Cysgodion Myth
——————————————————
Catatan :
Cerita ini hasil dari pemikiran acak penulis. Jika ada kesamaan dengan cerita, latar belakang & waktu, dan tokoh, penulis mohon maaf.
————————————————
"Menurutmu, Claudius," ucap Maryse tanpa menatap barang sedikit pun ke pemuda berambut hitam yang ada di sampingnya. "Apakah cerita itu benar?"
Claudius sontak berputar, alis mengernyit bingung, "Cerita seperti apa lagi yang kau dengar, Maryse?"
Claudius Azriel Drake, pemuda tampan nan rupawan; warna hitam legam pada rambut, iris, dan sepasang sayap besar yang di balik punggungnya seolah menegaskan bahwa garis keturunan Rephillim Zuiver benar ada pada dirinya.
Sementara pemilik nama lengkap Maryse Daniel Lane, pun dia seorang Rephillim; gadis cantik nan memesona, kilau tajam pada sorot matanya, rambut hitam bergelombang, dan sepasang sayap hitam di balik punggungnya,
Hanya saja Maryse bukan seorang Zuiver, melainkan seorang Arferol, kasta terendah di Anakim.
Maryse tidak langsung menjawab, gadis itu menatap bangunan sekitar, lalu ke bawah; kepada orang-orang yang berlalu lalang di jalan besar.
Saat ini mereka berada di atas atap Moloudiom Temple, satu-satunya tempat di akademi yang di mana tingkat ditemukan oleh Magister adalah hal sesuatu yang mustahil terjadi.
"Cerita tentang mitos Cysgodion," Maryse kini beralih pada Claudius, yang juga tengah menatap kepadanya. "kau tau..., akhir-akhir ini ada banyak kejadian aneh dan mereka mengaitkan itu semua dengan Cysgodion."
Beberapa saat Claudius tampak berpikir keras. Lalu, "Mereka yang mengaitkannya," suara Claudius terdengar mengejek dan puas saat Maryse menatapnya jengah. "atau kau yang mengaitkannya?"
"Kurang ajar, memang." Maryse mendengus kesal, dia lantas membuang muka.
Claudius tertawa ringan melihat tingkah temannya itu. Dia menepuk pundak si gadis beberapa kali, seraya berujar, "Tidak perlu dipikirkan, itu hanya mitos."
Maryse langsung berputar, berbicara dengan mantap dan tegas, seolah-olah dia tidak kesal sebelumnya, "Menurutku itu bukan hanya mitos, tapi legenda."
Ujung bibir Claudius tertarik, namun dia tidak menjawab apa pun, hanya bangkit berdiri dan sedikit merentangkan sepasang sayap hitam legam itu. Dan kemudian, sepasang sayap itu menghilang dalam hitungan detik.
Kini hanya Claudius tampak seperti manusia biasa, pemuda tampan, tinggi dan tegap. Maryse melihat Claudius lantas merasa penasaran,
Penasaran seperti apa rupa para makhluk kecil itu, dan apa saja yang mereka lakukan setiap hari.
Kemudian rasa penasaran itu beralih pada tragedi yang melanda baru-baru ini;
Agnos, pasukan gabungan antara Nephillim dan Rephillim, bekerja sama untuk menjaga keseimbangan di Tanah mereka, dinyatakan hilang.
Tidak dalam satu waktu semuanya menghilang tanpa jejak, hanya saja, satu persatu anggota yang hilang dan menyisakan sedikit anggota Agnos.
Lalu Cysgodion, mitos yang Maryse percaya menjadi dasar untuk hilangnya anggota Agnos.
Dalam kisah lama Cysgodion dikisahkan sebagai salah satu hukuman di Surga. Bagi yang melanggar akan dilempar ke dalam kegelapan mutlak. Dibiarkan terjebak di sana sampai waktu hukuman berakhir.
Namun, karena tidak ada pelanggaran yang dilakukan, Cysgodion disimpan oleh Tuhan di suatu tempat, di alam semesta.
Tetapi, setelah terjadi peperangan antara Tuhan dengan Lucifer di Surga. Dikatakan bahwa Tuhan telah mengubah Cysgodion dengan wujud berbeda, hanya saja dengan tujuan yang sama, hukuman.
Meski begitu, hampir tidak ada yang mengetahui seperti apa wujud dari Cysgodion tersebut. Karena itulah disebut mitos.
Claudius kembali membuka suara, "Cysgodion adalah 'tempat' bukan 'makhluk', Kisah Lama bercerita seperti itu," membuyarkan lamunan Maryse yang telah berpetualang jauh.
"Kalau ternyata itu adalah 'makhluk', bagaimana?" Maryse tampak tidak mau kalah, dia terus melontarkan opini yang menurutnya masuk akal. "Dan lalu, anggota Agnos hilang karena kesalahan mereka, jadi Cysgodion datang untuk menghukum mereka."
Claudius menarik uluran tangan Maryse, agar gadis itu bisa dengan mudah menyembunyikan sayapnya. Dia berujar ringan, "Agnos beranggotakan Zuiver, dan mereka terhitung berpengalaman, Maryse."
"Kau ingat dengan kasus Nephillim yang dibuang?" Maryse terus berujar, sambil melakukan hal yang sama dengan Claudius saat menyembunyikan sayapnya. "Itu kasus yang luar biasa, Claudius, dan dia dihukum."
Claudius menghela napas pendek, rahangnya mengatup rapat, "Yang pasti kita harus kembali, Magister sudah berkeliling." Dia menoleh ke belakang, jendela pergi yang kecil. "Tidak lucu kalau kita ketahuan."
Maryse mengikuti pandangan si pemuda, kepalanya bergerak miring karena bingung. Lalu beralih menatap Claudius, "Ketahuan membolos pelajaran Sejarah Anakim?"
Dalam hitungan detik, Maryse stagnan, menatap Claudius horor saat dia melihat seringai terpatri di wajah si pemuda.
"Kau tidak berpikir untuk pergi ke tempat Agnos bertugas, bukan?"
Maryse bersumpah mati-matian, senyuman Claudius lebih mengerikan dibanding saat tidak tersenyum. Sebab saat itulah ide gila terlintas dalam benak si pemuda.
"Aku hanya pergi mengunjungi Kak Josiah, bukan Agnos." ucap Claudius santai.
Iris jelaga Maryse membulat sempurna, "Senior Josiah anggota Agnos, bahkan dia pemimpin regu, bodoh!" ujar Maryse bahkan nyaris memekik tajam.
"Kau mau ikut atau tidak?" kini Claudius tampak senang karena berhasil menggoda Maryse. "Tadi kau sibuk memikirkan Cysgodion. Daripada diam dan berpikir, tapi tidak menemukan apapun, lebih baik kita pergi ke yang bersangkutan, bukan?"
Maryse terdiam. Dia menelik Claudius yang sepertinya sudah tidak bisa dirubah pemikirannya.
Si gadis menghela napas pendek, tangannya sedikit melambai tanda menyerah.
"Aku akan membunuhmu," ucap Maryse, jemarinya menuntut sangsi. "kalau Magister Aston yang justru menemukan, bukan kita yang menemukan Cysgodion."
Ibu jari kebanggaan Claudius itu muncul. Mendadak Maryse mengambil gerakan berdoa, dia berbicara dengan suara keras, "Semoga Nyonya Stella menyediakan palu besar untuk kepala Claudius. Aameen."
"Kurang ajar," Claudius membeo.
.
.
—The End—
05 April 2022