Tentang Tali Hubungan
Ini bukan bagaimana kita memulai, tapi bagaimana ketika kita menjalani sebuah hubungan yang menyatukan dua perbedaan. Hubungan yang tidak ada kata sama, hubungan yang penuh ikhlas dan menerima. - Bayu
Permulaan
Aku kaget melihat apa yang di depanku sekarang, laki laki membawa keluarganya dengan beberapa hadiah. Dia tersenyum, sama seperti senyuman yang kulihat kemarin saat acara kecil kecil an milik keluargaku. Bibirnya mengucapkan kata kata sakral yang teman teman seumuran diriku ingin kalimat itu diucapkan orang terkasihnya, aku pun juga.
"Bapak, saya ingin melamar anak bapak." ujarnya mantap tanpa ada beban, nyaring dan penuh keyakinan. Aku terkaget, mataku mendelik saat kata itu terlontar. Ayahku tampak tersenyum samar, jawabannya sudah tertebak, yaitu iya, namun pasti ada beberapa ujian. Bagaimana pun lelaki itu sangat memasuki semua kriteria yang ditetapkan ayah.
Ayahku menjawab, "Bapak akan menerima lamaran kamu, tapi ada syaratnya." lelaki itu menatap wajah ayahku, aku melihat jelas sebuah tekat ada dalam dirinya. Aku takut, dan sedikit menyesal mengucapkan kata "aku ikut jawaban ayah." ketika orang tua berkata apakah aku akan menerima apabila ada lelaki yang melamar.
"Apa itu pak?" tanya lelaki itu, aku yakin dia bisa. Lelaki berilmu dengan wajah setampan itu, bagaimana mungkin ada keluarga yang menolak lamarannya. Ayahku menarik nafas pelan, "datang kesini saat waktu sholat lima waktu, bapak ingin melihat bagaimana kamu saat menghadap Tuhanmu."
Lelaki itu tersenyum, tampak senang akan apa yang ayahku utarakan, "baiklah pak, besok subuh saya datang kesini untuk melakukan syarat yang bapak telah tujukan kepada saya." ujarnya pasti.
Kejadian tadi, berlalu begitu lama. Detak jantungku terpacu terlalu cepat, rasanya jantungku bisa keluar dari rongganya. Aku melihat foto masa kecilku, apakah secepat itu seorang perempuan akan menjadi dewasa? Umurku baru saja memasuki legalnya sebuah pernikahan, rasanya aneh.
Aku kenal lelaki yang mengucapkan kalimat sakral itu. Lelaki yang tidak sengaja melontarkan senyumnya kepadaku saat keluar dari ruangan keluarga milik keluargaku, dan aku juga melihat saat dia membalik wajahnya saat aku mendekat kearahnya. Aku tak membalas senyumnya, bagaimana pun dia itu laki laki.
Suara orang mengaji terputar di musholla dekat rumahku, saat itu ayah sibuk mengaji. Tiba tiba, suara ketukan pintu terdengar dan terdengar pula suara khas lelaki kemarin. Tak sengaja aku tersenyum, sebegitu bertekat kah dia? Waktu subuh saja masih berpuluh menit lagi.
"Assalamualaikum." ujarnya saat masuk kedalam rumahku, satu rumah membalas salamnya, termasuk aku, "waalaikumsalam." balasku pelan. Aku berada dikamar, sedangkan dia diruang tamu. Dia nampak sangat dekat dengan ayahku ketika mereka berbincang, nampaknya masalah agama.
Sehabis itu, ayah malah mengetes bacaannya ketika mengaji. Aku terpaku saat mendengar bacaannya, aku tahu alunan nada yang khas ini. Ini adalah suara yang selalu ku dengarkan, suara hadiah dari temanku yang katanya "entah, aku gatau dapatnya darimana.".
Ayahku tersenyum puas saat mendengar betapa indahnya bacaan lelaki itu, dia tersenyum saat mendengar betapa rapinya tajwidnya lelaki itu. "Ya Allah nak, berapa tahun kamu belajar tajwid?" tanya ayahku saat lelaki itu selesai membaca surah yang disuruh ayahku, surah annaba.
Dia tersenyum, "dari saya kelas 7, waktu ibtidaiyah saya memang gabisa dibilang anak baik pak." ujarnya. Ayahku kembali tersenyum, "oala, lama juga. Sekarang umur kamu berapa?" tanya ayah. Aku yang menguping tentu ikut penasaran, dia terlihat dewasa sekaligus lembut diwaktu bersamaan.
Lelaki itu menjawab, "umur saya 25 tahun pak." ayahku kaget saat mendengar itu, "semuda itu nak? Bapak ga nyangka, cara kamu bicara dan dilihat dari ilmu rasanya itu cukup muda untuk jaman sekarang." tanyanya. Aku juga terkejut saat mendengar itu, aku berumur 4 tahun lebih muda darinya.
Senyuman khas terpatri di wajah itu, "ga pak, diatas saya pasti banyak orang yang lebih baik dari saya. Dibanding para aulia Allah, mungkin lebih besar debu dibanding saya." ujarnya, ayah pasti sangat puas dengan jawaban yang berbobot dari lelaki itu. "Lanjutkan tawadhumu, semoga Allah selalu merahmatimu." doa ayahku, lelaki itu mengucapkan amin dengan mengusap kedua tangannya ke wajah seperti biasa.
Suara azan pertama sudah berkumandang, ayahku memandang lelaki itu, "mau ke musholla atau dirumah?" tanyanya. Lelaki itu menjawab sesuai dengan harapan ayahku, "saya ikut bapak, kalau bapak mau dirumah, saya ikut kalau mau dimusholla saya juga ikut."
"Kalau begitu kita ke musholla, Banyu pasti bisa menjadi imam dirumah." ujar ayahku mantap, aku tersenyum kala itu melihat reaksi dari lelaki itu. Dia nampak kaget lalu tersenyum tipis, inikah yang namanya kagum? Jantungku rasanya akan copot, dan pipiku memanas.
Setelah mereka berdua pergi, aku keluar kamar untuk menjadi imam bagi adik dan ibuku. Adik perempuanku masih sangat kecil, ujar ibuku ajarkan saja dia agar terbiasa ketika dibebankan lima waktu untuknya. Kita sholat dengan suasana tentram, damai dan tentu khusu'.
Selesai sholat, ibu menyuruhku untuk memasak sedikit makanan untuk sarapan. Aku memasak ditemani ibu yang selesai membersihkan halaman rumah, tidak banyak membuang waktu sebab rumahku tidak banyak penghuninya.
Saat pertengahan memasak, suara ramai ayah dan lelaki itu berbincang mulai terdengar, nampaknya mereka sudah selesai melakukan sholat, "kayanya ayah sama calon mantu ibu udah dateng, ibu keluar dulu ya." aku menjawab dengan kata "iya." dengan pipi sedikit memanas.
"Calon mantu apanya." gumamku sembari menata piring piring diatas meja makan. Ibu dan ayahku nampak sangat saat berbincang dengan lelaki itu, entah apa jurus yang dia gunakan hingga mereka mudah sekali luluh seperti itu.
"Bener nak Bayu?" tanya ibuku, "iya bu, saya ada kerjaan sedikit dirumah. Saya minta maaf sebanyak banyaknya ya bu." jawab lelaki itu. Nampak lembut dan nyaman didengar saat kalimat itu terlontar. Ternyata, nama dia adalah Bayu, mirip dengan namaku yaitu Banyu.
Setelah dia berpamitan dengan seluruh orang rumahku, kami sarapan bersama dengan celotehan ibu mengenai lelaki bernama Bayu itu. Pujian mengenai paras hingga kekayaannya terlontar sangat banyak dari mulut ibu.
"Nanti dia dateng lagi, kayanya sholat Isya dia disuruh ayah jadi imam." ujar ibu, aku yang mendengar itu tersedak karna kaget, adikku yang berada disebelah langsung memberikan segelas air putih.
Ibuku tampak sedikit tersenyum, "kayaknya kakakmu itu grogi deh sal." goda ibuku, Salma - adikku - hanya mengangguk senang. Hanya mendelik samar kearah mereka dengan pipi yang memerah.
Setelah sarapan, tidak ada yang berbeda dirumah ini, aku tetap hanya berdiam dikamar, ya kecuali datangnya Bayu dengan lontaran ayah dan ibu untuknya. Tapi memang, Bayu mempunyai banyak kelebihan.
Akhirnya, saat yang membuatku sedikit takut datang. Lantunan ayat ayat suci berkumandang, semburat merah pada langit mulai menghilang. Isya sudah dekat, aku menggenggam bawah bajuku erat. Rasanya terlalu gugup untuk dilukiskan sekarang.
Selang beberapa lama, terdengar suara mobil dari arah depan rumah. Ayah nampak berbicara dengan nama Bayu yang ada didalamnya, pasti yang datang Bayu dan keluarganya, sebab inilah penentuan ayah.
Mereka dipersilahkan masuk oleh ibu, aku tidak ikut, sebab ibu menyuruhku untuk hanya berada dikamar, keluar hanya ketika sholat saja. Kedua keluarga itu tampak asik bertukar obrolan, suara mereka nampak nyaring sebab banyak orang disana. Apakah hari ini langsung acara pernikahan? Entahlah, kenapa aku jadi semakin gugup begini.
Kumandan azan sholat Isya mulai terdengar, perempuan disana nampak sibuk menyiapkan tempat sholat mereka. Dan laki laki menuju dapur untuk wudhu, tidak semuanya, nampaknya sebagian masih belum batal.
Selesai semuanya, akhirnya ibu datang kekamarku, meminta untuk keluar, aku mengiyakannya sembari menganggukkan pelan kepala. Saat aku keluar kamar, semua mata tertuju kepadaku, nampaknya saudara Bayu semua yang datang, wajah mereka nampak mirip.
"Nak Bayu, maju nak. Kamu jadi imamnya." turuh ayahku, memang tidak ada sebuah kekagetan besar dari wajah Bayu, nampaknya ini sudah dihitungnya. "Apakah tidak papa pak?" tanyanya, entah kenapa bibirku sedikit naik saat mendengar ucapan itu.
"Tentu nak, ini adalah ujian terakhirnya." jawab ayahku, Bayu tampak tersenyum senang akan itu. Dia langsung ke depan, ketempat sajadah yang ditempati oleh imam. Ibuku tampak tersenyum saat Bayu mulai merapikan pakaiannya.
Bayu memimpin Sholat dengan sangat bagus, bacaannya yang indah dengan suara yang nyaring mampu membius orang lain. Aku pun begitu, suasana hatiku rasanya damai dan indah ketika mendengar jelas alunan dari Bayu itu.
Selesai sholat, aku kembali kekamar. Aku sedikit mendekatkan diri dengan pintu, penasaran dengan apa yang akan ayahku katakan pada akhir kali ini. Mereka duduk dibangku ruang tamu, tampak ramai dengan adik adik Bayu yang sibuk bercerita mengenai kebaikan Bayu.
"Jadi nak Bayu, bagaimana perasaannya sekarang?" tanya ayahku, atmosfir disana sedikit berubah ke fase serius. Bayu tersenyum kecil, "saya senang pak, walaupun ditolak saya tidak sakit hati sebab saya sudah melakukan yang terbaik menurut saya." jawabnya mantap.
Ayahku nampak puas dengan jawaban itu, "Nampaknya bapak tidak-" ujar ayahku tergantung. Adik adik Bayu tampak mengerucutkan bibirnya, aku juga kaget, ayah bercanda?
Senyuman lebar terpatri dibibir ayahku, "bapak tidak bisa menolak." lanjutnya, Bayu yang senang langsung memeluk ayah. Sebesar itukah kebahagiaannya saat ayah menerimanya menjadi pendamping hidupku.
Aku tersenyum lebar saat melihat itu, rasanya ada sedikit gejolak didalam hatiku. Pipiku rasanya terbakar sesuatu yang panas, dan rasanya seperti terbang menembus langit ketujuh.
Setelah selesai acara itu, ibu menyuruhku untuk sedikit berkenalan dengan Bayu ini. Aku keluar, dan duduk diseberangnya, dengan jarak yang cukup jauh dan dikelilingi oleh keluarga.
Dia nampak gugup, namun tidak gentar. Tarikan napas dalam nampak diambilnya, "Namamu Banyu Putri Kencana kan?" tanyanya, membuka sebuah obrolan. Aku mengangguk kecil, rasanya canggung dan, mungkin sedikit rasa senang.
Bayu sedikit tersenyum, aku tau pasti tidak sengaja sebab dia langsung menghilangkannya. Aku tertunduk kala itu, senyumannya sudah terlalu manis. "Aku Bayu, Bayu Pratama. Terima kasih sudah menerima ini, dan mohon kerja samanya." kata kata itu membuat semburat merah dipipiku semakin memerah.
Dan, lagi lagi aku mengangguk kecil. Rasanya sekarang sudah terbang melewati langit ketujuh, setelah itu Bayu terus bertanya beberapa hal dan aku hanya mengangguk dan menggeleng pelan, rasanya kelu saat ingin menjawab.
Setelah selesai semuanya, keluarga Bayu pamit pulang kerumahnya. Rumahku rasanya sedikit berbeda, ibu dan ayah nampak sangat senang atas semua ini.
"Selamat ya nak." ujar ibuku, kita berpelukan. Rasanya hangat dan agak aneh bahwa sekarang aku sudah menyandang status sebagai calon menantu keluarga orang.