Nanang dan Intan mengobrol selama menunggu hidangan menu ikan.
"Brother Nanang, kurasa aku akan terjun ke dunia bisnis mengikuti jejak ayahku. Tapi aku tak kan menerima posisi yang di tawarkan ayahku di perusahaan keluarga. Aku akan membuat usahaku sendiri."
"Itu bagus Intan, aku siap menjadi gurumu."
"Kamu berbicara terlalu pede!"
Nanang menjelaskan pada Intan soal cara mendirikan perusahaan apa itu perbedaan antara PT dan CV, cara mengelola keuangan yang baik dan benar, cara melakukan penawaran, cara mengekspor dan mengimpor barang, dll.
"Kamu berbicara dengan sangat baik. penjelasan mu ringkas, simpel, mudah di mengerti. Kamu bisa menjadi guru yang baik."
"Bukankah aku sekarang seorang guru? Sayangnya seseorang bahkan tidak mau memanggilku guru."
Nanang hanya mengatakannya dengan santai, tapi Intan berdiri dan membungkuk pada Nanang dan memanggilnya guru.
"Ya, Guru..."
Nanang mendongak menatap Intan. Tatapannya mengatakan 'jelaskan padaku'
Intan tersenyum dan berkata:
"Kamu mengajariku dengan baik dan baik. Hanya tepat bagiku untuk memanggilmu guru."
Mereka terus asyik mengobrol sebelum tiba-tiba berhenti karena koki utama datang dengan sepanci ikan.
"Cobalah ikan sakura dan ikan teratai yang saya buat. Bukan hanya bebas tulang, rasanya juga gurih, manis, dan pedas. Ini hidangan favorit para pelanggan di sini." Kata chef.
Nanang mengambil sepotong ikan dengan sumpitnya dan meletakkannya di piring Intan.
Ikan tersebut di ambil dari danau buatan sesaat sebelumnya, jadi ikannya segar dan rasanya lebih alami. Tulang ikannya telah di buang, dan di masak dengan baik oleh koki yang luar biasa. Menjadikan ikannya serasa enak, gurih, bebas bau amis, dan baunya harum menggugah selera.
Intan mencobanya dan matanya berbinar, ia mengakui masakan ikan ini rasanya enak dan enak.
"Lezat!" Kata Intan.
"Kalau kamu menyukainya, aku akan membawa kokinya dan menyuruhnya menjadi koki pribadi di keluargamu."
"Brother Nanang jangan bercanda! Meskipun brother Nanang kaya dan berkuasa, itu tidak membenarkan untuk merebut karyawan milik orang lain tanpa prosedur yang benar."
Keduanya tak melanjutkan obrolan, keduanya makan sampai kenyang dengan damai.
Setelah makan dan beristirahat sejenak, keduanya pergi mengendarai mobil Bubun kembali ke tempat kakek Tang.
Keduanya sesekali mengobrol sepanjang jalan, karena terus mengobrol, keduanya merasa haus. Nanang menghentikan mobilnya di pinggir warung di jalanan membeli dua botol Aqua. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Tepat setelah mobil melaju perlahan, Intan melirik kebelakang dan tertegun kaget!
''Eh, kenapa tidak ada?!!''
Nanang tersentak dengan suara Intan yg meninggi, dia menoleh ke Intan dan bertanya:
"Apanya yg tidak ada?!"
''Warungnya, kok, hilang?!':
"Hilang... ?!" Nanang pun melirik ke belakang dan langsung kaget.
"Astaga... ?!! Warungnya tidak ada, menghilang?!! Tempat di belakang jadi gelap gulita, tadi saya beli minuman dari warung mana Tan?"
''Warung... warung hantu, mungkin ?!''
Seketika itu juga tubuh Nanang dan Intan bergidik merinding, jantung serasa berdebar-debar menahan ketegangan. Nanang shock sesaat, dan keheningan tercipta diantara mereka berdua.
''Brother Nanang, botol Aqua yg tadi di beli juga hilang... ''
"Hahh... ?!" Nanang kaget sekali lagi, dan benar saja botol Aqua yg baru saja ia beli menghilang..
''Aku ingat pernah mendengar cerita horor soal hantu warung di jalan pinggiran kota Tang dari radio Horor FM. Katanya orang yg berhenti dan membeli sesuatu dari warung tersebut akan menemui ajalnya jika dia sendirian, tapi jika dia berdua, dia dan temannya akan selamat dan tidak akan diganggu atau di hantui. Untungnya kita berkendara bersama, jadi kita akan aman pastinya.'' Kata Intan.
"Ya, aku juga pernah mendengarnya. Konon yang disebut 'hantu warung Jalan pinggiran Kota Tang' menghargai persahabatan sehingga dia akan membiarkan tetap hidup, tapi hantu warung merasa tertekan melihat orang yg kesepian, jadi dia akan membunuh orang yg sendirian."
Nanang memacu mobilnya lebih cepat, bagaimanapun dia ingin pergi dari jalan itu secepatnya, mereka tidak akan nyaman sebelum keluar dari jalan itu.
Nanang memacu mobilnya lebih cepat, bagaimanapun dia ingin pergi dari jalan itu secepatnya, mereka tidak akan nyaman sebelum keluar dari jalan itu.
Dalam perjalanan, lampu pinggir jalan yang menerangi jalanan tiba-tiba mati, menjadikan jalanan gelap gulita. Di tambah jalanan tiba-tiba di penuhi kabut.
Karena kabut tebal, Nanang terpaksa mengemudikan mobilnya agak lambat.
Lama kelamaan keanehan mulai terasa.
Tidak ada kendaraan di jalan sama sekali.
Tidak ada kendaraan yang melintas baik di depan ataupun di belakang.
"Ini aneh .." Gumam Nanang.
Gumaman Nanang menjadi pusat perhatian Intan.
"Ada apa brother Nanang?"
"Tadi ada banyak kendaraan yang menuju ke pusat kota Tang, kendaraan dari depan dan belakang juga banyak, tapi kenapa sekarang jalanan tiba-tiba menjadi sepi..?"
Intan melirik kanan dan kiri, melihat kedepan dan ke belakang.. Memang sepi sekali..
"Apakah mungkin salah jalan Kak..?"
"Salah jalan?!" Nanang terkejut, ini masih di Kota Tang, ia hapal seluruh jalanan di Kota Tang dengan baik, kenapa bisa tersesat?
"Setahuku ini adalah jalan alternatif yang sedang di bangun untuk mengatasi kemacetan. di jalan yang sebelumnya. Bagaimana brother Nanang, kita sudah nyasar terlalu jauh." Kata Intan
"Sepertinya memang begitu .."
"Brother Nanang, di depan ada jalan bercabang, ke kiri apa ke kanan?"
"Ukh, aku tidak tahu persis.."
Mobil terus melaju pelan, sesaat sebelum mencapai persimpangan, mereka melihat tukang ojek online sedang duduk di saung pinggir jalan.
Nanang menghentikan mobilnya. dan bertanya pada tukang ojek.
"Tuan, maaf saya mau bertanya. Kalau jalan yang menuju ke kota Tang di selatan ke arah mana yah ?"
"Ke kiri. Terus saja ikuti jalan."
"Terimakasih."
"Sama-sama."
Setelah mengucapkan terimakasih, Nanang bergerak berbelok ke kiri.
Setelah mobil maju sedikit jauh dari tukang ojek itu, Intan menoleh ke belakang dan kaget!
"Akh! Kemana perginya ia?"
"Ada apa Intan?"
"Tukang ojeknya hilang!"
"Hilang...?!"
Nanang penasaran dan melihat ke belakang dan kaget!
"Astaga...! Kemana perginya motor dan tukang ojek itu?! Tadi barusan apakah kita bertanya pada hantu ...?" Tanya Nanang.
"Mungkin saja .." Jawab Intan.
"Ya, Dewa Naga Shenlong, lindungi kami dari gangguan arwah penasaran."
Seketika itu juga, sekujur tubuh Nanang bergidik merinding. Jantungnya berdetak-detak karena menahan ketegangan. Namun ia masih mencoba untuk berusaha tetap tenang.
Sementara itu, Intan mengalami shock sesaat. Ia hanya diam tertegun di tempat. Sementara itu, keheningan tercipta di antara mereka berdua.
Intan tiba-tiba teringat sesuatu, "Brother Nanang, tadi kita lewat ke kiri mengikuti arahan tukang ojek tadi?"
"Ya, ke kiri, memangnya kenapa?" Nanang tiba-tiba menyadari sesuatu, "Kita di sesatkan oleh hantu tadi ...!"
"Brother Nanang, aku khawatir kita telah memasuki Alam Dunia Lain. Tempat yang seharusnya tidak kita masuki!"
Nanang: "...."
Keheningan dan rasa ngeri mulai membanjiri hati mereka.
"Brother aku ingat membaca sebuah cerita di YouTube, terkadang di jalan pinggiran Kota Tang tertentu, saat tiba-tiba jalanan sepi, gelap, dan berkabut, maka itu artinya kita telah di incar oleh makhluk halus. Dan peluang untuk keluar dari Dunia Lain adalah kecil. Sangat sedikit yang bisa selamat!"
"Brother Nanang, lihat pohon beringin itu, kita sudah melewatinya sebelum kita bertanya pada ojek misterius tadi!"
"Kalau begitu, tidak salah lagi, kita berada di dunia Nawangsih.. Ehm, salah, maksudku Dunia Lain!" Kata Nanang.