Keluarga adalah sesuatu untuk kita bersandar, tak jarang juga untuk penyemangat kita. Tapi tidak untukku. Dari masa kanak - kanak, hingga sekolah dasar aku tinggal bersama Paman dan Bibi ku di negara A. Ketika aku sekolah menengah pertama aku ikut pindah ke negara C bersama Paman dan Bibi ku. Hingga suatu ketika aku memasuki sekolah menengah atas, orang tua ku menelepon ku untuk PERTAMA KALI NYA.
Aku kira orang tua ku sudah melupakan ku yang wajah nya saja hanya samar - samar diingatan ku. Aku mengira setelah taman kanak - kanak aku akan di jemput oleh kedua orang tua ku ke negara K. Hingga aku terus berharap ke jenjang berikutnya, tapi itu tidak pernah terwujud.
Drrtt Drrtt aku melihat ponsel ku berbunyi. aku melihat terdapat nomor tak dikenal di ponsel ku. Aku mengangkat nya.
"Halo ini siapa?"
"Ini mama, Lilian."
Aku tidak menyangka setelah sekian lamanya orang tua ku menelepon.
"Kamu kan sudah mau memasuki SMA gimana kalau kamu sekolah di negara K dan tinggal bersama mama dan papa."
Aku diam sejenak sembari menggenggam erat baju ku. "Tidak ma, aku akan sekolah di negara X saja." Bohong kalau aku tidak mau.. negara K adalah negara asal ku, Tapi luka ini pasti akan lama sembuh nya, atau mungkin tidak akan pernah sembuh. Jika mama menawarkan sekali lagi, aku akan menyetujuinya.
"Baiklah, mama akan segera mencarikan rumah kontrakan untuk mu." Mama menutup teleponnya.
Jawaban mama membuat air mata ku tak dapat lagi ku bendung. Setidak pentingnya kah diri ku? aku menangis dalam diam dikamar ku.
~~~~~~~~~ Satu bulan kemudian ~~~~~~~
Setelah pamit dengan paman dan bibi, aku menuju negara X. Paman dan bibi ku tersenyum untuk menyemangati ku agar tidak menangis akan perpisahan ini. Aku memasang senyum palsu untuk menutupi kesedihanku.
Ketika aku sampai di negara X aku menuju rumah kontrakan yang telah di siapkan oleh orang tua ku. Aku disambut oleh taman hijau yang damai. Rumah kontrakan itu tampak sederhana dari luar, tapi ternyata didalam terdapat sofa, bunga hias, meja makan, tv, dan cat putih untuk menyempurnakan suasana.
Setelah menyusun barang barang ku dikamar, aku berjalan jalan mengililingi rumah baru ku. Ternyata di belakang rumah terdapat kolam teratai.
Malam hari..
"Malam ini aku akan memasak nasi goreng." Setelah selesai memasak, aku pun menyiapkan nya di meja makan. "Kali ini aku harus semuanya sendiri, tidak ada Paman tidak ada Bibi yang menemaniku. Aku harus kuat hanya tiga tahun saja."
Setelah selesai makan aku menyiapkan diri untuk sekolah besok.
Keesokan harinya..
"Oke, seragam ok, tas ok, sepatu ok, rambut pun ok, Sip. Aku siap berangkat sekolah." Kebiasaan lama ku ketika hendak berangkat sekolah selalu saja begini. Aku mengunci rumah dan berangkat sekolah dengan berjalan kaki, yaiyalah masa ngesot.
Setelah sampai sekolah. Aku terkagum melihat sekolah itu, memang sekolah populer no 1 sedunia bukan main - main. Bel sekolah berbunyi dengan cepat aku menuju kelas. Untung saja guru kelas belum memasuki ruangan, aku pun mencari tempat duduk yang kosong.
Tak lama kemudian guru kelas masuk ruangan dan memperkenalkan diri nya.
"Hello my students, introduce my name is Sarah. Saya yang akan menjadi wali kelas kalian." Bu Sarah tersenyum.
Guru bahasa Inggris? Dilihat dari bahasa awalnya sudah kelihatan bahwa beliau adalah guru bahasa Inggris.
"Ibu mau kalian memperkenalkan diri satu per satu, dan ibu mau kamu yang pertama."
Bu Sarah menunjuk ku, aku pun maju kedepan. "Halo, perkanalkan nama saya Lilian, Terima kasih." Aku kembali ke kursi ku.
Bu Sarah tertegun, Lilian?? Tentu saja beliau tertegun, karena aku adalah 'Sepupu' nya. Setelah itu dilanjutkan dengan murid disamping ku.
Tak terasa waktu berlalu, bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang. Hari ini aku hanya berkata kurang lebih 3 kalimat. Hari ini sungguh sangat membosankan. Tiba - tiba Bu Sarah menghampiri ku.
"Lin?" Bu Sarah menggenggam tangan ku.
"Iya Bu?"
"Aduh deh bener - bener, kamu selama ini kemana?? Aku dengar kamu ikut orang tua ku ke negara C kenapa jadi di negara X? Kamu tau gak? Aku tiga hari yang lalu aku ke negara C loh buat nemuin kamu. Yaudah deh, yuk kita jalan - jalan udah lama loh kita gak refreshing." Sarah menarik ku.
"Baik Bu."
"Astaga.. kenapa manggil aku 'Bu' sih. Aku kan masih muda kita cuma beda 7 tahun ko." Semakin dewasa, introvert nya semakin besar. Lihat dia hanya menjawab kurang lebih 3 kata.
"Ya." Aku menjawab singkat.
Aku mengikuti Sarah kemana - mana, mulai belanja di mall sampai ke kafe dan malam nya ke restoran.
"Nah sini duduk, kamu mau makan apa? Aku yang traktir." Sarah menunggu jawaban ku.
"Beneran?"
"Iya." Sarah tersenyum.
"Aku mau ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini." Aku menunjuk makanan kesukaan ku.
"Yakin ? Itu banyak loh." Sarah terkejut.
"Sisanya di bungkus." Ucap ku tenang.
Dasar anak kos. Terlihat ekspresi Sarah seperti itu.
Setelah makan aku diantar pulang oleh Sarah menggunakan mobil nya. "Terimakasih." Aku pun masuk kerumah.
"Hey? Tidak mengundangku masuk dulu ?" Sarah menghela nafas dan pergi.
Aku masuk ke kamar ku. "Capek, lelah, kapan ini berakhir." Aku tertidur, dan keesokan harinya adalah hari hari yang membosankan.
~~~~~~~~~ 2 Tahun kemudian ~~~~~~~
Sekarang aku sudah kelas 3 SMA ganti kelas, ganti wali kelas, dan ganti teman lagi, perkenalan lagi. Tapi tidak apa apa hanya sebentar lagi aku akan bertemu Paman dan Bibi ku. Aku menikmati duduk sembari melihat suasana luar lewat jendela kelas ku.
"Kamu Lilian?" Ash, Ketua osis mengahampiri ku.
"Kenapa?"
Dia dingin sekali. "Tidak apa - apa. Aku sering lihat kau duduk sendiri sembari melihat keluar jendela, apakah ada yang istimewa?"
"Tidak ada yang istimewa, hanya saja terlihat damai." Pertama kali nya ada yang mengajak ku bicara.
"Apa aku boleh ikutan duduk?" Ash menarik kursi disamping nya.
Aku mengangguk. Dia terus memperhatikan entah memperhatikan ku atau keluar jendela. Aku sempat melirik dan mata kami bertemu. "Ada apa?"
"Tidak pa-" Ash belum selesai bicara tiba tiba ada angin berumbus kencang lalu turun hujan.
"Oh tidak! Air hujan nya akan masuk." Tiba tiba Ash menutup jendela tanpa melihat bahwa aku ada di depannya. Kepala ku terbentur karena di tabrak oleh Ash.
"Maaf, aku tidak sengaja." Tanpa di sadari dia menyentuh kepala ku.
CIYYEEE serentak satu kelas mengejek.
"Wah, ketua osis lagi modusin cewe tuh."
"Wah tumben."
"Apaan sih kalian! Duduk dimeja masing - masing!" Ash tersipu.
Jadi ketua osis orang nya pemalu? Lucu. Aku menahan tawa. Lihat lah telinga nya yang memerah, padahal itu hal biasa.
Ash kembali ke tempat duduk nya dan mengomeli anak - anak yang mengejek kami. Tak lama kemudian guru memasuki kelas. Pelajaran dimulai.
~~~Istirahat~~~
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat, aku pergi ke kantin untuk membeli roti dan susu. Tak sengaja aku melihat ada pie buah. "Sudah lama aku tidak makan pie buah." Aku mengambil satu dan membeli nya. Ketika hendak membayar ternyata Ash juga ikut membayar.
"Eh, mau beli pie juga?" Tanya Ash.
"Iya."
Setelah membayar pie, Ash mengajakku duduk di taman depan sekolah untuk menikmati makanan. Setelah sampai taman sekolah aku baru sadar bahwa taman ini tidak seramai yang kupikirkan. Cocok sekali dengan ku.
"Kau juga suka pie buah ya?" Tanya Ash.
"Iya, aku lama sekali tidak memakan pie ini." Jawab ku, sambil memakan pie buah.
"Sama dong. Aku baru tahu jika pie buah ada yang sekecil ini, ibu ku dulu selalu membuatkan pie yang besar sampai aku tidak dapat menghabiskannya." Ash tersenyum tipis.
"Dulu?"
"Iya dulu..." Ash menunduk sambil melihat pie buah itu.
"Sekarang? Apa dia pergi?" Aku bingung dengan perkataan nya, ibu nya sakit? Atau ibu nya pergi seperti ibu ku?
"Iya, dia pergi sangaat jauhh, sampai aku tak dapat melihat nya lagi." Ash mulai mengeluarkan air mata. "Maaf, pasti aku terlihat bodoh didepan mu." Ash mulai menghapus air mata nya.
"Tidak. Itu wajar. Kau pasti sangat sedih kehilangan ibumu." Ibu nya sangat menyayanginya, sedangkan aku? Berbicara berdua saja tidak pernah.
"Terimakasih." Ash tersenyum pada ku.
"Untuk apa?"
"Terimakasih, Lilian kau mau mendengar cerita ku." Ash bangkit dari kursi nya dan kabur.
Aku tak mengerti dengan orang ini. Hanya mendengar cerita saja apakah harus berterimakasih? Bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera masuk.
Setelah pelajaran selesai, berbunyi lah bel sekolah menandakan waktu pulang. Karena hari ini aku piket, aku pulang terlambat. Tak terasa matahari mulai terbenam, sesampainya di rumah entah aku kelelahan atau mengantuk, setelah membuka pintu rumah aku melihat seorang laki laki sedang duduk di sofa sambil menonton tv di rumah ku.
Aku yang syok hanya bisa ternganga dan mengucek mata beberapa kali. Mungkin karena tingkah ku laki - laki itu memulai pembicaraan.
"Kau sudah datang?"
"Kau bisa bicara??!!" Aku teriak karena syok.
Dia juga terkejut beberapa detik. "Aku kira kau akan lari setelah melihat ku." Laki laki itu mendekati ku.
"S-siapa kau??"
"Nah ini baru pertanyaan yang seharusnya." Gadis ini lucu deh, masa baru pertama kali ketemu nanya 'kamu bisa bicara'.
Laki laki itu tertawa kecil. "Kenalin nama ku Lee. Aku sudah lama tinggal disini. Sebenarnya setelah kamu datang kesini aku mau langsung nunjukin diri ku, tapi kamu nanti takut setelah melihat ku. Jadi aku menunggu selama 2 tahun supaya kamu mau menerima aku. Aku bisa apa saja kok, aku bisa membersihkan rumah, memasak atau membersihkan halaman. Jadi jangan usir aku ya.. ku mohon.." Lee menjelaskan panjang lebar.
Aku yang setengah syok dan kelelahan karena hari ini, jadi aku iya kan saja kata kata nya. "Baiklah, kau boleh tinggal disini. Tapi kau harus tidur di sofa depan tv, dan jangan ganggu aku."
"Baiklah, Lilian."
"Kau tahu nama ku?" Aku bertanya tanya, bagaimana bisa dia tahu nama ku? Sedangkan aku belum memberitahukannya.
"Itu di seragammu ada tanda pengenalnya Lilian."
Oh iya, bagaimana bisa aku melupakan nya.
Setelah itu aku masuk ke kamar ku. Ku kunci pintu kamar ku rapat - rapat. Setelah aku berganti baju, dia mengetuk pintu kamar ku.
Tok, tok, tok. " Lilian, makan malam sudah siap."
Hah? Jadi tadi dia masak? Aku keluar dari kamar dan menuju dapur. Dia memasak ini sendiri? Bukan dengan sihir kan? Aku menatap Lee, ternyata dia sangat cocok menggunakan celemek itu menambah pesona nya.
"Ada apa? Apa makanannya tidak sesuai selera mu?" Lee bertanya.
"Tidak, ini makanannya sesuai dengan seleraku. Terimakasih." Aku mengambil piring dan mulai memakannya. Aku tidak mengira makanannya akan seenaknya ini. Dia sangat jago memasak.
"Apa kau bisa mengajari ku cara memasak? Aku tak bisa memasak seenak ini." Tanya ku.
"Boleh, besok kan kau libur sekolah aku akan mengajarimu memasak." Lee tersenyum pada ku.
"Terimakasih."
~~~~~~~~ Keesokan harinya ~~~~~~~
"Lilian kau harus menimbang berat tepung nya dulu, lalu memasukan ke wadah sedikit sedikit agar tepung nya tidak berantakan."
"Maaf."
"Lilian kau harus mengocok telur nya menggunakan mixer dengan kecepatan sedang." Tak lama kemudian. "Tuh kan, telur jadi kemana - mana."
"Maaf." Aku yang meminta Lee untuk mengajari cara membuat kue agar ketika di rumah bibi aku bisa membuat kue ulang tahun untuk bibi ku, tapi itu tak semudah yang ku bayangkan.
"Lilian kau jangan menggunakan api yang terlalu besar itu bisa.." Tak sempat Lee bicara dapur meledak. DDUUAARRR.
Lee menghela nafas sambil menggerakkan tangannya, dan dapur pun kembali seperti semula.
"Itu sihir?" Aku tercengang.
"Iya."
"Berarti makanan yang semalam?" Aku tersadar.
"Bukan! Apasih yang kamu pikirkan. Gak mudah menggunakan sihir." Lee menjitak ujung kepala ku.
Lee pun mengambil kue yang ada di dalam oven, ternyata kue yang ku panggang tadi menjadi warna hitam.
"Haiiihh.. kita ulangi dari awal." Lee menghela nafas.
Percobaan membuat kue 1 = DDUAARR
Percobaan membuat kue 2 = DDUAARR
percobaan membuat kue 3 = DDUAARR
~~~Hasil yang sama~~~
"Kau sudah tiga kali meledakkan dapurmu sendiri. Sebenarnya apa masalahnya?" Lee Kesal.
"Aku juga tidak tahu." Aku mengangkat kedua bahu ku.
Lee tampak kesal. Aku memberanikan diri. "Maaf, sebagai ganti nya aku akan mengajak mu pergi keluar."
"Kemana?"
"Entahlah, kita bisa pergi ke taman bermain? Ke restoran? Atau kemana saja."
"Kapan?"
"Bulan depan sekolah akan mengadakan liburan musim panas."
"Baiklah. Kita akan ke taman bermain." Lee menganggukkan ajakanku.
"Janji ya." Aku menunjukan kelingkingku, dan kami melakukan janji kelingking.
~~~~~~~~~ Satu bulan kemudian ~~~~~~~
Aku dan Lee pergi ke taman bermain, tapi aku tidak menyangka Lee mengajakku ke rumah hantu. Dari luar suasana tampak seram.
"Lee? Beneran kita kesini?" Tanya ku. Tangan ku sedikit gemetar.
"Iya, kenapa takut?" Lee mengejek ku.
"Siapa yang takut." Aku menarik Lee masuk ke rumah hantu. Lee tersenyum.
Kiikk Kiik aku mendengar suara kursi goyang. Aku mempererat genggaman ku ke lengan Lee.
"Katanya gk takut?"
"S-siapa yang takut? Aku cuman gak mau kamu kesasar." Aku mengelak.
Tiba - tiba sesuatu ada yang merangkul ku. "Lee? Kamu merangkul ku?" Tanya ku gemetar.
"Tidak, tangan ku disini dan yang satunya kau genggam." Lee menunjukkan kedua tangannya.
Hii hii hii aku terkejut dan refleks memeluk Lee, dan menangis.
"Hiks hiks... Leee usir hantu nya!!!" Aku terkejut dan menangis sejadi - jadi nya.
Lee mengusir hantunya. Aku terduduk lemah karena merasa lega. "Sudah - sudah. Untuk apa nangis. Ayo kita keluar." Lee menenangkan ku.
"Aku tidak bisa berdiri, kaki ku lemas." Akhirnya aku digendong dipunggung Lee sampai keluar rumah hantu.
Aku diturunkan oleh Lee di tempat duduk. Lee membeli air putih dan menyodorkan ku. " Kalau tahu begini, aku tidak akan membawamu ke rumah hantu. Kenapa kau sangat takut tadi?"
"Aku takut kegelapan dan tempat sempit."
"Kenapa kau tidak bilang?" Untung saja dia tidak pingsan.
"Aku mau minta maaf kepada mu, karena satu bulan yang lalu aku telah meledakkan dapur." Aku menjelaskan.
"Haiihh.. aku sudah melupakannya. Tidak perlu minta maaf." Lee berbicara lembut sambil mengelus kepala ku. "Ayo kita pulang. Besok kau mau kemana? Aku akan menemanimu."
"Beneran?"
"Iya."
"Baiklah, besok kita akan memulai tur!!"
Perasaan ku tidak enak. Lee berfirasat buruk.
Keesokan hari nya, aku dan Lee pergi ke taman hiburan dan menaiki roller coaster. Lee tampak tegang ketika permainan akan dimulai. "Jangan takut. Ini menyenangkan kok." Roller coaster mulai meliuk - liuk dengan cepat. Aku kegirangan tapi Lee hampir muntah.
Setelah roller coaster selesai, Lee berjalan meliuk - liuk seperti roller coaster." Kita istirahat dulu. "Aku menjulurkan air putih kepada Lee.
"Aku tidak menyangka kau akan mabuk, Lee."
"Ini pertama kalinya aku naik roll apalah itu." Lee memegangi kepala nya.
Hahaha aku tertawa kecil melihat tingkah nya. Baru pertama kali ini aku bermain roller coaster bersama teman. Aku ingin mengajak nya naik bianglala, tapi sepertinya dia takut ketinggian. "Ayo kita cari makanan." Lee mengangguk dan mengikuti ku kemana-mana. Setelah makan siang kami beristirahat sambil memakan es krim.
"Panas - panas begini memang enak makan es krim." Ucap Ku.
"Iya. Setelah ini kita kemana?" Lee bertanya.
"Ayo kita ke taman sana. Disana kita bisa bermain perahu bebek." Aku mengajak Lee, sebagai ganti tidak naik bianglala.
"Baiklah, ayo kita kesana." Lee menarik tangan ku, dan kami bergandengan menuju perahu bebek.
Setelah sampai dimana tempat perahu bebek, aku menaiki nya bersama Lee. Aku menikmati udara sejuk sedangkan Lee yang mengayuh dan menyetir perahu.
"Apa kau bahagia?" Tiba-tiba Lee bertanya.
"Iya, aku sangat ba-" tak sempat aku menyelesaikan perkataan ku tiba - tiba topi ku terbang, aku hendak mengambilnya dan hampir terjatuh ke kolam. Untung saja Lee menarik ku dengan cepat.
"Kau tidak apa - apa? Tanya Lee.
Terlalu dekat. Aku menjauh dari Lee. "Iya, aku tidak apa - apa."
"Kau hampir saja jatuh ke kolam, kita tidak tahu seberapa dalam kolam ini. Hati-hati lain kali."
"Baik..." Setelah menaiki perahu bebek kami berjalan jalan ditaman. Topi ku terjatuh dikolam.. karena kasihan Lee membelikan ku gulali!
"Wah.. mesra sekali mereka, mereka bergandengan dengan pakaian couple." Salah satu pengunjung taman berkata seperti itu.
Aku tersadar bahwa kami dari tadi bergandengan tangan! Aku langsung melepas tangan ku dari Lee begitupun juga dengan Lee. Aku juga baru melihat bahwa baju ku dan baju Lee sama sama sweeter dengan warna yang manis, aku berwarna pink dan dia berwarna hitam. Aku malu di gosipkan orang - orang. Aku langsung menarik Lee keluar dari kerumunan.
"Kenapa kau tidak melapas tangan ku? Aku kan sudah sembarangan memegang tanganmu." Aku mengomel ke Lee.
"Memangnya kenapa?" Jawab Lee dengan santai nya. Oh tidak ini orang gimana sih. "Sudah lah, ayo kita pulang."
Aku berjalan bersandingan dengan Lee menuju pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah. "Malam ini aku akan memasak nasi goreng kesukaan mu." Lee memakai celemek dan mulai memasak. Bukan pertama kali nya aku melihat Lee memasak, tapi entah kenapa aku suka gaya nya diwaktu memasak. Beberapa saat kemudian, Lee menaruh nasi goreng dipiring ku dan kami makan bersama.
"Terima kasih hari ini kamu mau menemaniku tur seharian." Aku tersenyum kepada Lee.
"Sama - sama. Lilian?"
"Ya?"
"Tidak apa - apa lanjutkan saja makan mu."
Tak terasa musim panas berakhir dan aku harus kembali sekolah dan mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan.
Ketika tiba di sekolahan, Ash mendekati ku dan menyatakan cinta kepada ku?! Aku harus bilang apa? Aku terkejut melihat Ash memberikan ku setangkai bunga mawar. Aku tidak tahu makna cinta sesungguhnya.
"Maaf Ash, tapi sepertinya kita hanya bisa menjadi teman saja.'' Aku tersenyum kecil.
"Kenapa Lin?" Ash kecewa.
"Karena dia sudah punya pacar." Tiba tiba Lee berdiri dibelakang ku.
Lee? "Kenapa kau kesini?" Tanya ku kepada Lee. Lalu Lee menyodorkan bekal ku yang tertinggal dirumah.
"Kan sudah kubilang hari ini aku akan membawakan mu bekal. Sayang.." Lee tersenyum pada ku. Wajah ku memerah. Apa - apaan kalimat sayang itu.
"Lilian, jadi dia pacar mu?" Ash bertanya pada ku.
"Iya, maaf Ash." Aku menggandeng tangan Lee.
"Baik lah, tapi kita masih bisa jadi teman kan?" Ash sedikit kecewa.
"Iya." Aku menjawab seperlunya saja, dan mengambil bekal yang diberikan Lee lalu pergi.
Tak lama kemudian muncul gosip tentang ku disekolahan. Aku tak memperdulikanya karena malas. Ketika jam pulang aku di hentikan oleh 2 siswi penggemar Ash.
"Heh! Kamu kan yang nama nya Lilian?" Tanya kedua siswi itu.
"Iya, kenapa?" Aku menjawab tanpa ekspresi.
"Bisa - bisa nya kau menolak Ash? Dia kurang apa coba?" Ucap salah satu siswi itu.
"Kalau kalian mau ambil aja, buat Ash menyukai kalian." Aku melewati mereka dan pulang. Dan dari situ, aku di kucilkan di kelas.
Sesampainya di rumah. "Lee bagaimana bisa kamu tadi tiba - tiba ke sekolah? Terus kalimat 'Sayang' itu?" Tanya ku pada Lee.
"Entahlah, aku berfirasat kau akan diganggu oleh serangga. Masalah kalimat 'sayang' itu kalau kau mau aku akan memanggil mu terus seperti itu." Lee tersenyum, itu membuat ku jengkel.
Aku tersipu dan berlari masuk ke kamar.
~~~Malam kelulusan~~~
Tak terasa waktu berlalu, besok sudah hari kelulusan.
"Lee, besok aku sudah lulus SMA! Apa kau mau ikut dengan ku ke negara C?" Tanya ku kepada Lee.
"Kenapa kau tidak tinggal disini saja? Kau mau meninggalkan ku? Kita kan keluarga..." Tanya Lee.
Kelaurga? Ya, selama ini Lee telah mewarnai hidupku yang suram.. apa aku tinggal disini saja?
"Lin?"
"Ya?"
"Mungkin ini terlalu mendadak, tapi.. aku suka pada mu." Lee menyatakan cinta pada ku. Beberapa bulan yang lalu Ash, sekarang Lee?
Aku kelabakan menjawab cinta nya. '' A-aku.. besok! Aku akan memberikan jawaban." Aku berlari masuk kekamar ku. Jantung ku berdetak cepat, apakah aku juga menyukai nya?
~~~~~~~~ Hari kelulusan ~~~~~~~~
Setelah menikmati acara kelulusan ku, aku bertekad untuk menerima cinta dari Lee. Setelah sampai di rumah aku mencari Lee.
Lee? Kemana dia? Biasanya dia duduk di sofa dan melihat tv. Aku mencari di dapur, kamar mandi, sampai ke kolam teratai dia tak ada. "Lee? Apa dia bersembunyi?" Aku mencari di kamar ku, siapa tahu dia memberiku kejutan. Iya, dia memberikan kejutan.. tapi aku tak menyangka bahwa kejutannya surat yang berisikan.
"Lin. Terimakasih telah hadir di hidupku, selamat atas kelulusanmu sayang dan kau akan masuk ke universitas. Jangan mencari ku, dan lupakan lah aku karena aku akan selalu bersama mu. jangan menangis, kau jelek jika menangis hahahah. Aku mencintaimu Lilian." Itu isi surat nya.
Perasaan ku tidak enak, aku mencari lagi di ruang tv, aku terduduk dan menangis sejadi jadi nya. "Dia bercanda kan? Iya kan? Lee keluar! Aku tidak suka ini!!!" Aku menjerit dan menangis.
Tiba tiba mama datang entah dari mana dan memeluk ku. "Sayang.. dia cuman ilusi. Dia gak nyata." Mama menenangkan ku.
"Engga ma.. dia nyata.. dia bukan ilusi." Aku mengelak.
"Dia ilusi yang 'tak sengaja' kau buat sayang. Mama minta maaf telah membuat mu seperti ini." Mama minta maaf pada ku.
"Apa maksud nya? Aku yang buat?" Aku bertanya tanya.
"Iya sayang. Maaf kan mama karena tidak memberikan kasih sayang dari awal. Mama mengira dengan perlakuan mama ilusi itu tidak akan ada karena kau tidak mengerti akan cinta dan kasih sayang. Tapi mama malah membuat kesalahan besar. Maaf kan mama sayang."
Aku masih tidak percaya, ternyata mama tahu semua nya? Apa mama pernah mengalami nya? Karena syok aku pingsan di pangkuan mama.
"Maaf kan mama. Mama tidak mau kau mengalami hal yang sama seperti mama. Mama tahu itu sangat menyakitkan tapi itu hanyalah ilusi."
"Maaf kan mama sayang. Mama mengira jika membesarkan mu tanpa cinta dan kasih sayang kau tidak akan merasakan ini. Tapi itu malah memperburuk keadaan."
"Maaf kan mama, maaf kan mama." Mama juga menangis melihat keadaan ku.
Setelah menangis hebat, aku memutuskan untuk masuk universitas di negara K dan tinggal bersama mama dan papa.
"Sayang, mama akan menunggu di mobil." Ucap mama.
"Iya ma." Aku mulai berjalan keluar rumah. Lee terimakasih telah hadir dihidup ku. Terimakasih kau telah mengajariku apa itu cinta dan kasih sayang. Mungkin kenangan ini tidak akan pernah ku lupakan.
Ketika aku sampai di halaman depan, aku berhenti dan melihat rumah itu lagi. "Terimakasih, aku sungguh sangat berterimakasih Lee. Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi, sekarang maupun dimasa depan." Aku pergi menuju mobil mama.
"Aku juga mencintaimu, Cowok ilusi ku."
~~~~~~~~~~~ TAMAT ~~~~~~~~~