mati jangan mati didepanku. Tunggu sampai aku keluar dari menara ini, old man!" pintaku berusaha mengabaikan kesakitan dan omong kosong pria itu.
Pria lemah seperti dia mana mungkin King Arslanka?! Itu pikirku.
"Aku tak salah... Sifatmu itu yang menunjukkan kau memang kejam sepertiku. Kau juga mengidap sindrom kelebihan memori otak, bukan?"
"..." Juga?
"Hyperthymesia"
DEG
Mendengar pernyataannya, kepalaku tertoleh menatapnya waspada.
"Apa akhirnya kau bingung kenapa aku bisa mengetahuinya?" Ujarnya disambung tawa. "Aku tahu semuanya, Alanka! Aku selalu mengawasimu dan melihat perkembanganmu sejak kau memasuki East Gate tujuh tahun lalu! kau sama seperti diriku!"
"?!"
Apa apaan itu.
Ke-kenapa jantungku berdegup kencang kala namaku mengudara di bibirnya?!
"Permata~ Kau adalah cetak hidupku yang tak tergantikan. Inilah sidrom yang membuatmu bisa mengingat dan menganalisa banyak hal secara mendetail. Melebihi manusia pada umumnya."
Sial...
"Sejauh mana kau ingin membawaku kedalam lelucon mu, pak tua?!" Rahangku mengeras masih menyangkal kebenaran yang dia ucapkan. Pria itu lalu tersenyum... Dia mulai menunjuk tubuhku dari atas hingga kebawah.
"Warna kulit yang sama seperti warna kulit gadis yang kucinta... Rambut dan mata serupa diriku saat aku muda,"
"Menurut mu, bagaimana mungkin seorang ayah tidak mengenali putranya?"
***
Stage 4.
Sekali lagi.
Jiwa miskinku meronta melihat lembaran uang senilai 200 miliar itu dihamburkan si pria pucat, yang tak ternyata berkulit Langsat.
"Bagaimana? Ini menjanjikan bukan?"
Garis mataku mengerut, "Kau tidak waras, old man. Kau pikir aku mau mengorbankan nyawaku hanya untuk mengurusi kota ini?! Kedudukan King bukanlah yang ku mau!"
"Eh, kau tidak mau?"
"Tentu saja!! APA YANG MEMBUATMU BERPIKIR AKU MAU MENJADI KING SELANJUTNYA MENGGANTIKAN MU?!"
"Ehhh..." Dengan santainya, dia kembali meletakkan telunjuknya di dekat bibir. Dia mengoceh. "Yeah habisnya... Kau putraku, kau berani tinggal di sarang dinamit ini jadi kupikir, melawan beberapa petarung dan samurai milik petinggi Goldehom lain takkan menghilangkan nyawamu, kemampuanmu akan melindungimu, Alanka."
"Ukh!" Bolehkah aku mencekik pria yang mengaku sebagai ayahku itu?
Sudah dua hari berlalu sejak kami bertemu di atas menara Deathy dan sialnya, aku memilih menolongnya setelah dia memanggilku sebagai putranya. Bukan bersimpati, aku hanya enggan membiarkannya mati sebelum semua pertanyaanku terjawab.
"Big No! Takkan pernah! Aku lebih baik mengelana seumur hidupku daripada bergabung dengan orang-orang Goldehom!" tangkasku pada tangannya yang hampir menyentuhku.
Raut wajahnya sontak berubah serius. "Kau membenci orang-orang Goldehom karena berpikir mereka hanya memperebutkan tahta King, bukan?"
Aku mengangguk. "Benar! Mereka hanya pion berotak kosong yang mengincar nafsu menguasai kota!"
"Lalu pemain sesungguhnya?"
Iris mataku berbelok singkat. "Kau, sang King lah yang seharusnya berkuasa."
"Tepat!"
"Persis seperti katamu, seharusnya King lah yang memainkan para pionnya. Pion harus menuruti semua perintah King tapi kali ini... King Arslanka telah dinyatakan tewas oleh media." Lanjutnya. Sorot hitamnya pun melirik gusar..
"Media sudah dikelabuhi. Penyerangan samurai milik Michael pada titik vitalku membuat mereka berpikir aku telah mati... Tapi yeah, memang ini yang di incar Mic. Menurutnya mungkin, kematianku dapat mengangkatnya sebagai King East Gate selanjutnya,"
Hah... Lagi?
"Hei, time out! ... Sebenarnya siapa Michael?!" Aku memijat kening. Aku kesal sejak kemarin pak tua ini tidak menjelaskan siapa dan kenapa Michael menyerangnya. Dia hanya terus membujukku setuju menggantikannya sebagai King.
"Eh? Apa aku belum menjelaskannya pada m--"
"BELUM PAK TUA!"
"Ouh..." Dia tertawa "Michael... Singkatnya dia adalah sahabatku. Dia teman masa kecilku, orang kepercayaan ku, tangan kananku yang..." Kalimatnya tergantung.
"Yang?"
"Yang berkhianat,"
"... Hah?"
Pria itu mengangguk. "Akupun baru mengetahui pengkhianatan nya beberapa hari lalu. Aku yang diberitakan media mengalami overdosis obat, sebenarnya diberi obat penenang dalam dosis tinggi oleh Michael... Mic, diam-diam menaburkan obat kedalam setiap makanan yang kumakan. Awalnya, efek yang kurasakan hanya kantuk biasa, tapi lambat laun, dosis yang terus naik membuatku koma. Aku sendiri baru terbangun dari koma selama 2 bulan dan saat itu, Kondisi Goldehom sudah kacau... Mic sudah mengadakan pemungutan suara para elite disana." Runtutnya.
Ahhh, jadi itulah mengapa dia kelihatan pucat dan kurang gizi saat pertama kami bertemu? Batinku.
"Malang sekali nasibmu sampai dikhianati tangan kananmu sendiri,"
Dia terkekeh. "Ku akui itu. Pada akhirnya terlalu mempercayai seseorang hanya membuatmu terluka... Begitupun Michael. Dia sangat yakin para Elite akan memilihnya sebagai King dalam pemungutan suara Goldehom,"
"Apa saat itu Para Elite tidak memilihnya?"
"Tidak... Para elite yang hampir memilih Michael berubah pikiran saat melihatku menduduki singgasana King,"
"Lalu keributan dan bom saat itu?"
"Hm... Bom dan tembakan di udara, kurasa hanyalah pengalihan agar para elite dan petinggi lain melarikan diri dari aula. Mic menggunakan keributan itu untuk membunuhku dengan Samurainya... Saat itulah aku melarikan diri membawa aset kota dan menemukanmu berbincang dengan anak penjaja Koran. Aku menuju menara Deathy karena hanya dirimu kartu as yang ku punya"
Bibirku berdecak mendengar akhir penuturannya. "Kau orang tua yang buruk, kau tahu itu, kan?" ujarku. Dia pun terdiam merundukkan pandang.
Hahhh!
Apa hasrat yang telah ku pendam sejak dua hari lalu bisa kutumpahkan sekarang?
Brak!
Aku meraih kasar memeja lusuhnya bersama amarah. "Kau pikir setelah meninggalkanku dan ibu diluar East Gate, menelantarkan kami, bahkan membuat ibu mengakhiri dirinya sendiri, kau bisa menggunakanku sebagai salah satu pion mu?! MANUSIA HINA MACAM APA KAU INI?!"
Pria itu terdiam...
Enggan ku akui samar-samar suara kami terdengar mirip. Dan sialnya tidak hanya suara, tapi juga warna rambut, manik hitam, bahkan perawakan tubuh... Diriku benar-benar copy paste dirinya!
Dia telah menurunkan sebagian banyak fisiknya padaku!
Aku muak.
BRUK!
Dengan satu dorongan keras. Tubuh nya yang masih lemah kuhempaskan ke atas sofa bekas didalam menara. "Jika kau mengira aku akan luluh dengan kekuasaan menjadi King. Kau salah, pak tua! Aku bukan pion yang bisa kau beli! Hubungan darah denganmu saja telah lama ku sudahi!" Campak ku.
Benar. Aku sudah cukup mendengar semua ceritanya. Aku sudah cukup berempati pada kemalangannya. Menyatakan baik dia ayahku atau bukan, baik dia King Arslanka atau bukan, aku tidak ingin terlibat kedalam urusannya.
Akupun bergegas menuju tangga turun menara untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Aku baru mendapat pekerjaan kecil dari inspektur Deon, yang memintaku menganalisa beberapa mayat korban mutilasi.
Inspektur bilang, Otopsi yang dilakukan tim forensik belum mampu menyatakan identitas mayat-mayat itu. Karenanya aku dipanggil untuk membantu mereka... Kenapa bisa? Itu karena selain gelandang dan pengemis, aku juga seorang shadow kepolisian Kota. Dengan kemampuan ku, aku bisa menganalisa tubuh mayat dan data para mayat untuk memprakirakan identitas mereka.
Prakiraan ku tidak pernah meleset.
"Tampaknya, memang harus kujelaskan dari awal."
Langkahku kembali terhenti. Pria tua itu membuatku semakin muak dengan seluruh kalimatnya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu! Lebih cepat kau meninggalkan tempat ini, lebih menipis rasa benciku padamu!"
"Haha, jahatnya. Jadi kau yakin ingin aku pergi?"
"YA!"
"Bagaimana jika kubilang Alinka mengakhiri hidupnya untuk melindungi mu?"
Hah?! Berani menyebut nama ibu didepanku, rupanya dia tidak memiliki malu, ya!
Kilat mataku menatapnya. "Fakta macam apalagi yang ingin kau utarakan untuk membujukku?! Kau pikir aku akan percaya?!"
Pria itu melengkung senyum. "Kau harus percaya, Alanka... Setelah mendengar fakta ini, aku berjanji akan menjadi hak mu memilih mau membantuku atau tidak. Tapi sebelumnya, Satu yang harus kau ketahui adalah aku datang kesini dengan amunisi informasi..."
"Jadi, apa kau mau mendengar ayahmu sedikit lebih lama lagi?"
***
Stage 5.
Jika dalam sekejap aku memiliki uang senilai 200 miliar Goldehom. Uang yang setara dengan aset satu negara itu, akan kugunakan uang itu untuk membeli kedudukan King di kota busuk ini.
Demi Ibu dan keadilan untuknya.
Tahta King harus ku tempati.
...
Pukul 09.45
Berita yang disiarkan televisi lokal menayangkan perdebatan petinggi Goldehom dan kepanikan mereka membahas hilangnya aset East Gate sebesar 200 miliar Gm (Goldehom).
Aset yang menjadi pondasi berjalannya ekonomi masyarakat, yang berasal dari rampasan aksi para kriminalnya. Aset yang sangat penting dan dibutuhkan untuk pembangunan kota, telah hilang bersama tewasnya King Arslanka.
Masyarakat pun menduga Tangan kanan King Arslan-lah yang menjadi dalang dibalik hilangnya aset tersebut. Mereka mengadakan demo meminta pertanggung jawaban Tuan muda Michael Uranus didepan Gedung Emas.
["Pfft!! Hahaha! Nahas sekali nasibmu, Mic!"]
"Kubilang berisik, Pak tua!"
Menyebalkan!
Suara tawa dari earphone yang tersangkut di telingaku membuatku terlihat seperti orang gila saat berbicara sendirian di tengah keramaian.
"Berapa kali harus ku katakan kecilkan volumenya dan fokuslah pada misi ini! Kau yang memaksaku untuk--"
[".... Hm? Masih berpikir akulah yang memaksamu?"]
"Ck!"
Pria itu kembali tertawa mendengar keraguan dalam ucapanku saat menyalahkannya. Akupun hanya mendesis, kembali melanjutkan langkah menuju Goldehom yang ramai didatangi masyarakat.
Aku tidak bisa lagi menyalahkan mantan King, Yang mulia Arslanka, yang tak lain adalah ayahku sendiri dalam menjalan misi ini... Akulah yang mengambil keputusan merebut tahta King setelah mendengar fakta dibalik kematian ibuku. Fakta yang berhubungan erat dengan pria bernama Michael, mantan tangan kanan Arslan tersebut.
Pria hina itu!
"Akan ku jatuhi hukuman seumur hidup untuknya yang telah memisahkan seorang anak dari ibunya!"
["Yeah. Dan seorang suami, dari istri juga putranya. Jangan lupakan itu nak,"]
Aku terkekeh. "Kau sangat bawel akhir-akhir ini. Apa kau sudah setua itu, pak tua?"
Pria itu bergumam. ["Tidak setua itu. Tapi kupastikan, aku akan bertahan sampai kau duduk di singgasana King di Aula--"]
"Tidak! Kekeliruan seperti ini, aku sangat membencinya!"
"Jadi tolong tetaplah bernafas sampai aku kembali sebagai King ke menara,"
["Huh?"]
"Aku takkan memaafkanmu jika kau mati sebelum aku kembali!! Ini salahmu telah melibatkanku terlalu jauh!"
["Pffft..."]
Sungguh! Dia sangat menyebalkan!
Namun begitu, aku sadar suaraku berubah gemetar kala mendengar nafas beratnya di seberang... Jantungku berdetak kencang ingin segera menyelesaikan misi dan kembali ke sisinya. Perasaan yang tidak bisa kumengerti baik kujelaskan inipun, aku menamakannya sebagai keegoisan seorang anak.
Back to action.
Setelahnya, setelah berhasil menerobos kerumunan pendemo, aku bergegas mengambil jalur belakang untuk memanjat sebuah pohon beringin, yang dapat membawaku memasuki area Goldehom dengan melompat.
Bugh!
Tubuhku membentur tanah cukup keras. Salah perhitunganku membuat bahuku merasakan pergeseran tulang.
["Kau baik-baik saja, Alanka?"] Saat itulah suara pak tua kembali terdengar.
Cih. Apa dia meremehkan tekadku?
"Bukan waktunya cemas! Beritahu aku kemana aku harus pergi tanpa ketahuan para tentara?!" Pintaku .
["Hah.. baiklah....] Dia pun menjelaskan kemana aku harus mengendap disekitar taman, sebelum berakhir menuju pintu gudang yang terletak bagian paling belakang Gedung emas.
Aku sontak berlari mengikuti arahannya dan ajaibnya, sesuai prakiraannya area pintu gudang sepi dari penjagaan militer.
["Lakukan yang sudah ku ajarkan padamu, Alanka."]
"Cerewet!" Tanganku tergesa-gesa mengeluarkan sejulur kawat dari jas yang ku kenakan. Sebuah kunci kubuat untuk membuka pintu tersebut.
"Berhasil!"
["Cepat! Masuk dan naik ke saluran udara disana! Ikuti jalurnya dan keluar di perempatan pertama! Ada sebuah lubang yang mengarah menuju aula Goldehom."]
"Aku tahu!"
Meski sedikit menyebalkan, harus ku akui keseluruhan rencana, termasuk Jas hasil modifikasi pak tua itu sangat membantu! Tepatnya sejak seminggu kami tinggal bersama, pria itu mengajarkan begitu banyak hal padaku. Mulai dari berlatih pistol, berlatih pedang dan bela diri dasar. Rakitan Jas berisi amunisi perang inipun salah satu ciptaannya.
Terdapat sebuah pisau dibagikan lengan yang dapat kugunakan untuk pertarungan jarak dekat.
Hanya saja...
["Shhh!"]
Dia sekarat sekarang.
"Pak tua--"
["Apa yang menghentikan mu? Chip mu memperlihatkan kau bergerak lebih lambat, Alanka? Semua baik-baik saja?"]
Rahangku mengeras mendengar kekhawatirannya... Ingin sekali kukatakan, aku memikirkanmu pak tua!
"Tidak. Bukan apa-apa," tapi egoku terlalu tinggi untuk itu.
"Aku akan turun di perempatan pertama. Tidak ada penjaga di sini."
["Lakukan!"]
"Ck!" ... Dengan perawatan seadanya, tebasan samurai yang pernah mengincar nyawanya membuat pria itu tersiksa setiap malam. Aku sudah berusaha mengajaknya ke dokter atau paling tidak, membawa dokter datang ke menara Deathy untuk mengobatinya tapi, dia selalu mencegahku.
["Ikuti koridornya, didepan setelah kau melewati tikungan, adalah aula Goldehom dibalik salah satu pintu perak emas."]
Suaranya yang bergetar membuatku menggigit bibir.
Sial!
"Aku mengerti,"
Aku merasa tidak berguna sebagai anak sekarang.
Dengan alasan tidak ingin publik mengetahui dirinya masih hidup, dia memasrahkan kondisinya pada nasib di menara Deathy. Dia bilang, jika status kematiannya berubah dimata media, diriku takkan bisa menjadi King dan takkan bisa membalaskan dendam pribadinya pada Michael. Dia pun memilih menjalani perawatan sederhana.
Namun demikiannya berusaha bertahan, infeksi yang diakibatkan tebasan pedang beracun itu terus memakan tubuhnya. Kondisinya semakin melemah tapi sekali lagi, dia gila karena mampu menahan kesakitannya, demi mengajariku banyak hal mengenai tahta.
Drap drap drap.
["Ingatlah tujuan kita, Alanka."]
"Aku tahu! Takkan ku kecewakan orang yang sedang sekarat!" Senyumku melengkung miris seraya berlari menyusuri koridor belakang.
["Aku mengandalkan mu"]
...
Flashback...
"Karena cinta yang tidak terbalaskan pada Alinka, Michael mendesak Alinka yang berada diluar kawasan East Gate untuk berpisah denganku. Saat itu, akulah yang meminta Alinka keluar dari kawasan East Gate sampai kau cukup umur. Kau masih kecil, kota kriminal ini takkan cocok untuk kelembutan kalian... Namun nahasnya, aku yang terlalu mempercayai Michael membuat kesalahan dengan mengirimnya menemui kalian,"
Mataku melebar mendengar penuturan tersebut.
"Michael, mengenal ibu?"
"Yeah. Aku dan Mic adalah teman masa kecil. Kami bertiga bertemu di bar East Gate dua tahun sebelumnya dan saat itu, ibumu masih nakal sebagai wanita yang menjajakan dirinya... Dia begitu menawan dan semua lelaki tidak bisa menolak pesonanya. Termasuk aku."
Aku tersenyum. "Memang terdengar seperti ibu," batinku.
"Lalu apa yang terjadi?"
Pria itu mengubah rautnya menjadi sendu. Dia melanjutkan. "Saat itu, aku tidak menyadari perasaan Michael terhadap Alinka. Akupun dengan mudah memintanya melihat bagaimana kondisi kalian karena sebagai King, aku tidak bisa keluar dari kawasan East Gate... Kau tahu, Tahta King sama dengan tawanan yang mengabdikan diri untuk kota. King tidak bisa bergerak bebas diluar kawasannya. Kota ini akan selalu merantainya. Hingga bagiku, hanya Michael-lah mataku untuk melihat dunia luar."
Jadi itulah arti King?
"Lalu, apa yang terjadi sampai ibu memilih membunuh dirinya sendiri?! Apa yang dilakukan Mic padanya?!"
Pria itu terdiam. Manik hitamnya yang lelah, beralih menatapku dengan nafas tersengal diatas sofa. Dia kelelahan bahkan ketika kami hanya berbincang?
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak... Haha... Tapi, itulah yang harus kau cari tahu, Alanka."
"Apa maksudmu?"
"Tentang ibumu, dia mengakhiri hidupnya untukmu. Namun dalam surat yang kutemukan diruang bawah tanah milik Mic, ibumu tak menjelaskan apapun... Apa yang dilakukan Mic hingga Ibumu memilih mengakhiri hidupnya. Itulah yang harus kau cari tahu. Untuk itulah kau harus menjadi King menggantikanku..."
Saliva ku terteguk kasar.
"Kemungkinan terbesarnya, Mic lah yang menekan ibu untuk mengakhiri hidupnya, bukan? Kau juga berpikir begitu 'kan?!"
Pria itu mengangguk. "Jadi kau mengerti sekarang? Kau harus menjadi King yang dapat memainkan semua pion, hingga Mic sendiri tak bisa melawan kehendak mu!"
"Dan dirimu?"
Pria itu menatap langit-langit menara. Tatapannya seolah dia sedang memutar memori dimasa lalunya. "Aku sudah letih... Sejujurnya bahkan selama ini, kupikir aku akan mati di singgasana King seorang diri... Tapi rupanya takdir memintaku bertahan sedikit lebih lama lagi. Kau tahu mengapa?"
Aku menggeleng.
"Itu karena saat aku melihatmu pertama kali memasuki kota ini, aku mendapat harapan baru untuk hidup. Terlebih, aku juga pengidap Hyperthymesia. Dalam sekali lihat, aku tahu dari fisikmu, caramu bicara dan kebiasaanmu persis seperti Alinka! Sejak saat itulah aku menyadari kau adalah putraku. Akupun selalu mengawasimu." Jujurnya.
Dan mendengar semua ceritanya, bibirku terkatup tak kuasa bicara... Dadaku terasa sesak seolah ada yang mengiris dan membubuhi hatiku dengan garam.
Akupun hampir menetes air mata kala tangannya yang dingin dan sedikit pucat menyentuh bahuku pelan. "Waktuku takkan lama, Alanka. Biarkan aku menemui ibumu di alam sana namun sebelum itu, aku ingin kau balaskan dendam kita. Mampukah?"
"Mampu!"
Tujuan kami adalah membeli Tahta King dengan aset Kota yang Arslan curi senilai 200 miliar Gm, dan menjatuhkan hukuman pada Michael Uranus yang telah menekan ibuku mengakhiri hidupnya.
Kota ini juga perlu dibenahi lebih dari yang ku kira.
Flashback Off.
...
Drap drap drap
Baru saja penyusupanku terciduk tentara militer yang kebetulan melewati tikungan koridor. Untungnya, aku berhasil menghindar dari pengejaran mereka dengan memasuki sebuah ruangan secara acak.
["Tunggu disana dan amati lewat celah kunci. Dengarkan baik-baik langkah mereka mendekat atau menjauh!"]
"Ck!"
Padahal sedikit lagi aku sampai di aula utama Goldehom. Aula itu sedang ramai, digunakan sebagai tempat pemungutan ulang suara Elite dalam pemilihan King.
"Hei, pak tua. Apa sebegitu inginnya Michael menjadi King, sampai mengesampingkan kasus aset yang hilang dan amukan masyarakat?" Lirihku sambil mengintip lubang kunci... Tidak ada suara langkah dibalik pintunya. Apa tentara-tentara itu sudah pergi?
["Entahlah. Kupikir Ini sedikit aneh? Aku baru tahu Michael se-ambisius ini. Padahal dulu dia tidak begini. Dia selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Dia..."]
"Dia cerdik dan kau bodoh, kau tahu?! Dari ceritamu, tangan kananmu itu nampaknya sudah lama busuk! Dia hanya menutupi kebusukannya didepanmu selama ini, dia bertingkah bagaikan malaikat penolong. sadarkah kau!" Kesalku memotongnya bicara.
["Pfft, apa putraku selalu sepintar ini?"]
"Ha??"
Namun sialnya, sahutan pria itu melengkung sudut bibirku keatas.
"Sudahlah. Aku akan keluar sekarang. Ruangan ini sangat gelap dan mencekam! Aku tak tahan!" Alihku.
["Oh? Apa kau fobia kegelapan?"]
"Tidak... Hanya saja bau keringat mengudara dan menusuk penciumanku. Aku tak tahan!--"
"Kalau begitu maaf saja."
SRANG!
***
Stage 6.
"Hah... Dimana kau menemukannya?"
"Di koridor barat gedung. Dia memasuki ruang ganti setelah berlari di koridor dan bertingkah mencurigakan. Karena itulah saya menahannya,"
"Ck... Tambahan lagi? Pekerjaan kita sangat banyak di depan gerbang, masyarakat mencoba mendobrak keamanan. Aku harus kesana jadi tentang penyusup kecil ini, kuserahkah dia padamu, Delico!"
"Saya akan membantu anda setelah menginterogasinya,"
Drap drap drap.
Percakapan yang kudengar dari seorang samurai dan tentara militer yang baru saja berlari meninggalkan kami, kusadari adalah percakapan orang dalam mengenai kondisi ricuh di gedung ini.
Aku sendiri masih berpura-pura pingsan setelah ditebas pedang bersarung milik samurai ini. Aku tidak bisa menyebutnya sebagai seorang pria dewasa karena dalam penglihatan ku, tingginya berada jauh dibawah tentara militer yang tadi menghampirinya.
Tapi dari suaranya.
"Cih... Apa aku memukul nya terlalu keras? Seharusnya dia sudah terbangun dari pingsan." ujar samurai tersebut dibalik topengnya.
Dia mencoba mengangkat tubuhku meski nampaknya, dia sedikit kesusahan karena sadar berat badanku lebih berat dari perkiraan.
"Ukh! kenapa sesulit ini?!" Keluhnya dan mendengarnya , aku merasa kasihan kala nafasnya tersengal-sengal.
["Hei... Kau tidak benaran mati, bukan?"]
Alisku bertaut.
Apa pria tua itu sengaja mengajakku bicara disaat seperti ini?!
["Hahaha! Jangan mati mendahuluiku, permata... Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu, jadi dengarkan aku baik-baik tanpa mengeluh"]
Ha?
Apa lagi?
Sempat menjeda kalimatnya, pria tua itu melanjutkan dengan sangat hati-hati. Dia mengatakan sebait kalimat yang mendorong tubuhku melawan samurai berkatana itu.
Bugh!
Ku layangkan sebuah tendangan pada asetnya hingga dia berlutut kesakitan.
"Argh!!" Dia lengah. Berpikir lawannya telah pingsan hanya karena satu pukulan, kecerobohan nya membuktikan dirinya sama sekali belum berpengalaman.
Akupun menyudutkan tubuhnya kelantai, sengaja ku kunci salah satu tangannya kebelakang badan agar mudah memastikan.
"Ukhh!" dia meringis.
"Hei, apa katanamu hanya hiasan? Kau nampak seperti pecundang ketimbang terakhir kita bertemu," Ejekku.
Sudut matanya sontak membulat, mengarah tajam padaku. "Siapa?!--"
"Hei, hei... Jangan bilang kau melupakanku. Bukankah kita sempat berjumpa di alun-alun? Kau menoyor kepalaku waktu itu, berlagak sok pintar dan tahu segalanya!"
Krak!
Sesuai dugaanku, benturan yang kuberikan pada topengnya saat mendorong tubuhnya kelantai, berhasil memecah topengnya menjadi dua... Manik kami pun bertemu.
"Kau?!"
Yeah. Dia adalah anak penjaja koran yang ku temui seminggu lalu di alun-alun kota.
["Jadi inilah Samurai Light yang direncanakan Mic? Tanyakan ada berapa jumlah mereka, Alanka!"] Ujar pak tua itu menyela.
Cih. Seenaknya saja dia memerintah saat urusanku baru selesai setengah!
"Katakan! Apa kau yang menyerang King Arslanka dengan katana beracun hingga dia dikabarkan tewas?!"
"Huh?!"
["Huh?! ... Alan, a-apa yang kau katakan? Aku hanya bilang kemungkinan dia salah satu dari mereka--"]
"KATAKAN!!"
Kratak!
"Arghhh!"
["Alanka!"]
Berdiri menuruni tubuh samurai itu, sebuah klimaks kurasakan hampir meledak jika pria tua itu tidak berteriak ditelinga ku.
["Alanka! Kubilang jangan bertindak semena-mena! Dia seumuran denganmu bukan?! Gunakan kesempatan ini untuk menginterogasinya. Carilah informasi tentang berapa jumlah mereka disana--"]
"BERISIK!!!"
["..."]
Sengaja meneriaki pak tua, fokusku kembali pada samurai cilik yang baru ku patahkan tangannya... Dia meringis, air matanya mengalir sembari meringkuk, mendekatkan sebuah gelang yang terpasang ditangan patahnya kedekat bibir.
Oh...
Aku mengerti.
"Hei... Apa kau ingin hidup?"
"..." Dia tak menjawab.
Hoho, Baiklah jika dia menantang ku...
"Hei, aku hanya meretakkan sedikit bagian tulangmu. Ku pastikan dalam sebulan kau akan sembuh dari fraktur ini tapi... Ini adalah pilihanmu jika tidak ingin cederanya bertambah," tuturku memampang senyum penuh makna. Alisnya bertaut bertanya tanya. Akupun bergembira.
"Jika bukan cedera ditubuhmu yang bertambah, cedera di lain tubuh juga tak masalah bagiku... Bagaimana?" Lanjutku. Dia lalu menengadahkan kepala, dan
"!?" Saat dia menatapku dengan maniknya yang basah, saat itulah dia tertegun dalam rautnya.
"Kilatan matamu yang menyala, kau bukan pengemis yang ku temui di alun alun Kota. Kau iblis berwajah dua!" Serunya seolah tak percaya.
Aku terkekeh. "Semua orang memiliki topeng. Apa yang kau bicarakan saat kau juga melakukan hal yang sama?"
"Huh?!"
Harus ku akui, wajah kesakitannya sangat menarik di lihat... Ini membuatku penasaran akankah sedikit intimidasi bisa membuka kunci utama keberhasilan kami?
["Alanka, apa yang kau rencanakan?"]
Sudut bibirku terangkat tak menjawab pertanyaan si pak Tua. Aku sibuk meraih pakaian yang dikenakan samurai penjaja koran itu untuk mendekatkan bibirku pada telinganya yang tertutup helaian rambut panjang.
"Adikmu menunggu dirumah, bukan?? Biar kutebak kau melakukan tugas ini demi uang, demi membiayai hidup kalian karena kedua orangtuamu sudah tiada. Kau kakak yang baik, rupanya." Bisikku.
Bugh!
Kembali menghempas dirinya ke dinding, dia pun terbelalak menatapku penuh kebencian.
"KAU SIALAN!" Tangannya yang sudah patah, dia gantikan dengan tangan satunya tuk meraih pedang yang tersampir di bagian pinggang.
Tuk!
Tapi bukan Alanka namanya jika bertindak tanpa persiapan.
"Samurai sekalipun tidak berdaya saat titik vitalnya terancam... Masih mau melawan?" Bisikku saat hampir saja dia menebasku.
Dia berhenti ketika titik vital di lehernya ku ketuk. "Ukh!!" Amarahnya yang membuncah terpampang lewat kebencian dimatanya. Tapi ini takkan berlangsung lama.
Srang.
Pada akhirnya dia memilih menyerah, menjatuhkan katananya beserta tubuhnya kelantai.
"Anak pintar,"
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa mengetahui alasanku melakukan tugas ini, bahkan mengetahui kehidupan pribadi yang tak pernah ku ceritakan padamu?! ... Kita hanya bertemu sekali!" tanya samurai itu menatap nyalang padaku.
Aku ikut berlutut.
"TUNGGU! Jangan bunuh aku!"
"Huh??"
"To-tolong jangan bunuh aku dan adikku! Aku akan mengatakan segalanya yang kutahu asal... Asalkan kau membiarkan kami hidup!"
"Eh?"
Dengan tangan gemetar. Samurai penjaja koran itu mengcover wajahnya dengan satu tangan seolah berlindung dari tindak kejahatan. Aku tak mengerti apa yang membuatnya begitu ketakutan saat aku hanya mengulurkan tangan kedepannya.
"Alanka. Namaku Alanka,"
Dia menengadah masih memasang raut ketakutannya.
Apa dia dapat memahaminya?
Nafasku terhela. "Dengar. Namamu Delico, bukan? Aku takkan membunuhmu asal satu syaratku kau penuhi,"
"Huh?"
Aku mengangguk. "Mungkin sekarang terdengar konyol, tapi aku berjanji akan menjadi King East Gate menggantikan King Arslanka, jadi..."
Berdiri bersama uluran tangan yang menunggu jawab darinya. Dengan senyum mengembang ku pinta secara resmi Samurai itu.
"Jadilah sekutu ku dan kehidupan sejahtera akan kuberikan padamu!"
"... HAH?!"
***
Stage 7.
Analisa tingkat dewa adalah anugerah yang diberikan Tuhan padaku lewat kemampuan daya ingat tingkat tinggi... Medis menyebutnya sebagai Hyperthymesia, sebuah sindrom yang menyebabkan penderitanya dapat mengingat banyak hal di atas kemampuan manusia rata-rata.
["Jadi kau melihat dia mengenakan gelang perempuan dan berasumsi itu milik adiknya?"]
"Tebakanku benar, bukan?"
["Lalu soal orang tuanya yang sudah meninggal?"]
Aku berdecak. "Itu mudah, aku bertemu dengannya saat dia menjajakan koran. Jika dia memiliki orang tua, dia tak seharusnya melakukan pekerjaan itu. Dia miskin sama seperti ku."
["Oh... Maaf, aku tak tahu soalnya tidak pernah merasakan miskin,"]
"Go die!"
"Alan?"
Menoleh kala suara familiar menyapu ku, hampir saja ku lupakan keberadaan Delico yang menuntunku menuju aula utama Goldehom lewat saluran udara.
Yeah singkatnya, setelah ku yakinkan Delico dengan memperdengarkan suara King Arslan dalam earphone, Delico berbagi informasi padaku mengenai semua hal yang dia ketahui.
Dia mengajakku memasuki saluran udara menuju aula, ketimbang menerobos koridor karena kemungkinan penjagaan disana sudah di perketat... Jujur, kebaikannya sedikit membuatku menyesal telah mematahkan tangannya.
"Pelankan suaramu," pinta Delico meletakkan telunjuk didekat bibir. Aku mengangguk. Namun penampakan tangannya yang ku patahkan membuat hatiku berdenyut.
"Kau yakin merangkak tak terasa sakit?"
Delico menoleh.
"Eh?" Tanpa bicara, dia hanya tersenyum setelah beberapa saat tertegun membulatkan mata.
"Apa?" Tingkahnya membuatku bingung.
"Tidak... Hanya berpikir ternyata kau bisa merasa bersalah,"
"Aku?"
"Yep. Kau nampak seperti orang yang berbeda saat mematahkan tanganku tadi. Aku bersyukur bisa melihat sikap jujurmu seperti di alun-alun, sekali lagi."
"Urk!"
["Pffft!"]
Bi, bisa-bisanya dia mengatakan hal se-memalukan itu disini??
["Hahaha! Tampaknya ada yang baru pertama kali memiliki teman~"]
BLUSHH!
"Alan?"
Pria tua keparat!
Reflek mengcover wajahku yang memanas dengan tangan, ku alihkan pandangan pada tikungan saluran udara didepan kami.
"Lebih cepat lebih baik! Apa kau pikir membicarakan omong kosong seperti ini menguntungkan bagi kita?! Lanjutkan jalannya Delico!" Titah ku.
Delico pun menurut, dia melanjutkan rangkaknya menuju tikungan tanpa menoleh lagi kebelakang. Aku mengekor.
["Jahatnya~"]
BERISIK!
"Alan,"
Lalu menjeda amarahku, Delico menunjuk jalan keluar saluran yang memperdengarkan samar-samar suara para elite.
"Kita sudah sampai," ujarnya membuka lebar mataku yang langsung mendekati area tersebut. Di saluran udara yang sempit itupun, aku berusaha menukar posisi dengan Delico yang berada di barisan depan.
["Sudah waktunya, Alanka."]
Aku mengangguk.
"Jadi, kau akan menerobos masuk?"
"Yeah. Rencana ini takkan berubah apapun yang terjadi! Aku harus menduduki tahta King sebelum pemungutan suara selesai..." sahutku.
"Kau benar-benar anak dari King Arslanka, rupanya..."
Aku terkekeh. "Dan kau salah satu samurai yang di sewa Michael untuk membunuh Arslan,"
"Aku terpaksa!"
"Aku tahu,"
"Ku harap kau mengerti, Alan. Mic memberi tawaran yang sangat menggiurkan pada para samurai saat pengeboman aula Goldehom seminggu lalu... Siapapun samurai yang dapat membunuh King Arslan akan diangkat menjadi elite. Itu katanya,"
Aku mengangguk sangat memahami hal itu. "Harta dan kuasa... menjadi Elite artinya memiliki wewenang diatas masyarakat biasa. Aku mengerti, kau tidak perlu berulang kali meminta maaf, Delico" pintaku.
"Aku harus,"
"Huh?"
Delico yang awalnya nampak murung tiba-tiba tersenyum... Akupun mengabaikan dan bergegas meraih obeng kecil dari dalam jas. Harus ku buka secara manual beberapa baut yang terpasang menutup jalan keluar kami.
Oh ya...
"Soal light Samurai..." Kalimatku tertahan melirik Delico dibelakang.
Delico terdiam.
Apa dia sedang mendengarkan keadaan diluar saluran?
"Jawab aku, pak tua." Akupun beralih bertanya pada King Arslan yang sejak tadi juga terdiam.
"Halo?"
Tidak ada jawaban.
"Halo, pak tua?"
[Krskkk krsk]
Tunggu... Apa ada masalah?
"Hei! Kau mendengarku?!"
Beberapa kali, ku ketuk earphone sekadar memastikan sambungannya tidak terputus. Sialnya karena panik, obeng yang kugunakan membuka jalan keluar saluran udara ikut terjatuh dari tanganku.
[.... Krak. Srrrr.]
"He-hei! Kau tidak mati 'kan?!"
Jantungku berdebar cepat menyimpulkan banyak kemungkinan terburuk yang terjadi pada pak tua itu. Apakah dia sudah tiada sejak tadi? Apa sambungannya terganggu? Atau dia sedang keluar buang air?
TIDAK!
Apa yang kau pikirkan Alanka?!
Meski sering bertingkah konyol, pria itu bukan tipe yang bermain-main saat menjalankan misi.
Akupun kembali melirik Delico yang sama hanya terdiam di belakang. Anak itu tidak bicara, tidak menatapku bahkan enggan menunjukkan wajahnya dibalik helaian rambutnya yang jatuh.
"Delico?"
["Light Samurai adalah pasukan samurai dibawah umur yang disewa, untuk menyelesaikan misi sampai titik darah penghabisan mereka."]
DEG!
~"Baiklah, aku percaya. Aku akan menjadi sekutumu Alanka"~
["Mereka lebih keji dari Samurai pada umumnya. Mereka adalah sekumpulan anak dengan kemampuan monster yang bekerja demi uang dan tuannya. Bahkan hebatnya, tak peduli jika tubuh mereka hancur dalam misi, mereka akan patuh dan selalu mengambil sumpah setia hingga kontrak selesai."]
~"Kita akan mengambil jalur atas. Saluran udara adalah tempat paling aman untuk beraksi."~
["Dan lagi... Satu hal yang tak dapat siapapun duga dari Light samurai ku adalah..."]
["Jalan pikiran mereka."]
"MICHAEL!!!"
["Hihihi, selamat bersenang-senang, keponakan manisku."]
[Tuuttt... Tuttt]
Entah apa yang terjadi, tapi Mic sudah mengetahui rencana kami diluar prakiraan. Mic berada di menara Deathy! Kehadiran nya menyatakan Sambungan yang terputus adalah pertanda keberadaan pria tua itu sudah hilang dari dunia ini... Rahangku mengeras.
"Betapa banyak kecerobohan yang ku buat...Tidak... Tidak!" Air mataku menetes deras tanpa bisa kuhentikan.
"Tidakkk pak tua! Kubilang kau belum boleh mati sebelum aku menjadi king selanjutnya!!"
"Menyerahlah..."
"Huh?!"
Aura mencekam yang menyudutkan ku pada ujung jalan keluar itu, kusadari adalah permainan Delico yang tak berniat menjadi sekutu kami sejak awal.
"Kau terlalu naif, Alan... Sudah kubilang anak yang lebih suka membaca buku ketimbang belajar melindungi diri, lebih baik keluar dari kota ini!" Suara Delico berubah berat.
"Kau!!"
Namun melihatku waspada. Dia merangkak menjauh dari posisinya bersama sebuah pisau tergenggam. Raut wajahnya yang semula memampang senyum psikopat, berubah menjadi tatap bersalah pada keadaan.
Apa ini?
Tangannya yang ku patahkan bisa dia gerakan?!
Apa ini semua sudah direncanakan?!
"Delico--"
"Maaf Alanka. Sejak awal ini misiku."
DEG.
~"Percaya pada seseorang hanya berakhir membuatmu terluka."~
Ahhh...
Jadi benar-benar tidak berjalan semulus yang kami kira rupanya.
Haha.
Apanya yang kemampuan istimewa??
"Selamat tinggal, Alan."
JLEB!
Kalimat pak tua itu terputar dalam benakku sebelum semua menghitam bersama tumpahan darah yang mengalir keluar tubuhku.
"Akhhh!"
Cipratan darah miliknya membasahi wajahku.
"Kita... Im-paas...."
Semua berakhir dalam permainan waktu.
***
Stage 8.
Epilog.
Siaran televisi yang menayangkan pemungutan suara para elite dalam menentukan King selanjutnya diputar dimana-mana. Tak terkecuali di desa terpencil diluar kawasan East Gate.
"Sudah enam tahun berlalu sejak bom terakhir mengacaukan Goldehom. Menurutmu, apa kedamaian ini akan terus berlanjut, Kak?"
"Hmm, yeah... Semoga saja begitu, dik." sahut seorang anak perempuan yang tengah menyisir rambut adiknya. Dia menatapku yang terduduk manis dibelakangnya.
Senyumnya melengkung sempurna.
"Sejak dipimpin King Michael, bukankah sebutan kota Kriminal tidak lagi terdengar di East Gate, ayah?"
Aku mengangguk.
"Jadi, kota itu sudah aman kan?!"
Bahuku terangkat menjawab bimbang.
"Ayo, ayah... Kapan kita akan berkunjung kesana? Katanya ada makam kenalan ayah yang dikuburkan disana 'kan?"
"Ayo kita kesana, yah!!"
"Pfft..." Meski sebenarnya tak sopan. Aku spontan terkekeh melihat semangat mereka yang menggebu ingin mendatangi sarang kriminal itu.
"Yeah... bagaimana jika kalian tanyakan dulu pada paman Koko? Apa dia mengizinkan kalian kesana?" Ujarku kala hatiku berdenyut mengingat kenangan masa lalu.
Sementara kedua putriku yang manis terdiam mengurung semangat mereka.
"Ada apa?"
"Paman Koko seram!" -Nana
"Humph! Rambutnya terlalu panjang, yah... Nina sama Nana nggak pernah melihat wajahnya," -Nina
Aku tertawa.
Hahh... Bagaimana harus ku jelaskan pada mereka kalau pria itu bukan tak mau memperlihatkan wajahnya? Dia hanya malu karena terdapat luka yang membekas didekat matanya.
"Alan, aku harus pergi ke East Gate."
"Oh? Misi baru lagi?"
Mengangguk kecil, pria itu menghampiriku dan anak-anak. "Ingin ku bawakan apa saat pulang nanti?" Tanyanya. Sedangkan kedua putriku merengkuh ujung bajuku saat mendengar suara paman mereka. Ahhh, Tingkah mereka pasti membuat kecewa Delico disana.
"Cukup kau pulang dengan selamat dan, bawakan persediaan mantel untuk semua anak... Panti asuhan ini akan sangat dingin memasuki musim gugur nanti." Pintaku
Delico mengangguk. "Baiklah..."
Sempat membenarkan posisi katananya sebelum pergi, aku sengaja mendorong pelan punggung putri-putri ku untuk mengatakan yang seharusnya mereka katakan pada pria itu.
Nina dan Nana sontak menatap terkejut.
"Nina... Nana..." Tapi sebagai ayah mereka, disini yang ingin ku ajarkan adalah dasar dasar menjadi manusia.
"Te-terimakasih... Paman Koko,"
"A, anu.. Terimakasih... Terimakasih sudah bekerja keras untuk kami!"
Aku tersenyum. "Anak pintar~"
Baik Nina atau Nana, ataupun seluruh anak di panti asuhan yang ku bangun bersama Delico lima tahun lalu menggunakan uang jerih payahnya. Aku ingin memberi kehidupan yang layak pada anak-anak yang kami tampung.
"Aku berangkat!"
"Hati-hati, Delico!"
Yeah, meski tubuhku lumpuh hingga hanya tangan dan wajahku saja yang bisa bergerak. Aku tak menyesal telah bertahan melewati krisis hidupku enam tahun lalu.
Kurang lebihnya, aku mengerti balas dendam adalah perbuatan sia-sia karena sesama manusia, akan terus melawan hingga mereka merasa berada di puncak kejayaan.
Lalu kapan manusia bisa beristirahat?
"Apa ayah lelah?" -Nina
"Sedikit, nak..."
Itu adalah pilihan mereka dapat merelakan ambisinya untuk sejenak atau tidak.
"Ayo kita bermain dengan kakak kakak kalian, Nina. Nana."
"Yeay!! Biar aku yang dorong kursi roda ayah!"
"Oh! kalau begitu, Nana akan ambilkan ayah mantel!"
"Terimakasih, sayang~"
... Pada akhirnya hidup terus berjalan tanpa bisa memprediksi masa depan. Jadi biar kukatakan.
Bermimpi, berusaha, berencana. Semua itu adalah sifat dasar manusia. Silahkan memperjuangkannya tapi setidaknya...
Kuatkan dirimu menerima apapun hasil diakhir cerita.
Sebab Tuhan tahu mana yang terbaik untukmu.
Melebihi dirimu.
.
.
.
(End)