Di teriknya sinar matahari yang menyengat, seorang pemuda tampan dengan peluh yang membasahi tubuh atletiknya, ia tetap berlatih basket di lapangan luas seorang diri tanpa ada yang menemaninya.
Mendribble bola basket dan dari kejauhan ia melemparkan bola itu sampai berhasil masuk ke dalam jaring basket.
Bola itu memantul-mantul sampai bola itu di ambil oleh sang pemuda, dari kejauhan seorang wanita paruh baya menghampiri pemuda itu.
"Yohan!" suara wanita itu terdengar oleh pemuda yang bernama Yohan, ia menoleh, menatap tajam dan mendapati sosok ibu yang akan selalu ia ingat sosoknya memanggil Yohan
"Ada apa bu?" balas Yohan bertanya setelah mengganti raut ke wajah yang biasa-biasa saja, mendekati sang ibu sambil mendribble bola basket digenggamannya.
"Ayo kamu bersiap-siap! malah main basket, kita kan mau ke rumah nenekmu!" ujar sang ibu membawa sang anak pulang ke rumah.
Yohan tertegun untuk sejenak.
"Rumah nenek ya ... " batinnya bergemuruh, tetapi Yohan menepis perasaan itu, ia harus teguh sekarang.
Kembali ke kenyataan, Yohan pun terkekeh menuruti perkataan ibunya, tidak disangka ia lupa akan hal ini dan ibunya bisa tau ada di mana ia berada, padahal Yohan jarang memberitahu kegiatan sehari-harinya.
"Kamu bisa ya, panas-panas gini malah main basket, nggak kepanasan kamu?" tanya sang ibu berdecak kagum menatap anaknya dengan pandangan aneh.
Yohan tersenyum palsu dan menanggapi ucapan ibunya, "Panas lah bu, tapi aku sih gak peduli," jawab Yohan santai.
Sang ibu pun mencubit pipi sang anak gemas.
"Bisa-bisanya ya! kulit kamu nanti gosong loh!" Yohan pun hanya bisa pasrah dengan apa yang ibunya lakukan, kalau ia membalas yang ada ia akan habis bukan?
Sesampainya di rumah Yohan pun membilas tubuhnya yang kata ibunya bau badannya itu menyengat, padahal sebelum Yohan berangkat latihan basket, ia sudah memakai obat ketek deh?
Menepis pikiran tersebut, mungkin efeknya tidak berfungsi.
Menatap cermin, Yohan berpose percaya diri dan berdecak kagum mengagumi dirinya sendiri.
"Ganteng juga ya nih orang, sixpack lagi, hahahaha!" guraunya dan tertawa tidak jelas.
Dor dor dor!!
Seseorang mengetuk pintu kamar mandi dengan brutal sembari protes tiba-tiba yang membuat Yohan hampir tergelincir di kamar mandi saking kagetnya.
"WOII! CEPET DONG! MAU BEABE NIHH!" teriak orang tersebut dari luar kamar mandi, yang membuat Yohan greget dan kesal.
Yohan segera memakaikan handuk di pinggangnya dan berjalan mendekati pintu membuka kunci pintu kamar mandi.
'Cklek'
"Wah sialan ya kau, orang lagi mandi dibuat jantungan aja!" Geram Yohan pada adiknya yang kurang ajar itu.
"Mandi kok lama! bencong kau! cowo kok lama-lama di kamar mandi, kayak cewek aja!" ledek sang adik yang bernama Bian dan mengusir sang kakak dari pintu kamar mandi.
'Klek-cklek'
Bian menutup pintu dengan tergesa-gesa tidak lupa mengunci pintu kamar mandi. Yohan mendengus kesal dan mematikan lampu kamar mandi seraya berlalu pergi seperti tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Bian sangat marah pada tingkah laku sang kakak sembari memaki-maki di dalam kamar mandi, ia akan membalas perbuatan sang kakak kelak.
Saat ini, mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sang nenek yang berada di suatu desa yang jauh menggunakan mobil sang ayah. dan di kursi penumpang, Yohan dan Bian memancarkan aura peperangan yang dingin.
Tetapi mereka tidak berani berantem dihadapan sang ayah, karena bagi mereka lebih baik diam dari pada bertingkah yang akan membuat ayah mereka emosi. Karena amarah sang ayah benar-benar menyeramkan.
Mereka pun menempuh perjalanan yang bisa dibilang lumayan jauh, sesaat hampir sampai, Yohan melihat ke arah luar dari jendela mobil. Menatap datar desa yang akan ia kunjungi.
Yohan adalah pemuda yang baik dan hangat ketika ia bersama dengan orang yang terdekatnya, dan ramah walaupun dengan orang yang tidak dekat ataupun tidak ia kenal. Tetapi untuk yang ramah, kita coret yah.
Karena ia bukan lagi orang yang seperti itu, memiliki rasa trauma di desa ini yang tidak ia tunjukan kepada keluarganya, ia hanya bersikap seperti biasa dengan sangat pintar sehingga anggota keluarga tidak tahu menahu perihal hal tersebut.
Dan Yohan menjadi pribadi yang dingin dan datar ketika berada di lingkup sosial. Seperti sekarang, Yohan dan seluruh anggota keluarganya telah tiba di tempat tujuan, Yohan yang sudah keluar terlebih dahulu menatap datar desa ini.
Dahulu tempat ini adalah tempat yang paling Yohan sukai, tetapi sekarang tidak lagi.
Sang ibu mendekati Yohan dan mengusap-usap lengannya penuh akan kasih sayang dan rasa bersalah yang amat dalam. Berharap memberikan rasa ketenangan untuk Yohan.
"Kamu gugup?" tanya sang ibu khawatir.
Yohan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak kok." jawab Yohan seadanya.
"Mau bagaimanapun kan kita bakalan ketemu sama mamahmu, kamu yakin?" tanya sang ibu sekali lagi memastikan.
Yohan hanya tersenyum tipis menanggapi sang ibu, dan Yohan pun akan kembali menemui sang mama tersayang.
Mama?
Mereka semua menghampiri rumah sederhana yang sangat Yohan kenali, Yohan hanya menatap rumah itu biasa-biasa saja, bahkah terbilang datar, tetapi tidak dengan hatinya.
Rasa rindu menyeruak dalam hatinya, tetapi tidak memadamkan rasa sakit di dalam hatinya. Sang ibu mulai mendekati pintu dan mengetuk dengan sopan.
"Buu, mas Hadi dan Firah datang berkunjung nihh, anak-anak juga datang!" sahut sang ibu sambil mengetuk pintu.
Tak lama pintu tersebut di buka oleh seorang ibu-ibu yang terlihat sudah tua. Yohan agak kaget melihat ibu-ibu tersebut.
"Eh bi?, apa kabar! mana ibu?" sapa sang ibu sopan dan senang pada bibi tersebut.
Sang bibi ikut senang dengan kedatangan mereka.
"Eh jeng, kok datang gak kasih kabar sih, kebetulan ibu baru aja tidur, nanti aja deh banguninnya yak! ayo sini-sini masuk!" balas sang bibi ramah mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun berbincang hangat, membahas hal yang berkaitan tentang orang dewasa. Yohan hanya diam duduk dengan patuh menatap mereka dengan bosan seraya menatap sang ibu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Bian menatap jengkel Yohan
"Heh kau nih kalau di luar lingkungan rumah kek kulkas berjalan ya! gak punya semangat hidup mendadak! ngeri tau!" bisik Bian pada Yohan berniat ngajak ribut.
Yohan menatap Bian sengit dan tajam, "Jangan macam-macam kau," balas Yohan datar.
Bian menghela napas dengan berat dan menyenderkan tubuhnya pada sofa.
"Eh betewe, aku belum bertemu sama mamamu tuh, mama mu di mana sih?" bisik Bian lagi dengan nada yang begitu penasaran.
Yohan pun menatap selidik Bian, "Kau belum pernah bertemu mamaku? ngaco kau," jengkel Yohan kepada Bian.
"Emangnya aku pernah ketemu sama mamamu?" tanya penasaran Bian dengan mengerutkan alisnya mencoba mengingat kembali.
"Percuma kau seperti itu, kejadiannya sudah lama karena pas masih kau kecil." ujar Yohan datar dan menatap lantai dengan pandangan yang kosong.
Bian sejenak merasa aneh dengan tingkah Yohan yang berubah drastis, maksudnya tingkah Yohan semakin absurd ketika setiap kali mereka pergi ke desa ini. Biasanya kalau di luar selain desa ini Yohan tetap kayak kulkas berjalan sih, tapi gak sedingin di desa ini.
Tempat ini pengecualian yah ternyata, pikir Bian.
"Mamamu katanya ada di sini kan? aku mau ketemu dong!" bisik Bian sangat dekat, tepat di depan telinga Yohan.
Yohan terdiam beberapa saat sampai ia pun beranjak dari duduknya, menatap Bian mengkode untuk mengikutinya.
Mereka pergi tanpa disadari oleh kedua orang dewasa itu yang sibuk berbincang. Entah Bian mau dibawa kemana oleh Yohan, tetapi semenjak Bian mengatakan ingin bertemu dengan mamanya Yohan, Yohan tidak berkata apa-apa lagi.
Membuat perasaan Bian menjadi tidak enak. Yohan berhenti sejenak di tempat pembelian bunga dan air mawar, jujur, Bian paham dan tidak bodoh maksud Yohan membelinya.
Tapi Bian tidak yakin akan hal ini, belum tentu bukan?
Mereka berjalan masuk ke tempat kuburan, yang menbuat perasaan Bian makin tidak karuan, mereka berhenti di sebuah kuburan yang terawat.
"I-ini?" gugup Bian terdiam.
"Katanya mau ketemu mamaku?" ujar Yohan menatap Bian yang berada di belakangnya dengan pandangan datar.
Bian tercenggang, "Ma-mamamu sudah ... " seketika Bian merasa perkataannya tidak bisa dilanjutkan karena lidahnya mendadak tercekat.
"Bener, sudah meninggal, karena kecelakaan, katanya." jelas Yohan dengan dingin dan muram, tanpa sadar kresekan yang Yohan pegang diremasnya dengan kuat.
Bian merasa bulu kuduknya seketika berdiri, ia merinding manatap Yohan yang tampak mengerikan sekaligus menyedihkan.
"Ma-maaf, buat kau ngingat hal ini lagi.." cicit Bian merasa tidak enak.
"Santai, tapi sebenarnya.. mamaku meninggal bukan karena kecelakaan," ucap Yohan datar, seraya menyiramkan air mawar di nisan sang mama.
Bian berjongkok di sebelah Yohan ikut menyiram kuburan tersebut.
"Maksudnya?" tanya Bian penasaran.
"Mamaku meninggal karena di bunuh orang, bukan karena kecelakaan," jawab Yohan dingin.
Bian membatu ditempatnya, seketika badannya pun bergetar takut ketika mendengar lanjutan ucapan Yohan.
"Sampai sekarang, pelakunya masih berkeliaran bebas di desa ini," bisik Yohan memelankan suaranya. Entah kenapa baru sekarang Yohan berbisik pada Bian.
"Ma-ma-maksud?!" Bian bergetar ketakutan seraya berdempetan dengan Yohan dan membulatkan matanya terkejut.
"Bertingkahlah seperti biasa, dia ada di sini sedang ngawasin kita berdua." ujar Yohan berbisik dan kemudian berdiri ingin menaburkan bunga pada kuburan itu.
"Aelah, si Yohan kampret, malah nakut-nakutin sih?!" batin Bian ketar-ketir, takut untuk berdiri. Tapi ada hal yang membuat Bian penasaran, bagaimana Yohan tau mamanya dibunuh? dan yang janggal kenapa dia tau, kalau kita sedang diawasi?
Bian memberanikan diri untuk berdiri, sebelum berdiri ia menatap nisan batu kuburan mama Yohan, Hannisa Belhan adalah nama panjang mama Yohan.
Ibu kandung Yohan, sedangkan ibu Yohan yang sekarang adalah ibu kandung Bian.
"Aku tidak bisa membenci pembunuh itu, tapi aku masih memendam rasa sakit darinya, tidak ingin membuatmu kecewa." gumam Yohan yang membuat Bian terbelalak kaget karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yohan.
"A-apa?" gumam Bian menatap Yohan tidak percaya, Bian ingin mengatakan sesuatu tetapi terhalang akibat kedatangan sang ibu.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya sang ibu dengan tersenyum ramah, menatap kuburan di depannya dengan terkejut.
Bian sangat terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba, sedangkan Yohan, hanya berdiam diri tanpa terkejut sekalipun, seperti sudah menduganya.
Menduganya?
Bian menatap sekeliling yang tidak ada orang-orang selain mereka, Bian pun terbelalak.
Jangan-jangan...
"Ibu? ... yang membunuh mama Yohan?" ucap Bian menatap ibunya dengan mata yang membulat dan takut.
Sang ibu terdiam sejenak, sebelum ia tersenyum lembut.
"Sudah ketahuan ya."