‘’ Kau memang tak bisa apa apa ya… ! ‘’ (ingatan suara yang muncul di kepala anak laki laki itu ‘’Ya..benar’’ Kata anak itu.
Seorang anak bernama Hazel dengan nomor 8 pada bajunya duduk di kursi pemain. Pandangannya terus menatap lapangan dengan wajah datar. Keputusasaan tercermin jelas dalam bola matanya. ‘’Pergantian pemain, pemain nomor 5 keluar pemain nomor 8 masuk ‘’
Suara yang tiba tiba muncul itu membuat jantung Hazel berdegup kencang. Air perlahan muncul dipermukaan kulitnya yang menandakan kecemasannya. Seorang anak laki laki keluar dari lapangan dengan baju yang sangat basah seolah olah hujan deras mengguyurnya di siang hari yang panas ini. Anak laki laki itu berjalan menuju Hazel dan berkata, ‘’ingat, jika kali ini pun kau mengacau akan ku habisi kau.‘’
Hazel berlari menuju lapangan dan bermain. Ia hanya berlari mengikuti arah bola tapi tak ada sedikit pun inginnya untuk menggapai bola itu. Tiba tiba bola itu terjun ke arahnya,’’ti..tidak ja…jangan ke arah ku. Aku mohon.’’ Ucap Hazel dengan suara kecil. Perasaannya yang semakin cemas ditambah ingatan akan suara suara yang terus membuatnya merasa takut akan membuat kesalahan lagi. Segera saat bola datang, tangannya langsung menghempaskan bola itu ke luar lapangan. Seketika suara peluit terdengar yang menandakan 'out' dan orang orang menertawai Hazel atas apa yang di lakukan nya barusan.
1 jam kemudian permainan telah selesai dengan skor 2-4. Orang orang pergi meninggalkan tempat itu. Para pemain pergi ke ruang ganti. ‘’hah...hari ini benar benar melelahkan’’, ucap seorang pemain. ‘’iya benar, apalagi tadi kita telah dipermalukan oleh si anak rendahan itu lagi. ‘’ jawab seorang pemain yang lain. Hazel mendengar perkataan mereka tetapi dia hanya diam dan terus merapikan barang barangnya. Karena hal itu sudah biasa baginya. Setidaknya itu bisa menjadi bayaran untuk meringankan rasa bersalah nya.
Hazel berjalan keluar dari stadion. Tiba tiba terdengar suara perempuan dari belakangnya. ‘’akan sampai kapan kau seperti ini ?’’ Hazel menoleh kebelakang, dan anak perempuan itu berbicara lagi. ‘’kau selalu jadi pecundang dan membuat orang terlihat jahat karna mengejek mu. Kau pikir kau itu tokoh protagonis yang tak berdaya dan selalu di bully ha..?! kau lah yang jahat ! Kau membuat kakak ku kalah di pertandingan ini ! Padahal dia dan yang lainnya sudah berjuang keras tapi kau dengan mudahnya menghempaskan bola keluar lapangan ! Orang tak berguna seperti mu ini harusnya mat..’’ Belum selesai perempuan itu bicara seorang kakek memotong ucapan nya. ‘’hei anak muda, Kenapa kau berteriak seperti itu ? Kau membuat telinga ku hampir tuli tau’’ kata kakek itu. Anak perempuan itu hanya terdiam lalu memandang wajah Hazel dengan kesal, lalu ia pergi.
‘’Anak muda zaman sekarang tak ada sopannya. Berteriak kepada orang yang lebih tua’’ kata kakek itu kepada Hazel. Hazel hanya diam dan melangkah pergi. Sang kakek mengikuti nya dari belakang dan Hazel pun meyadari hal itu.‘’ haish.. kenapa dari tadi mengikuti ku si ?!’’ kata Hazel pada kakek itu. Namun kakek itu hanya diam dan menatap nya sambil tersenyum. Hazel pun menarik panjang nafasnya dan mencoba untuk tidak memperdulikan kakek itu. Ia lalu masuk ke sebuah minimarket dan membeli es krim favorit nya, es krim Nanas. Tetapi saat ia membalikkan badan tak di sangka kakek itu berada di belakangnya dan memandang es krim di tangan Hazel dengan wajah memelas. Hazel sudah tau maksud kakek itu. Lalu ia mengambil satu es krim lagi dan memberikannya pada kakek itu.
Mereka duduk di luar minimarket sambil memakan es krim. Lalu kakek itu bertanya kepadanya ‘’kau punya masalah dengan anak tadi ya ?’’ ‘’ha ? Tidak, tidak ada apa apa.’’ Jawab Hazel. ‘’Sebetulnya aku ini sangat bijak. Jika kau memberitahukan nya aku pasti bisa membantu mu’’ Kata kakek itu. Setelah beberapa saat Hazel pun menjawab kakek itu walau dengan ragu. ‘’e..itu aku, sebenarnya aku tidak bisa apa apa. Aku slalu menjadi kesalahan dan beban bagi orang lain. Makanya tadi dia marah padaku, gara gara aku kakak nya kalah di pertandingan tadi.” Jawab Hazel kepada kakek itu. “begitu ya.”kata kakek itu. “iya, begitulah. Oh..ya! kau bilang kau kan sangat bijak. Apa kau tahu apa kelebihan ku ?”tanya Hazel. “oh, itu mudah bagiku. Tapi sebelum itu, kau harus menjawab pertanyaan ku dulu. Apa kau siap ?’’ Tanya kakek itu kepadanya ‘’ya aku siap’’ jawab Hazel.
Keesokan paginya. ‘’Kenapa kita pergi ke tempat latihan basket ?’’ tanya Hazel. ‘’ayo.’’ ajak kakek itu. Lalu kakek itu membawa Hazel duduk di bawah pohon sambil memandang para pemain yang sedang berlatih. ‘’Sekarang coba katakan kelebihan para pemain itu.’’ Kata kakek itu. Lalu Hazel menyebutkan kelebihan para pemain itu,‘’ee..pemain nomor 6 dribblingnya sangat bagus. Lalu pemain nomor 13 taktik nya sangat hebat tampaknya dia kapten dari tim itu.” Hazel menyebut kan kelebihan semua pemain itu satu persatu.
Setelah selesai, Hazel bertanya pada kakek itu “Nah, jadi apa kelebihan ku ?” Hazel memandang kakek itu dengan penuh harapan, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui kelebihannya. Lalu kakek itu menepuk pelan punggung Hazel dan memberi isyarat melalui mata dan ekspresinya. Hazel bingung dengan maksud kakek itu ‘’apa ? Punggung ? Maksud mu kelebihan ku itu punggung ku?’’ tanya Hazel. Ia kecewa dengan jawaban yang diterima nya, sungguh tak sesuai dengan harapan nya. Ia merasa dipermainkan oleh kakek itu. Hazel menatap wajah kakek itu lalu menepis tangan itu dari punggungnya. Ia segera berdiri dan berkata ‘’aku telah mengikuti mu ke sini dan menyebutkan kelebihan semua pemain itu, yang membuat ku semakin rendah diri karna tak punya kelebihan. Aku percaya setelah mengatakan nya aku akan tau kelebihan ku. Tapi apa yang ku dapat ? Hanya tepukan pada punggung, begitu ?’’
Walau mendengar semua ucapan Hazel tapi kakek itu hanya diam. Lalu Hazel berkata “kau tahu.. ini lebih seperti kau bilang padaku bahwa aku tidak punya kelebihan. Jadi aku harus tabah dan terima saja sama seperti perasaan ku sebelumnya. Terima kasih telah lebih menyadarkan ku’’ Hazel tersenyum perih lalu berlari meninggalkan kakek itu sendirian.
Di sepanjang jalan Hazel terus berlari dan menangis. Ia terus bicara pada hatinya. ‘’Kenapa..kenapa aku tidak memilikinya. Aku benar-benar muak dengan rasa bersalah, takut, dan kecewa yang selalu menyiksa ku setiap detik. Yang dikatakan olehnya itu benar. Orang yang tidak berguna seperti ku ini harusnya..hiks..aku harusnya..” ucap Hazel dalam hati. Bahkan dia merasa sesak untuk mengucapkan kata terakhir itu (mati). Tiba tiba terdengar suara klekson mobil yang sangat kuat [TIIIINN.!!!] lalu di susul suara benturan yang sangat kuat pula [BRAAKK]. ‘’Ya Tuhan…ada yang tertabrak….’’/‘’Hei cepat panggil ambulans’’./’’Astaga darahnya banyak sekali..’’
2 Minggu kemudian. “silakan, trimakasih dan selamat datang kembali” ucap wanita itu sembari memberikan kopi kepadanya. “ya..sama sama.” Lalu dia berjalan pergi. Sampailah dia di sebuah halte. Dia berdiri dan menunggu bis nya datang. Tiba tiba seorang wanita berjalan melewatinya dengan kertas yang bertuliskan “aku bodoh” pada punggungnya. Segera dia memanggilnya dan memberitahukan hal itu kepadanya. “maaf, ada sesuatu di punggung mu” sambil melepaskan kertas yang di tempel pada punggung wanita itu. “ha ? Bagaimana bisa ?”wanita itu bingung melihat kertas itu. “terimakasih telah membantu ku. Aku tak tau kalau ternyata ada kertas di punggung ku.” Kata wanita itu.
“Tentu saja kau tidak bisa melihatnya karena itu ada di punggung mu.” Ucapnya kepada wanita itu . “Iya..haha. Oh, iya. Siapa nama mu ?” tanya wanita itu kepadanya. “Nama ku Hazel.” Jawab nya. “oh..nama ku Reta. Terima kasih ya Hazel. Kalau begitu aku pergi dulu.”kata wanita itu. “Ya” jawab Hazel. Setelah wanita itu pergi Hazel merasa kan perasaan yang sebelumnya pernah terjadi tetapi dia tidak tahu apa itu. “kenapa ya..” tanya nya dalam hati. Lalu ia melihat seorang kakek dari seberang jalan.
(Tentu saja kau tidak bisa melihatnya karena itu ada di punggung mu)
kalimat yang tadi di ucapkan oleh nya kepada wanita itu. Kalimat itu lah yang mengingatkannya akan sesuatu. “Punggung, waktu itu dia juga.., apa maksud nya adalah...,”Tiba tiba Hazel menyadari sesuatu lalu berlari meninggalkan halte itu. Setelah berlari cukup lama sampailah dia di sebuah tempat. Tempat yang sunyi dan banyak batu yang berjejer di sana. Ia berdiri di depan sebuah batu dan berkata. ”Sekarang aku mengerti maksud mu mengatakan kalau kelebihan ku ada di punggung. Ya kau benar, karena itu aku tidak bisa melihatnya. Aku merasa rendah diri karena merasa tidak memiliki kelebihan. Kenapa..kenapa baru sekarang. Jika aku bisa mengerti lebih cepat, hal itu..,pasti tidak akan terjadi.
2 minggu yang lalu. Seseorang mendorong Hazel hingga tersungkur ke tanah. Lalu tiba tiba terdengar suara benturan dan cekitan rem mobil. Hazel segera menoleh ke belakang dan melihat kakek itu terbaring di aspal dengan darah yang seakan menyelimutinya. Melihat itu Hazel segera berlari kepadanya.
“tidakk..! Ba..bagaimana bisa seperti ini. Aku, aku akan membawa mu ke rumah sakit. Tak apa jangan takut, se..sebentar lagi ambulans pasti akan segera datang. La..lalu dokter pasti akan menyembuhkan mu.” Ucap Hazel. Air mata terus mengalir pada wajah Hazel. Rasa takut benar benar terpancar dari matanya, tangannya yang berlumuran darah gemetar sambil memegang tangan kakek itu. “Tak apa nak, aku..uhuk uhuk baik baik saja.” Ucap kakek itu sambil tersenyum pada nya. Kemudian pandangan kakek itu mulai tertutup dan hembusan nafas nya pun hilang dari udara. (Kakek 17 Oktober2006) itulah yang tertulis di batu nisannya.
“Maaf, bila saja aku..hikss..tolong maafkan aku, jika itu mungkin. Sekarang aku tahu bahwa yang ku pikirkan selama ini salah. Terimakasih telah menyadarkan ku bahwa aku juga punya kelebihan. Kelebihan yang sangat sulit untuk ku lihat. Aku janji padamu, aku akan berjuang dan bahkan mempertaruhkan nyawa ku untuk bisa memenangkan pertandingan ku yang selanjutnya. Tidak akan ada lagi rasa rendah diri. Jika saja kau kembali, walau untuk sesaat sekalipun. Aku akan membelikan mu es krim nanas itu lagi dan kita akan memakannya
sambil bercerita, hehe. Tapi tak apa. Yang penting kau harus ingat untuk nonton pertandingan ku yang selanjutnya dari atas sana ya.” Ucap Hazel..