Jangan tanyakan bagaimana bisa cinta pada pandangan pertama menghampiriku, karena aku saja tidak tahu detilnya. Hanya yang kurasakan sungguh diluar nalarku saat itu. Tak sengaja menjatuhkan buku-buku yang tengah ia bawa, lalu begitulah. Seperti halnya dengan sinetron FTV. Klise memang, tapi bagiku yang pertama kali mencinta dengan pandangan pertama pula adalah kejadian luar biasa. Lebay.
Hari demi hari selalu mengintai, mencari celah agar dapat sekedar bersua dalam diam dengannya. Hingga sehari tak bersua seakan dunia mati. Sepi tanpa gairah. Kini aku menjadi seorang stalkernya, baik di dunia nyata maupun medsos, kadang tersenyum sendiri, gelisah, marah, kecewa ketika melihatnya dekat dengan lelaki lain. Ya, aku cemburu.
Seperti lirik dalam sebuah lagu, Cinta ini… membunuhku…. Damn! Sikapku telah berubah karena cinta. Mungkin layak aku menyandang predikat egois. Bahkan ummi ku pun mulai curiga dengan perubahan sikapku yang drastis kearah negatif. Suka marah-marah tak jelas, berantakan, bangun kesiangan karena malam tak bisa tidur memikirkannya, tambah kurus, dan sebagainya. Ingin aku ungkapkan perasaanku pada wanita pujaan hatiku itu. Lathisya, kakak kelasku. Usia kami terpaut satu tahun. Dia kelas sebelas, sementara aku kelas sepuluh. Apalah daya, keingingan tinggal keinginan yang takkan pernah terwujud. Ummiku tidak suka jika aku berpacaran sebelum menikah. Intinya jomblo sampai halal. Yakali aku harus menikah dengannya dulu sebelum bisa pacaran. Mau kukasih makan apa dia nanti, umurku baru enambelas tahun, baru kelas sepuluh. Bisa-bisa yang ada fitnah merajalela. Lagipula kecil kemungkinan Lathisya menerimaku. Dia cantik, tinggi, pandai, sekretaris OSIS. Sementara aku hanyalah remahan rempeyek.
Baru segini aja udah lemah begini, apalagi kalau patah hati. “Aaaaarrghhh!!!” teriakku tanpa sengaja karena frustasi.
“Kenapa, Gus?” Tanya ummi dengan nada khawatir.
“Nggak papa, mi. Hanya meluapkan emosi aja,” jawabku. Tampak ummi menghela nafas panjang sambal geleng-geleng.
“Matamu nggak bisa bohong, Gus. Ingat ya, sekolah yang bener, kerja yang bener, lalu menikah dengan wanita shalihah, baru kamu boleh pacaran dengan yang sudah halal,” nasihat ummi panjang lebar. Aku hanya bisa mengiyakan.
***
Drrt… drrrt…. Hp ku bergetar tanda ada sms masuk. Kutengok kanan kiri depan belakang. Aman. Bu Barti, guru fisika sedang menerangkan di depan. Ku curi waktu untuk membalas sebuah pesan masuk. Tertulis nama yang tak asing bagiku. Mas Bara. Dia kakak sepupuku dari pihak ibu.
“Gus, gimana kabarmu? Lumayan lama nggak ketemu, Ahad besok mancing, kuy!” Isi pesan mas Bara.
“Kuylah!” sambutku. Mancing, ide bagus juga untuk merefreshkan pikiran biar tetap waras dan berada di jalur yang benar. Mungkin aku bisa minta nasihat mas Bara. Secara dia berstatus couple beranak satu. Hahaha…. Aku sedikit terkekeh.
“Bagus Prio!!” tegur Bu Barti. Akupun seketika sadar bahwa masih dalam jam pelajaran. Apes dah gue. Gumamku dalam hati. Murid lain langsung menyorakiku. Bu Barti geleng-geleng kepala.
“Pulang sekolah temui Ibu di kantor!” perintah Bu Barti padaku.
“Baik, Bu,” jawabku. Sial! Kenapa lagi ini. Huft.
Lima belas menit kemudian bel pulang sekolah berbunyi, bergegas aku menuju parkiran motor karena langit telah kelabu menandakan bahwa sebentar lagi hujan turun. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang menabrak bahuku.
“Eh, sorry Gus, nggak sengaja,” Kata orang itu. Bagai orang linglung aku hanya terbengong. Tak sampai sepuluh menit kesadaranku kembali. Kutepuk jidatku yang jenong. Lathisya! Ya, orang yang menabrakku tadi adalah Lathisya. Dia tampak terburu-buru sepertiku. Ku beranikan diri menyapanya.
“Sepertinya buru-buru, kak?” tanyaku membahasakan dia kakak. Karena dia adalah kakak kelasku.
“Iya, sudah mendung gelap gini, khawatir hujan. Mana gue nggak bawa mantel lagi,” Lathisya bersungut-sungut.
“Mau bawa mantelku? Rumahku nggak terlalu jauh kok, ngebut bentar sepuluh menitan juga sampai,” ujarku berbohong. Ah.. aku paling nggak suka ini, berbohong. Demi Lathisya mau menerima bantuanku meski terselip modus sedikit. Ia pun menerimanya. Yess!
“Makasih ya, Gus.” Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah ia menghilang dari pandangan, akupun kembali bergegas. Pulang.
Sepanjang jalan aku bersenandung, bahagia itu sederhana diantara peliknya masalahku ini. Tak sabar aku menunggu hari Ahad rasanya.
***
Hari yang dinanti-nantipun tiba. Ahad penuh semangat. Mas Bara pun sudah sampai dari jam tujuh pagi dengan gaya santainya juga topi lapangan kebesarannya. Sampai heran aku dibuatnya, ia tak pernah mau melepas topinya ketika tengah di luar untuk sekedar ngopi di warteg pun. Kata dia, topi itu membuat dirinya tambah ganteng. Hahaha….
Pemancingan tak begitu ramai, hanya ada segelintir bapak-bapak. Maklum, mereka biasanya ramai ketika ada event lomba mancing saja. Hadiahnya lumayan soalnya.
“Gus, gimana sekolah kamu?” Tanya mas Bara membuka percakapan.
“Alhamdulillah, baik mas,” jawabku.
“Udah punya gebetan belum nih?” goda mas Bara membuatku keki.
“Hehehe…. Lebih tepatnya punya tambatan hati yang tak mungkin digapai, mas,” jawabku. Mas Bara diam, ia fokus pada pancingannya. Hebat! Baru duduk beberapa menit sudah dapat ikan. Pikirku terkagum. Sebentar kemudian mas Bara tampak menghela nafas.
“Baguslah Gus, kamu masih konsisten untuk mematuhi apa kata ummimu. Tidak pacaran dulu. Banyak nilai positifnya di sini. Kamu jadi tak terlalu kecewa atau sakit karena patah hati. Lagipula buat apa pacaran. Jodoh belum tentu, mendekati zina sudah pasti.”
“Bagus galau nih mas. Cinta ini membuatku seperti tak punya akal sehat, tapi aku diam diri membuatku merana juga,” curhatku.
“Nggak usah galau. Yang namanya jodoh itu sudah menjadi takdir kita. Nggak akan lari ke mana kok. Selama kita mau ikhtiar untuk menjaga cinta itu tetap bersih, tetap suci,”
“Iya sih mas. Lalu aku harus bagaimana dengan cintaku?”
“Pelihara cinta itu dalam hatimu saja, perlahan uapkan. Ingat, Gus. Pacaran itu nggak baik, untuk akhirat, untuk kantong, dan lainnya.”
“Tapi kalau aku pacaran dengannya dan bisa sampai menikah?”
“Siapa yang jamin bahwa dia jodohmu?” balas mas Bara. Aku terdiam. Semua yang dikatakan mas Bara itu benar. Aku harus menguapkan cintaku perlahan, dan menganggapnya sekedar teman biasa tak lebih.
Sesi mancing dan curhatku pada mas Bara berakhir. Tak terasa sebentar lagi adzan Dzuhur berkumandang. Kamipun pulang ke rumah masing-masing. Mas Bara dapat banyak sekali ikan, sementara aku hanya dapat seekor.
Adzan berkumandang tepat langkah terakhir kakiku menuju pintu rumah bersama dengan tekadku untuk jomblo sampai halal. Berat? Pasti! Tapi jika ganjarannya dicatat oleh malaikat Rokib, siapa yang menolak.
Selesai