Mau kah kau menjadi pacarku?
Satu tahun yang lalu aku mengungkapkan perasaan ku ke pada Bunga sekolah, yang sangat cantik dan juga pintar. Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat itu, namun aku berhasil mengungkapkan nya, dan aku diterima, cukup terkejut dan tak percaya, namun itu semua nyata adanya.
Masih dalam rasa tak percaya, sudah 1 bulan aku menjalani hubungan ini, aku pikir. WOW, aku berpacaran dengan bunga sekolah yang sangat populer, dan sekarang aku berpegangan tangan dengan nya, ini sudah gila, ini bukan mimpi lagi, aku beneran pacar nya si bunga sekolah, iya kah? ah, sudah lah, dan juga tangan nya sangat lembut, sangking lembutnya jika aku remas apa akan hancur?.
Sudah berjalan 2 bulan aku masih berpacaran dengan nya, ah, sangat bahagia aku adalah orang yang sangat bahagia saat ini, dan hari ini aku akan kencan untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, aku senang, aku senang, tapi apa yang harus ku pakai, apa setelan kaos yang celana panjang, atau pakai kaos distro dan celana jins, atau, atau, atau.....
Ah sudahlah pakai yang biasa aja, yang penting aku kencan dengan dia.
Aku kencan dengan nya di banyak tempat, dari kita ketemuan di taman, lalu pindah ke mall, lalu masuk bioskop dan malamnya kita makan di salah satu restoran, aku sungguh bahagia hingga saat dia mengajak ku ke rumahnya, aku pikir ada orang tuanya saat aku pergi ke rumah nya, dan aku bisa berkenalan dengan kedua ortunya.
Namun setelah sampai, sama sekali tidak ada orang di rumahnya, sangat sepi, aku tanya kepadanya. Dimana semua orang? di menjawab, Hari ini semuanya sedang keluar dan mungkin besok baru pulang. Aku terkejut saat mendengarnya, dan menerima kenyataan sekarang aku cuma berduaan dengan nya di rumah yang sepi, entah setan apa yang akan menghasud kami berdua, hingga terpikirkan untuk melakukan hal yang tak senonoh.
Hingga larut malam kami masih di buta kan oleh nafsu semata, melakukan hubungan terlarang yang seharusnya tak di lakukan, namun kami sudah buta akan imam. Kita bercinta hingga keduanya lelah dan tertidur saat itu juga.
Saat pagi tiba aku terbangun dari tidur ku dan melihat sosok gadis yang cantik sedang tak memakai apa-apa, dalam sekejap nafsu ku kembali tapi aku tak bisa karena kemarin malam aku sudah membuat dia kelelahan, dan kami masih belum halal untuk melakukan hal ini, apakah kita sudah berdosa.
Aku keluar kamar dengan perasaan yang campur aduk yang tak bisa di ungkapkan oleh kata-kata, tapi yang pasti jika terjadi sesuatu kepadanya aku akan bertanggung jawab, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab!!!
Aku mandi duluan di kamar mandi depan kamarnya dan merilekskan pikiran, aku merenung sebentar dan selalu memikirkannya, dan berkata. Aku akan bertanggung jawab, aku akan bertanggung jawab, aku mengatakan itu terus menerus hingga selesai mandi. Aku kembali ke kamarnya dan membangunkannya, dia bangun dengan sedikit lesu mungkin karena masih kecapekan.
Kamu tidur lagi gak papa, hari ini kan hari minggu, jadi tidur aja. Itu yang aku katakan.
Ia menolak dan tetap bangun walau sedikit sempoyongan, aku pun memapahnya hingga sampai di kamar mandi yang sama aku pakai tadi, aku menunggunya di luar, hingga dia selesai mandi. Dia menolak ku untuk memapahnya lagi ia ingin mengganti pakaian dan menyuruhku untuk menunggu di ruang tamu, aku pun menurutinya dan menunggu di ruang tamu yang saat itu masih sepi.
5 menit aku menunggunya, dan tiba-tiba pintu depan terbuka, masuklah dua orang yang bergandengan dan satu anak laki-laki yang berjalan di sampingnya, saat itu aku berpikiran kalau mereka adalah keluarga nya, aku dengan serentak berdiri dan menyambut mereka masuk, mereka yang sama sekali belum mengenal ku sudah pasti terkejut, ada orang asing yang secara tiba-tiba ada di dalam rumah lo sendiri, kalian pasti tau bagaimana reaksinya.
Mereka secara bersamaan mudur pelan-pelan dan dengan ekspresi sedikit takut, untung nya sat itu pacarku turun dan melihat kami yang sedang dalam posisi salah paham.
Dia memanggil kedua orang tua nya.
"Mah, Pah, udah pulang?" begitu ucapnya.
Aku yang masih dalam perasaan yang sangat bersalah dan sekarang timbul salam paham di antara aku dan orang tuanya.
Saat itu dia menjelaskan siapa aku sebenarnya dan menjelaskan kenapa aku ada di sini, dan dia berbohong kepada orang tuanya, aku mengerti kenapa dia berbohong dan aku pun diam saja.
Tak ingin masalah ini berlanjut, aku berinisiatif untuk mengajak mereka sarapan pagi, dan aku membisikan rencana ku ini ke pacarku, ia mengangguk pertanda setuju, lalu ia sampaikan ke orang tuanya, aku dan dia menuju ke dapur terlebih dahulu untuk mengecek ada bahan makanan atau tidak, dengan bahan-bahan yang ada kami membuat makanan yang sederhana, misal;
Tempe dengan bumbu bali, capcay dan terakhir adalah ayam goreng untuk sarapan kali ini, kami makan dengan lahap karena makanan yang sudah kita buat rasanya enak sekali, dan itu membuat libur pagi ini menjadi lebih bahagia.
Aku mengajaknya saat selesai makan, karna hari ini hari libur aku ingin mengajaknya masuk taman hiburan yang dekat dengan kediaman nya walaupun harus menempuh dua puluh menit untuk tiba di lokasinya.
Kita berdua bersenang-senang selama ada di dalam, dari naik komedi putar sampai bianglala, dari ayunan hinga rumah hantu, kita sangat menikmati kencan kedua kita, dimana saat itu aku mengekspresikan diri ku yang sebenarnya, dan aku melihat dia yang seperti anak-anak bermain ke sana-sini, bermain tanpa henti, dan aku senang melihat dia senang.
kita pulang saat sore, dan kalau di ingan, saat itu aku sudah bermalam di rumah dia tanpa mengabari orang tua ku sama sekali, setelah mengantarnya aku langsung pulang, dan benar saja saat aku tiba di rumah ku, aku di sidang, aku ditanyai banyak hal, di mana kamu semalam, kenapa kamu gak ngabarin, apa kamu bersama seseorang, apa kamu pergi ke klub dan seterusnya.
Aku tahu mereka khawatir, tapi aku juga udah gede, aku bisa menjaga diri, dan pada akhirnya aku tak bisa melawan mereka berdua, dan menerima jika aku memang salah.
1 bulan sudah berlalu dan hubungan ku dengan pasangan ku semakin harmonis, bagai lebah yang tak bisa lepas dari bunganya, aku selalu menggandeng tangannya di sekolah maupun di luar sekolah, aku selalu menunjukan perasaanku ke padanya, kita sudah tak bisa di pisahkan....
Tapi harapanku tak sesuai dengan kenyataan, aku di posisikan dengan keadaan yang membuat ku sangat kecewa, ia main laki-laki lain di belakangku, dan pria tersebut adalah sahabatku sendiri, teman masa kecil yang sampai sekarang menjadi kekuatanku, dengan tega dia mencium kekasihku di tempat umum, aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri mereka bermesraan di tepi danau yang sangat indah, tak bisa di pungkiri kalau sahabat ku ini memang tampan dan lebih-lebih tampan dari aku, aku mengakuinya mereka memang cocok, tapi kenapa harus aku yang menjadi korban disini.
Aku sangat kecewa bukan hanya kepada kekasihku saja tapi dengan sahabat yang sudah aku percaya sejak dulu, kini berkhianat kepada ku.
Aku pulang dengan rasa kecewa, amarah, dan putus asa yang bercampur aduk. tak bisa ku lampiaskan dan menjadikan aku lemas tak bertenaga, aku langsung tumbang di tempat tidur ku dan terlelap hingga esok hari.
Hari ini adalah hari perpisahan, aku memutuskan dengan sadar untuk merantau setelah wisuda selesai, aku akan pergi tanpa kabar itu rencana ku, namun aku di pertemukan dengannya, ia malah menunggu ku di samping gerbang sekolah, itu membuatku sedikit kacau, dia di sana tapi apa dia di sana menunggu ku atau menunggu sahabat ku?.
Kamu benar-benar membuatku kehilangan akal, hingga saat terakhir akun ingin melepas mu saja masih bisa menggoyahkan diriku. Jahat.
Aku berjalan dengan biasa dan bersikap tak tahu apa-apa, aku menghampirinya dan dia dengan kebiasaannya langsung menggandeng lengan ku, hatiku terasa tersayat oleh pisau yang tajam, membuatku tak bisa apa-apa, lemas rasanya saat aku mengingat begitu mesranya dirimu dengan sahabatku sendiri.
Setelah acara wisuda selesai dan pengambilan rapot ku berniat memutus hubungan dengan nya, karna aku pikir dia lebih bahagia dengan sahabat ku, dan aku menerima semuanya aku tak sebanding dengannya, dari awal pun aku berpikir kalau hubungan ku ini memang tak akan pernah terjadi, dan aku pikir siswa biasa seperti ku ini memang tak sebanding dengannya.
Dan lagi-lagi aku melihat nya bermesraan dengan sahabatku, tapi anehnya aku masih kesal saja melihat nya, padahal aku sudah melihatnya dua kali akhir-akhir ini, dan semuanya terlihat di depan mataku persis, dan sekarang lebih dekat lagi. Aku bengong sesaat dan mengatakan.
"Maaf menggangu!" ucap ku langsung pergi dari mereka berdua, aku tak ingin menjadi penghalang walau pun melepas mu adalah hal yang menyakitkan, namun aku berani untuk melepas mu asal kompensasinya adalah kebahagian mu, aku rela melepas mu, sungguh aku rela, dan bodohnya aku langsung menangis di saat itu juga, padahal aku kuat tapi air mata ini tak bisa bohong.
Saat aku sedang menangis terdengar langkah kaki yang mendekat, aku pikir mungkin orang yang sedang lewat saja dan aku tak menghiraukannya. Namun....
"Mas..." terdengar suara yang memanggilku di dampingi dengan suara napas yang terengah-engah. Aku menoleh ke belakang, yang benar saja dia berlari hanya untuk menyusul ku, bodoh atau apa sih dia?.
"Mas dengerin dulu, aku bisa jelasin, yang kamu lihat itu bukan yang sebenarnya." ucapnya menjelaskan.
Aku mengepalkan tangan, sangat emosi, padahal aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, dan juga bukan sekali ini saja, masalah sudah dua kali aku melihat nya.
"Oh ya, lalu yang aku lihat itu hanya omong kosong doang, atau aku sedang berhalusinasi. Gak, aku lihat sendiri apa yang aku lihat itu benar, itu faktanya, mau ngelak apa lagi?" ucapku kesal karena dia tidak mengakui perbuatannya.
"Mas, kamu dengar dulu dong, jangan menyimpulkan hal yang nggak-nggak!"
Aku menghembuskan napas dengan kasar mencoba menenangkan diri. "Lalu apa lagi yang perlu aku ketahui? aku melihat kalian bermesraan bukan hanya sekali, tapi udah dua kali, bahkan mungkin kalian udah melakukannya berkali-kali."
"Mas maksud kamu apa?"
"Aku lihat kamu dengannya di danau kemarin, awalnya aku pikir itu bukan kamu tapi saat aku mendekat tak ku sangka, dan aku pulang dengan rasa kesal aku coba hubungin kamu dan kamu gak balas sama sekali, dan aku menelpon ibu mu berharap kamu ada di rumah, lalu apa yang ibumu katakan, kamu gak ada di rumah, dan katanya lagi kamu pergi sama laki-laki yang tidak di kenal, saat mendengar itu aku kesal, marah dan putus asa, lalu aku pikir lebih baik aku yang ngalah dan membiarkan kamu bahagia, dan itu yang aku pikirkan sekarang."
"Mas..."
aku membalikan badan dan ingin pergi. "Oh iya, aku juga mau ngasih tahu kamu, aku akan pergi jadi setelah aku keluar dari rumah ini, aku harap kamu tak mencari ku, orang miskin seperti ku harus berjuang untuk tetap hidup."
Aku pergi, aku pergi tanpa melihat ke belakang, aku mendengar dia menangis tapi aku tak akan berbalik, aku akan mengikhlaskan mu dan membiarkan mu berbahagia walau bukan dengan ku.
Mawar yang indah dan juga harum begitu menggoda hati untuk memiliki, namun apa daya ia berduri dan menyakitiku, selamat tinggal kamu dan bahagia lah.
9 bulan aku hidup di kota dengan kuliah, dan juga bekerja untuk menyambung hidup ku, aku mandiri dan tak pernah meminta uang orang tua ku, aku tak ingin merepotkan mereka lagi, dan aku bahagia walau pun pernah merasakan hancur, dan saat aku dalam proses menyembuhkan diri, aku bertemu dengan orang yang mengerti aku, semoga kejadian yang dulu tak pernah terjadi lagi....
**************************
Kata Penulis....
Maaf kan aku kalau ada kata yang salah atau ada sesuatu yang menyinggung perasaan pembaca, aku hanya ingin bercerita walau pun ini bukan cerita ku, di atas adalah cerita yaang aku buat sendiri dengan berkhayal dan aku ingin memberikan sebuah pesan yang terurai, kalau kalian tahu apa pesannya mohon jadikanlah sebuah pelajaran OK.
Sampai jumpa.......