"Bosan?" pemuda berambut cokelat itu tertawa, menunjukkan dua gigi taringnya yang terlihat menonjol.
Detektif yang mengintrogasi mulai kesal, membenahkan dasinya berkali-kali.
"Bukan bosan, aku hanya sengaja melakukannya, bukankah itu alasan terbaik yang pernah kau dengar dari semua orang yang pernah duduk di kursi ini?"
Pemuda itu tertawa lagi, mengetuk-ngetuk meja sambil menikmati wajah kesal detektif di depannya. Itu interogasi terlama yang pernah dilalui detektif nomor satu di negaranya itu.
***
Suara klakson sepeda terdengar dari depan halaman rumah asri di tepi kota. Kota Horlock namanya, kota yang dipenuhi desain antik di benua Sesia.
Gadis remaja berkepang dua muncul dari balik gerbang, menyambut pemuda bersepeda.
"Aegi, kamu datang terlalu cepat!" gadis itu mengembungkan pipi.
Aegi meggaruk kepala, tersipu malu. "Naiklah, kita tak boleh terlambat hari ini!"
"Kenapa, bukankah semua guru baik?" Nesia berpikir sambil menaiki sepeda.
"Jangan-jangan mrs Selena?"
Aegi tertawa, "Ya, kemarin dia memberimu PR kecil!"
Nesia menepuk jidat, "Kau benar, PR kecil yang menyebalkan!" Nesia pura-pura menangis.
"Jangan pura-pura, aku tahu kau belum mengerjakannya, tapi tenang saja aku sudah mengerjakannya untukmu!"
Aegi mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat sepeda sedikit oleng karena hanya dikendalikan satu tangan.
"Berikan bukunya!" Nesia berusaha mengambil buku itu, membuat sepeda semakin oleng.
Sepeda roboh pada akhirnya, ban depannya menabrak tepi trotoar. Aegi dan Nesia jatuh bersamaan, tertimpa sepeda.
Aegi berdiri lebih dulu, membersihkan bajunya. Lalu mengulurkan tangan pada Nesia yang meringis kesakitan.
Mengulurkan tangan pada gadis di depannya itu menjadi hal favoritnya beberapa tahun terakhir.
"Yaah, sepedanya rusak!" Nesia menunjuk rantai sepeda yang putus.
"Kita lari saja!"
Aegi menarik tangan Nesia dan berlarian kecil, meninggalkan sepeda yang tergeletak.
Sesampainya di sekolah mereka menjumpai teman-teman sekelas yang bubar dari kelas. Aegi dan Nesia menghela nafas bersamaan.
"Sepertinya kita akan mendapat hukuman berat kali ini."
"Kau benar!" Nesia setuju dengan perkataan Aegi.
Sampai beberapa saat kemudian, setelah kepala sekolah memanggil Nesia ke ruangannya, Aegi baru menyadari Nesia satu-satunya yang mendapat hukuman berat hari itu.
Nesia segera dipulangkan setelah diberitahu bahwa kedua orang tuanya meninggal. Dan beberapa hari kemudian Aegi tak lagi bisa menemui gadis itu.
Meskipun begitu, Aegi tetap berhenti sebentar di depan rumah Nesia sebelum ke sekolah, hingga akhirnya dia benar-benar yakin tak akan lagi bertemu gadis itu setelah mendengar ia akan pindah ke luar kota Horlock.
Namun bukan kepergian Nesia yang membuat hati Aegi tersayat, tapi tangisan gadis itu di depan nisan kedua orang tuanya.
***
"Hahahaha" Pemuda berambut cokelat kembali tertawa setelah pertanyaan kesekian.
"Kau pikir aku dewa? Sakit hati itu wajar bukan? Apakah kau masih belum menyaksikan orang tuamu mati?"
Detektif berusaha keras menahan amarahnya kali ini. Dia meremas tangannya, memastikan tak terlanjur memukul buronan kelas kakap yang sedang meledeknya.
"Baiklah aku ubah pertanyaannya, jadi kenapa kau membunuh orang tuamu?"
Pemuda itu membolak-balik telapak tangannya, "Bukankah jelek jika kuku telunjukku terlalu panjang?"
"Apa maksudmu?" detektif itu mengerutkan dahi.
"Aku hanya membuat susunan dunia ini kembali sempurna, bukankah yang tidak berguna harus dibuang?"
Detektif itu memukul meja, tak tahan dengan omong kosong sang pemuda. Pemuda itu hanya menanggapi dengan mengangkat bahu.
***
Sudah tiga tahun sejak kepergian Nesia, Aegi perlahan melupakan gadis itu, seperti apa wajahnya, tingkahnya, bahkan ekspresi cemberut gadis itu yang selalu disukainya.
Semester genap hampir berakhir, siswa-siswa SMP berlomba-lomba mempersiapkan diri untuk tes seleksi masuk SMA. Tapi tidak untuk Aegi, sejak tahun pertama dia menduduki peringkat pertama. Tiga SMA ternama di kota Horlock memberinya undangan khusus.
Tahun pertama SMA dilewati Aegi seperti tiga tahun sebelumnya, hanya mendengar perintah orang tua dan gurunya. Dia memilih tak banyak berinteraksi dengan teman sebayanya.
Hingga tahun ketiga, saat semester pertama baru dimulai. Akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang sudah samar dalam ingatannya.
"Halo, nama saya Nesia Leonard Horlock, saya baru pindah dari kota Eden, saya harap bisa berteman dengan kalian."
Gadis berparas cantik itu memperkenalkan diri dengan percaya diri, disambut sorakan para siswa dan bisikan para siswi yang iri dengan parasnya.
Hanya Aegi yang mematung di tempat duduknya, tak percaya bisa melihat gadis yang sudah dikenalnya sejak balita.
Gadis itu tersenyum melihat Aegi yang mematung saat melihatnya, membuat pemuda itu salah tingkah.
"Kapan kamu kembali?"
"Syuut!" Nesia menempelkan telunjuk di bibir, "Kita bisa bicara banyak nanti, sekarang fokus sekolah saja!"
Nesia mengedipkan satu mata yang entah kenapa membuat jantung Aegi hampir copot.
"Sejak kapan dia membuatku berdebar?" gumamnya.
Sepulang sekolah, saat matahari hampir terbenam, Aegi dan Nesia kembali menyusuri jalan yang sering mereka lewati saat kecil.
Taman rumput di sepanjang trotoar dengan desain "wajik" mengingatkan hari dimana mereka jatuh dari sepeda sekaligus hari paling menyedihkan untuk mereka berdua.
Diujung langkah mereka berada di halaman tak terawat namun tetap asri. Cahaya matahari tenggelam mereka saksikan dari halaman belakang rumah lama Nesia.
"Bagaimana kabarmu selama ini?" Aegi memberanikan diri bertanya.
"Aku rasa, kau yang perlu ditanya seperti itu?"
"Bagaimana bisa, setelah apa yang terjadi padamu." Aegi menggaruk kepalanya, khawatir menyakiti perasaan gadis itu.
Tapi dugaannya salah, gadis itu tersenyum, "Aku bukan gadis polos berkepang dua yang membiarkan ingusnya keluar saat menangis!"
Nesia dan Aegi tertawa bersamaan, ingat ledekan konyol yang dulu selalu mereka lontarkan saat bertengkar.
"Apakah kau akan tinggal di rumah ini?"
Nesia menggeleng, "Aku sudah bergabung dengan perusahaan keluarga Leonard, mereka memberiku apartemen bagus."
"Syukurlah, aku khawatir kau tak nyaman dengan rumah ini!" Aegi menunjukkan ekspresi senang untuk menyembunyikan sedikit rasa kecewanya.
Nesia menyodorkan kelingkingnya, "Berjanjilah kita akan mendapat gelar sarjana dari kota ini!"
Aegi tercengang sebentar, tak bisa menggambarkan betapa senangnya dengan janji kecil gadis itu. Sore itu mereka membuat janji kelingking yang terwujudkan beberapa tahun kemudian.
***
"Haah, aku mulai bosan dengan tempat ini" pemuda yang diinterogasi berjam-jam itu meluruskan kakinya.
"Kau tak akan keluar dari sini sampai menjawab pertanyaan terakhir!"
Detektif memukulkan bukunya di meja interogasi, dibalas si pemuda dengan senyum sinis.
"Berapa banyak pertanyaan yang kau siapkan di buku lusuh itu?"
"Ok, jadi sejak kapan kau menjalin hubungan dengan wanita itu?" Detektif terus bertanya tanpa mempedulikan perkataan si pemuda.
***
Buku-buku berserakan di ruang kerja berdesain elegan. Aegi menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan kesal.
"Kau pikir ayah menyekolahkanmu untuk bermain-main dengan seorang gadis? Dan dia orang-orang keluarga Leonard?"
Laki-laki paruh baya itu menampar putranya sekali lagi. Seisi ruang sudah dibuatnya berantakan.
Aegi tak berkomentar, dia sadar tak pernah bisa melawan wewenang ayahnya.
"Kali ini ayah memaafkanmu, tapi sudah cukup studimu di sekolah pemerintah!"
Aegi mendongak, "Apa maksud ayah?"
"Kau akan menjadi leader pusat riset George Company, kau tak perlu meributkan wisudamu, semua dokumen penting dari kampus biar ayah yang urus."
Aegi mengepalkan tangannya, menguatkan hati, "Aku tidak bersedia!"
Pemilik saham terbesar George Company itu menatapnya tajam.
"Apa pernah ayah memberi pilihan?"
Tangan Aegi gemetar, Tatapan tajam ayahnya masih berhasil membuatnya takut.
Aegi berjalan tak tentu arah, berjalan begitu saja mengikuti jalan. Dia benar-benar tak berani menemui gadis yang kembali mengisi hari-harinya sejak SMA.
Tapi gadis dipikirannya itu muncul di hadapannya. Memakai kemeja pendek dan rok selutut berwarna pastel. Gadis itu melambaikan tangan.
"Aegi, kenapa kau tak datang?" Nesia berjalan mendekat.
"Aku ada urusan tadi" Aegi menjawab pelan.
"Ayo pergi sekarang, meskipun sedikit terlambat" Nesia menarik Aegi menuju mobilnya.
Gadis itu menyadari ada masalah yang menimpa teman masa kecilnya itu.
Puluhan lampion listrik dengan berbagai bentuk diterbangkan, menghiasi langit malam kota Horlock.
Aegi tak berekspresi saat menyaksikan gemerlap indah di langit malam itu. Menyadari itu, Nesia menggenggam tangannya, membagi sedikit kehangatan.
"Terkadang kita memang tak bisa memahami orang dewasa"
Aegi mengernyitkan dahi, sadar kalau dirinya yang dibicarakan Nesia.
"Tapi ayah sudah mencampuri kehidupan pribadiku!"
"Kau tidak boleh melanjutkan kuliah bukan? Kau harus menurutinya, karena itu keinginan dari orang yang paling berharga dalam hidupmu!"
Kali ini Aegi menatap Nesia, "Bagaimana kau bisa merasa tenang jika sudah tahu?"
Nesia tersenyum kecil, "Karena aku tahu kau tak akan menyesal jika mengikuti keinginan ayahmu, dan ingat, kita ini teman rahasia yang tak akan putus sampai kapanpun!"
Nesia menyentuh pipi Aegi dengan kedua tangannya, membuat pemuda itu tersipu.
***
"Apa kau tak pernah melihat sepasang kekasih yang tak pernah berciuman?"
Detektif mengernyitkan dahi karena pernyataan pemuda di depannya, sedikit tersinggung karena pernah mengalaminya.
"Kau tersipu! Kau pasti juga mengalaminya!"
Pemuda itu memukul-mukul meja sambil tertawa mengejek.
Detektif menghela nafas, ia tak menyangka akan sulit menghadapi orang dengan IQ tertinggi di negaranya.
"Jadi, apa yang membuatmu berbikir untuk menghukum banyak orang?"
Pemuda itu cemberut, merasa candaannya tak digubris oleh detektif.
"Apa kau lupa dengan krisis energi yang melanda benua Sesia?"
***
Di kota Horlock terdapat dua lembaga riset terkenal yang masing-masing dibawahi dua perusahaan raksasa di benua Sesia, George Company dan Leonard Company.
Prediksi dari puluhan tahun lalu benar-benar terjadi pada permulaan separuh akhir abad 21. Tapi kemajuan pemikiran manusia lebih menakutkan daripada waktu.
"Setahun lagi, tahun 2051 akan menjadi saksi energi buatan terbatas tapi sangat jauh dari batas!"
Pemuda berjas hitam mempresentasikan hasil dari tim risetnya di depan puluhan pejabat tinggi dan orang-orang terpenting dari setiap negara benua Sesia.
"Saya harap bapak dan ibu presiden yang terhormat mengambil keputusan bijak untuk menggandeng lembaga riset kami!"
Pemuda itu menutup presentasinya dengan membungkuk takdzim. Tepuk tangan segera memenuhi auditorium raksasa itu.
Laki-laki berumur 30 tahunan menepuk pundak pemuda yang berhasil memukau seisi auditorium.
"Aegi, aku tahu kau bisa diandalkan!"
Aegi mengangkat alis, "Hanya itu yang kau katakan setelah melempar tanggung jawab?"
Aldrich tersenyum innocent, CEO George Company itu melakukan berbagai cara untuk membuat Aegi hadir di pertemuan penting itu.
"Lain kali jangan gunakan ayahku untuk membuatku bergerak!"
Mereka keluar gedung dan segera disambut lemosin putih keluaran terbaru.
"Kau benar, seharusnya paman yang hadir ke pertemuan ini! Aku heran kenapa orang paling berpengaruh di George Company tak mau menjadi CEO?" Aldrich pura-pura berpikir.
Aegi tak mempedulikan perkataan Aldrich, ia tahu betul ayahnya tak akan repot-repot menjadi CEO karena bisa menggunakan orang lain sebagai bidaknya.
Yang pemuda itu pikirkan sekarang bagaimana bisa pulang secepat mungkin ke kotanya.
Angin berhembus kencang, membuat salju berterbangan. Nesia merapatkan jaket dan syalnya. Gadis itu menunggu Aegi yang memintanya bertemu pagi buta.
Tak menjelang lama laki-laki yang ditunggunya datang, berlarian kecil sambil merentangkan kedua tangannya.
Aegi memeluk erat Nesia yang segera memukul-mukul punggungnya karena sesak.
"Maaf, aku terlalu bersemangat!"
Nesia memalingkan wajah, "Kau melanggar peraturan pertama yang sudah kita buat!"
"Maafkan aku! Aku tak akan memelukmu lebih dari 30 detik lagi!" Aegi menggenggam tangan Nesia.
Gadis itu tersenyum, "Baiklah, kumaafkan!"
Mereka segera masuk ke dalam kafe dekat sana. Menikmati kopi sambil menceritakan keseharian mereka.
"Kau benar-benar keren kemarin!" Nesia mengangkat dua jempol.
Aegi tersipu, "Ayolah, seharusnya kau juga disana hari itu"
"Tim riset Leonard tak akan pernah unggul dari tim risetmu!"
Aegi hampir tersedak mendengar perkataan Nesia, tentu saja karena gadis itu leader lembaga riset Leonard.
"Ayolah, kau selalu merendah di hadapanku!"
Nesia memajukan bibir, "Aku selalu jadi yang nomer dua di SD dulu, kau membawa pulang semua piala! Karena itu aku malas berusaha jika berada di dekatmu!"
Kini Aegi benar-benar tersedak, bukan karena perkataan gadis itu, tapi karena mengira gadis itu akan menciumnya.
Aegi melambaikan tangan ke depan wajah Nesia, memastikan gadis itu sadar dengan sikapnya, dan benar saja, gadis itu sedang mabuk.
Aegi mengendus kopi Nesia, tapi tak ada aroma mencurigakan dan benar-benar hanya kopi.
Aroma alkohol malah tercium dari mulut gadis itu, Aegi menepuk jidat, "Kukira tadi aku salah saat mencium bau alkohol!" gumamnya.
Hari itu Aegi pupus harapan untuk menghabiskan waktu dengan Nesia, hanya mengantarnya pulang dengan selamat.
***
"Beri aku kopi! Sudah lama aku tak minum kopi!"
Detektif menatap datar pemuda yang memukul-mukul meja itu.
"Apa kau tak faham ucapanku! KO PI! Minuman!
Pemuda itu memperagakan orang yang sedang minum.
"Tak ada kopi untuk orang sepertimu!"
Detektif membuka kembali halaman bukunya.
"Ini yang terakhir, bukankah ini yang kau tunggu?" Detektif melihat si pemuda dengan tatapan mengejek.
"Katakanlah!" pemuda itu memalingkan wajah.
Detektif menatap pemuda itu dengan lebih serius. "Ceritakan bagaimana kau memulai aksimu hingga akhir!"
Detektif itu terkesima melihat mata pemuda itu sedikit berkaca-kaca, pandangannya sayu.
***
Sudah setahun sejak energi buatan berhasil diciptakan, kebutuhan seluruh penduduk di benua Sesia bisa terpenuhi.
Seluruh penduduk benua Sesia merayakan keberhasilan besar itu. Selamat dari krisis terbesar tentu membuat semua orang lega.
Namun orang yang paling berhak merayakannya terduduk lesu di ruang kerjanya.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Nesia yang mabuk di pagi hari, dia tak lagi melihat gadis itu.
Nesia terus beralasan studi S2 dan pekerjaan di lembaga riset membuatnya tak punya hari libur. Aegi tak bisa protes, karena gadis itu juga mengerjakan proyek yang sama dengannya.
Sudah sebulan pesan yang dikirimnya pada Nesia tak pernah terbaca. Aegi terus memandangi teleponnya yang mendapat banyak pesan.
Dia tak butuh ucapan selamat dari semua orang, cukup senyum senang dari gadis yang dipikirkannya.
Satu tahun berlalu, berita tentang energi buatan masih ditampilkan di banyak channel. Para ilmuwan yang bahkan sama sekali tak ikut andil dalam riset energi buatan berlomba memberi komentar analisis mereka di acara-acara TV.
Aegi menerobos hujan salju setelah keluar dari mobil, menuju vila mewah di perbukitan. Nesia menghubunginya setelah satu tahun penuh mereka tak berkomunikasi.
Aegi tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pemuda itu langsung memeluk gadis yang disayanginya.
"Bagaimana kabarmu selama setahun?" Aegi bertanya tak sabaran.
Nesia mendongak, melingkarkan tangannya di leher Aegi.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya?"
Mereka berdua tertawa, teringat pertemuan mereka dulu setelah terpisah semasa SMP.
Mereka berdua menikmati makanan hangat, menonton TV, membicarakan hal tak penting, obrolan yang selalu membuat mereka tersenyum bersama sejak kecil.
Hari itu Aegi tak menyadari, Nesia lebih menempel padanya daripada biasanya. Sepanjang hari gadis itu menggenggam tangan Aegi, tak mau melepasnya bahkan ketika cuci tangan.
Nesia bersandar di lengan Aegi, mereka menikmati langit malam yang penuh bintang.
"Indah bukan?" Nesia menunjuk langit.
"Biasa saja, yang lebih indah sedang bersandar di bahuku!"
Nesia tertawa ringan, "Darimana kau belajar bahasa anak remaja?"
"Entahlah, aku terlalu senggang"
Kini Nesia memeluk Aegi, tak hanya berpegang tangan, gadis itu memeluk sangat erat. Aegi tersipu karena perasaan senang yang meluap.
"Nesia, kau banyak melanggar perjanjian kita hari ini! Bukannya tak suka, aku takut hanya aku yang merasa diuntungkan."
Nesia mendongak, mendekatkan wajah mereka berdua. Kedua tangannya menyentuh pipi Aegi.
Wajah Aegi memerah, tak bisa menahan jantungnya yang gugup.
Nesia berbisik tepat di telinganya, "Aegi, aku sayang kamu!"
Aegi ingin membalas dengan kata yang sama, Bali memeluknya erat atau menciumnya, tapi gadis itu menamparnya tepat setelah melepaskan pelukannya.
Aegi tak bisa berkata apapun, tamparan di pipinya terasa sangat nyata, sakit tapi menyimpan rasa hangat.
Tak hanya sampai disitu, Nesia menarik kerah Aegi, menunjuk wajahnya.
"Apa kau pikir aku tak menderita selama ini? Aku selalu dibandingkan dengan teman dekatku, dimarahi karena selalu mendapat juara dua! menjadi yatim piatu sebelum kelulusan, dan kau tak melakukan apapun untuk mencegahku pergi, apa kau tau yang kulakukan selama SMP hah?"
Nesia mengambil nafas disela amarahnya, "Kau pura-pura peduli padaku, tapi tak sekalipun bilang mencintaiku! Apa kau kira aku gadis murahan?"
"Kenapa kau dulu naik sepeda padahal kau anak orang terkaya di kota Horlock? Kau mau menghinaku yang tak punya apa-apa hah?"
Nesia melepaskan tangannya dari kerah baju Aegi, gadis itu berdiri sempoyongan.
"Dan sekarang pun, hanya kau yang mendapat pujian, padahal aku juga bekerja keras! Apakah ini adil?"
Aegi masih tertegun, berdiri mematung melihat gadis yang disayanginya dalam kondisi berantakan. Dia mendekati Nesia, berusaha memapah gadis itu, tapi dibalas dengan dorongan. Aegi terjatuh di rerumputan.
"Aku tak mabuk, aku sadar penuh dengan perkataanku!" Nesia tertawa sinis, "Ya, kau penjahatnya, kau yang membuatku mengalami semua ini! Kaauu!!!!"
Aegi mengepalkan tangan, tak tahan mendengar ocehan gadis yang terlihat seperti orang gila itu.
Pemuda itu memeluknya, "Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Apakah sudah terlambat jika mengatakannya sekarang? Aku akan melepas semuanya jika itu mengganggumu! Ayo kita hidup berdua! hanya kita!"
Aegi tak bisa membendung air matanya, malam itu yang paling menyakitkan dari keseluruhan hidupnya.
Nesia mendorong Aegi, lagi-lagi sampai terjatuh.
"Aku tak sudi bersama pria sepertimu!" tatapan gadis itu kosong.
Perasaan Aegi campur aduk, sedih, kecewa, marah. Hanya dua kata yang bisa menggambarkan perasaannya "tak berdaya".
Aegi berlari meninggalkan gadis yang mematung sedih melihat kepergiannya.
Pemuda itu menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, memotong jarak puluhan kilo hanya dalam beberapa menit.
Aegi menghabiskan malamnya dengan membenamkan wajah di bantal, tak mengira bisa melampiaskan kesedihan seperti anak remaja.
Esok harinya seperti biasa, sarapan selalu tersedia di rumah megah seluas satu hektar itu.
Aegi mengusap wajahnya, memandang cermin demi melihat kedua kelopak matanya yang membengkak. Dia mulai menyesali tangisannya tadi malam.
Ayah Aegi, Abraham George Horlock memanggil pemuda itu ke ruangannya. Saat pemuda itu sudah datang, Abraham memandangi Aegi dari atas sampai ke bawah lalu berdecak.
"Penampilanmu sangat buruk!"
Aegi menunduk, "Maaf ayah!"
"Perbaiki penampilanmu! Jangan sampai kau terlihat lemah di depan keluarga Leonard!"
Abraham menyuruhnya pergi setelah perintah singkat itu.
"Leonard? Kenapa ayah mau bertemu keluarga Leonard?" gumam Aegi sambil memasang kancing kemejanya.
Ruang makan luas dengan meja sepanjang delapan meter, berbagai hidangan sudah tersaji.
Dua orang duduk di bagian ujung meja jamuan, masing-masing ditemani beberapa pengawal.
Laki-laki berumur hampir separuh baya, menuangkan wine di gelas lalu mengangkatnya. Wajahnya sangat berkarisma namun terlihat menyebalkan bagi pria yang duduk di seberangnya.
"Tak kusangka kau datang sendiri Abraham!"
"Aku hanya membereskan kekacauan yang kau buat!"