Mas Janu tiba-tiba melamarku, ketika aku menyangka ia berselingkuh. Insiden dimana aku cemburu buta. Cieilah Mas...
Yang ternyata Mas Janu bertemu dengan Sarah dan Darel, untuk mendiskusikan rencananya menyewa restauran mereka untuk melamarku.
Aku mulai memanggilnya Mas saat dia mengajakku menikah. Semburat merah dipipinya mucul saat aku memanggilnya Mas. Dia suka. Aku lebih lagi.
Saat tahu, aku sangat malu, bestie. Tapi itu sudah lewat. Aku memandangi cincin dijari manis kiriku. Iyes. Panggil aku Nyonya Janu Harun. Aku terkekeh.
"Sudah bangun?" Suara serak disebelahku. Kusungging cengiran bahagiaku. Maklum ya Bun, pengantin baru kita.
Ck! Udah 6 bulan kali. Dewi baikku jutek.
Tapi tetep lah masih baru ituuuu~ udah lanjut sana bikin anak! Dewi nakalku berteriak.
Aku masuk dalam pelukan Mas Janu yang telanjang dada. Ah hangat dan wangi. Padahal baru bangun lho dia. Ndak bau jigong sama sekali.
"Hah" ku hembuskan nafasku ketangan lalu kuhirup. Untung wangi juga. Udah gosok gigi tadi. Ku dengar kekehan disebelahku.
"Kamu lucu" senyuman mengantuknya saja udah ganteng. Astagah sebucin ini memang saia.
"Aih nak pak Irsyat nih bisa aja" kutabok lengannya malu malu kuciangku. Kalau Gia, Sahabatku, liat sudah dupastikan dia muntah.
Janu menarikku lebih dekap pada dirinya. Menciumi puncak kepalaku.
"Mas, udah ah" aku tahu kalau tak di hentikan ini akan berlanjut dan lama. Bisa-bisa Janu dan aku tak ngantor.
"Gak ah maunya gini aja sama kamu" ia mengeratkan pelukannya. Ya semanja ini dia dan aku sukaaaa...
"Bayi besarnya aku, Ratu juga mau gini aja, terus ntar Mami sama Papi ngegedor kamar kita, kayak kemarin, Enggak enak tau mas" Seminggu ini Mas Janu, berkali lebih manja.
"Hmmm..." Janu malah menenggelamkan wajahnya dileherku.
"Maaas iihh, buruan mandi" kudorong dadanya. Walau sia-sia.
"Mmmm... Nanti Sayang" Mulai mengecupi leherku. "Masshh" Haduh kalau gini pasti...
Tok... Tok...
"Mas Janu jangan dikurung terus mantu mami"
"Mas Janu... Mas..." Aku menghela nafas. Safe by Mami mantu... thanks Mi...
Aku terkekeh melihat muka asem Mas Januku. Aku kecup pipinya.
"Aaargh..." pelan dengan menggaruk acak kepalannya. Ia bangkit berjalan lunglai menuju pintu.
"Pagi Mam" Mas Janu, berjalan mendekat Mami Rosa dan mengecup pipinya. Aku yang ada di belakang Mas Janu. Memberikan jempolku pada Mami.
Mengucapkan makasih lewat tatapan mata. Ya aku, Bunda dan Mami juga Alana adalah Bestie.
"Kamu tuh Mas! Bener kata Sarah, telat puber. Udah enam bulan juga dikekepin terus mantu Mami ini. Sini Ratu bantu Mami masak. Entar kalo ditinggal, kamu dikekepin sama ini beruang!"
"Yah Mamiiii kan Q harus ngurus suaminya ini Mi" rajuknya.
"Ratu pasti udah nyiapain semuannya, iya kan sayang" aku hanya tetsenyim melihat perdebatan ibu dan anak itu.
"33 tahun juga ngurus diri sendiri bisa, manja banget, Yuk Ratu" Mami mengandengku paksa. Menarik dari rangkulan Mas Janu.
Mas Janu dengan dramannya. Ia menggeleng mengulurkan tangannya padaku, wajahnya mewek-mewek aneh gitu. Tapi lucu... aaahh mau peluk.
*****
Berkutat dengan masakan. Untuk aku bawa buat bekal. Opor ayam, sayur sop dan bakwan.
Aku menyender ke dinding. Pusing. "Sayang" Mas Janu memanggilku, ia sudah rapi. Aku mendekat memciumnya. Wangi favorit ku.
"Mas sarapan duluan aja, aku mau mandi" Mas Janu mengangguk. Ia mengecup puncak kepalaku. Dan melenggang ke meja makan.
Rasanya mual juga pusing melandaku lagi. Apa aku masuk angin. Bentar! Aku meraih tanggalan di meja rias. Aku telat sebulan. Ia aku tak membeli pembalut. Bulan lalu.
Nanti aku minta Mas Janu mempir dulu ke apotik.
"Mas udah sarapan" aku melihatnya sudah ada didepan pintu kamar.
"Iya ayok" ia mengulurkan tangannya. Mengandengku. Kebiasaannya.
"Mi Pi kita berangkat dulu ya" aku mengecup pipi Mami. Dan menyalimi Papi.
Bener-bener makin sayang lah aku.
"Sayang Pak Hamid ada di lobby, nanti papa bareng aku pulangnya" aku mengangguk.
"Aku pulang dulu ya my hubby" kukecup bibirnya kilat.
"Iya ati-ati, nanti bilang ke pak Hamid kecepatan jangan ngebut, kecepatan 40 aja." Astaga keong kali ah...
"Iya Mas sayang, aku pulang" pamitku.
Masuk ke lift. Menuju lobby. Ada Pak Hamid yang menunggu.
"Sore Non"
"Sore Pak Hamid, sudah makan?"
"Sudah Non"
"Pak Hamid ih ilangin kebiasaannya, makin nambah umur harus makin dijaga kesehatannya ya Pak"
"Iya Non, makasih saya sudah makan habis bekalnya Non Ratu"
"Nah gitu, kan Ratu jadi seneng, pak Nangi mampir ke apotik ya"
"Siap Non" Ia sangat bersyukur Tuan mudanya mendapat istri yang baik juga perhatian, bukan hanya pada Tuan mudanya tapi pada para pegawai.
*****
Dua hari kemarin aku sudah mencoba tiga tespack. Hasilnya POSITIF.
Pusing dan mualnya tak seperti kemarin cuma aku menjadi suka mengantuk. Nanti saja aku beritahu Mas Janu. Saat Ulang tahunnya 3 hari lagi. Dan Dia sekarang juga sibuk.
"Hei Ratu, pekerjaanmu lagi banyak ya? Sayang ayo pindah kekamarmu." Setelah diantar Pak Hamid, saat melepas sepatu aku ingin merem bentar padahal malah ketiduran. Sama kayak sekarang.
"Iya Mam, ngantuk banget tadi." Ah pusing lagi. Aku memijat pelipisku.
"Nanti Mami omelin suamimu itu. Yang diutamain cuma kerjaan sama kayak Papimu. Nanti biar Mami omelin itu berdua, Ayo sayang pindah kekamar aja.
Aku berdiri. Pusing sangat. Benda disekitarku seperti bergerak. Aku oleng, aku memejamkan mata.
"ASTAGA RATU" Mami Rosa, menarik tanganku dan menopangku.
"Kamu sakit?"
"Pusing Mam, Mual" kataku lemah.
"Dari kapan?" Tannyanya. "Semingguan Mam" aku memijit lagi pelipisku.
"Isi kamu ini" Kata Mami memapahku kemeja makan. "Non Ratu kenapa Nyah?" Bi Atun tergopoh mendatangiku.
"Bi buatkan teh hangat ya"
"Nggih Nyah" Bi Atun kembali lago ke dapur. Tak lama ia membawa se-mug air kecolatan bening itu, menyerahkannya padaku. Ku hirup wanginya. Enak. Kuminum. Hangat sampai ke dalam.
"Bi panggil Pak Hamid minta siapkan mobil ya"
"Kita kerumah sakit, sekarang" perintah aku tak bosa menolaknya. Kuanggikan kepalaku.
*****
"Selamat ya Bu, kandungannya berusian 4 minggu. Pada saat ini janinnya hanya sebesar kacang merah. Ibu dan bayinya sehat. Jaga pola makannya ya bu" Dokter Bulan.
"Dok boleh minta satu lagi" Mami Rosa yang sedari tadi memelukku dengan hari juga bahagia.
"Boleh ibu" senyum merekah di bibor Mami Rosa.
"Mi jangan kasih tahu Mas Janu dulu, mau aku buat jadi hadiah ulang tahunnya,"
Pintaku.
"Okay Mami ikut kamu"
*****
Aku sudah bersiap dengan kado di laci nakas samping ranjangku, menunggu pukul 12 malam yang tinggal semenit lagi.
Aku beranjak bangun. Ia terbangun. "Mau kemana?" Tanyanya dengan suara serak.
"Bentar, aku haus mau ambil minum"
Aku berlalu cepat.
"Yaudah aku ambilin" ia lalu berdiri. Aku mengikuti dengan mengambil kadi dinakas. Mas Janu berjalan lunglai mengantuk. Rumah dalam keadaan gelap.
Kita menuju ruang makan.
Klek!
dor...
dor...
"SURPRISEEE...."
"HAPPY BIRTHDAY"
dor...
dor...
Disana ada Mami, Papi, Bunda, Alana, Irwin, Sarah, Darel dan si mungil, Anastasia, juga ada mbok Atun, pak Hamit dan Saepul.
Aku menatapnya. Tampang bangun tidur yang kaget. Mas Janu terdiam.
"Ayo Mas" Aku menariknya.
"Tiup lilinnya dulu" Mas Janu mengikuti meniup lilin.
Semua memberi selamat tiba giliranku. "Ini kadonya dari kita" alisnya mengkerut. Ia membuka. Matanya melebar. Kemudian mengambil tespack juga melihat lembaran foto usg.
"Really?" Ia mengamatinya,
"Little Us? Really" Matanya berkaca,
"Yeah Ayah, meet Us" Tangannya aku raih, ku letakan pada permukaan perutku. Bergetar, Mas Janu mengelus pelan.
"Beneran Kak kamu hamil, selamat!" Alana memelukku.
"US?" Kuangguki.
"Twins?" Kuangguki lagi. Air matanya menetes.
"OH GOD, I'M AYAH FOR TWINS!!!" Dengan gembira ia perlihatkan foto pada keluarga.
Iya aku hamil kembar. Bunda sudah aku beritahu setelah aku pulang dari rumah sakit. Aku kirimkan foto usg juga pada Bunda.
*****
"Sayang, nanti aku anterin kamu pulang dulu ya"
"Enggak usah mas aku naik gocar aja. Lagian itu lagi sengit banget. Takutnya kalau ditinggalin malah jadi runyam.
"Okeh kamu pulang sekarang aja, aku telpon Pak Hamid, gak ada naik yang lain, tunggu disini"
Mas Janu menubrukku, mengangkatku tinggi. "I Love You istriku" memutar badanku beberapa kali.
"HEH! MAS!! HATI-HATI! ITU CUCU MAMI KEGENCET, UDAH TURUNIN!!" Omel Mami Rosa ngeri.
Mas Janu menurunkanku, lalu menangkup wajahku dan mengecupi seluruh wajahku. "Makasih sayang" mengecup bibirku dalam.
"Selamat Ulang Tahun Ayah! Semoga makin baik di usia barunya, jaga kami dan Ibuk ya" Mas Janu mengelus perutku lembut. Matanya berkaca lagi.
"Cengeng!" Irwin mengejek. Hanya ditatap tajam oleh Mas Janu.
"Iya pasti pasti, baik-baik ya kalian see you soon twins, Makasih ibuk, kalau mau apa-apa bilang Mas ya" Aku mengganguk.
"Astaga langsung dua, hebat nyusul kami kamu" Sarah mendekat dengan Darel.
"Berapa usianya?" Darel memeluk Anastasia yang sibuk bermain liurnya dengan gembira.
"4 minggu" Mengelus pipi gembul, gadis mungil yang mirip banget Sarah itu.
"Hai keponakan ongkel, sehat terus ya" Irwin mengelus perutku. Gemasnya. Adik Mas Janu ini wajahnya sebelas duabelas dengannya tapi versi mudanya.
"Onty juga mau ngelus" Alana ikut mengelus.
"Selamat Nak, Papi senang langsung dapet dua cucu aja." Papi mengecup kepalaku sayang.
Aku memeluknya. Aku mendapatkan kasih sayang seorang Ayah dari Papi. Ayahku meninggal waktu aku SMP.
Aku mempunyai adik, Rama Adiputra, dia seorang pengabdi negara. Sekarang sedang menjaga perbatasan. Ya kami selalu kuatir padanya. Tetapi Bunda selalu mendukung apa pun yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku yang selalu marah-marah jika ia tak susah sekali dihubungi.
tapi tetap aku mengiriminya foto usgku. lalu beberapa detik kemudian ia video call. tumben cepet! ternyata ia sedang libur. kangen adik kecilku.
*****
Darel menghadiahi Mas Janu, paket liburan babymoon ke Yunani. Aku tercengang waktu nikah kami diberi paket liburan ke Maldives lalu sekarang. WOW!!
Kami menjelajah salah satu kota di negara Yunani itu. Rumah khas dengan dinding berwarna putih biru. Santorini. Lalu memutuskan menginap disalah satu hotel.
"Makasih sayang, buat hadiah ulang tahun paling indah. Ketemu kamu, nikah sama kamu, lalu ada twins. Aku sangat bersyukur" Mas Janu memelukku. Kami berpelukan disofa.
"Iya Mas sama-sama, makasih udah jadi bucinnya akuh" aku terkekeh. Kepala Mas Janu beringsut mendekati perutku. Menciumnya.
"Iya aku bucin kalian" ku elus kepalanya. Rambut halus tebalnya membuatku iri. Semoga nanti Twins memiliki rambut tebalnya.
Ya malam ini kami habiskan dengan cunddling disofa sembari nonton netflix. Setelah lelah berkeliling pagi hingga sore tadi.
aku Ikut menyusulnya yang sudah lebih dulu terlelap.
*****
makasi sudah mampir dan manikmati sekelumit kehidupan Ratu dan Janu. komentar dan like boleh lho^^
lazyafternoon