aku ajeng, salah satu bocah dari 10 bocah ada dua gadis lagi dan 7 bocah laki-laki. Dua gadis itu adalah Putri dari suku Sunda dan Siti dari suku Bugis aku sendiri dari suku Jawa. tujuh bocah lagi adalah Pandu dari suku Melayu, Sakera dari suku Madura, Bolang dari suku Minahasa, Abdul dari suku Betawi, Drio dari suku Asmat, Sanja dari suku Dayak dan Monang dari suku Batak kami semua berasal dari suku bangsa yang berbeda dan kami berteman.
pertemanan kami sudah berlangsung selama 2 bulan pertemanan ini berlangsung dengan sembunyi sembunyi karena orang tua kami tidak menyetujui. Selama dua bulan ini kami saling membantu sesama jika salah satu dari kami mendapat kesulitan, contohnya Putri dia dulu sangat ingin sebuah angklung tetapi ayahnya tidak pernah membelikannya. Kami sebagai temannya membantunya membuatkan angklung dengan bantuan pengrajin dari desa yang dikenal oleh Sakera tentu saja dengan sembunyi sembunyi.
Dalam keseharian kami. kami sering bercanda, bergurau, bercerita tentang daerah asal kami dan paling sering kami bermain permainan tradisional bersama. tetapi beberapa hari ini orang tua kami sadar kami berkumpul sembunyi sembunyi dan akhirnya kami bingung apa yang akan kami lakukan.
"Bagaimana ini..?? Orang tuaku curiga aku berkumpul dengan kalian diam-diam..??" Sakera
"Kamu kembalilah dulu, agar mereka tidak curiga dan pergi diam diam saat orang tuamu tidak curiga lagi!!" Monang menjawab Sakera. Mulai dari kemarin siang kami bingung harus bagaimana. Beberapa dari kami mulai ketahuan saat diam diam pergi bermain bersama. Beberapa dari kami bahkan sudah tidak bisa datang menemui kami.
"Tadi pagi aku juga hampir ketahuan!!" Abdul.
"Terus kita harus bagaimana?!" Sanja.
"Aku pergi temani sapiku dulu ya, agar mereka tidak curiga!?" Sakera.
"Baiklah kami akan menunggumu kembali!!" Sanja
"Jangan lebih baik kalian, jangan menungguku mungkin hari ini aku tidak kembali!!" Ucap Sakera meninggalkan kami.
"Eh tunggu dulu Sakera!!" Monang melarang Sakera pergi, tetapi dia tetap pergi.
"Ajeng bagaimana ini, Sakera sudah ketahuan?!" Ucap Siti.
"Bagaimana lagi, kalian berhati hatilah..!!" Ucapku.
"Dia sih kurang berhati-hati, dasar bodoh!!" ucap Bolang tertawa kecil.
"Hus Lang, tidak boleh begitu!!" Ucapku.
"Hehehe.. maaf maaf bercanda" Bolang.
"Jadi sekarang kalian mau main apa??" tanyaku.
"Main angklung aja bareng aku??" Ajak Putri.
"Tidak, mending kita main petak umpet aja ayo!?" Ucap Abdul.
"Ayo!!" Ucap Pandu
"Yang laki laki main petak umpet, yang cewek main angklung sana!!" Ucap Monang.
"Ayoo!! Kita mulai dengan hompimpa!!" Ucap Bolang tidak sabar.
"Okee..!!" Jawab Pandu setuju.
"Tunggu aku!!" Ucap Monang.
"Ayo kita main angklung dibawah pohon" kata Putri.
"Tunggu putri, aku ikut!!" Siti mengikuti putri dengan aku menyusul mereka di belakang.
"Ajeng bagaimana kalo nanti aku ketahuan?!" Tanya Siti.
"Tenanglah tidak akan ketahuan kok!!" Jawabku.
"Ajeng, sebenarnya kemarin ayahku sudah tahu kalo aku pergi diam diam!!" Ucap putri tiba tiba.
"Gi..gimana ini jeng?, Putri juga sudah ketahuan!!" Kata Ajeng semakin khawatir.
"Tidak apa kok, ayahku sudah mengizinkan aku bersama kalian!!, Karena kalian membuatkan aku angklung ini!!" Ucap Putri.
"Syukurlah kalo begitu" kataku.
"Beruntungnya kalian berdua mendapatkan izin" ucap Siti
Orang tua mereka tidak mengizinkan untuk bertemu dengan kami karena mereka memandang kami sebagai orang asing hanya karena berbeda suku. Kami sadar keberagaman seharusnya tidak membuat kami terpisah, sehingga kami nekat untuk bertemu diam diam tetapi semakin lama kami semakin terpojok. kami khawatir dengan pertemanan ini. Kami semua berusaha mendapatkan izin orang tua. Tapi sampai sekarang hanya aku dan Putri yang mendapat izin.
Keesokan harinya Sakera tidak datang kembali. Sepertinya Sakera sudah tidak bisa bersama kami lagi setelah ini kami semakin berhati hati. Saat kami berkumpul di bawah pohon Kami bermain bersama tiba-tiba ayah Siti datang dan menarik Siti.
"Ayo pulang kamu ini nakal sekali!!" Ucap ayah Siti.
"Tidak ayah... Aku tidak mau pulang aku mau bermain dengan mereka!!" Ucap siti memberontak.
"Permisi pak. Kenapa bapak tidak mengizinkan Siti bermain bersama kami" ucap Monang
"Kalian sudah tahu aku tidak mengizinkan Siti bermain bersama kalian tetapi kalian masih memaksanya" ucap ayah Siti.
"Tidak, Siti tidak dipaksa, Siti ingin bermain bersama mereka" ucap Siti yang semakin jauh di bawa pulang oleh ayahnya.
"Sekarang Siti sudah tidak bisa kembali" ucap Sanja.
setelah Sakera yang ketahuan oleh orangtuanya hari ini Siti juga tidak bisa lagi bermain bersama kami kami sebenarnya ingin membantu Siti lari dari orangtuanya tapi itu tidak baik.
Setelah beberapa hari ternyata orang tua dari Abdul, Drio dan Sanja mendapat kabar bahwa anak mereka berkumpul di bawah suatu pohon untuk bermain bersama dengan anak dari suku lain. sehingga mereka mencari dan membawa pulang anak mereka bertiga pun dilarang keluar oleh orang tua mereka.
Kami berdebat dengan orang tua mereka tapi itu percuma mereka tetap tidak membiarkan anak mereka bermain dengan anak dari suku lain. Selain ayah dari Drio yang khawatir dengan Drio yang bermain dengan anak anak dari suku lain yang tidak di izinkan dan bisa membuat suku mereka yang merupakan pendatang terusir dari desa.
Setelah beberapa hari Bolang dan Pandu tidak berani lagi untuk berkumpul dengan kami dan memutuskan untuk menuruti orang tua mereka.
Kini hanya tersisa aku, Putri dan Monang. Monang sebenarnya sudah ketahuan dan ditahan oleh orang tua dia. Tetapi dia melarikan diri, aku dan Putri menyuruhnya pulang agar orang tuanya semakin tidak suka dengan kami.
"Ajeng, hanya tersisa kita berdua. Apa yang akan kita lakukan" ucap Putri.
"Tidak tahu lagi" jawabku.
"Ayo kita naik keatas rumah pohon." Ajak putri naik ke rumah pohon yang ada di pohon besar yang biasa kami gunakan untuk tempat berkumpul. Aku dan Putri naik dan bersantai di rumah pohon itu. Aku sadar aku tidak bisa membantu mereka aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku hanya bisa memperhatikan mereka semakin menjauh.
Beberapa saat kemudian hujan turun. Aku memperhatikan Putri yang asik memainkan Angklungnya. Tiba tiba petir menyambar, suara guntur nyaring mengejutkan aku dan Putri. Karena terkejut Angklung yang dipegangnya jatuh, saat aku akan mengambilkan angklungnya aku melihat banjir datang dari arah sungai dan membuatku membatalkan niat, tetapi putri tetap nekat dia tetap ingin mengambil angklung itu, aku memeganginya dan melarang putri untuk turun.
Banjir itu sudah sampai di bawah pohon, angklung itu hanyut terbawa banjir. Putri menangis setelah itu, mengingat dia sangat menyukai angklung itu. Kami memperhatikan sekitar, air menghanyutkan semuanya. Aku berharap teman temanku selamat disana.
Banjir berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya surut. Kami berdua turun dari atas pohon dan melihat sekitar hanya tersisa satu pohon besar yang kami naiki itu. Aku berlari kearah rumah Sakera, aku melihat sakera baik-baik saja.
"Sakera kamu baik-baik saja??" Tanyaku.
"Aku baik-baik saja, tapi sapiku mati" ucapnya sedih melihat sapinya mati dia tampak menyayangi sapinya. Aku mengajaknya berkeliling mencari teman lainnya tetapi dia menolak, dia ingin menguburkan sapinya terlebih dahulu.
Kami meninggalkannya dan mencari teman-teman lainnya. Kami menemukan Abdul, Pandu, Bolang, Drio, Sanja dan Monang di atas Genteng baik-baik saja, warga sedang berusaha menurunkan mereka. Setelah turun kami segera berkumpul dan tiba tiba Siti datang dia tampak khawatir dengan kami, rumahnya ada di daratan tinggi sehingga tidak terkena banjir dan mengkhawatirkan kami disini.
Kami berdiam diri di tempat, melihat semua rumah rata dibawa air. Beberapa saat kemudian saat kami memperhatikan sekitar orang tua kami datang. Semua orang tua dari 10 bocah datang mereka. mereka ingin membawa anak anak mereka pulang. Aku ingin menghalangi mereka dan hanya satu yang ada di pikiranku.
"Ayah tolong beritahu mereka untuk tidak membawa teman teman ku pergi" ucapku ke ayahku yang berdiri di sampingku.
"Baiklah"
"Permisi bapak, bapak sekalian, maukah kalian berbincang dulu denganku?!." Ucap ayahku.
"Ada perlu apa??" Ucap Ayah putri.
"Aku ingin berbincang tentang rumah rumah yang hancur terkena banjir" kata ayah ku.
"Aku ingin berbincang tentang gotong royong untuk membangun rumah yang baru. Aku ingin kita berkerja sama dan melupakan perbedaan kita, kita semua manusia hidup di Indonesia. Walaupun berbeda suku kita tetap satu negara, kenapa kita tidak bersatu tanpa membedakan suku. Karena masalah akan lebih mudah di selesaikan jika bersama-sama" lanjut ayahku.
"Iya...bapak-bapak sekalian walau kita berbeda suku kita harus tetap bersatu, mari kita bergotong-royong!!" Ucap ayah Putri menambahkan.
"Kita harus bersatu agar kita kuat dan juga agar anak anak kita bisa saling mengenal dan saling membantu" kata ayahku lagi.
Bujukan ayahku berhasil, hikmah dari banjir ini 10 orang berbeda suku bisa bersatu dan saling membantu. Selain itu kami 10 bocah kembali berkumpul dan berteman selamanya.