Malam itu, Rey melangkah gontai menuju motor matic kesayangannya setelah lebih dari 12 jam Rey berkutat di bar tempatnya bekerja mencari sebongkah cuan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3.00 dini hari, Rey melajukan motornya perlahan menahan kantuk yang mulai menyerang.
Samar-samar Rey melihat bayangan seorang gadis di pinggir jalan, duduk sambil memeluk lututnya sendiri seperti...
Sedang menangis .
"Hallo.."
Akhirnya Rey memutuskan untuk menghentikan perjalanannya dan menepi sejenak, niatnya sih untuk sekedar bertanya sedang apa dan kenapa malam malam seperti ini ada di pinggir jalan sendirian.
Gadis itu mendongak, membalas tatapan mata Rey dengan sendu.
"Tolong aku."
Ujarnya lalu menangis tersedu, Rey bertanya harus menolong apa dan kenapa tapi gadis itu malah menangis semakin kencang membuat Rey bingung celingukan dengan keadaan sekitar takut dikira dia sudah berbuat jahat membuat anak gadis orang menangis malam malam.
"Mau ikut aku?"
"Boleh?"
Ada binar bahagia yang terpancar di wajahnya saat Rey menawarkan ikut dengannya.
Rey pun membawa gadis itu pulang ke apartemen nya.
*
*
*
Hari berganti hari, minggu bahkan berbulan bulan sudah dilalui Rey dan gadis yang belakangan baru Rey ketahui bernama Rini itu tinggal satu atap.
Rini baru saja berani berbicara pada Rey memberitahukan siapa namanya tapi masih tidak bisa membicarakan siapa dirinya sebenarnya, bahkan Rini sama sekali tidak pernah keluar dari apartemen Rey selama berbulan bulan ini hanya sekedar mengantar dan menunggu Rey pulang saat Rey pamit untuk pergi bekerja.
Tatapan sendu yang selalu Rini perlihatkan perlahan-lahan berubah menjadi binar, entah binar bahagia ataupun binar binar cinta yang mulai tumbuh di antara mereka.
walaupun tidak pernah saling mengenal sebelumnya , tapi dengan tinggal satu atap menjadikan keduanya sering berinteraksi bersama.
"Astagfirullah"
Rey mengusap dadanya dan berdoa sepanjang perjalanan pulang dari tempatnya bekerja, karna Rey memang orang yang sensitif atau bisa dibilang Indigo.
Sudah sering kali Rey melihat berbagai macam bentuk dan rupa makhluk terlebih dia selalu pulang bekerja saat dini hari, tentu saja waktu yang tepat untuk melihat mereka.
"Assalamualaikum.."
Sapa Rey saat memasuki apartemen nya, dilihatnya Rini yang sudah menunggu kedatanganya di dekat pintu sambil tersenyum.
"Waalaikum salam"
jika seperti ini Rini mungkin lebih terlihat seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang, dia melayani dan memberikan apa yang Rey butuh kan.
"Emmmm Rey..."
"Yaa?"
Rini menyatukan kedua telunjuknya menggigit bibir bawahnya lalu menatap Rey ragu-ragu.
"Kenapa Rin?"
"Aku... A-aaku mau ngomong serius sama kamu"
Rey terkekeh kecil melihat kegugupan Rini, mengusap pucuk kepala Rini dengan sayang.
"Ngomong apa sih.. Serius gitu mukanya"
"Aku tau sebenarnya...
kalau sebenarnya, kamu itu sensitif kan Rey?"
"Iyaa.. lalu?"
Rey menaikan sebelah alisnya melihat Rini menghela nafas dalam.
"Kamu sadar gak? selama ini, aku .. yang selalu sama kamu ini bukan manusia."
JEDDER!!!
Rey membulatkan matanya, lalu tertawa renyah.
mana mungkin Rini ini hantu sedangkan dari penampilan dan cara bicaranya saja seperti manusia.
"Jangan bercanda Rin"
"Rey, sebenarnya aku bukan hantu.. Aku tau aku sedang koma di rumah sakit, Diwaktu waktu tertentu aku selalu dengar samar samar orang mengaji, mungkin ibu atau ayahku yang mengaji didekat ragaku"
"Lalu kenapa kita bisa berinteraksi sepeti ini?"
"Aku juga gak tau Rey, kamu bahkan bisa menyentuhku aku gak tau kenapa bisa seperti itu"
"Tapi akhir akhir ini, aku gak lagi dengar orang mengaji seperti sebelumnya . Aku takut Rey, aku takut gak bisa bangun lagi. yaa walaupun aku bahagia bisa dekat dan kenal sama kamu seperti ini..Tapi jujur saja aku takut"
*
*
*
Setelah percakapan Rey dan Rini waktu itu, Rey mulai mencari tau dimana Rini di rawat. karena Rini sama sekali tidak ingat raganya ada dimana, yang dia ingat hanya dia sedang koma mungkin lebih tepatnya jiwanya tersesat jauh dari raganya membuatnya koma lebih lama.
"Maaf sus, saya mau tanya disini ada pasien yang bernama Rini Yuniar?"
Sambil mengetuk ngetukkan tangannya di meja resepsionis Rey menunggu suster yang sedang mencari data pasien rawat inap di Rs ini, entah RS keberapa yang Rey dan Rini datangi hari ini tapi dengan bepergian seperti ini Rey jadi yakin bahwa Rini memang Arwah karena sesekali dia bisa menembus orang orang yang Rey tabrak saat berjalan cepat menelusuri koridor RS.
"Ada pak! tapi maaf, Pasien bernama Rini Yuniar saat ini sedang berada di ICU kondisinya semakin drop jadi tidak bisa dikunjungi."
Rini memegang lengan Rey.
"Bawa aku kesana"
"Baiklah terimakasih sus"
Rey berjalan menelusuri ruangan demi ruangan di RS ini sambil terus memegang erat tangan Rini.
Tiba-tiba saja Rini menghentikan langkah nya yang membuat Rey menatapnya bingung.
"kenapa?"
"Aku takut,"
"Kenapa takut? kamu harus kesana Rin! kamu harus cepat sadar dan bertemu lagi denganku sebagai manusia!"
"Justru itu yang aku takutkan Rey, aku takut aku gak bisa nemuin dan bersama kamu lagi setelah ini"
"kalau kamu gak bisa nemuin aku, biar aku yang nemuin kamu. Ayo!"
Rini berjalan terseret dibelakang Rey yang melangkah dengan kaki panjangnya.
"Rey,, itu ibuku!"
Rasa senang bercampur haru menyelimuti Rini saat ini, dia senang akhirnya bisa bertemu dengan ibunya lagi.
wanita paruh baya itu terlihat sedang menatap seseorang yang tergeletak didalam ruangan lewat jendela kaca.
"Itu pasti kamu"
Rini mengangguk mantap, matanya mulai berkabut bulir bening mulai berjatuhan saat perlahan dirinya mendekat kearah ibunya.
"Rini datang bu"
Ucapan lirihnya berhasil membuat hati Rey mencelos, Bagaimana mungkin selama ini Rey tidak tahu bahwa Rini itu seorang Arwah yang terpisah jauh dari raganya sedangkan dia sebenarnya orang yang betul betul sensitif terhadap hal itu.
Rini mengusap pundak ibunya, lalu berbalik menatap Rey. Rey mengangguk lalu tersenyum seolah mengatakan "Masuklah!"
Beberapa saat setelah Rini berusaha masuk kedalam tubuhnya, Tiba-tiba monitor detak jantungnya menunjukan Garis lurus yang mana membuat ibunya panik setengah mati.
"SUSTER DOKTER TOLONG ITU KENAPA ANAK SAYA!!"
Rey tak kalah panik saat melihat suster dan dokter berlari berdatangan mencoba memberikan pertolongan dengan Resusitasi bahkan dengan alat yang membuat badan Rini terangkat.
"Alhamdulillah, Pasien sudah kembali dok!"
"Ibu.."
suara lirih Rini terdengar, matanya masih terpejam tapi tangannya mulai bergerak mencari pegangan.
"silahkan masuk bu! Pasien mencari anda"
"Pasien? ma..maa-maksud dokter anak saya sudah sadar?"
"Iya bu Alhamdulillah atas kuasa Allah, Pasien akhirnya sadar setelah beberapa saat lalu sempat kritis"
Ibu Rini berhambur kedalam ruangan,menciumi anaknya tak lupa mengucapkan beribu ribu kata syukur. Rey tersenyum melihat interaksi keduanya, Rini masih belum banyak merespon matanya masih sayu dan lemas.
akhirnya Rey memutuskan untuk pulang saja membiarkan sang ibu yang melepas rindu dengan anaknya.
*
*
*
Beberapa waktu berlalu, Rey masih rutin mendatangi Rumah sakit tempat Rini di rawat. saat ini Rini sudah terlihat membaik, meski masih harus berjalan menggunakan kursi roda.
Rey mencoba mendekat saat melihat ibu Rini membiarkan Rini berjemur ditaman RS ini sendirian, mungkin sedang mengambilkan sarapan atau apa Rey tidak tahu.
"Hai.."
Sapa Rey, dahi Rini berkerut seolah sedang mengingat siapa seseorang yang sedang menyapanya ini.
"Kamu siapa?"
DEG!
Baiklah Rey sudah duga ini pasti akan terjadi, pada akhirnya Rey harus menelan pil pahit karena Rini sama sekali tidak mengingatnya.
"Oh maaf, bukan saya bukan siapa siapa"
Ucap Rey sambil berlalu menjauh dari Rini, Harusnya Rey mendekat mencoba berkenalan kembali dengan Rini asli tapi hatinya terlanjur kecewa karena Rini tidak mengingatnya,mungkin lain kali Rey akan datang lagi setelah hatinya sudah siap untuk tidak kecewa karena Rini sudah melupakannya.
"Kamu pergi gitu aja Rey!" Teriak Rini, Rey menoleh binar bahagia merona di wajahnya.
"Prank!" ucap Rini sambil terkekeh, "Kenapa baru datang sekarang?"
"Aku kira kamu gak akan ingat sama aku!"
"bagaimana mungkin aku lupa sama orang yang sudah menuntunku agar cepat sadar"
"Makasih ya Rey, berkat kamu aku udah bukan Hantu lagi"
keduanya terkekeh bersama dan hidup berdampingan kembali sebagai manusia dan manusia, bukan manusia dan arwah lagi.
End~