Ketika itu aku terjebak dalam hujan yang sangat deras.Terpaksa berteduh di salah satu ruko yang sudah tutup.Masih pukul tujuh malam sudah pada tutup,kataku dalam hati.Jalan raya juga mulai sepi. Kendaraan hanya satu atau dua lalu lalang di depan mata sedangkan jarak dari sinikekontrakkan masih satu kilometer lagi.Andai Ada sebah taxi yang lewat,mungkin aku sudah di rumah dan mandi air hangat setelah itu rebahan sambil nonton dan makan mie rebus rasa soto kesukaanku.Kakiku mulai terasa kaku karena dingin. Duduk berjongkok adalah salah satu cara mengurangi rasa dingin.Ckup sebentar saja kalau tidak akan mengakibatkan kesemutan pula.
Tiba-tiba datang seorang pria berperawakan tinggi ,berwajah tampan dan berkulit sangat pucat membuat jantungku hampir copot. Entah dari arah mana pria ini datang .Terus terang aku belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Sepertinya Dia bukan berasal dari arah sini ,terlihat dari penampilan dan wajahnya yang seperti pangeran.Aku tak berkedip melihat sosok yang kini berdiri disampingku. Setelah capek berjongkok aku pun berdiri tepat diselah pria tersebut.
Mula-mula Ia menebarkan senyum membuatku mabuk kepayang.Sudah cakep ramah pula .Aku hanya menatap pria itu dan lupa untuk membalas senyumannya.
“Hai…,”pria itu melambaikan tangan seakan ingin menyadarkanku .
“Hai,,,,”jawabku sambil tersenyum padanya.
Pria itu membuka jaket yang sedang dipakai lalu diberikan padaku.Aku hanya diam dan ragu mengambil jaket yang disodorkannya.Melihat sikapku pria itu langsung mendekat dan memakaikan jaketnya pada tubuhku.Oh,Tuhan apa hari ini aku cantik sekali.Aku tak percaya dengan semua yang terjadi. Baru sekali ini ada pria setampan itu begitu perhatian terhadapku yang baru saja diputusin pacar karena perempuan lain. Sungguh benar terjadi apa kata sebuah nasehat ‘jika ada sesuatu yang direnggut darimu pasti suatu saat akan datang yang lebih ‘
Kilat menyambar pohon diseberang jalan membuat aku dan pria itu sangat kaget.Menyadarkanku kalau Dia bukan pacarku. Mungkin hanya seseorang yang hanya ingin berteduh sepertiku.Saat hujan usai maka sirna pula segala pengharapan.
“Namaku Hagya,Kalau kamu?”tanyanya sambil mengulurkan tangan padaku.Aku menyambut tangan yang sangat dingin dan pucat itu dengan cepat.
“Aku Delima,”jawabku sambil merapatkan jaket .Angin dingin berembus bersama suara guntur .
“Sepertinya hujan akan sangat lama.Sebaiknya kita berjalan menyusuri trotoar ini menghindari petir,”ujar Hagya sembari membuka payung. Aku heran dari mana Hagya mendapatkan payung padahal tadi aku tak melihat Ia membawanya.Aku mengangguk dan mengikutinya yang sudah menarik tubuhku berada dalam dekapannya.Kami berjalan beriringan dibawah satu payung dan tanganya tak pernah lepas dari pundakku.Terasa hangat sekali seperti tak ada setetes air hujan yang mengenai tubuhku.
Sampai di rumah aku balas menyambut Hagya dengan baik. Sebagai tanda ucapan terima kasihku karena merasa telah dibantu oleh Hagya saat hujan.Kalau tidak ada Hagya mungkin aku masih tak berkutik di teras toko tadi. Aku menyesal hari ini sebelum berangkat bekerja lupa membawa payung.
Aku menyilahkan Hagya untuk mandi air hangat yang telah kusiapkan. Dan membuatkan mie rebus pakai telur untuk kami berdua.
Setelah itu kami lanjutkan acara nonton dirumah kebetulan aku baru saja membeli televisi layar lebar . Acara nonton semakin mengasyikkan. Hagya duduk disamping sambil menggenggam tanganku.
Aku membiarkannya melakukan itu sebab aku juga menyukainya. Dia pria pertama yang begitu baik dan sempurna yang pernah kutemui.
Malam semakin larut aku tak sengaja terlelap dibahu Hagya dan terbangun saat pria itu membelai rambutku.
“Ayo ikut bersamaku,”Hagya mengulurkan tangannya padaku.
“Kita akan kemana?”tanyaku sambil berdiri dan menyambut tangannya.
“Lihat saja nanti. Kamu pasti akan suka,”Katanya menarik tanganku .
Sampai diluar rumah Aku dan Hagya melesat bagai busur panah menembus langit, melewati awan dan singgah dibulan kemudian menghampiri beberapa bintang lalu menari-nari mengelilingi angkasa.
Tak henti perasaan takjub membuat mataku tak berkedip . Awalnya ada perasaan takut terlepas dan jatuh namun tangan kekar milik Hagya mampu membuatku tenang dan merasa aman.
Aku melihat Hagya seolah mendengar sesuatu dari kejauhan. Lalu Ia mengajakku kembali ke bumi.Saat tiba di bumi kami berada sebuah daerah yang sedang mengalami banjir bandang. Ditengah bencana itu ada beberapa orang hanyut diantara arus yang begitu deras.Hagya menahan air itu dengan kekuatannya hingga air tersebut berhenti mengalir.Orang-orang berlariuntuk melarikan diri ketempat yang lebih aman saat air mulai surut .Semua orang tak tahu kenapa air tiba-tiba mulai surut dan air tak lagi mengalir deras kecuali Aku .
Hagya ternyata super hero sebab tak hanya bisa memiliki kekuatan menahan air,Hangya juga bisa memadamkan api yang membakar rumah penduduk.Menangkap pencuri yang telah merenggut tas seorang wanita. Dan kejahatan lainnya yang berhasil di lumpuhkan oleh Hagya.
“Siapa sebenarnya dirimu?”tanyaku menyentuh tubuhnya seakan masih belum percaya dengan keberadaan Hagya.
“Baiklah. Sekarang waktu yang tepat untuk menyatakan kebenaran tentang siapa diriku dan dirimu,”ucap Hagya ketika kami berdua telah berada dirumah.
“Aku?memang aku ini siapa?Aku adalah aku. Terus siapa aku menurutmu,”perasaan mulai berkecamuk dalam pikiranku.
“Tenang lah wahai ratu keabadian. Kita harus kembali ke dunia kita yang sesungguhnya. Tempat ini bukanlah tempatmu. Aku datang untuk membawamu kembali”
“Ratu ke abadian?Ini bukan tempatku. A…aku sungguh tak mengerti”
“Seperti yang tadi telah aku ucapkan. Engkau adalah putri keabadian. Suatu ketika karena sebuah malapetaka akhirnya kita berpisah. Ratusan tahun aku mencarimu lalu Tuhan mempertemukan kita disini.Kita harus kembali bersama untuk menjelajahi waktu”
“Kamu bohong. Bumi ini adalah tempatku. Disini aku memiliki keluarga .Aku tidak akan pergi denganmu”
"Apa yang kamu suka dari tempat ini. Ikutlah denganku kita akan hidup dari masa ke masa,mejelajahi beberapa dimensi.Waktumu disini sudah habis . Jika kamu tetap berada ditempat ini kamu akan mati seperti manusia yang lain”
Aku berlari meninggalkan Hagya sendiri dan menembus hujan seperti saat kami pertama bertemu .Tangisku pecah diantara air hujan yang jatuh. Aku tak ingin menjadi pribadi yang lain dari pribadiku yang sebelumnya.Aku berlari sekuat tenaga agar Hagya benar-benar tak bisa mengikutiku lagi.
Satu minggu telah berlalu sejak kejadian aku bertemu dengan Hagya. Tinggal bersama orang tua menjadi pilihanku agar tidak diganggu pria misterius itu lagi.
Tamat