"Aku hamil"
Tanganku gemetar meremas benda pipih yang saat ini aku pegang, tangannya tak kalah bergetar saat meraih benda itu dari tanganku.
"Aku harus apa?"
Dia masih berdiam diri, mematung di tempatnya berdiri. Aku berdecak kesal buliran bening tak bisa aku tahan lagi.
"Dian!"
Bentakku rupanya tak juga menyadarkan lamunannya, entah apa yang dia pikirkan mungkin dia sedang mencerna apa yang sudah terjadi di antara kami.
Kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas, kesalahan terbesarku saat aku dengan begitu mudahnya terbawa suasana menyerahkan semua yang aku punya pada nya.
"A a apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya tergagap, tanganku mengepal kesal aku berbicara dengannya.
"Kamu tanya aku? ck.." "Harusnya kamu udah mikirin ini sebelum kamu ngelakuin apa yang buat kita ada di situasi ini sekarang Dian!"
Emosiku memuncak, benar benar memuncak dia malah menundukkan kepala meremas rambutnya kasar mungkin dia pun bingung dengan keadaan kita sekarang.
*
*
*
"Ibu kecewa sama kamu Nita,gak seharusnya kamu lakuin ini sebelum kamu menikah. kamu bahkan belum selesai sekolah, apa yang akan kamu lakukan sekarang? bagaimana dengan mimpimu? bagaimana dengan kehidupan mu nanti Nita? kamu bahkan masih kecil, kamu masih belum dewasa untuk menjalani kisah pernikahan. Menikah tidak segampang itu Nitha"
Aku menangis tersedu di pangkuan ibu, aku tetap harus jujur bukan? meski aku tidak sanggup mendengar apa yang ibu lontarkan padaku.
Ibu benar, aku masih belum dewasa. Tapi apa boleh buat, anak ini tetap harus punya ayah kan? tidak seperti aku yang tumbuh hanya dengan belaian kasih seorang ibu. aku tidak ingin itu terjadi pada anakku.
"Maafkan aku Ibu..Maaf"
*
*
*
Setelah kedua belah pihak keluarga bertemu dan berunding akhirnya hari ini pun tiba, hari dimana Dian mempertanggung jawabkan perbuatannya kepadaku.
"SAH!"
Pupus sudah harapanku, mimpi besarku. Bahkan aku harus mengorbankan sekolahku pihak sekolah sudah mengetahui semua ini dan memutuskan untuk mendrop-out aku dan Dian.
*
*
*
3 tahun sudah berlalu semenjak kejadian itu, Anakku sudah tumbuh besar menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Tapi tidak dengan kisah rumah tanggaku, setelah memutuskan untuk menikah hari itu sikap Dian berubah dingin dia bahkan tidak perduli saat aku melahirkan anaknya.
Aku benar benar berjuang sendiri, tanpa Ibu tanpa Suami tanpa didampingi siapapun. Aku sempat ingin menyerah saat merasakan bagaimana sakitnya melahirkan, tapi saat ingat anak yang aku kandung ini adalah harapanku satu satunya aku memutuskan untuk berjuang walaupun berat.
Kami memutuskan untuk tinggal berjauhan dari Ibu ataupun orang tuanya Dian, aku tidak ingin selalu tergantung pada mereka meski Dian saat ini masih bekerja bersama Papanya tapi apa boleh buat anakku masih membutuhkan makan dan kebutuhannya harus di penuhi bukan?
Dian masih memberikan ku nafkah setiap bulan, meski bersikap dingin padaku dan anakku.
"Maaf kan Mama nak."
Ku kecup pucuk kepala anakku saat tertidur, jujur saja aku lelah mengarungi bahtera rumah tangga yang tidak jelas seperti ini. Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik dengan melayaninya sebisa yang aku lakukan, Tapi tidak dengannya dia bahkan tidak pernah menyapaku selain saat dia membutuhkan bantuan ku.
CEKLEK!
Pintu rumah terbuka menampakkan wajah lelah Dian, aku menghampirinya membawakan secangkir teh hangat lalu menyimpan di hadapannya yang saat ini sedang duduk menyandarkan kepalanya di sofa.
"Mau mandi sekarang? Aku panaskan air dulu ya"
Tanyaku yang di sambut dengan gelengan kepalanya. aku menghela nafas pelan, lalu memutuskan untuk menyiapkan makan malam saja.
"Aku boleh bicara?"
Tanyaku saat sudah melihatnya menyelesaikan makan malamnya, dia menatapku dengan alis yang terangkat sebelah.
"Apa kamu akan terus bersikap seperti ini padaku?"
Suaraku tercekat, aku benar-benar lelah dengan semua ini. menahan segala gejolak yang bersarang di dadaku aku takut khilaf dan membangunkan anakku yang sudah tertidur.
Dian menghela nafas panjang lalu bersedekap dada,
"Kamu mau aku seperti apa? Kamu ingin aku tanggung jawab kan? Sudah aku lakukan! aku bahkan mengorbankan semua mimpiku dengan menikahimu saat itu, bahkan aku harus rela capek bekerja setiap hari demi kamu dan anakmu "
DEG!
Jadi itu yang dia rasakan selama ini?
mengobarkan katanya?
rela capek? ck..
"Jadi?.. Selama ini kamu anggap aku dan anakku beban di kehidupan kamu?"
Dian mengangkat bahu nya acuh, mulai akan beranjak dari meja makan tapi aku menghentikannya.
"Baiklah, kalau seperti itu. mulai saat ini, kamu gak harus capek bekerja demi aku dan anakku kamu juga gak harus bertanggung jawab atas aku dan anakku. kamu bebas memilih dan menikmati hidup kamu sekarang, Aku akan mundur aku lelah Dian!"
Tangisku pecah meski tak bersuara, semua rasa yang aku pendam selama ini sama sekali tak bisa aku ungkapkan. aku kehabisan kata-kata mendengar jawaban atas sikap dingin Dian selama ini padaku.
Aku berlalu dari hadapannya, menyiapkan baju dan barang barang milikku dan anakku. tak ada penolakan dari Dian ataupun mencegah apa yang aku lakukan Ck.. Rupanya ini yang selama ini dia inginkan, Baiklah aku pun sudah lelah.
Aku menggendong anakku yang sedang tertidur lalu menenteng tas besar dan mulai keluar dari rumah ini. sambil sesekali menyeka air mataku yang terus saja berjatuhan tanpa berbicara apapun. syukurlah anakku tetap lelap tertidur meski aku bawa berjalan dengan cepat.
Aku menyusuri jalanan di tengah gelapnya malam, berhenti di sebuah halte lalu terduduk dengan sendirinya. Lutut ku bagai tak bertulang, Bagaimana bisa aku bertahan selama bertahun-tahun dengan orang yang hanya menganggap ku beban terbesar nya.
Aku berfikir keras kemana tujuan ku saat ini, aku tidak bisa pulang ke rumah Ibu dengan keadaan seperti ini. Ibu sama sekali tidak tahu tentang perlakuan Dian kepadaku selama ini, aku tidak ingin menambah kekecewaannya kepadaku.
Setelah bus terakhir mendekat dan berhenti di hadapanku aku pun memutuskan untuk ikut naik dan tujuanku saat ini adalah menjauh sejauh jauhnya dari Dian ataupun Ibu.
*
*
*
"tulhuawohhu hahat awwohutomah lamyaih wayamyuah wayamwatuullau tupuahhaha"
Aku menahan tawaku mendengar anakku mengaji, Namanya Nayswa umurnya sekarang sudah 4 tahun lebih tapi masih belum bisa berbicara dengan benar.
"Mama mama, Atu sutah bica mengatji ya mah atu pintalkan ma"
"Iyaa anak mama pintar, Shalehaa cantik seperti mama"
Ucapku sambil menggelitikinya dia tertawa terbahak bahak, hanya tawanya yang manis yang selama ini bisa menjadikan pelipur lara ku.
2 Tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk tinggal di desa, Disebuah rumah sederhana bersama Nenekku.
Aku benar-benar meninggalkan kisah rumit ku bersama Dian, menjauh sejauh jauhnya dari Dian mendinginkan pikiran dan otakku dari keadaan yang menyiksa.
Selama itu pula tidak pernah ada niatan baik dari Dian untuk mencari ataupun menyusulku, hanya Ibu saja yang sering mengunjungi ku setelah mengetahui apa yang terjadi padaku.
"Nit, apa gak sebaiknya-"
"Nita sudah memutuskan untuk bercerai dari Dian nek, nanti besok Nita akan ke kota mendaftarkan gugatan ke pengadilan agama"
Nenek menghela nafas menurutnya Aku tidak harus bercerai masih bisa memperbaiki semuanya, tapi aku tidak mau dan tidak ingin membuat luka ku semakin menganga.
*
*
*
" Tok..Tok..Tok.."
Dian mempermudah semuanya dengan tidak pernah menampakkan batang hidungnya sampai sidang terakhir memutuskan aku berhasil membeli talak dan resmi bercerai dari Dian.
"Kamu kuat sayang" Ucap ibu sambil memelukku saat aku keluar dari ruangan persidangan.
Aku tersenyum, ini lebih baik dari pada harus menyiksa diriku dengan terus mempertahankan rumah tangga yang tidak jelas.
"Makasih bu." aku membalas pelukan Ibu,
Berawal dari kesalahan besar melepas mahkota berhargaku, sampai bertahan bertahun-tahun hidup di bawah gunung es dan mendinginkan pikiran selama 2 tahun penuh menjadikan aku menjadi wanita dewasa.
Tidak ada lagi yang aku harapkan selain kebahagiaan anak,Ibu dan Nenekku yang sudah membantu ku saat aku benar-benar berada di titik terendah hidupku.
Selamat tinggal Dian, Kesalahan terbesarku rupanya bukan malam itu.
Tapi..
Saat aku mengenal dan mencintaimu.
End~