Kabut di sekitarku sangat tebal jarak pandang hanya sekitar satu meter, aku bingung tak tahu harus berbuat apa, aku berputar memandang sekelilingku tapi tak ada yang dapat aku lihat.
Aku panik, takut, tubuhku bergetar, aku tak dapat berbuat apa-apa. Keadaan ini sungguh mencekam, aku berteriak memanggil nama temanku, tapi suaraku tertahan di tenggorokan, karena suaraku telah habis.
Aku sudah pasrah, hanya air mata yang tumpah dari mataku, mewakili perasaanku saat ini.
Aku terduduk di hamparan daun kering, suara-suara hewan liar terdengar mengerikan.
Langkah kaki terdengar menginjak daun kering terus mendekat ke arahku, aku mundur masih dal keadaan duduk, semakin aku mundur suara langkah kaki itu semakin mendekat.
Expresi wajahku sudah bercampur aduk, aku terus mundur hingga aku terhenti di sebatang pohon di belakangku, aku mencoba berdiri, tapi aku tidak bisa tungkai kakiku lemah, mataku terus menatap ke arah suara langkah kaki itu.
Tapi suara langkah kaki itu menghilang, aku terus memutar kepalaku ke segala arah, dengan sisa tenagaku.
Tiba-tiba ada tangan memegang bahuku, aku kaget bukan main, aku berteriak sekencang-kencannya.
Tangan besar itu bukannya melepaskan, aku terus berteriak meronta.
“Tenang kamu jangan teriak”, aku mendengar suara mencoba membuat aku tenang, dari suaranya aku tahu dia seorang pria.
Karena aku terus meronta, lelaki itu memeluk tubuhku, tubuhku hilang di dalam pelukannya, aku yang tadi meronta seketika berhenti, tenaga pria ini sangatlah kuat.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, dalam diamku rasa takut terus menghantuiku.
Karena aku sudah sedikit tenang dia melonggarkan pelukannya, aku pun beringsut melepaskan pelukannya. Aku menjauh.
Kabut mulai menipis, aku memperhatikan keadaan sekitar, jarang pria itu dan aku satu jengkal.
“Kamu tersesat ya”, dia bertanya sebari menatapku, aku tidak menjawab aku masih takut, aku menunduk.
“kamu jangan takut”, ucapnya, suaranya begitu lembut, dengan sisa keberanian aku mengangkat kepalaku menatap ke arahnya, aku melihat dia tersenyum kepadaku.
Lelaki yang duduk di hadapanku dia sangat tampan, rambut panjang, di kepalanya bertengger mahkota, dandannya mirip pemain sinetron kolosal.
Tubuhnya gaga perkasa, pantas saja saat aku di peluk tidak berkutik, aku menelan ludahku melihat pria itu. Rasa takut yang aku rasakan mulai menghilang pergi entah ke mana.
Dia mendekat ke arahku persis di sampingku.
“Ayo aku antar”, ajaknya, mataku dan matanya bertemu, ada rasa aneh dalam hatiku, aku cepat-cepat memalingkan mukaku.
Dia membatuku berdiri, tapi belum sempurna aku berdiri aku terjatuh.
“aaawww”, teriak ku.
Untung saja dia cepat merangkulku, sehingga aku tidak jatuh ketanah.
Melihat aku yang sangar lemah dia menggendongku, ada rasa ingin menolak, tapi aku tak kuasa dan lagi pula saat ini aku sangat lemah jadi aku biarkan saja dia menggendongku.
Begitu muda dia mengangkat tubuhku, kini aku di gendongannya, dengan pasti dia melangka tak sedikit pun memandangku. Aku yang di gendongannya terus memperhatikan wajahnya dia sangat tampan mirip dewa Arjuna.
Tak berapa lama aku mendengar suara-suara temanku memanggilku.
Dia menurunkanku.
“Aku pamit ya, kamu hati-hati”, dia berpamitan. Di hatiku ada rasa tak rela berpisah dengannya.
“hey”, aku memanggil namanya, saat dia pergi belum begitu jauh, dia menghentikan langkahnya menoleh ke arahku.
“Siapa namamu”, tanyaku
“panggil aku BAYU”, jawabnya tersenyum.
“Ba ba bayu”, panggilku, belum sempat aku bicara dian sudah menghilang di balik pepohonan lebat.
Aku masih mematung di tempat.
“kamu tidak apa-apa intan” tanya temanku, aku menggeleng.
Lalu kami pergi, tapi aku terus menoleh ke belakang.
Satu minggu berlalu kini aku sudah pulang ke rumahku, di kota palembang, semuaku lakukan seperti biasa kuliah, belajar, kumpul sama teman, tapi bayangan wajah bayu selalu hadir di benakku, aku tak tahu apa ini di namakan cinta.
Aku sering melamun merindukan bayu, entah itu di kampus, di kamar atau seperti saat ini di rumah pohon. Kupandangi senja sore ini begitu indah, aku memejamkan mata seolah bayu ada di samping dan memeluk diriku.
Sebulan waktuku lalui seperti ini.
“tan susu habis, tolong kamu beli, di mini market depan ya”, ujar mama mintak tolong, sambil memberikan uang, aku pun meninggalkan meja makan pergi.
Sesampai di mini market, di lorong rak-rak, saat aku memilih susu, ada tangan memegang bahuku aku pun berbalik.
“Bayu” tanpa babibu aku peluk tubuh tegap bayu, ku lepaskan semua rasa rinduku, dia pun membalas.
“Kita ngobrol di taman depan aja ya”, ujarnya.
Di taman depan, taman ini sangat indah di hiasi berbagai macam bunga yang tertata rapi, aku dan bayu duduk di bangku panjang, yang di terangi lampu taman, aneh aku merasa ada yang aneh ya pakaian bayu saat ini, tapi ya sudahlah.
“Aku cinta padamu intan” dia menggenggam tanganku, ucapnya ini aku rasa tak percaya.
Aku mencubit pipiku karena tak percaya, bayu pun tertawa.
“Aku juga cinta kamu”, jawabku malu.
“tan, apakah kau mau menerimaku, walau aku bukan manusia”, bayu menatapku mencoba memastikan jawabanku.
Aku terdiam berpikir, aku mengingat lagi kejadian di hutan kalau tidak ada bayu mungkin sekarang aku Cuma tinggal nama.
“ya aku mau, siapa pun kamu”, jawabku yakin tapa ragu sedikit pun.
Bayu kemudian menceritakan siapa dirinya, ternyata dia adalah siluman harimau, aku bukannya takut malah merasa bangga, karena aku yakin inilah cinta.
Seminggu kemudian bayu mengajakku ke kerajaannya yang sangat indah, semuanya terbuat dari as ternyata dia adalah seorang pangeran.
SEKIAN.