Hampir 3 bulan Chalik bersama para Praja lainnya kembali ke Ksatrian Lembah Manglayang pasca cuti semesteran lalu. Abah dan Nyak Chalik berkunjung ke Jatinangor untuk menjenguk dan mengecek kondisi anak bontotnya tersebut.
“Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Abah dan Nyak..” salam Chalik ketika melihat kedua orang tuanya di pintu gerbang PKD. Ia tadi sedang di Wisma setelah makan siang, ketika mendengar panggilan kalau dirinya ditunggu kedua orang tuanya di gerbang depan Ksatrian ini.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.” jawab Abah dan Nyak hampir bersamaan.
“Tau aja neh Abah kalau anaknya udah kangen berat. Tapi tumben mampir ga kasih kabar sebelumnya Nyak? Apa ada kejadian mendesak? Semua baik-baik saja kan?” tanya Chalik sedikit agak cemas.
“Kemaren malem Abah dapet telphone dari Eyang Kyai Pamungkah, katanya kita perlu ke tempatnya secepatnya. Makanya Abah sudah izin sama pengasuh kamu untuk bawa kamu ke Sumedang Chal, kita perlu ketemu segera Eyang Kyai Pamungkah lagi.” ujar Abah sesaat setelah Nyak memeluk Chalik erat.
“Hayu kalau begitu Abah..” jawab Chalik cepat.
“Sebentar, kita perlu tunggu Weli juga Chal.. Eyang Kyai Pamungkah juga bilang untuk bawa anak muda itu.” Nyak menjawab sambil memegang tangan Chalik, lalu kembali bertanya: “Bagaimana kabarmu sekarang Chal? Masih sering mimpi buruk? Trus hubungan kalian sekarang bagaimana?”
“Hm.. Chalik baik-baik saja Nyak.. sudah tidak pernah mimpi buruk lagi akhir-akhir ini.. Trus Chalik juga udah ngelakuin yang diarahkan Eyang Kyai Nyak, Chalik ga pernah deket-deket sama Weli lagi.. dan Weli sepertinya juga mengerti, soalnya walaupun kami satu kelas, tapi kami ga pernah ngobrol hanya berduaan saja. Hubungan kami bisa dibilang berteman normal seperti dengan teman-teman lainnya saja Nyak..” jawab Chalik dan kembali menambahkan ketika Nyak memandang seperti tidak percaya: “Sumpe deh Nyak, Chalik baik-baik aja..”
“Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..” salam Weli menghentikan percakapan lebih lanjut Nyak dan putri bontotnya tersebut.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.” jawab mereka bertiga kembali hampir bersamaan.
“Apa kabar Abah dan Nyak?” tanya Weli sesaat kemudian sambil melirik ke arah Chalik yang juga memandang ke arahnya.
“Baik nak Weli.. semoga kamu juga ya..” jawab Nyak Chalik.
“Begini Weli, Abah sudah minta izin ke pengasuh kalian untuk bawa kalian ke Sumedang, mengunjungi seorang kerabat yang juga guru spiritual keluarga kami Weli, namanya Eyang Kyai Pamungkah. Kalau tidak ada yang ditunggu lagi, kita bisa berangkat sekarang ya?” Abah akhirnya berkata.
“Baik Abah..” jawab Weli, yang walau tidak terlalu mengerti duduk perkaranya, tetap menurut arahan Abah dengan hormat dan kemudian bertanya: “Mobil Abah diparkir dimana? Biar saya saja yang bawa..”
“Di depan situ Weli..” jawab Abah sambil menunjuk mobil mereka dan menyerakan kunci mobil untuk Weli kemudikan.
***
Singkat cerita ketika mereka sampai di tempat Eyang Kyai Pamungkah di Sumedang, mereka disambut dengan ramah dan tanpa banyak basa-basi, Eyang menyampaikan kalau kuasa kegelapan yang dikirim ke Weli dan mempengaruhi keluarga Chalik juga bersumber dari Banyuwangi. Dia juga berkata kalau sudah pernah berkomunikasi dengan temannya di Banyuwangi, Gus Syamsudin dan memang kediaman Weli yang menjadi sumber awal kuasa kegelapan itu bekerja, hanya tujuan utamanya bukan untuk menyakiti Weli tapi orang yang dikasihi Weli, yang dalam hal ini adalah Chalik.
“Apa ada seorang laki-laki dari masa lalu nak Weli yang mungkin menaruh dendam kepadamu nak? Mungkin orang yang tanpa sengaja telah nak Weli sakiti atau mungkin kalian pernah berebut perempuan atau lainnya?” tanya Eyang sesaat kemudian.
“Sepertinya seh tidak ada Eyang.” jawab Weli sambil memandang ke arah Chalik yang juga sedang memandang ke arah Weli.
“Mohon maaf semuanya, Chalik boleh numpang ke toilet ya?” tanya Chalik memecahkan keheningan yang sempat tercipta beberapa saat.
“Di belakang situ Chalik!” tunjuk Eyang cepat dan Chalik bergegas menuju arah yang ditunjuk.
“Eyang, mohon maaf, beberapa waktu yang lalu, rumah kami sempat didatangi seorang perempuan muda dan seorang pemuda. Mereka berdua hanya berdiri beberapa lama di depan rumah dan ketika saya samperin, mereka bergegas masuk lagi ke mobil mereka yang berplat P dan pergi.” ujar Abah, lalu menambahkan: “Kejadiannya berulang beberapa kali dan terasa janggal saja, jadi mungkin ada hubungannya dengan semua ini..”
“Sebentar deh Abah, sepertinya Nyak sempet foto pasangan itu menggunakan HP Abah yang lagi tergeletak di meja waktu itu..” ujar Nyak sambil meminta Abah untuk mengeluarkan HP-nya dari kantong dan sesaat kemudian mencari di folder foto.
“Yah, ini sepertinya laki-laki yang memerintahkan dukun itu..” jawab Eyang Kyai Pamungkah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ketika melihat foto 2 orang muda-mudi yang tampak sedang berdiri mengamati, kemudian memberikan HP tersebut ke Weli untuk dikenali.
“Yang perempuan saya kenal Eyang, teman saya dari kecil. Namanya Irma. Kami memang pernah pacaran, tapi sudah putus sesaat sebelum saya masuk Ksatrian. Tapi kalau yang laki-laki, saya tidak kenal Eyang. Irma anak tunggal di keluarganya, jadi laki-laki tersebut pastinya bukan abangnya.” ujar Weli masih aga kebingungan, memperbesar foto Irma di HP Nyak dan sama sekali tidak menyangka Irma sampai ke Jakarta untuk menyelidiki Chalik.
“Baiklah, kita sudah tau asal kutukan ini dan akan segera kita patahkan kutukan tersebut. Ada sejumlah ritual yang akan kita lakukan yang melibatkan semua orang. Saya akan menjelaskan sebentar lagi setelah Chalik kembali dari belakang.” Eyang Kyai Pamungkah kembali berkata setelah mereka terdiam beberapa saat.
Ketika Chalik kembali bersama mereka, Weli baru saja mengembalikan HP ke Abah dan ia sempat melihat foto Irma, lalu bertanya: “Abah, siapa Nona itu?”
***