Bel masuk sudah berbunyi, waktu menunjukan Pukul 07:00, juga menunjukan pelajaran akan dimulai.
“Aduh, udah bel.” Segera aku berlari menuju kelas
“Untung saja gurunya belum datang.” Gumamku
“Tumben, kamu telat ?”Tanya Budi Heran. Yah, biasanya aku berangkat paling awal.
“Iya, bud. Tadi malam aku tidur telat, gara-gara nonton bola.”
“Owalah, Jhon...Jhon….”
“Hehe….” Jawabku dengan senyuman setengah malu.
“Selamat pagi.” Salam dari guru pengganti atau yang biasanya disebut PPL. Tapi, entah mengapa kali ini terlihat berbeda. Wajahnya begitu cantik, tubuhnya begitu sedap di pandang mata. Yah, begitulah sekiranya Guru PPL, 22 tahun itu.
“Baiklah, anak-anak. Ada pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Maka perbolehkanlah ibu memperkenalkan diri. Nama ibu Nayla Rizkan, bisa dipanggil Ibu Nayla. Untuk sementara waktu ibu akan membantu Pak Adi mengajar Fisika dikelas kalian.” Guru PPL yang baru masuk itu memperkenalkan diri.
“Maaf, bu.” Sahut Andre sembari mengangkat tangan.
“Iya, ada apa?”
“Pepatah itu bohong, bu. Buktinya Syfa kenal saya udah lama tapi kok dia enggak sayang-sayang sama saya!” Sebuah kata konyol terucap dari Andre atau yang biasa ku panggil kecebong.
Mendengar ucapan Andre tersebut. Sontak pecahlah gelak tawa di ruang ini. Bu Nayla pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga beberapa saat kemudian.
“Bu Nayla!” Tiba-tiba Budi mengangkat tangannya.
“Ada apa?”
“Saya setuju, sama Andre. Buktinya, saya belum kenal ibu tapi saya sudah sayang kok sama ibu!”
Bu Nayla pun hanya bisa menutupi wajahnya dengan buku Fisika yang dia bawa. Entah mungkin, karena malu gara-gara mendengar ucapan Budi. Ia akhirnya mencari alibi lain dengan menanyakan sesuatu.
“Ketua kelasnya, siapa ya?”
“Saya, bu.” Dengan lantang Budi menjawab.
“Bukan dia, bu. Tapi saya!” Sahut Andre.
“Bukan, bu. Saya ketua kelasnya!” tambah ku.
“Bu, tapi saya yang paling pantas jadi ketua kelas!” timpal Budi.
“Bukan, bu. Saya yang lebih pantas!” tambah Andre.
Sambil menahan tawa, wajah Bu Nayla mulai merah. Mungkin ia malu, karena tingkah kami. Ia pun berusaha menenangkan dirinya, dan mencari basa-basi lainnya.
“Tenang semuanya, tenang. Sekarang ibu juga mau kenal kalian. Jadi silahkan perkenalkan diri kalian.”
“Wah, ibunya SKSD.” Tanpa basa-basi Syfa manyambar ucapan Bu Nayla.
“Maksudnya? Dek.”
“Sok Kenal Sok Deket.”
Sontak saja satu kelas tertawa karena ucapan polos dari Syfa.
“Haduh……” Bu Nayla hanya tersenyum kecil, menahan tawa.
***
Setiap anak di kelas mulai memperkenalkan diri, hingga tiba giliran Andre.
“Yak perkenalkan nama saya Andreas Herlambang, biasa dipanggil Andre.”
“Gayamu, ndre. Biasanya juga dipanggil kecebong.” Sahut ku.
“Wah, kelewatan nih. Seenaknya aja manggil kecebong. Bener tahu! Hahaha…”
Sontak kelas menjadi riuh rendah karena ulah kami berdua. Manusia konyol yang selalu bisa memecah gelak tawa di ruang ini. Belum habis gelak tawa di kelas ini, kini giliran Budi yang memperkenalkan diri.
“Perkenalkan nama saya Budi Setiawan. Biasa dipanggil Budi.”
“Bohong, Bu. Dia biasanya dipanggil Anduk.” Sahut Andre.
“Heh, kalau ngomong jangan jujur dong! Hahaha…”
Sontak kelas kembali riuh rendah, karena kekonyolan mereka berdua. Yah, kelas ini seolah tak pernah kehilangan tawa atau saat-saat riuh rendah seperti ini. Waktu terus berjalan tawa pun mulai mereda, seiring teman-temanku memperkenalkan diri. Hingga tiba giliranku.
“Ssst… lakone. Heh, lakone.” Celoteh Budi.
Sembari menahan tawa dan malu, aku mulai memperkenalkan diri.
“Assalamu’alaikum…”
“Walaikumsalam…”
“Yah, selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua…”
“Jhon, ini perkenalan bukan pidato…! Begu…” Sahut Adi.
“Kan, tidak ada salahnya. Jikalau saya mengawalinya seperti itu…”
“Langsung to the point aja, Jhon.”
“Ssst… Harap tenang…”
“Pisau mana Pisau…” sahut Andre
“Di lek Nem itu lho banyak.”
“Aseem…”
“Perkenalkan nama saya Raiga Saktiawan. Biasanya dipanggil Jhon.”
“Loh...? Dipanggil Jhon?” Tanya Bu Nayla
“Maklum, bu. Wajah saya kan kebule-bule’an hahaha....”
“Iya, bu. Tinggal di pake’in daster aja. Hahaha...” sambar Budi.
“Bendo mana bendo”
“Idul Adha masih lama. Begu...”sahut Budi.
“Kamu yang mau tak sembeleh, nduk.”
“Jangan kasihan bendonya. Masak buat nyembelih Sapi gelonggongan. Hahaha…” Sahut Andre.
Kelas pun kembali riuh rendah karena tingkah kami bertiga. Pantas saja guru-guru di sekolah kami sering menyebut kami trio biang kerok, yang tak pernah habis akal untuk berulah. Setelah aku giliran syfa memperkenalkan diri.
“Sssuut... Cewek...” Andre mulai melancarkan modusnya.
“Kelakuanmu nang-nang...” Timpal ku.
“Harap tenang...” Tambah Budi.
“Ikut-ikutan... gak tau malu…” Sahut ku.
“Asem ya, Jhon.”Jawab Budi.
“Hahaha…” tawa lepas keluar dari mulut Andre.
“Perkenalkan nama saya Qonita Asyfa. Biasa dipanggil Syfa.”
“Hai, Syfa…..” Sontak aku dan Budi mulai melancarkan aksi kami. Sementara, Syfa hanya tersenyum menahan malu.
“Iya, kenapa?” jawab Syfa
“Aku mau nanya, kalau misalnya Andre nembak kamu diterima apa enggak?” Tanya Budi.
“Ya, jelas dong. Tak tolak, masa aku mau pacaran sama lutung jawa.”
“Huss… ngawur Andre itu bukan lutung…”
“Aseek, kayak Jhon ini lho temen sejati.” Sahut Andre
“Tapi, Andre itu orang yang kayak lutung jawa.” Timpalku dengan polos.
Sontak kelas kembali riuh rendah karena ulah kami bertiga. Tiga biang kerok SMA “Disensor” yang tak pernah habis akal untuk ciptakan suasana seperti ini.
Waktu terus berjalan akhirnya teman-temanku selesai memperkenalkan dirinya. Aku mulai mencari akal baru untuk kembali memecah suasana. Hingga setelah beberapa menit aku berpikir. Akhirnya, aku berdiri dan mengangkat tanganku.
“Bu Nayla, saya mau cerita boleh?”
“Oh, ya silahkan. Gak pa pa.”Jawab Bu Nayla.
“Gini, bu. Saya mau cerita kronologi saya bersekolah disini.”
“Oke, lanjutkan.”Jawab Bu Nayla.
“Jadi, saya itu dilahirkan di keluarga yang menengah keatas….”
“Rak sombong… rak sombong…” sahut Budi
“Biasa to ya. Mas-mase ogk. Terus saya lahir tanggal 27 september 1998 pukul 10:00 WIB di rumah sakit Dr. Karyadi. Saya besar di Semarang, tepatnya di daerah kota lama.....”
“Kronologinya mana.... Kampreet.....”Sahut Andre.
“Santai, bro. Makanya dengerin dulu… cerita itu harus runtut dan dengan alur yang jelas. Itu katanya guru bahasa Indonesia.”
“Ceritanya mana, Jhon...” timpal Andre.
“Ya udah, saya lanjutkan. Jadi dulu saya suka main gobak sodor, sama temen-temen saya....”
“Temenmu orang mana, Jhon?” sambar Budi
“Orang Indonesia, nduk.”
“Bukannya kamu dulu mainnya sama orang Uganda ya, Jhon?” pertanyaan bodoh dari Andre.
“Iya, bong. Kamu orang Ugandanya.” Jawabku dengan sedikit tawa.
“Asem ya, Jhon.” Gerutu Andre.
“Oke akan saya lanjutkan cerita saya. Jadi itu kebiasaan saya waktu kecil. Tapi kebiasaan tu berhenti sewaktu saya masuk SMP. Apalagi, sesudah saya kenal yang namanya FB. Saya, gak pernah lagi main gobak sodor…”
“Heh, Kampret. Kronologinya mana… Begu…” Sahut Budi
“Sabar-sabar, orang sabar kuburannya lebar...”
“Emangnya kamu tahu darimana Jhon?” tanya Andre.
“Dari Rai.”
“Rai? Rai siapa Jhon?” Tanya Andre lagi.
“Raiga Saktiawan...”
“Oh, lha kampreet...” Andre menggerutu.
“Oke, saya lanjutkan cerita saya. Jadi gini akhirnya waktu SMP itu saya hobi banget FB-an. Sampai akhirnya saya kenal cewek cantik lewat FB namanya Lina, dan ternyata rumahnya itu gak jauh dari rumah saya. Cuma berjarak 1000 meter aja. Tapi, setelah lama hubungan sama dia saya merasa makin deket aja jarak yang sebenernya 1000 meter jadi terasa cuman 1 kilometer…”
“Heh, Bungkus Bakpao. 1000 meter sama 1 kilometer itu sama aja… begu…” Sahut Andre.
“Heh, rem becak. 1000 sama 1 banyakan mana?”
“1000-lah.” Jawab Andre dengan tegas.
“Berarti 1000 meter sama 1 kilometer jauhan 1000 meter kan.”
“Njih-njih.” Jawab lirih dari Andre yang merasa diakali.
“Baiklah, lebih baik saya lanjutin ceritanya. Jadi setelah aku makin deket sama Lina akhirnya kami pun berpacaran, waktu itu saat aku masih SMP kelas 7. Tapi sayang hubungan kami tak berjalan mulus. Karena,waktu kami naik kelas 8 Lina pindah ke Jakarta. Dan, akhirnya karena gak tahan LDR-an kami pun putus. Dan semenjak saat itu saya terus murung dan galau, gara-gara ke inget dia. Saya jadi sering tidur di atap rumah orang….”
“Jangan-jangan orang gila diatas genteng yang tadi pagi aku lihat itu kamu?” Sahut Syfa.
“Ndak, dong. Sekarang kan aku selalu nempel dihati kamu.”
“Pisau mana pisau…” sambar Andre
“Udah, dikasih tau juga. Kalau nyari pisau di Lek Nem itu lho banyak.” Sahut Budi.
“Udah daripada ribut mendingan saya lanjutin cerita saya. Waktu itu saya lagi tiduran di atap rumah tetangga saya, lalu tiba-tiba rame banget orang teriak kebakaran…..kebakaran…, ternyata rumah tetangga saya kebakaran…….”
“Lha, kok kamu masih hidup?” Tanya Budi ngawur.
“Alhamdulillah ya, saya selamat, karena ternyata saya tidur di atap masjid sebelah rumah tetangga saya. Kemudian saya turun dan memutuskan untuk berjalan-jalan kepuncak gunung yang tinggi sekali dan punya banyak pohon cemara di kiri dan kanan. Di tengah perjalanan saya sempat ketemu sama cewek cantik banget. Hanya dalam beberapa detik langsung terlintas ide untuk berkenalan. Sayangnya ide itu hanya melintas dan tidak mampir, akhirnya saya cuma bisa menunggu ide itu datang lagi. Sambil menunggu ide tadi muncul, saya memutuskan untuk berkenalan dengannya…”
“Terus namanya siapa Jhon?”tanya Budi.
“Ternyata Hani namanya…”
“Bentar-bentar, katanya kamu mau nyeritain kronologi kamu sekolah disini?” Tanya Bu Nayla.
“Ibu, gak bisa menilai akhir dari sesuatu tanpa tau awalnya, ini saya lagi berusaha nyeritain dari awal, Bu…”
“Oke, lanjutkan….”
“Jadi setelah saya kenalan dan ngobrol sama dia, akhirnya ide yang sempat terlintas tadi muncul kembali, dan sebelum ide itu hilang lagi langsung aja saya tangkep, isi dari ide tadi adalah mengajak cewek tadi berkenalan, tetapi karena udah saya lakuin. Jadi, ide tadi pun enggak saya lakukan.”
“kampreet...”sahut Andre.
“Sejak saat itu saya makin deket sama dia.”
“Terus apa yang terjadi Jhon?” Tanya Budi.
“Lama-kelamaan saya makin jatuh hati sama dia. Akhirnya terlintas pikiran untuk nembak dia. Besoknya saya langsung menuju TKP buat nembak dia. Tapi, gak jadi soalnya jam weker saya udah bunyi dan saya terbangun dari mimpi saya… he…he…”
“Oh, lha kampret kowe Jhon” Sontak seisi kelas bersorak riuh. Karena jengkel.