Aku Kaila, siswa tingkat dua di Sekolah Menengah Atas. Aku hanya tinggal berdua dengan Mama di sebuah rumah mewah.
Mama menjemputku di sekolah dengan mobil MPV silver. Kami berencana pergi jalan-jalan berdua, menikmati hari-hari yang jarang kami manfaatkan untuk bersama. Tepatnya Mama terlalu sibuk kerja, hingga melupakan aku, putri tunggalnya.
Terakhir kali kami jalan-jalan berdua saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, berarti delapan tahun sudah. Walau serumah, Mama jarang menemuiku. Seolah enggan memandang wajah ini.
Selama perjalanan, aku terus melengkung senyum. Mataku senantiasa menatap ke sisi jalan, memperhatikan setiap orang lewat dan area yang kami tempuh.
"Ma, kita ke mana?" Aku mengalihkan tatapan ke wajah cantik Mama yang sedang fokus mengemudi.
"Nanti kamu akan tau." Mama melihatku dengan ujung matanya. "Ohya, kamu pasti haus dan lelah belajar. Tadi Mama udah belikan kamu minuman isotonik. Ambil aja di dalam kantong itu."
Aku mengikuti gerak bibir Mama yang menunjuk ke arah dashboard. Dengan semangat, aku mengambil kantong plastik berwarna biru lalu mengeluarkan satu botol minuman isotonik penambah ion tubuh. Tebakan Mama memang benar. Pelajaran hari ini membuat pikiran dan tubuh ini merasa lelah.
"Wah, Mama tau aja Kaila lagi haus." Aku melirik Mama sejenak lalu mereguk setengah botol minuman itu.
Mama hanya tersenyum tipis. Tak berapa lama, kelopak mataku terasa berat. Kenapa tiba-tiba aku merasa mengantuk?
Tubuh ini terasa sakit, terutama bagian kaki, perih. Apa aku terluka? Aku harus bangun agar tahu bagaimana kondisi saat ini.
Aku membuka indera penglihatan ini perlahan, menyesuaikan udara yang masuk ke retina. Apa aku masih mengantuk? Terlalu sulit menggerakkan kelopak mata ini.
"Kamu udah bangun?" Suara bariton terdengar merdu di telingaku.
Seketika mata ini terbuka lebar menatap lelaki duduk di tepi ranjang, di sampingku. Aku menggeser tubuh, menjauh darinya. Siapa dia? Aku tak kenal dengan orang ini, apa lagi dia menutup wajahnya dengan hoodie ninja.
"Kamu siapa? Kaila di mana?" Ragaku diselimuti rasa takut.
"Jadi, nama kamu Kaila. Aku Argha." Lelaki bernama Argha mengulurkan tangannya.
Aku membiarkan tangannya menggantung di udara dan sibuk memindai kamar yang ditempati. Sial, tubuhku sakit semua. Benar saja, kakiku terluka. Apa penyebabnya?
"Hati-hati! Kamu jangan banyak gerak, kaki kamu terluka. Aku udah ngobatin, cuma tinggal penyembuhan." Dia menenangkanku dengan menghadapkan tangannya.
Walau tak bisa membaca ekspresi wajahnya yang tertutup, tetapi mata lelaki itu memperlihatkan kekhawatiran. Namun, aku mengabaikan hal tersebut. Saat ini, aku harus segera pulang.
"Aku gak kenal kamu. Aku harus pulang sekarang." Aku mencoba menurunkan kaki perlahan.
"Jangan sekarang! Kamu masih sakit. Aku gak ingin terjadi apa-apa sama kamu. Kamu jangan takut. Aku yang telah menyelamatkanmu. Kamu hampir jatuh ke jurang."
Hah? Jadi, Mama mencoba melenyapkanku. Kenapa Mama membenciku? Apa salahku?
Air mataku berdesakan dan berjatuhan. Isak tangis ini terdengar keras di kamar. Dengan ragu, dia mengusap jejak bening di pipiku.
Aku merasa nyaman dengan perlakuannya. Bisa membagi kesedihan yang aku rasakan saat ini.
Sudah hampir tiga minggu aku berada di rumah Argha. Sekali pun belum pernah melihat wajah Argha, tetapi rasa bahagia bersarang di jiwa ini saat mendengar suara merdunya. Dia menjaga dan memperlakukanku dengan baik, hingga lupa untuk pulang.
Tengah malam sunyi, aku terjaga dari tidur dan turun dari ranjang. Ada suara nyaring terdengar di telingaku. Mata pun tak mau terpejam kembali.
Rasa penasaran menuntun kaki melangkah perlahan, menyambangi ruang makan yang temaram cahaya lampu dari kamar Argha. Mataku melebar menatap aktifitas lelaki itu tanpa berkedip. Oh, Tuhan! Ada taring terlihat tajam dipenuhi dengan darah dan di tangannya seekor hewan meregang nyawa.
"Siapa dia sebenarnya?" Aku menutup mulut yang hampir mengeluarkan suara.
Sebelum matahari terbit, aku berhasil lari dari rumah klasik yang berada di tengah hutan itu. Susah payah aku menemukan jalan pulang ke rumah.
***
Tiga bulan sudah sejak hari itu, aku baru bisa menghilangkan rasa takut dan melupakan semua yang terjadi. Saat itu aku menceritakan semuanya pada Mama. Luar biasa, sikapnya langsung berubah 180 derajat.
Mama memperlakukanku dengan baik. Walaupun sampai sekarang aku belum tahu alasan Mama meninggalkanku di hutan itu. Dia terus menanyakan tentang Argha.
"Mulai sekarang, Mama gak usah jemput Kaila. Mama fokus kerja aja. Kaila naik bis aja pulangnya." Aku menatap Mama dari kaca mobil.
"Ok. Kamu hati-hati, ya. Dengerin guru nerangin pelajaran," ucap Mama perhatian.
"Iya, Mama juga hati-hati." Aku melambaikan tangan pada Mama.
Saat MPV silver itu tak terlihat, aku pun melangkah masuk ke ruang kelas. Pagi ini Suara anak-anak terlalu bising di telingaku.
"Sha, kenapa anak-anak pada ribut?" Aku menghempaskan bobot tubuh di kursi.
"Jadi, kamu gak tau?" Elsha teman sebangkuku malah balik bertanya.
"Ya, gaklah. Aku 'kan baru sekolah lagi."
"Kai, ada anak baru di sekolah kita, cowok. Dia itu sangat tampan dan suka pakai hoodie. Dia terpilih menjadi ketua OSIS dan selalu hangat jadi bahan perbincangan. Seantero sekolah membicarakannya.
"Oh, ya? Pakai hoodie?" Aku mengulang ucapan Elsha.
"Hmm. Mungkin sengaja nutupin wajah tampannya kali." Elsha tersenyum tipis.
Aku mengerutkan dahi mencerna semua ucapan Elsha. Bel masuk pun berbunyi, seisi kelas mendadak sunyi, terhipnosis dengan kedatangan guru yang akan mengajar.
Usai pelajaran—saat bel istirahat berbunyi—seperti biasa aku makan di kantin sendiri. Aku tak terlalu suka berinteraksi dengan teman-teman. Mungkin karena terbiasa sendiri di rumah.
"Boleh duduk di sini?"
Mataku membulat sempurna. Aku mendongak, memastikan kalau prasangka ini salah. Dia memakai hoodie, tetapi wajahnya tak tertutup dan ... tampan.
"Apa aku boleh duduk di sini?"
"Oh, silakan. Gak ada larangannya, kok."
"Makasih." Dia tersenyum begitu manis.
Lelaki itu meletakkan semangkok mi rebus di meja dan duduk di samping. Tak sengaja aku mendapati anak-anak di kantin memelotot. Namun, aku segera mengabaikan tatapan itu.
"Kenalin, aku Agha, ketua OSIS tahun ini." Agha mengulurkan tangannya.
Aku menatap Agha dengan gemetar dan tak bisa menyembunyikan rasa takutku.
"Hei, kenapa kamu gak menyambut salamku? Kamu tampak pucat. Gak mungkin kamu takut sama cowok setampan aku, 'kan?"
"Eh, iya. Aku Kaila." Aku menyambut uluran tangan itu setelah mendengar ucapannya.
Setelah hari itu, Agha selalu datang ke kantin. Walau terkadang hanya sekedar menemaniku menyantap makanan yang ada di sana.
Pertemuan sekian kalinya di kantin, lagi-lagi Agha membuat beberapa pasang mata memelotot menatap ke arahku. Hanya Elsha yang selalu memberikan senyuman saat Argha ada di sisiku.
"Kaila, kamu mau 'kan jadi pacarku?" Dia membuka kotak berisikan cincin dan seikat bunga mawar. Suasana kantin terasa romantis.
Walau pelan, beberapa anak yang memperhatikan kami seakan paham apa yang diucapkan Agha. Aku melengos, menghindari tatapan tajam anak-anak yang seolah hendak menelanku bulat-bulat.
"Agha, temen-temen memperhatikan kita."
"Kaila, kamu mau 'kan jadi pasangan aku? Aku akan melindungi kamu dari apa pun."
"Iya, aku mau."
Aku tak bisa menolak permintaan Agha. Dia lelaki yang sangat baik juga tampan. Tak ada alasan untuk menolak cinta Agha.
Agha membuktikan kata-katanya. Dia selalu ada untukku. Di saat sendiri di teras, Agha pun muncul di hadapanku.
"Kaila ...."
"Agha?" Aku pun berdiri dari tempat duduk. "Kenapa ke sini? Mama pasti marah kalau kamu ke sini."
Bukannya menjawab, Agha mengukir senyum manis. Dia meraih tanganku dan menautkan jari-jemarinya.
"Jadi sampai sekarang kamu belum tau, kenapa aku selalu muncul di hadapan kamu?"
Aku menggeleng perlahan. "Aku gak akan tau kalau kamu gak bilang."
"Karena kamu selalu memanggilku dalam pikiranmu."
"Benarkah, kamu mendengar suara di pikiranku?"
"Iya, Kaila."
Aku masih tak percaya. Mana mungkin Argha bisa mendengar suara di pikiranku. Dia hanya manusia biasa. Aku segera menepis tanya di kepala.
"Kaila ... ada tamu, kenapa gak diajak masuk?"
"Mama ...." Aku tergemap dengan kedatangan Mama.
"Kamu Argha, 'kan?"
Dari mana Mama mengetahui nama Argha. Padahal aku belum memberitahunya.
"Iya, Tante." Argha mengulurkan tangan dan Mama menyambut salam perkenalan itu.
"Ayo, masuk. Kaila akan buat minuman untuk kamu."
Mama kenapa bisa menjadi baik? Arga menatapku sejenak. Aku pun mengangguk lalu kami melangkah masuk.
Aku ke belakang membuat minuman, meninggalkan Argha bersama Mama. Tak sengaja aku menyenggol gelas saat mengambil gula. Benda dari keramik itu terjatuh dan pecah. Perasaan ini mulai gelisah.
"Argha!" Aku berlari ke depan dan mendapati Argha terluka.
Dia memegang benda tajam di bagian dadanya. "Kaila ...."
Aku mendekat dan duduk di sisi Argha lalu menggenggam sebelah tangannya. Dua taring tajam tampak di deretan gigi atas lelaki itu. Bukannya takut, aku malah menangis terisak melihat kondisi Argha yang tak berdaya.
"Argha!" Tangisku semakin keras.
"Kaila, kamu udah tau siapa aku sebenarnya. Apa yang kamu pikirkan benar adanya. Aku adalah vampir. Vampir yang mencintai Kaila. Apa kamu takut?" Air mata Argha jatuh di kedua pipinya.
"Gak, Argha. Kaila gak takut. Kaila juga mencintai Argha. Jangan tinggalkan Kaila sendiri." Aku mendekap erat tubuh Argha.
Tawa Mama melengking memekakkan telinga. Wanita penuh misteri itu menarik tanganku dan menjauhkan diri dari Argha.
"Argha!" Aku berusaha melepaskan cengkeraman Mama, tetapi wanita itu terlalu kuat menarik lengan ini.
"Kaila!" Suara Argha bagai hilang ditelan angin.
Mama membanting kuat tubuh ini ke dalam kamar. Apa salahku Mama? Apa karena wajahku terlalu mirip Ayah?
"Aku mencintaimu, Argha. Tetaplah berada di sisiku, menjadi pelindungku." Aku pun terjatuh dan kepala membentur lantai seiring pintu kamar ditutup keras.