Aimee menunduk lesu. Seharian ini James, kekasihnya tidak ada menghubunginya sama sekali.
"Ck, mode cuek-nya kambuh lagi," rutuk Aimee dalam hati. Kesal sekali, dihari istimewanya ini, James bahkan kedua orang tuanya pun acuh, jangankan menghampirinya ke apartemen, sekedar mengucapkan selamat ulang tahun via pesan tertulis pun tidak.
Huh.
Dengan perasaan kesal Aimee pergi ke salon langganannya yang terletak di mall terbesar di kotanya.
"Baiklah diriku, tidak apa-apa tidak ada yang memperhatikan kita, mari kita memanjakan diri sepuasnya hari ini dan jangan berharap banyak pada orang lain," gumam Aimee.
Aimee pun memulai rangkaian perawatan tubuhnya mulai ujung kaki, wajah hingga kepala. Pijat, lulur mandi susu, facial, spa rambut, medicure, pedicure ... terakhir, Aimee meminta agar ia didandani sebelum kembali ke apartemennya.
"Yes ... segar, rileks dan aku merasa cantik hari ini. Makan siang dulu ah."
Bipbip ... Bipbip ... .
Ponsel Aimee menampilkan nama dan wajah 'Jesica', di layarnya.
Aimee tersenyum dan menebak, pastilah sahabatnya ini akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya, meskipun sudah lewat tengah hari dan Jesica akan jadi orang pertama yang memberikan selamat padanya
"Hal-"
"Aimee tolong aku ... ." Belum lagi selesai menyapa, kata-kata Aimee terpotong oleh suara Jesica yang terdengar panik disertai isakan.
"Jes? Kamu kenapa?" tanya Aimee khawatir.
"Aku tidak bisa menjelaskan banyak, datanglah ke alamat yang aku share-kan. Secepatnya!"
"Ba-baiklah." Aimee bergegas menuju mobilnya.
"Pelabuhan Sunda Kelapa, yaelah lumayan jauh dari sini. Hm ... semoga macetnya gak parah biar bisa secepatnya nolong Jesica," ujar Aimee sambil mengendarai mobilnya mengikuti arah yang tunjukan.
***
"Benar di sini tempatnya? Oliver Marina Wedding, iya benar ini tempatnya. Hm, seperti ada acara pernikahan ... wah, jangan-jangan Jesica dipaksa menikah. Oh, tidak, tidak benar ini." Aimee segera mendial nomor sahabatnya sambil keluar dari mobilnya.
'Nomor yang adan hubungi sedang diluar jangkauan ...' hanya itu yang didengar Aimee.
"Ck, kemana sih tu anak ... ya Tuhan, gimana aku nolong sahabatku?"
Tiba-tiba Aimee merasa ada lengan kekar melingkari lehernya.
"Jangan teriak, ikuti aku jika ingin selamat," kata lelaki itu.
Aimee yang terkejut tidak dapat menghindar dan memilih menuruti perintah lelaki asing itu, karena Aimee tahu ia tidak saja bertanggung jawab terhadap sahabat tapi juga bagaimana menyelamatkan nyawanya sendiri. Oh, hari ulang tahun yang memilukan.
Sejenak pria itu membebaskan leher Aimee namun hanya sejenak, hanya untuk mengikat kain hitam guna menutupi pandangannya dan juga tangan Aimee, kemudian kembali membawa Aimee ke suatu tempat.
"Nona, tugas saya sudah selesai kan?" tanya lelaki itu entah pada siapa.
Sejenak Aimee menghirup udara di ruangan yang terasa sejuk beraroma fresh lavender, favoritnya.
"Iya, silakan tinggalkan kami," suara wanita menyahut ... sebentar, sepertinya Aimee mengenal suara itu.
"Jes? Kamu di situ, Jes?" tanya Aimee.
Tidak ada sahutan. Aimee merasa ada orang mendekatinya, mencoba melepas pakaian yang digunakannya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan? Mau memperkosaku?" Aimee bergerak memberi tendangan.
"Awh. Tenang nona, kami hanya ingin mengganti pakaian nona."
"Ganti pakaian, untuk apa?"
"Emh, kami ditugaskan untuk mempercantik nona saja, tidak untuk membicarakan hal lainnya." Sahut pelayan itu sambil melepaskan ikatan di tangan Aimee.
Beberapa kali Aimee harus menahan tubuhnya saat dipakaikan gaun yang terasa berat di tubuhnya.
'Ish, kaya pakai gaun pengantin aja. Ribet.' Gumam Aimee.
"Silakan duduk nona, kami akan menata rambut anda agar sesuai dengan gaun yang anda kenakan."
Terakhir, orang-orang itu juga menyemprotkan parfum yang biasa digunakan Aimee.
'Aneh, dari mana mereka tahu aku memakai parfum Lanc*me La Vie est belle eclat?' pikir Aimee lagi.
"Apa gadisku sudah siap?" Aimee hampir terlonjak saat mengenal itu suara James.
"James, tolong aku!"
"Sebentar, sayang." James membuka kain yang simpulnya menutupi mata Aimee.
"Oh, James terima kasih, aku tidak tahu kenapa bisa begini. Hariku aneh sekali," adu Aimee sambil mengagumi gaun yang dikenakannya.
"Kamu suka sayang?"
"Iya .. tapi James, aku sebel sama kamu karena lupa aku hari ini berulang tahun."
"Haha, aku tidak lupa. Lihatlah aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu, menjadikanmu ratuku."
"A-apa kamu mau mengajakku dinner romantis untuk merayakan ulang tahunku?"
"Tentu, ayo jangan buat mereka menunggu..." James yang tampan berbalut tuxedo berwarna navy memberikan tangannya untuk digandeng Aimee.
"Mereka, siapa?" sahut Aimee bingung.
Begitu mereka keluar kamar tempat Aimee berganti pakaian tadi, indera pendengaran mereka disuguhi alunan lembut piano yang memainkan 'A thousand years' mengiringi langkah Aimee dan James menyusuri tempat semacam koridor berhias indah bunga-bunga baby breath dan daisy.
"Astaga, kamu membawaku kemana? Benar-benar gak modal kamu ya James, katamu mau menjadikanku ratumu ... masa mentraktirku makan malam hanya dengan dinner di kawinan orang?" bisik Aimee yang sontak membuat James tersenyum sambil mengecup dahinya singkat.
"Kita ke situ," tunjuk James dengan dagunya pada suatu tempat menyerupai altar dengan sebuah kapal besar terparkir dibelakangnya.
"Oh Tuhan, James ..." Aimee tidak dapat menahan haru saat semakin dekat mereka dengan altar itu, Aimee melihat orangtuanya, orang tua James, Jesica dan beberapa kerabat lainnya berdiri seolah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat ulang tahun Aimee, kejutaaaan ...!" pekik mereka kompak.
Aimee tidak dapat menahan haru atas hadiah kejutan di ulang tahunnya.
"James, kamu bilang akan melamarku tahun depan."
"Jangan bilang kamu menolak bila kunikahi saat ini," sahut James yang menariknya lebih dekat menuju altar.