Namaku adalah Yona Marzela, nenekku, temanku dan juga dia, semuanya memanggilku dengan panggilan Yona. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki semester ke-tujuh ku. Aku mengambil sistem SKS dan aku berhasil lulus S1 dalam 3 tahun. Itu sangat membanggakan bagiku. Untuk setiap tahunnya, aku ada melamar sebagai Asdos dan begitu juga untuk tahun ini. Jadi tujuan pertama ku hari ini adalah ruang komite pengambilan tugas Asdos dari ketua dimana aku melamar. Dan ya, untuk mengetahui siapa yang akan menjadi partner-ku. Tapi aku harap, posisi itu tidak diambil oleh orang lain, tempat yang kuinginkan. Dan ya, aku lupa bilang, aku adalah mahasiswa di universitas favorit di kotaku ini, dan aku juga termasuk salah seorang mahasisiwi beasiswa disini. Aku mengambil jurusan sejarah, dan itu juga ada sejarahnya sendiri sampai mengapa aku mengambil jutusan sejarah yang tidak kusukai dari dulu.
"Apa?!! Kenapa begitu? Aku kan melamarnya sebagai Asdos-nya Profesor Andi. Dan ini kenapa pula? Bahkan namanya saja baru dengar, apa lagi orangnya. Bagaimana aku mencari topik untuk berbicara dengannya nanti. Tolonglah kak, bantu aku mengeceknya lagi." Rengekku yang menuntut kak Anita untuk mengeceknya kembali di komputernya.
Kak Anita adalah termasuk staf di kantor komite kami disini. Karena kakak lebih tua sekitar 3-4 tahu dariku saja, jadi aku memanggilnya kakak, walaupun sebenarnya dia bisa di katakan sebagai guruku disini.
Kakak menghela nafas berat dan mendorong dahiku supaya aku duduk kembali ke kursiku. Karena saking emosinya, aku sampai-sampai hampir menaiki mejanya.
"Yona... Yona Marzela. Mau berapa kalipun dan ratusan kali pun kau mengeceknya itu tak akan pernah berubah. Tak terkecuali jika aku yang mengeceknya. Jelas-jelas partner-mu disini tertulis Profesor Andreas." Jawab kakak setengah kesal kepadaku. Dan dia pun memperbaiki letak kacamatanya dan mendorong daftar nama Asdos itu kepadaku.
Dan tentu saja aku tidak akan menerimanya begitu saja, terus cari celah. "Tapi, siapa yang akan menjadi Asdos-nya Profesor Andi, kak?"
"Kamu tak perlu cemas akan hal itu, sudah ada yang menggantikan posisimu itu. Jadi tenang saja, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kamu cukup beruntung karena partner-mu itu adalah Profesor Andreas."
"Ya, kamu fokus saja terhadap tugasmu yang sekarang dan melakukan yang terbaik apa saja yang akan disuruh oleh Profesor Andreas nantinya." Kata Profesor Andi dari belakangku sambil membawa segelas kopi pagi di tangannya.
Jujur saja, Profesor Andi adalah orang yang membuatku betah di Universitas ini. Universitas tanpa dia di sampingku. Ku akui walaupun profesor Andi sudah tua dan kumisnya pun sudah tebal seperti Santa Clause, tapi bagiku dia tetap yang terbaik saat-saat dia memberi materi kepada mahasiswanya. Walaupun kata mahasiswa yang lain mengatakan kalau dosennya sudah tua pasti akan terasa sangat membosankan. Tapi itu tidak berlaku bagiku.
"Tapi Profesor, kenapa? Apa Profesor tidak menginginkan aku lagi?" Tanyaku sambil mencoba memasang wajah memelasku.
"Hahaha... dasar kamu ini. Aku bukannya tak ingin ataupun tak suka dengan kerjamu. Justru kamu selalu berhasil menyelesaikan tugas apapun yang kuberikan kepadamu dengan sangat baik. Tapi Yona, apa salahnya kamu mencari pengalaman sama Profesor yang lainnya, dan kamu tidak akan terperangkap dari jeratan orang tua ini." Kata Profesor Andi lembut mencoba membuka pikiranku.
"Tapi Profesor... aku melakukan ini semua untuk Profesor!"
"Jadi kamu melakukan ini semua untuk orang lain. Ternyata kamu sama saja dengan dengan lainnya, ya bocah?" Terdengar suara dingin di belakangku. 'Ini siapa lagi, sih? Bikin orang kesal saja. Pakai menyebutku bocah lagi, apa dia tidak tahu, gini-gini aku sekarang S2. Dan lagi, datang-datang langsung main nyahut gitu saja, bikin orang serangan jantung saja. Bisa jadi mati muda aku ini.' Gerutukku dalam hati.
"Ah... Profesor Andreas sudah datang, ya? Apakah Profesor masih terbiasa degan keadaan disini? Kan sudah lama Profesor diluar negeri, jadi tidak tersesat, kan?" Sapa kakak ramah. Mendengar nama Profesor Andreas disebutkan, nama partner-ku, aku langsung membalikkan badanku dan melihatnya.
Oh My God, aku melihat cogan didepan mataku ini. Aduh, bagaikan ketimpa rezeki dari langit dapat melihatnya. Tapi, apa-apaan ini? Kenapa dia kelihatan begitu galak dan bengis begitu. Dan lihat, keningnya itu, selalu saja berkerut bahkan tak tersenyum pada orang yang menyapanya, dasar sombong. Apa dia tahu bahwa dia ganteng, ya? Jadi dia bisa seenaknya seperti itu. Seakan-akan aku sudah meminjam uang 2 milyar darinya.
"Jadi kamu orangnya? Asdos baru saya?" Tanya Profesor Andreas kepadaku dengan wajah galaknya itu.
"Ya, Profesor. Memangnya kenapa, Profesor?" Tanyaku yang kebingungan.
"Apanya yang kenapa? 10 menit lagi akan masuk. Print bahan ini, kemudian susun dan bawa itu ke ruang mengajar saya. Saya akan memberikan materi itu hari ini. Dan satu lagi, jangan terlambat, saya tidak bisa mentolerir orang yang terlambat, saya tidak suka itu. Dan kalau kamu keberatan kamu bisa mengundurkan dirimu sekarang juga." Perintah Profesor 2M itu kepadaku sambil melemparkan flashdick-nya kepadaku. Dia pikir ini apa? Bola basket, main lempar-lempar gitu saja, dan kemudian langsung main pergi begitu saja pula.
Tapi apa-apaan dengan Profesor muda dan ganteng ini? Neraka! Neraka. Profesor 2M ini killer-nya tingkat dewa, walaupun ganteng tapi sayang tak bisa didekati. Meskipun Profesor itu tak lebih ganteng dari dia. Kasihan banget lihat adik-adik juniornya. Baru juga prrtama masuk semester baru langsung dapat Profesor tingkat dewa itu. Kasihan sekali, beda denganku dulu yang mendapat Dosen sebaik Profesor Andi. Apalagi jurusannya adalah sejarah, pasti sangat merepotkan.
Tapi, aku tarik kembali kata-kataku. Tidak hanya para junior itu yang kena imbas akan kedisiplinan Profesor 2M ini. Tapi aku juga kena getahnya. Yona, kamu print materi ini lah.... bawa ke ruang ngajar saya... ambil laptop saya di ruangan saya... Yona, kamu kumpul ini.. kemudian periksa ini lalu isi daftar nilainya lah. Yona inilah, Yona itulah... Hah... capek. Capek banget, kebangetan. Baru juga hari pertama, kenapa dia harus sampai segitunya serius sih, sudah memepersulitkan ku dihari pertama dan sudah membuatku dehidrasi setengah hari ini.
Profesor Andreas. Andreas Dirga. Dia adalah profesor termuda dan juga lulusan terbaik dulu di Universitas luar negerinya, katanya pertukaran pelajar. Begitulah informasi yang kudapat dari Kak Anita. Dan dia juga sangat ganteng, banyak mahasiswi yang ngantri kepadanya. Yah, aku juga tak dapat membantahnya, ku akui dia memang ganteng. Mungkin aku sudah jatuh hati padanya kalau saja dia tidak segalak itu. Kalau bukan wajahnya yang selalu mengkerut itu. Apa ada lem disitu, ya? Bikin orang kesal saja, kesalnya sampai ke ubun-ubun. Dan lagi, kesan pertama kami juga bisa dibilang jauh dari kata baik.
"Profesor, ini semua sudah saya atur. Nilainya juga sudah saya isi. Tugas saya sudah selesai hari ini, jadi saya akan pamit pulang dulu. Oh ya Profesor, tidakkah Profesor terlalu keras pada mareka, padahal hari ini hari pertama, lho!" Kataku memberi saran kepada Profesor, tapi aku harus sangat berhati-hati dalam memilih kosa katanya.
" Jadi, maksud kamu kedisiplinan saya disini salah? Kalau mareka tidak mau seperti ini, ya jangan kuliah, dong. Memangnya mareka pikir, pelajaran saya ini untuk anak SD atau TK begitu? Kamu juga, kalau kamu tidak suka jadi Asisten saya, ya kamu bisa mundur saja. Saya bisa kok mencari Asisten yang lain, banyak yang mau diluar sana." Jawabnya sadis. Kan benar, langsung dapat semprot, kan? Memang ini orang tidak bisa diberi saran.
"Profesor ini kenapa, sih! Saya cuma memberi saran saja, tidak usah marah juga, dong. Dan ya, saya katakan, saya ini siswa yang tak pernah mundur dari hal sepele seperti ini, apalagi orang seperti Profesor. Saya ini juga siswa berbakat dan juga, untuk tiap semester saya selalu dapat beasiswa. Dan juga, saya bukan orang seperti yang Profesor pikirkan. Profesor kenapa begitu, sih! Tidak mau mendengar saran orang lain. Selalu menganggap diri benar, dan orang lain selalu salah." Semprotku tak kalah sadisnya.
"Lalu, kenapa? Kalau saya menganggap diri selalu benar, memang saya benar, kok. Kamu melamar sebagai Asdos juga karena kamu sama seperti yang lainnya, kan?"
"Terserah Profesor mau mikir apa. Yang jelas saya bukan orang seperti yang Profesor pikirkan." Jawabku sambil menekankan pada kata 'orang' dan 'pikirkan'. "Ini nomor Handphone saya, silakan Profesor hubungi saya jika Profesor butuh apa-apa dari saya. Permisi!"
Aku langsung pergi dari ruangan yang di pintunya tertulis Prof. Andreas Dirga. Aku menutup pintunya dengan kasar, hingga terdengar suara gedum pintu yang sangat besar. Aku pergi dengan menghentak-hentakkan kakiku.
Oke, Yona. Mari lupakan itu semua sesudah keluar dari area ini.
Semangat Yona. Go! Go! Yani go. Aku harus mencari kos-kosan dulu, baru kemudian ketemu sama nenek. Nenek baik-baik saja, nggak ya? Telpon dulu, ah. Supaya nenek juga nggak cemas lagj. Aku duduk di kursi sepanjang jalan menuju kampis, di bawah pohon rindang dengan angin semilir yang menghembus pelan, hingga menyibak rambut sepunggungku. Suara nenek sayup-sayup terdengar ditelingaku. Nenek yang sekarang dirawat di rumah sakit, suara orang yang kusayangi dan sangat kurindukan, padahal juga baru kemarin aku menjenguknya. Tapi rindu sudah menyalut hatiku ini, dan menjalar diseluruh nadiku ini.
Aku yang dari kecil hanya tinggal berdua sama nenek, karena ayah dan ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Neneklah yang menjadi tulang punggung keluarga, membiayai hidupkiu. Sampai-sampai dia harus bekerja dua pekerjaan sekaligus. Pagi bekerja di warung dan malam harus menjadi buruh cuci. Dan aku dititipkan pada tetanggaku samaping rumah. Untung tetanggaku itu orang yang baik dan bibi juga punya seorang anak laki-laki seusiaku, jadi aku punya teman bermain. Yah, walaupun laki-laki setidaknya aku punya teman bermain.
"Woy, jangan ganggu dia. Ku pukul kau kalau berani mengganggu adikku!" Begitulah kata-katanya yang ku ingat saat kami berumur 5 tahun.
"Kak, kenapa aku harus memanggilmu kakak?" Tanyaku saat kami masih duduk di Sekolah Dasar, dan sering pulang bareng. Saat masih bego-begonya kami saat itu.
"Ya, karena aku lebih tinggi darimu." Jawabnya sambil mengelus-ngelus rambutku.
"Jadi, kenapa kamu satu kelas denganku, jika kamu adalah kakak ku?"
"Yah, itu karena aku meminta kepala sekolah untuk menurunkan kelas ku supaya satu kelas denganmu. Jadi tidak ada orang yang bakal mengganggumu lagi."
Dan saat malam tiba, karena nenek mengambil dua pekerjaan sekaligus dan tak bisa pulang malam kadang-kadang, jadi aku harus menginap di rumah paman, bibi dan kakak.
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku belum mengantuk. Sebentar lagi saja, lagipula aku sudang membaca buku cerita."
"Nggak boleh gitu. Nanti paman dan bibi akan memarahiku jika kau tidak tidur. Tidurlah, biar aku mendongeng untukmu. Cerita sejarah, ya?"
"Aku nggak suka sejarah."
"Kenapa tidak. Bukankah sejarah itu bagus. Bukankah hari-hari kita juga disebut sejarah? Jadi dengan itu kita juga bisa membuat kenangan."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah membohongimu. Jadi tidur, ya!"
"Aldi, kenapa kamu menulis surat tantangan itu? Kamu gila, ya!" Teriakku menghampiri kakak yang sedang tidur di bawah pohon. Itu adalah masa kami saat putih-biru.
"Yah, mareka menyuruhku untuk menuliskan surat cinta untukmu, jadi aku memilih untuk menerima tantangan mareka saja. Lagipula kamu adalah adik ku."
"Aldi, tanganmu kenapa? Kamu selalu saja seperti ini akhir-akhir ini. Kadang di kelas kamj juga sering ketiduran. Sebentar lagi UTS, lho!" Tanyaku saat itu. Masa putih-abu-abu kami, kakak selalu saja berantakan saat paginya.
"Yah, aku hanya paruh siksa saja malamnya. Hahaha... kamu brlajar saja. Tih, nilaikj juga selalu tinggi dibandingkan kamu." Jawab kakak sambil mengelus-elus rambutku. Ah, bikin kesal saja, dia pikir aku ini bocah SD lagi.
"Yah, bukan begitu juga, sih. Bukankah kita sudah berjanji untuk masuk jurusan sejarah sama-sama?" Tanyaku cemas.
"Tentu saja kita akan melanjutkannya sama-sama. Aku ingat, kok." Jawabnya tersenyum kepadaku. Dan dia langsung pergi meninggalkan ku, hanya tersisa bagiku untuk melihat punggungnya dari kejauhan. Kakak yang selalu sayang kepadaku sebagai adiknya, tapi aku menginginkan lebih darinya.
Akhir semester kelas tiga SMA-ku, akj baru tahh bahwa kakak tak mengikuti ujian masuk Universitas. Guru wali kelasku memberitahuku dan menyuruhku untuk membujuknya untuk mengambil kesempatan masuk Universitas, sama dengan murid lainnya. Aku hancur mendengarnya. Kenapa kakak berbohong padaku di saat-saat seperti ini. Nenek juga sakit dan dirawat di rumah sakit, nenek menderita kanker hati dan harus selalu dirawat. Untungnya aku selalu mendapat tunjangan dari beasiswaku dan juga gajiku sebagai Asisten bantu-bantu paman di toko kelontong kecilnya, jadi dengan itu, aku dapat terus melanjutkan hidup dan biaya rawat nenek.
Aku keluar dari ruang guru, lalu berlari keluar mencari Aldi. Aldi, kakak yang selama ini ku panggil dan terus mengekorinya, aku mencintainya. Selain nenek, hanya dia yang memberiku kehangatan seperti itu. Paman dan bibi juga membiarkan ku tinggal dirumahnya, sehingga aku tidak kesepian dan merasakan betapa hangatnya rasa kekeluargaan itu.
"Kenapa kamu tidak mengambil ujian itu?" Tanyaku langsung saat bertemu dengannya.
"Itu bukan urusanmu." Katanya dingin dan langsung balik hendak pergi. Kenapa katanya begitu perih di dadaku ini.
"Kenapa kamu berbohong padaku?" Tanyaku menangkap tangannya mencegahnya untuk pergi. Aku menunduk dan sebisa mungkin menahan luapan emosiku. "Kenapa kamu berbohong padaku? Padahal kita sudah berjanji untuk bersama, dan aku juga sudah berhasil melaluinya, ku pikir kita akan sama-sama lulus."
"Kalau begitu selamat." Jawabnya masih tidak berbalik, dan kenapa, dia begitu dingin kepadaku hari ini. Apa aku menyinggungnya?
"Apa maksudmu seperti itu? Bukankah kita sudah berjanji untuk mengikuti jurusan sejarah bersama?" Tanyaku menangis, sudah tak sanggup lagi bagiku untuk menahan luapan emosi ini.
"Kalau begitu aku minta maaf." Dia menarik tangannya, tapi aku tak membiarkannya menarik tangannya kembali.
"Jangan pergi. Aku masih bisa kok menunggu setahun untuk kita masuk universitas sejarah bersama. Dan kita akan mengikutinya bersama-sama, jangan pergi... aku mau... aku mau bersama Aldi. Aku mencintai Aldi!!!"
Pernyataan cinta absurd pun keluar dari mulutku. Dia masih saja tak melihat kearahku, aku semakin hancur dibuatnya. Dia menampikkan tanganku dan langsung pergi meninggalkanku. Aku menangis, menangis karena dia mengkhianatiku, menangis karena aku harus kehilangan kasih sayangku, aku juga menangis karena marah dan bercampur kecewa pada diriku sendiri.
Keesokan harinya aku pergi ke toko kelontong mareka, tapi sayangnya itu sudah berlebel 'toko ini dijual'. Aku juga pergi ke ruamah mareka, tapi aku juga tak mendapati seorang insan pun didalamnya. Rumahnya terkunci, suasana yang sunyi, sepertinya rumah ini sudah tak berpenghuni lagi. Aku meninggalkan rumah itu dengan lunglai, apa Aldi melarikan diri dariku karena pernyataan cintaku sehingga dia juga membawa paman dan bibi untuk pindah. Atau karena aku sudah mengecewakannya, tapi kenapa harus pindah, dia, kan bisa menolakku, yang penting bagiku dia tetap di sampingku.
Ditengah kelinglunganku yang sunyi, seorang bibi tetangga menyapaku dan menanyakan kabarku. Terlintas di pikiranku menanyai tentang keluarga paman, dan katanya mareka pindah semalam secada mendadak, jadi dia juga tak tahu banyak. Aku berterima lkasih kepada bibi itu dan pergi dari sana. Air mataku keluar begitu saja, dan begitulah aku kehilangan mareka yang penting bagiku. Sekali lagi aku kehilangan mareka yang peduli kepadaku.
Aku menjalani hari-hariku dengan kuliah jurusan sejarah itu. Jurusan yang selama ini tak pernah ku bayangkan dalam hidupku. Aku yang awalnha mau mengambil jurusan perlindungan anak menjadi batal, hanya demi supaya aku bisa menghabiskan banyak waktu dengannya, sirna dan pupus sudah.
Hingga aku akhirnya aku bertemu dengan Profesor Andi, dia menyemangatiku supaya terus maju. Entah karena nama Profesor yang hampir sama dengan Aldi hingga aku mendengarnya. Di saat itu, maka neneklah tujuanku, mendapatkan ijazahku dan membahagiakan nenek dengan prestasiku adalah keinginanku satu-satunya saat itu. Hingga aku begitu terobsesi untuk terus mendapat beasiswa dan bekerja sebagai Asisten dosen untuk mengisi keseharianku.
Hingga akhirnya kemarin, kemarin kakak pulang. Aldi pulang dan menemuiku di Kampusku. Rasa hangat yang selama inj hilang, kini ada dihadapanku. Orang yang ku rindukan, baik senyumnya, kasih sayangnha, segalanya yang ada padanya. Hingga merindukan saat dia memasak bubur untukku saat aku sakit. Pertemuan itu dibanjiri air mata, berpelukan melepaskan rindu, dan dia meminta maaf kepadaku. Dia juga memberi hadiah kepadaku, katanya dia sudah lama menabung untuk membelikanku kalung ini.
Dia tidak berubah sama sekali, masih orang yang sama, dengan rambut pendek yang berkucir belakang, itulah sosok Aldi yang terakhir ku lihat, sosok yang begitu hangat. Yang berbeda hanyalah dia sekarang yang bertambah tinggi hingga aku menengadah untuk melihatnya. Bahkan tangan yang besar dan kasar untuk ku genggam. Berbeda dengan dulu, 3 tahun tak bertemu, aku merasa semakin jauh darinya. Sosok yang dulunya bisa ku gapai dengan mudah, sekarang tidak lagi. Bukan tak bisa ku gapai, hanya saja aku takut dan terpuruk ditempat yang gelap itu lagi, takut dia kembali meninggalkanku.
Selembar daun terjatuh ditanganku, Aku tersadar dari lamunanku, Ternyata sudah sangat lama aku bernostalgia mengingat masa lalu, hingga melewati siang hari. Aku brrgegas pergi karena aku harus mengemasi barangku dan pindah ke kos-kosan di sekitar sini.
Mencari kos-kosan tidaklah mudah bagiku, semuanya tidak ada yang masuk akal bagiku, hampir sama dengan biaya hotel bintang lima satu harinya. Untung aku menemukan kos-kosan, yah, yang sesuai dengan kadarku yang sebagai mahasiswa ini, dan juga bibi kos-kosan itu sangat mudah diajak bicara, bahkan sedikit memujinya saja, serasa dia terbang ke awan. Aku juga sangat beruntung karena mendapat kos-kosan itu, dengan begitu aku akan mudah menjenguk nenek di rumah sakit dan juga akan menghemat waktu dan biaya ku ke kampus. Dan juga aku tidak akan terlambat, aku tudak tahu apa yang akan terjadi jika aku sedikit saja terlambat. Apalagi aku sekarang berada di bawah asdos profesor paling killer, super disiplin bahkan kelewatan juga profesor 2M yang sangat beracun mulutnya itu. Apalagi tukang marah-marah, pokoknya 100 persen deh nilainya. Berbeda jauh dengan Aldi.
Aku menelusuri jalan menarik koperku menuju ke kos-kosan ku yang baru. Sesampai disana aku melihat kalau bibi kos-kosan sedang berbicara dengan seseorang, tapi orangnya tidak kelihatan karena terhalang oleh pintu. Tapi dari cara bicaranya yang super ramah begitu, itu pasti salah satu orang yang menyewa kos-kosan disini, yang artinya dia adalah tetanggaku, orang yang dibilang oleh bibi itu padaku kemarin. Dari caranya tertawa pasti laki-laki ganteng, dasar ya sekarang, memang tak pandang usia, asalkan sedikit menarik pasti langsung disebet, permpuan memang mengerikan. Membuatku harus mendesah lelah saat memikirkannya, karena aku juga perempuan, jadi aku merasa malu dengan sikap bibi ini, jika memikirkannya.
Akhirnya kuputuskan untuk mendekati bibi itu untik meminta kunci kamarku, lagian uangnya juga duda ku bayar, jadi kamar itu milik ku selarang. Aku mendekat dan betapa terkejutnya aku, bagaikan disambar petir di sore hari, tebak siapa yang kulihat, profesor 2 M itu ternyata tetangga gantengku yang di bilang oleh bibi itu. Pantesan kemaren saat dia menceritakan tentang tetangga kamarku itu dia begitu antusias dan juga kesemsem gitu orangnya, ternyata memang orang ganteng toh, tapi iblis penyiksa bagiku.
"Bibi, saya minta kunci kamar saya, dong. Itu lho, yang kemarin nelpon bibi yang nanya kos-kosan itu, mahasiswi di kampus sekitar sini. Yona Marzela, Yona. Ingatkan?" Kataku mencoba mengingatkan si bibi.
Si bibi mencoba mengingatnya, dan akhirnya ingat juga dia. Dan dia langsung mencari kunci kamarku dan menyerahkannya kepadaku. Aku tak tahu mengapa, tapi ini punggung kerasa dingin ya? Buat orang bergidik ngeri saja. Aku tak mau berlama-lama lagi disini, lebih baik aku menghilang dari sini sekarng, andai saja aku punya kekuatan kayak jinni-jinni di film itu, pasti kelar dah urudan sekarang ini. Dan rasanya ini punggung juga sangat menusuk, bagaikan di terpa oleh ribuan jaru saja. Aku berterima kasih kepada bibi sesudah dia menyerahkan kunci kamarnya, dan aku bergegas membuka pintunya. Yah, yaelah ini kunci, sial amat sih, pakek jatuh segala lagi, tahu orang lagi buru-buru. Aku dengan cepat masuk dan menarik koperku begitu pintu terbuka dan lanhsung menguncinya dari dalam, baru bisa deh aku bernafas dengan lega sekarang. Tapi, kenapa aku kabur ya, dari profesor itu? Aish.. menyebalkan banget sih. Untung aku asdos-nya dia, kalau nggak dari dulu sudah kusemprot dia dengan kata-kata toxik-ku. Baru tahu rasa itu orang.
Aku menempelkan telingaku di pintu dan mendengar pembicaraan mareka, sepertinya si bibi sudah pergi dan profesor juga sudah masuk kedalam kamarnya. Sepertinya memang begitu... pasti begitu, karena suaranya memang sudah tidak kedengeran lagi. Ahhh...aku menghela nafas berat, kenapa hari ini rasanya sungguh berat ya, bagiku. Ketemu dengan profesor 2 M itu, di kampus oke-lah, lah ini sekarang di kos-kosan bobrok kayak gini juga ada dia. Kenapa yidak beli apertemen saja itu orang, hah? Kan banyak tuh duitnya. Ini pakek ngekos segala lagi, padahalkan penampilannya lumayan oke, semuanya serba wah. Lah, tahu-tahunya pelit sama diri sendiri, malah milih ngekos segala. Apa dia memang sepelit ini pada dirinya sendiri.
Aku tidak mau membuat diriku pusing dengan memikirkan mengapa itu profesor bekos disini, lebih baik aku membereskan pakaian ku saja. Untung ada lemari kecil disini, lumayan lah, untuk hati ini, hari esok, besik kita pikirkan. Sudah menjadi kebiasaanku, saat berbenah pasti diiring dengan musik kesukaaanku, lagu favoritku, lagu anime jepang. Jadi suara musiknya langsung mengalun dan aku juga melakukan aktivitasku dengan segera.
Saat sedang enak-enaknya sedang merapikan pakaian ku dan kasurku, aku mendengar suara ketukan pintu. Apa mungkin bibi kos, ya? Aku beryeriak untuk menungguku sebentar dari dalam, saat ku bukakan pintu, oh lady gaga, siapa gerangan orang ini? Orang yang tak ku duga akan kedatangannya dan orang yang ku hindari untuk bertemu. Dan dengan segera ku ubah raut wajahku, kembali ke akting profesionalku dengan senyum terlukis di bibirku.
"Ada apa,ya profesor mengunjungi saya? Eh....silakan masum dulu profesor." Aku mempersilahkan dia masuk, pasti sudah gila aku sekarang. "Yah, saya sih lagi beres-beres, jadi masih sedikit berantakan. Silakan profesor." Kataku mempersilahkan dengan memasang senyum terbaikku. Ternyata aktingku ada gunanya juga saat seperti ini.
"Tidak perlu, saya disini saja." Jawabnya singkat. Apa-apaan jawaban kayak gitu, padahala aku sudah bicara banyak sekali, tapi malah itu yang kudengar darinya. Sabar...sabar Yona, kamu anak baik. Anak baik tidak pernah marah. Ingat pekerjaanmu itu.
"Oh... tidak perlu, ya profesor. Tidak apa-apa juga. Jadi ada perlu apa ya, profeaor? Eits...tunggu dulu, sebelum profeaor berbicara, biarkan saya bicara dulu. Saya Yona Marzela, tidak menerima tugas adari profesor selain di kampus. Sekian, silakan profesor, apa yang ingin profesor katakan. Oh, kalau tidak, jangan-jangan profeaor ingin memberi hadiah, tapi sayavtidak membutuhkannya, jadi silahkan profesor bawa pulang saja untuk profesor sendiri."
"Baik, sudah selesai, kan?" Tanyanya dan aku hanya menganghuk. "Sekarang giliran saya yang bicara. Pertama, saya keaini bukan membawa hadiah untuk kamu. Kedua, saya tidak menyuruh kamu untuk bekerja di luar kampus kepada saya. Dan yang ketiga, bisakah kamjbmematikan musik norakmu itu, saya tidak suka terlalu berisik. Bikin telinga saya sakit saja."
"Hah...logika macam apa itu? Baik, biar saya jawab. Pertama, saya juga tidak berpikir profesor akan sebaik itu sampai membawa hadiah untuk saya. Kedua, saya berterima kasih kepada profesor karena tidak menyusahkan saya diluar kampus. Dan yang ketiga, itu privasi saya, kenapa profesor yang repot? Lagi pula, kalau profesor tidak ingin mendengar musik saya yang n-o-r-a-k itu, lebih baik profesor cari saja tempat yang kedap suara. Jangan di kos-kosan yang murah begini dong." Jawabku dengan berani, gila kau, habislah aku besok, pasti dia akan balas dendam kepadaku.
"Lhah, itukan juga bukan urusan kamu. Dan kamu kenapa malah ngekos disini, bukannya dirumah saja. Orang yang hanya menuruti keinginan orang lain, seperti bayi besar saja. Tidak punya jalan sendiri, tidak punya tujuan hidup." Aish...kata-katanya itu, pedas sekali, kayak saos level 30 saja. Saos level segitu sja tidak sampau sepedas itu juga.
"Profesor kenapa sih seperti ini, selalu saja mengurusi hidup saya. Profeaor itu tahu apa? Saya ngekos disini karena ada ne-keluarga saya yang sakit dan dirawat di rumah sakit sekitar sini. Profesor tahu apa tentang masaalah saya, kenapa profesor begitu egois, tak pernah mau memikirkan orang lain, selalu saja menganggap diri paling benar. Ngak sekarang, ngak di kampus selalu saja menganggap diri benar. Profeaor merasa hebat ya, karena sudah jadi profesor, jadi bisa mengatai orang lain sesuka hati profesor. Profesor memang tidak punya hati. Di kampus juga, baru hari pertama saja, profesor langsung menyuruh mareka jawab pertanyaan , apaan itu? Bahkan mateti saja belum ada! Profesor mungkin tidak tahu karena profesor itu pintar dan juga pandai, tapi saya tahu apa yang mareka rasakan, karena saya juga prrnah jadi mahasiswa seperti mareka. Jadi, jika tidak ada yang lain, silakan profesor pulang sana. Melihat profesor saja membuat saya menjadi tidak mood lagi." Akh membanting pintuku dengan sangat keras, tidak akan kubiarkan dia bicara lagi, kalu tidak, tidak ada akhirnya pembicaraan ini. Tapi...gawat! Aku kelepasan tadi. Matilah aku besok.
Seperti dugaan, ini profesor licik juga, ya? Sepertinya dia balas dendam sama aku. Apa dia ingin aku mati karena kelelahan? Tapi, aku sudah menduga ini bakal terjadi, jadi sebagai antisipasi dari bahaya yang mencengkam, aku sudah sarapan yang banyak tadi pagi, dua kali lipat dari porsiku biasanya. Aku harus cepat-cepat minggat dari sini, pekerjaan sudah selesai, jadi harus segera laru dari sini selagi bisa. Aku menemui teman sekaligus sahabatku yang paling akrab denganku di taman. Aku menceritakan semuanya tentang profesor 2 M yang gila disiplin itu kepadanya. Saat sedang aku membicarakan tentang profesor, suara ponselku berdering, dan terpampanglah ID dengan nama "Profesor 2M gila disiplin" disana, sunggung panjang umur ini orang, baru juga diomongin. Aku menjawab telefonnya dan langsung pamit pada Aya, karena Aldi mencariku.
Aya adalah mahasiswi satu jurusan denganku, cuma dengan dia aku bisa menjadi diriku sendiri fan dapat mencurahkan isi hatiku padanya. Dan dia juga selalu yang menjadi suporter bagiku kala aku sedang sedih dan selalu menjadi pemberi Quetes terbaik saat aku membutuhkan saran darinya. Aku sungguh bersyukur karena tuhan menrimnya menjadi sahabatku.
Aldi membawa makan siang untukku. Makasakan Aldi selalu saja menjadi makanan favoritku, dia memang koki yang hebat, bahkan aku yang perempuan kalah datinya kalau dalam bidang memasak, dia memang calon suami idaman bagiku. Aku memuji masakannya, tapi dia aneh, kenapa dia membawa memasak terlalu banyak, ini melebihi porsiku, walaupun aku orang yang suka makan. Mendengar itu Aldi ingin membawa manannnya kembali, ya tentu saja naluri kemakananku tentu saja takan kubiarkan itu terjadi.
"Kenapa kakak bisa sampai mengantar bekal kepadaku hari ini?" Tanyaku kepadanya.
"Oh, itu... itu karena aku sekalian mengantarkan pacarku yang kuliah di kampus ini." Jawabnya sambil membuang mukanya dariku.
'Kenapa kakak berbohong padaku?' Batinku dalam hati, ini sungguh membuatku sedih, apa harus segitunya dia ingin menghindar dariku? Aku tidak mengharap dia mencintaiku, tapi yang kubutuhkan adalah adalah kesempatan, kesempatan bagiku untuk membuktikan cintaku kepadanya. "Oh begitu, ya? Apa kakak juga memasak untuk dia juga?" Tanyaku menguabah air wajahku dengan cengengesan khasku seperti menggodanya.
"Hahaha... Apaan sih kamu ini. Koki super inj hanya akan memasak untuk mu. Sudah ya, aku pergi kerja dulu, jaga dirimu baik-baik." Aldi mengelus-elus rambutku, aku mengangguk untuk menjawab perkataannya barusan. Ku lihat punggungnya dari belakang itu, Aldi tetap saja orang yang ku cintai yang tak bakal bisa aku gapai walaupun terus bersaha mengejarnya.
Tapi kenapa dia begitu peduli dan baik kepadaku, kenapa dia selalu memberiku rasa nyaman jika dia tidak mencintaiku. Padahal dia tak pernah menjaga dirinya sendiri, dan selalu saja memerhatikanku. Lihat saja pakaiannya itu, terlihat kumuh karena terlalu banyak bekerja dan tak merawat diri. Padahal kalau dia merawat dirinya dengan baik pasti banyak cewek yang akan mengantri kepadanya. Yah, walaupun memikirkan itu membuatku kesal sih kalau harus melihat Aldi dengan perempuan lain. Tapi, aslkan dia bahagia, aku akan mencoba mengalah pada perasaanku dan akan mencintainya dalam diam.
Keesokan harinya aku diundang oleh bibi untuk makan bareng di rumah Aldi, seperti dulu-dulu saat kami bersama. Aku membantu bibi di dapur untuk memasak, sedangkan Aldi mengurus toko kecilnya didepan rumah.
"Yona, apa kamu ada masaalah dengan Aldi?" Tanya bibi saat aku sedang memotong sayuran.
Deg... bunyi jantungku saat mendengar bibi bertanya begitu. "Hahaha... bibi ini tanya apa sih? Tentu saja aku dan kakak tidak ada masaalah akhir-akhir ini, semuanya baik-baik saja kok." Jawabku kaku.
"Bukan begitu. Hanya saja Aldi terlalu sedih dimulai pada hari itu. Kamu tahu kenapa Aldi tidak mengikutu ujian itu? Itu dikarenakan dia harus bekerja untuk membantu kami melunasi hutang pamannha yang kabur dari hutangnya. Terpaksa pamanmu yang harus membayarnya. Padahal kami sudah melarangnya , tapi dia tetap tak mau mendengarkan kami. Hari itu Aldi pulang sambil menangis, saat kami bertanya, dia tak menjawabnya. Sepertinya dia tak mau membahasnya, jadi sampai hari ini kami tak tahu kenapa, mungkin dia menyesal karena harus meninggalkan kuliahnya itu. Tapi entahlah, kami juga tidak tahu pasti. Lalu, malamnya kami di datangi penagih hitang, untung kami masih punya sedikit cicilan untuk membayarnya, tapi itu masih belum cekup. Pamanmu lalu mengajak kami pindah, dan Aldi langsung menyetujuinya. Mungkin dia tak ingin kamu juga terlibat dalam masaalah ini. Kami pulang kampung dan bekerja disana. Untung kakek punya banyak tanah di kampung, jadi dia memberikan sebidang tanahnya, dan kami menjualnya agar dapat melunasi hutang itu, walaupun agak sedikit lama disana. Dan kemudian kembali lagi kesini kemarin." Cerita bibi kepadaku. Versi yang tak pernah kudengar dari sosok Aldi, ternyata aku sudah salah paham padanya.
Air mataku tanpa kusadari sudah mengalir deras. Mata yang sembab menghiasi wajahku, sayur yang ku potong-potong pun sudah tak berbentuk lagi. Aku menagis dalam diam. Kenapa Aldi, tidak! Kenapa kakak tidak pernah menceritakannya kepadaku. Kenapa kakak tidak pernah menceritakannya kepadaku dan membiarkan aku salah paham selama bertahun-tahun kepadanya.
Ponselku berdering memecahkan ingatan yang menyakitkan itu. Nomor tak dikenal yang masuk, aku menjawabnya, dan ku sangka itu dari rumah sakit, dari resepsionisnya. Mareka mengabari kalau nenek tidak dapat dioertahankan lagi. Penyakitnya semakin menjalar dan tak bisa ditolong lagi. Apaan ini? Apa maksudnya ini? Air mataku kembali keluar begitu saja, hati yang sesak, kenangan yang muncul bagaikan slide mulai memenuhi memoriku.
Aku segera meraih tasku dan segera berlari menuruni tangga dengan cepat, bahkan lebih cepat dari biasanya saat aku terlambat ke kampus karena takut dimarahi profesor Andreas. Aku jadi semakin membenci saat seperti ini, kenapa mesti ada tangga disaat-saat seperti ini, aku tak tahu! Perasaanku berkecamuk. Anak tangga pun ku laluinya bahkan kadang dua selangan sekaligus. Aku terus menangis selama di perjalananku, sampai-sampai aku tidak melihat bahwa aku telah menabrak seseorang. Aku hampir saja terjatuh dan orang tersebut menangkapku. Kakak! Tapi aku tidak menanggapinya, pikiranku kosong. Hanya jiwaku yang disini tapi tidak denagn rohku.
"Yah, aku kembali karena ibu mengundangmu ke rumah." Katanya yang terlihat kikuk. Aku tetap diam, lalu kakak mengangkat wajahku untuk melihat kepadanya. "Kenapa kamu menangis, apa profesor 2 M yang kamu ceritakan itu memarahimu lagi?" Tanya kakak naik pitam. Kakak lanhsung berjalan agak marah, apa dia berencana melabrak profesor. Aku menahannya dan memeluknya dari belakang.
"Nenek..."
"Kenapa dengan nenek?" Tanyanya yang mulai menyulut perasaan gelisah. "Kenapa dengan nenek, Yona? Ayo jawab. Nenek baik-baik saja kan, Yona? Yona, nenek baik-baik saja, kan?" Tanyanya menuntut kepadaku. Sepertinya Aldi tahu mengapa aku sedih. Sedih sebab di tinggalkan nenek, selamanya.
Aku menangis sesunggukan dalam pelukan Aldi, lalu dia membawaku ke rumah sakit dengan mobil barangnya. Sesampaiku di rumah sakit, aku langsung keruangan nenek, tubuh yang berbaring kaku, bahakan tak bergeming sedikit pun walaupun kugoyang-goyangkan. Aku menangis histeris disamping nenek, kenapa nenek harus meninggalkanku? Kenapa nenek membohongiku? Katanya dia akan melihat wisudaku, tapi kenapa lagi-lagi... semua orang berbohong kepadaku?
"Sudahlah, Yona. Biarkan nenek tenang." Kata Aldi menepuk-nepuk punggungku mencoba menghiburku.
"Tidak, nenek pasti tidur. Sebentar lagi dia akan bangun. Karena dia tahu kalau aku sudah datang."
Aku tahu, seberat apapun aku menghibur diri, nenek juga takkan bangun lagi. Aku tahu, bahwa inj hanya pertahananku. Aku membohongi diriku sendiri dengan topeng kebohonganku sendiri. Paman dan bibi datang dari pintu dan melihatku sudah menangis sesunggukan dan Aldi mencoba menenangkanku. Aku segera berlari dan memeluk bibi, bibi pun menghiburku dengan kata-katanya. Kasih sayang yang hangatnya itu menghipnotisku, hingga sayup-sayup mataku mulai mengabur. Kini kasih sayang itu pergi, pergi... selamanya dariku. Dari mana lagi aku akan memperoleh kasih sayang itu? Satu-satunya orang yang ku pedulikan, kini sudah meninggalkanku.. selamanya.
Setelah pemakaman nenek aku pun lebih memilih mengurung diriku di rumah kami. Rumah tempat kenanganku dengan nenek, rumah dimana aku aku pernah tertawa dan bahagia bersama nenek. Aku sudah mengajukan libur panjang ke kampus melalui Aya, dan aku juga menelpon kakak Anita, jadi dia memahami bagaimna kondisiku sekarang. Bahkan dia menyuruhku untuk beristirahat saja dulu, pergi ke kampus lagi saat aku sudah merasa baikan. Dia juga berpesan kalau aku juga tak perlu peduli tentang profesor Andreaa, katanya aku cukup beristirahat dan menjaga diriku dengan baik. Dan lagi, profesor Andreas juga minta maaf padaku serta ucapan belasungkawanya kepadaku, karena dia tidak sempat hadir, banyak hal yang harus diurusnya. Memang sih, diantara semua disen dia yang paling sibuk, sekarang sedikit banyaknya aku mulai mengenal profesor Andreas, dia tidak sepenuhnya salah, hanya saja perkataannya itu yang terlalu pedas.
Aldi datang ke rumah sambil membawa makanan kepadaku. Memang dua hari belakangan ini aku selalu saja makan permen buah. Karena kata nenek jika aku memakan permen buah itu, aku tidak akan sedih lagi dan kebahagiaan akan menghampiriku membawa keberuntungan kepadaku.
"Yona... apa kamu baik-baik saja? Kenapa berantakan seperti ini?" Tanya Aldi sedih melihat keadaanku yang seperti ini.
"Jangan melihatku.. jangan melihatku, Aldi!"
"Baiklah, aku tidak akan melihatmu, oke?" Kata Aldi mengalah. Dia meletakkan bawaannya dan duduk bersandat di punggungku dan membelakangiku.
"Kenapa semuanya seperti ini. Kenapa aku yang selalu kehilangan . Aku bahkan tak pernah melihat Ayah dan ibuku. Saat itu nenek juga bilang jika aku makan permen ini, maka aku takkan sedih lagi. Katanya ini permen ajaib. Apanya yang ajaib? Bahkan aku masih merasa sangat sakit. Tidak Aldi, tidak nenek! Semuanya memberiku haraoan palsu! kenapa?" Aku mengeluarkan isi hatiku dan menangis keras. Aldi memelukku dan menghiburku. Dia memenuhi janjinya kalau dia takkan melihat wajahku, karena aku malu terlihat menyedihkan didepannya. Aldi menutup wajahku dengan jaketnya dan kemudian memelukku, aku menangis begitu keras dalam pelukan Aldi.
"Maafkan aku, Yona. Aku telah membuatmu mengalami semua ini. Seharusnya aku tidak melakukan semua ini, dan meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku juga, karena sudah menyeretmu dalam impian cita-cita palsu yang ku berikan untukmu, padahal seharusnya kita melaluinya bersama-sama. Maafkan aku.. maafkan aku, Yona! Tapi Yona, nenek pasti akan sedih jika kamu seperti ini. Jangan menyiksa dirimu seperti ini Yona. Dengan begini kamu juga menyiksa orang-orang disekitarmu. Kamu tidak sendirian Yona. Masih ada aku, paman, bibi, Aya dan teman-teman kampusmu yang lain, mareka semua peduli padamu. Jadi, kembalilah Yona-ku. Kembali menjadi Yona yang ku kenal seperti dulu, Yona yang selalj ceria, Yona-ku...adikku yang selalu tersenyum kepadaku.. kepada siapa saja."
"Jangan pernah membohongiku dengan perkataan seperti itu lagi, aku bukan anak kecil lagi, aku tidak bodoh. Kehilangan membuatku sadar, jadi Aldi jangan naif aku akan mempercayai apa yang kau katakan itu."Kataku melepaskan pelukan Aldi dan membuka jaket yang menutup wajahku. "Jangan katakan itu lagi kepadaku. Aku tidak ingin kamu tetlalu menyayangiku seperti ini, aku takut aku terlalu serakah nantinya. Karena aku.. mencintaimu kakak-ku..."
"Yona, aku menyayangumu seperti adik kandungkj. Bukan itu berarti aku tiak mencintaimu. Kuakui, aku memang jatuh cinta padamu, tapi aku mencintaimu karena.. karena kamu adik..adikku. Karena aku sudah bersumpah seperti itu pada diriku.. aku tak ingin kamu terluka, aku tak ingin kamu hidup susah denganku. Aku mencintaimu dan menyayangimu melebihi diriku sendiri, Yona. Jangan paksa aku untuk melanggar sumpahku, Yona." Jawab Aldi, kakak-ku itu, kakak yang berbeda darah denganku, dia selalu mencoba meyakinkanku, tapi dia tidak tahu, keyakinannya itulah yang membuatku terluka.
Aku menatap Aldi dengan pandangan sayu. Kenapa dia selalu memberiku kasih sayang seperti ini yang membuatku selalu haus? Mata yang selalu memancarkan kasih sayang dan sosok yang menghangatkan. Teman masa kecilku dan kakak masa depanku. 'Ternyata kami memang akan pègi dariku, pamit dalam diriku selamanya. Jauh ke tempat yang tak bisa ku gapai, walaupun kau dekat denganku. Apakah kamu tidak bisa meluangkan sedikit ruang hatimu untukku, Aldi?' Tanyaku dalam batinku. Aku pun kemudian memakan makanan yang dibawa oleh Aldi. Menangis sungguh membuatku membuang banyak tenaga dan emosi. Aku memakan makananku dengan lahap, ditemani kakak-ku, kakak masa depanku, yang berbeda darah denganku, orang beh kucintai.
Aku mulai menjadi diriku lagi, kembali beraktivitas seperti biasa. Bahkan aku juga menyuruh Aldi untuk mencariku pekerjaan paruh waktu untuk sementara, sebelum aku memutuskan kembali meluncur untuk kembali ke kampus. Mungkin ini akan sedikit butuh waktu bagiku untuk benar-bener sembuh dari luka itu. Kadang-kadang aku juga menemui Aya pada waktu luangnya. Aya awalnya juga terkejut saat aku mengajukan libur panjangku dari kampus. Aku memang mengambil libur panjang, itu bukan berati aku tidak akan kuliah lagi. Aku yang dulunya kuliah demi nenek yang bersusah payah untukku, membiayai biayaku, kuharao suatu saat nanti dapat menemukan tujuanku yang benar-benar ku inginkan. Dulu aku punya alasan untuk tetap semangat walaupun harus menghadapai dosen yang segalak profesor Andreas sekalipun, tapi sekarang tidak ada lagi. Dulu aku kuliah karena hanya ingin membahagiakan nenek dan memepersembahkan ijazah sarjanaku kepada nenek, tapi kini semua itu tinggal kenangan dan bayangan.
Hari-hari ku lalui seperti biasanya, hanya saja pasti ada sisi dimana aku merasa kosong, seakan ada lubang dalam hatiku, lubang yang harus aku isi dengan mareka orang-otang yang ku sayangi. Aku bekerja disebuat warung makan, membantu mareka sebisaku, apa yang bisa ku lakukan. Pekerjaan itu Aldi yang mencarikannya untukku. Katanya pekerjaan itu cocok untukku yang juga punya keahlian memasak, ia juga mengatakan kalau warung itu biasanya adalah langganan Aldi, dan mareka juga orang yang sangat baik dan ramah.
Aku hanya bekerja sampai siang, aku lebih banyak menghabiskan wantuku di rumah bibi ketimbang dirumahku sendiri. Karena kalau aku kembali kerumah, itu akan membuatku sedih, karena selalu saja teringat sama nenek. Mungkin luka ini akan sembuah seiring berjalannya waktu dan aku juga menemukan seauatu yang membuatku sibuk. Aku juga membantu bibi di toko kelontongnya, karena aku tidak ingin numpang dengan gratis dirumahnya, walaupun paman dan bibi sudah menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Dan soal kos-kosanku, aku juga sudah cek out dari sana, dengan pengembalian dana, aku sangat bersyukur karena bertemu dengan bibi kos yang baik dan seramah dia.
Kebahagian yang diberikan keluarga Aldi membuatku bahagia, walaupun saat kembali kerumahku, rasa itu akan menghilang. Tapi aku bahagia walaupun hanya seperti ini Nenek yang meninggalkanku, sekarang aku sudah mencoba mengikhlaskannya, dan mencoba bangkit, menjadi diriku yang seperti dulu lagi. Namun.. cintaku.. benar-benar pamit, meninggalkanku. Kakak-ku.. Aldi-ku...pacar masa kecil yang dikatakan oranh.. kini hanyalah kakak kandung beda darah. Dia... benar-benar pamit dariku. Tidakkah dia mencoba mencitaiku.. karena cinta-ku adalah tulus. Kuharap kau menyadarinya, cinta diam ku untuk..mu.
TAMAT
Mohon komentarnya karena saya masih pemula.