"Menikah?" Venus menatap nanar ke arah seorang manusia yang sangat tampan yang duduk di hadapannya.
James menatap Venus dalam-dalam. Dia terlihat sangat serius.
"Apakah kau ragu?" Tanya James.
Venus menggeleng lemah. Wajahnya yang putih mulus dan bercahaya kini menjadi murung.
"Kita tidak mungkin menikah, James..." Venus mendesah dalam keputus asaan.
"Apa maksudmu berkata begitu?" Wajah James yang tampan terlihat tegang.
"Hemmm..." Venus menggumam pelan.
"Aku yakin kau adalah gadis yang terbaik untukku. Aku yakin itu!" Tegas James entah untuk keberapa kalinya.
"Terima kasih, James. Aku percaya padamu... Tapi..." Venus terdiam sejenak. Ia menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
Venus merasa begitu galau. Ia merasa bimbang, haruskah kini ia membuka identitas dirinya yang sesungguhnya di depan James?
Venus sudah mencintai James sejak pertama kali mereka bertemu di sini, sebuah padang rumput yang luas ini.
Venus terdampar di padang rumput nan hijau itu tanpa sengaja. Itu semua terjadi begitu saja. Semua gara-gara kalung terkutuk itu! Kalung yang memiliki kekuatan sihir jahat di dalamnya.
Tanpa sadar Venus meraba liontin kuning yang melingkar indah di lehernya. Ingin rasanya dia menghancurkan kalung indah itu saat ini juga.
Namun jika dia melakukan hal konyol itu, dia tidak akan pernah bisa kembali ke planet Venus.
Ya, Venus adalah putri sulung di Kerajaan Jingga. Kerajaan Jingga adalah sebuah kerajaan besar di planet Venus. Tampuk pemerintahan secara turun temurun diturunkan pada setiap generasi keluarga Kerajaan Jingga.
Venus harus kembali ke planetnya. Dia harus bersiap-siap untuk melanjutkan tampuk pimpinan sebagai seorang ratu di Kerajaan Jingga.
Namun kalung terkutuk itu telah mengacaukan takdirnya. Dia hanya akan bisa meninggalkan planet bernama bumi ini jika kutukan berhasil dilepaskan.
"HANYA SEBUAH CINTA SEJATI DI BUMI YANG BISA MEMBAWAMU KEMBALI!!!"
Suara yang menggelegar itu terngiang-ngiang lagi di telinga Venus. Hanya ada satu petunjuk itu. Sepertinya memang hanya itu caranya untuk dapat kembali ke planet Venus.
Venus menghela nafas dengan berat. James yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Venus menggeser tubuhnya untuk duduk di samping Venus.
"Hemmm... Ya sudah, kamu boleh fikir-fikir dulu... Malam ini aku berharap kamu akan memakai cincin ini." James tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak cincin yang indah.
Venus terperanjat. Dia refleks mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya.
James membuka kotak cincin itu dan menunjukkan pada Venus sebuah cincin bermata biru yang sangat indah.
"Ohh... Ini indah sekali." Puji Venus tulus.
James mengangguk senang. Dia meletakkan kotak cincin itu dalam genggaman tangan Venus.
"Ketika purnama terlihat, aku akan memakaikan cincin ini di jari manismu... Tuan Putri!" Ujar James dengan tatapan mata yang dalam dan teduh.
Venus kembali terperanjat. "Mengapa kau memanggilku dengan sebutan "Tuan Putri"?" Venus berteriak di dalam hati.
Venus melengos. Dia merasa kehabisan kata-kata.
"Purnama? Tidak! Jika purnama muncul di langit, saat itulah aku harus kembali, James." Batin Venus.
"James... Kita... Kita tidak mungkin menikah..." Nada suara Venus terdengar begitu merana.
James kembali menatap wajah Venus. Kini dia menjadi bingung dengan kata-kata yang baru saja diuangkapkan oleh gadis molek yang sangat dicintainya itu.
"Apa maksudmu, Venus?" Kali ini suara James terdengar berbeda.
Venus menatap langit senja dengan wajah cemas. Pelan-pelan matahari mulai tenggelam, menghilang. Seolah sembunyi dari tatapan sepasang mata indah milik Venus.
Sebuah bintang besar di ufuk barat masih terlihat jelas di mata Venus. Bintang kejora, ya... Manusia di bumi menyebutnya begitu.
Namun bagi Venus, itu adalah rumahnya. Bintang kejora adalah planet Venus, tempat kerajaannya berdiri. Kerajaan Jingga yang sangat indah.
"James... Kamu lihat bintang kejora itu?" Venus menunjuk ke langit.
James mengangguk. "Ya, tentu saja." Ucap James.
"Esok pagi, ketika matahari terbit di ufuk timur, lihatlah lagi bintang itu..." Suara Venus terdengar lemah.
"Aku... Akan melihatmu dari sana..." Venus menyambung kalimatnya dengan gurat sedih di wajahnya yang cantik.
"Hemmm..." James menggumam dan dia tersenyum lebar ketika melihat bulan purnama mulai muncul.
Semakin lama langit semakin gelap. Bulan purnama lalu menerangi seluruh hamparan langit. Bintang-bintang berkilauan dengan indah.
"Malam ini benar-benar sempurna..." Ucap James bahagia.
James mengambil cincin bermata biru dan memakaikan cincin tersebut di jari manis Venus.
"Wowww... Pas sekali ya..." Ujar James puas.
Venus menatap cincin indah itu di jari manisnya. Serasi sekali. Tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja.
James merasa sangat terharu. Ia berusaha menghapus air mata Venus. Tiba-tiba cahaya terang muncul begitu saja dari kalung yang dikenakan Venus. James terkejut setengah mati, hingga terlontar dari samping tubuh Venus.
Tubuh Venus kini seolah berpendar. Cahaya yang menyilaukan mata mulai melingkupi tubuhnya.
"Venus!" James berteriak panik.
Wajah Venus samar-samar masih terlihat oleh James. Venus terlihat cantik sekali. Dia seperti peri. Rambutnya berkilauan bagai dihiasi bintang-bintang.
"James... Terima kasih telah mencintaiku..." Ujar Venus dalam isak tangis yang tak tertahankan.
James menatap Venus dengan mulut ternganga. Tak mampu berkata apa-apa. Dia tak percaya dengan keajaiban yang sedang dilihatnya.
"Aku harus kembali, James. Bumi bukan rumahku." Venus berusaha terlihat tegar.
"Apa? Tolong jelaskan! A... A... Ada apa ini?" Kini James mulai panik.
"Aku adalah putri dari planet Venus. Kerajaan Jingga dan rakyatku membutuhkan kehadiranku di sana..." Akhirnya Venus menjelaskan asal-usul dirinya.
James tercekat. Dadanya terasa sesak. Dia masih terdiam dengan wajah kaget.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, James." Ucap Venus.
"Venus..." James mendesis pelan.
"Ya... Jika kau merindukanku, tataplah bintang kejora itu. Aku di sana melihatmu..." Venus menunduk dan mendekat ke arah James.
James menutup matanya karena silau dengan cahaya yang berpendar dari kalung dan seluruh tubuh Venus.
"Kita akan bertemu lagi di sini setiap purnama tiba. Aku janji..." Ujar Venus.
Cahaya yang berpendar itu membawa Venus terbang tinggi. James membuka kedua matanya dan melihat Venus telah menghilang dari pandangan.
Sebuah cahaya terang berkilauan bergerak cepat di langit menuju sebuah bintang yang terlihat begitu terang dari bumi.
Angin dingin semilir bertiup di padang rumput yang luas itu. James terhenyak.
"Apakah ini mimpi?" James bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah meyakinkan dirinya bahwa ini semua adalah kenyataan, James memilih kembali ke apartemennya. Dia merasa sangat lelah. Dia ingin segera beristirahat.
"Venus, aku akan kembali ke sini setiap purnama tiba..." Ucap James pilu.
Sementara itu, Venus menatap cincin bermata biru di jari manisnya dengan berurai air mata.
"Aku akan selalu mengunjungimu di planet biru itu, James..." Venus mendesah sendu.
***TAMAT***