Aku seorang gadis desa yang hanya tinggal bersama nenek yang sudah sangat tua. Setiap hari, aku membantu nenek mencari pakis di tepi sungai, untuk dijual ke pasar. Hanya itu tumbuhan yang gratis untuk mendapatkan uang, namun aku harus menempuh semak-semak, kadang berjumpa ulat, ular, dan kadang-kadang ada hal lain yang mengejutkan. Seperti hari ini.
“Permisi, apa Anda baik-baik saja?” Aku bertanya pada seseorang yang tampak meringis kesakitan memegang betisnya, tampaknya ia baru saja di gigit ular.
Aku meletakkan pakis yang kupeluk dalam gendonganku, cukup banyak. “Tunggu sebentar!” Aku langsung mengunyah daun yang kuambil setiap mencari pakis, obat serap yang selalu kubawa. Daun ini bisa mematikan racun ular, kalajengking, dan lipan. Setelah aku kunyah, kutempelkan daunan hancur itu di betisnya.
“Sedikit perih, tahan ya!” ucapku. Kuraih tas yang menggantung dibagia kiri leherku yang kuselempangkan di badan, kubuka resletingnya.
“Nih, minumlah, kau tampak pucat!” Aku menyerahkan minumanku, yang baru saja aku ambil dari dalam tas.
Pria itu hanya diam menatap air minum dan daunan yang kutempelkan. “Minumlah!” kuulangi lagi mengatakannya.
Ia pun akhirnya mengambil minuman, mencium aroma air itu dan memberikannya padaku sambil menggeleng. “Kenapa kau tak minum? Kau harus minum, bagaimana jika kau pusing? Aku gak akan sanggup menggendongmu keluar dari semak ini!”
Sesaat aku jadi teringat, aku ada dimana? Aku menoleh ke sekitar, tempat ini bukanlah tempat aku mencari pakis. Tak ada pakis disekitar sini, tetapi hanya ada taman bunga.
“I-ini dimana?” Aku terbata, sekaligus takut.
“Di istanaku!” jawab pria yang tadi aku tempelkan daun di betisnya, ia mencoba berdiri. “Kenapa makhluk sepertimu bisa sampai ke istanaku?”
“Ah?” Aku kebingungan sekaligus takut.
“Karena kau telah mengobati kakiku, mari antarkan aku ke dalam, aku akan menjamu mu dengan baik!” tawar pria itu. Wajahnya sangat tampan, bola matanya berwarna emerald jernih. Tidak seperti manusia normalnya yang berwarna biru, keabu-abuan atau coklat tua dan hitam. Bola matanya lebih tepatnya seperti softlens.
“Tidak! Aku ingin pulang!” tolakku tegas.
“Kau tidak bisa pulang sekarang, pintu dimensi ke duniamu masih tertutup, kau harus menunggunya sampai terbuka!” jelas pemuda tampan itu.
Akhirnya, aku hanya menurut. Masuk ke dalam istana yang sangat megah, disuguhkan makanan enak dan pelayan yang baik dan ramah. Aku sampai lupa diri bermain di sana, apalagi saat dia mengatakan suka padaku. Aku sangat senang.
“Kalau begitu, hari ini kita menjadi kekasih?” tanyanya. Dia memperkenalkan dirinya Syabru dan aku adalah Rianti.
Aku mengangguk setuju, kemudian kami berciuman mesra.
Hari-hari terus berlalu, aku bahagia, hingga dia bertanya padaku. “Rianti, maukah engkau menjadi ratu di istanaku ini. Kita akan menjadi pasangan suami istri,” Dia mengecup tanganku dengan lembut. Bibirnya yang halus dan lembut, aku suka.
“Kau mau, Sayang?” Dia menatapku lembut, membelai wajahku dan kembali mencium bibirku. “Mau 'kan?” Dia bertanya kembali.
Saat itulah, aku teringat nenekku yang sudah tua hidup sendirian. “Sayang, aku lupa, aku masih ada nenek, dia pasti mencemaskan aku! Bagaimana kalau kita mengunjungi nenek dan meminta izin padanya?” Aku memegang tangan kekasihku dengan pandangan mata berbinar penuh harap.
“Tidak bisa!” jawabnya tegas.
“Kenapa? Dia keluargaku satu-satunya!” jawabku, aku sedikit kecewa, lalu aku teringat banyak hal, kepalaku menjadi sangat sakit rasanya.
Kenapa aku bisa ada di sini, hidup di sini tanpa memikirkan nenek. Beliau pasti cemas memikirkan ku.
Kekasihku berdiri dan melepaskan pegangan tangannya. “Kau memilih pergi meninggalkanku? Baiklah, pergilah....” Wajahnya tampak tertunduk dan lesu.
Perlahan, istana itu berubah jadi gelap gulita, aku mulai merasakan seluruh tubuhku kesakitan. Terdengar suara orang-orang memanggilku, cahaya senter dan suluh dikeremangan malam. Kini, aku sadar, aku terjatuh ke sebuah lereng saat memetik pakis.
“Rianti! Cucuku!” Aku mendengar suara nenek, tapi aku masih belum bisa menyahut. Aku merasakan tubuhku diangkat. Lalu, lama kelamaan aku tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, aku sudah ada di atas ranjang empuk milik kekasihku. “Kenapa aku ada di sini?” Aku bertanya-tanya.
“Sayang, kau sudah siuman?” Syabru mengecup keningku penuh kasih. Aku menatapnya, dia membalasnya dengan tersenyum.
“Aku mencintaimu Rianti, aku akan menemuimu segera, di duniamu. Jadi, cepatlah sehat!” Dia memelukku.
“Rianti, cucuku! Bangunlah! Cucuku tersayang!” Terdengar suara memanggilku.
Lagi, aku terbangun! Dan kali ini, bukan di kasur empuk kekasihku, tapi dikasih reok milik nenekku. “Nenek?!” Aku memeluk nenek.
Saat aku memeluk nenek, aku bisa melihat seekor burung bertengger di ranting bunga bougenvilleku. Warna matanya emerald, mirip bola mata kekasihku, Syabru.
Hari demi hari berlalu, aku sudah sehat dan siuman, nenek bercerita, kalau aku tidak pulang-pulang sampai tengah malam, makanya nenek minta bantuan pada orang sekampung. Mereka menemukan aku terluka karena jatuh ke lereng.
Lalu, satu hal yang kusembunyikan dari nenek, kekasihku, burung bermata emerald itu. Dia adalah pangeran, kekasihku di dimensi lain, hanya saja saat dia datang keduniaku, dia hanya bisa menjadi seekor burung yang imut.
“Sayang, jika nanti Nenek sudah tiada, ayo kita ke istanaku! Mari hidup menjadi ratuku!” ajak Syabru, kepalanya yang menjadi burung itu ia gosokkan ke tanganku.
Aku mengelus kepalanya. “Baiklah, jika nenek telah tiada, aku akan menjadi ratu di istanamu, wahai kekasihku di dimensi lain.” Aku menciumnya, dia juga menciumiku dengan paruh runcingnya itu.
Tamat