Sepasang pengantin tersenyum menyambut kedatangan tamu. Wajah keduanya sumringah, terpancar kebahagiaan di sana. Dekorasi acara didominasi nuansa putih, menyegarkan. Lalu lalang orang yang hadir di acara resepsi begitu padat. Ada yang berfoto bersama dengan keduanya.
Aku melangkahkan kakiku ke aula resepsi, menghampiri sepasang pengantin yang bersamalan dengan beberapa tamu. Langkahku terhenti sejenak tak jauh dari mereka, memantapkan diri. Menekankan dadaku dengan tangan kanan, menghembuskan napas pelan. Jantungku berdebar kencang, rasa nyeri menusuk ke hulu hati. Rasa gelisah menyelimuti. Ingin rasanya melarikan diri dari sini.
"Tenanglah! Ini hanya resepsi. Keduanya telah berbahagia. Setelah mengucapkan selamat, mari kita pulang," ucapku dalam hati.
Aku menghela napas beberapa kali. Menata kembali hatiku yang berantakan. Aku menghampiri keduanya. Pengantin perempuan lebih dulu menyadari keberadaanku.
"Hai, Risa! Aku menyangka kamu tak datang ke pernikahanku," ujarnya dengan senyum merekah menghiasi wajahnya.
Pengantin laki-laki itu menatapku tajam. Tak ada senyuman. Ada tersirat rasa bersalah dalam sorot matanya. Sudut bibirku naik membentuk senyuman. Senyuman pahit ataupun senyuman tegar, aku tak peduli lagi. Entah raut wajah seperti apa yang terpancar di sana.
"Iya dong, Win. Kamu kan sudah mengundangku. Tentu saja aku harus datang," sahutku pelan.
Aku memeluk sahabatku, Wina. Ia balas memelukku dengan erat. Tanganku menepuk-nepuk bahunya. Selang beberapa saat aku melepaskan diri dari pelukannya. Kuulurkan tanganku berjabat tangan dengan sang pengantin laki-laki.
"Selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian akan dan selalu menjadi keluarga yang berbahagia." Bibirku bergetar mengucapkan selamat pada keduanya. Rasanya air mataku siap jatuh ke pipi. Rasanya begitu menyesakkan.
"Terima kasih, Ris. Aku berharap kamu bertemu dengan orang yang bisa mendampingimu." Laki-laki itu tersenyum tipis. Dahinya berkerut.
Wina menyenggol lengannya. Kepalanya menggeleng pelan. Laki-laki itu tersendak, sedikit terkejut. Matanya melirik ke arah Wina sesaat, lalu menatapku lagi.
"Maafkan aku dan Andra ya, Ris. Tapi aku ingin kamu juga berbahagia."
Wina meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat-erat. Ada nada bersalah dibalik kata-katanya. Aku tertawa pelan. Semuanya terdengar ironis. Apa sebegitu terlihat menyedihkan. Aku tak perlu kata-kata penghiburan dari keduanya.
"Kalian kenapa, sih? Ucapan kalian membuatku merinding, tahu!"
Kedua sejoli itu tersenyum canggung. Aku menepuk pundak keduanya. "Aku tak bisa berlama-lama di sini. Jadi aku mengucapkan selamat pada kalian berdua."
Aku bergegas melangkahkan kaki menjauh. Keduanya melampaikan tangannya. Aku masih mempertahankan senyumku, menganggkat tanganku membalas lambaian mereka.
Aku menjejakkan kaki keluar ruang resepsi. Menghirup udara sebanyak paru-paru bisa menampung. Langkahku limbung. Seonggok bangku taman tak jauh dari tempatku. Langkah kaki terseok-seok menghampiri bangku. Menghempaskan tubuhku di sana.
Bulir air mata menganak di pipi. Semua dinding yang kubangun saat itu pelahan mulai runtuh. Duniaku terasa berputar begitu cepat. Beberapa orang lalu lalang melihat dengan wajah heran. Aku menangis tanpa suara. Tanganku mengusap pelan air mata di sudut mata. Semua kenangan masa lalu berputar di kepalaku.
Aku merantau ke kota besar, jauh dari kampung halamanku. Kuliah di sebuah universitas yang cukup ternama. Aku bertemu dan langsung akrab dengan Wina. Gadis cantik bertubuh mungil yang juga merantau kuliah ke kota. Kami bersahabat. Sikap kami berdua berbeda seratus delapan puluh derajat. Ia seorang gadis cerewet dan periang. Bertolak belakang denganku yang pendiam. Aku dan Wina memutuskan tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan kecil.
"Ris, kenalkan! Ini Mas Andra. Dia sepupu jauhku. Kebetulan dia juga bekerja di sini."
Wina memperkenalkan Andra padaku sehabis pindah ke kontrakan. Laki-laki muda berumur sekitar dua puluh lima tahun itu tersenyum ke arahku. Selisih lima tahun dengan usia kami berdua. Tatapannya tajam, wajahnya terlihat tegas selaras dengan tubuhnya yang jangkung.
"Salam kenal ya, Riska. Aku bakal sering mampir kesini."
Aku membalas jabatan tangannya, menampilkan senyum hangat. Ia menggenggam tanganku erat.
"Oh, ya! Salam kenal juga, Mas."
Sebulan sekali Andra mengantarkan titipan ibu Wina. Kami berpapasan di depan kontrakan. Aku hanya tersenyum bertukar sapa dengannya. Tak jarang Wina mengajakku bergabung, tapi aku menolak dengan halus. Tak nyaman mengganggu keduanya mengobrol
Mungkin karena sering bertemu meski tidak setiap hari, aku merasa terbiasa dengannya. Ia sering mengajakku berbicara. Wina juga menyeretku dari kamar untuk mengobrol bersama. Aku mulai mengobrol dengannya seperti normalnya mengobrol dengan temanku.
"Ris, boleh aku minta nomor teleponmu," ujarnya dengan nada rendah.
Mataku melebar, sedikit terkejut mendengarnya. Ada sesuatu mengusik perasaanku. Aku mengangguk pelan, tak keberatan memberikan nomor teleponku.
Andra mulai mengirim pesan dan meneleponku. Menanyakan kabar. Terdengar klise. Ia mulai sering mendadak datang ke kontrakan, meski hanya sekedar bertemu sapa, mengobrol sesaat. Wina sering menggodaku dan Andra. Menceritakan hal yang tidak penting tentangku padanya. Gadis itu terlalu bersemangat.
Laki-laki itu tersenyum hangat, sesekali tertawa. Sorot matanya memandangku intens. Aku mengalihkan pandanganku pada jendela ruang tamu. Malu menatap wajahnya tapi senang senang disaat bersamaan. Merasa seperti bukan diriku yang biasanya.
Ada yang berubah dengan diriku. Saat mata kami bertemu, jantungku berdegub kencang. Wajahku terasa memanas. Tak sanggup memandangi wajahnya lekat-lekat. Rasa suka mulai tumbuh perlahan di sudut hatiku.
"Ris, aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku," bisiknya ke telingaku.
Ia memegang kedua tanganku. Matanya bersirobok dengan mataku. Entah perasaan apa yang menyelimutiku. Antara senang dan bingung campur jadi satu. Senang ia memiliki perasaan yang sama denganku. Bingung, masa iya aku pacaran dengan sepupu temanku.
Aku merasa tak yakin berhubungan dengannya. Wina pernah mengatakan kalau Andra pernah menyukainya dulu tapi ditolak oleh gadis itu. Berbagai pertanyaan hinggap dikepalaku membuatku ragu. Bagaimana kalau ia masih menyukai Wina. Apa aku hanya sekedar pelariannya.
Saat memandang wajahnya yang tulus, menunggu jawabanku. Akhirnya aku memutuskan menerimanya. Ia terlihat lega, menarikku ke dalam dekapannya. Memelukku dengan erat.
"Ehem...." Terdengar suara Wina berdehem. Ia berdiri di pintu ruang tengah. Aku mendorong laki-laki itu menjauh. Sepertinya pipiku mulai memerah. Suasana menjadi canggung. Wina mengucapkan selamat pada kami berdua.
Sebulan sekali Andra mengajak bertemu di luar. Aku mengajak Wina karena merasa tak enak jika kami bertemu tanpa sepengetahuannya. Ia tak keberatan dengan kehadiran Wina. Sesekali kami pergi berdua tanpa gadis itu.
Andra menggenggam tanganku, sesekali memelukku. Ia mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya padaku. Semakin lama, aku semakin menyukainya. Perasaanku tumbuh begitu dalam. Hubungan kami begitu mulus, terkadang membuatku khawatir. Ada satu yang tak kusuka darinya. Hatiku terusik tiap kali Andra selalu menyebut-nyebut nama Wina.
“Ris, kamu harus menjaga Wina. Dia sudah seperti adikku. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa," katanya setiap kali kami bertemu.
Andra terkadang menceritakan baik jeleknya Wina di hadapanku dengan antusias. Wina juga sering menceritakan baik jeleknya Andra kepadaku dengan raut wajah yang sama. Mungkin aku terlalu paranoid karena ini pertama kalinya aku pacaran.
Aku memilih diam saja. Mungkin itu namanya cemburu. Kenapa keduanya begitu antusias bercerita padaku? Mungkinkah keduanya saling menyukai? Berbagai pertanyaan hinggap dikepalaku dan tak kutemukan jawabannya. Kupasang senyum palsu di wajahku saat keduanya bercerita. Ada setitik luka menelisip di hatiku. Aku tak ingin mengecewakan keduanya.
Hubungan kami berjalan dua tahun. Ini tahun terakhirku kuliah di kota ini. Aku merasakan kejanggalan diantara keduanya. Wina dan Andra terlihat begitu akrab. Keduanya bisa tertawa lebar saat bersama. Sedang denganku Andra jarang tersenyum.
Aku hanya membisu seribu bahasa, merasa seperti orang yang terbodoh. Seperti hanya aku yang menyukainya. Ingin melepasnya tapi tak sanggup. Aku tak tahu harus berbuat apa. Ingin kutanyakan perasaannya padaku apakah masih sama seperti dulu. Namun suara ini tak juga keluar dari kerongkonganku. Ada sesuatu yang menahanku untuk mengatakannya. Aku takut tersakiti. Aku mencoba bertahan dengan segala kemampuanku meski perih menusuk jantungku.
Andra mulai jarang menghubungiku. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Seakan-akan ingin menjauh dariku. Kutanyakan kepada Wina, gadis itu hanya mengatakan Andra sibuk bekerja. Aku menerimanya begitu saja.
"Ris, bagaimana menurutmu. Aku dijodohkan dengan Andra," ujar Wina seraya menggenggam kedua tanganku. Wajahnya berat menahan perasaannya.
Seketika aku terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan Wina. Perasaanku menjadi tak enak saat ia mengajakku ngobrol berdua. Dan sepertinya terbukti. Wina menceritakan semuanya padaku.
Orang tua Andra menginginkannya segera menikah dan sudah memilihkan jodoh untuknya. Keduanya sudah berkunjung ke rumah Wina, membicarakan sesuatu yang penting. Kedatangannya disambut oleh kedua orang tua Wina dan neneknya. Orangtua Andra mengatakan maksud kedatangannya untuk menjodohkan anaknya dengan Wina.
“Kaliankan sudah akrab sejak lama dan terlihat sering jalan berdua. Nenek mau kalian secepatnya menikah setelah Wina lulis kuliah. Kami juga sudah menjodohkan kalian sejak kecil untuk mempererat tali kekeluargaan.”
Wina merasa ragu. Ia seperti menusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Tak berani membayangkan ia akan memasang wajah seperti apa nanti. Wina tak memiliki perasaan apapun pada Andra. Hanya menganggapnya seperti kakaknya sendiri. Tapi tak mungkin ia menentang orang tuanya.
Andra hanya terdiam membisu. Hatinya bimbang untuk memilih Wina atau Risa. Ia mengajak Wina berkonsultasi kepada seorang udstad berpengaruh di kampungnya. Udstad tersebut menyarankan untuk menyetujui perjodohon itu demi kedua orang tuanya dan kebaikan mereka berdua.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Mas. Nanti kita akan berkata seperti apa pada Risa?"
"Aku tak tahu. Aku bisa minta tolong sesuatu padamu?"
Andra mengatakam sesuatu padanya. Wajah Wina menegang. Ia terlihat sangat terkejut.
"Itu sangat jahat, Mas. Risa itu sahabatku."
Wina menangis meminta maaf padaku untuk dirinya sekaligus mewakili Andra yang tidak bisa menemuiku. Aku hanya membisu. Seperti ada ribuan jarum menusuk jantungku. Buku-buku tanganku terasa dingin. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Aku menahan diri karena sahabatku. Wina terlihat menyesal dan bersalah padanya.
Aku hanya bisa tersenyum. “Aku tak apa-apa, kok. Sejujurnya aku juga tidak begitu menyukai Mas Andra. Kalau begitu, selamat ya."
Wina semakin terisak-isak. Aku memeluknya mencoba menenangkan. Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang siap mengalir.
"Ada satu lagi yang harus kamu tahu, Ris. Mas Andra ingin kamu yang memutuskannya."
Seperti tersambar petir di siang hari. Seakan jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Apa aku benar-benar menyedihkan? Andra bahkan tak datang menemuiku untuk menjelaskan meski hanya sepatah kata. Tak ada salahnya jika ia berkata jujur padaku. Sebegitu pengecutnyakah dia?
Aku menangis, mencurahkan semua kesedihan di kamarku. Menangisi ketololanku yang berpura-pura tegar dan memasang senyum palsu. Rasa sakit seperti menusuk jauh di dalam hatiku.
Aku tak bisa bersikap seperti biasanya di hadapan Wina. Bukan karena aku membencinya hanya saja aku tak tahu harus bersikap seperti apa dan bagaimana.
Seminggu setelah Wina meminta maaf, Andra memintaku bertemu. Aku menguatkan hatiku, mencoba bersikap seperti biasanya. Kami berdua terdiam duduk di pojok kafe. Tanganku sibuk mengaduk-aduk minuman dingin di hadapanku. Menunggu Andra mengatakan sesuatu. Tapi ia hanya dia seribu bahasa.
"Aku sudah dengar semua dari Wina. Jadi aku ingin dengar darimu juga," ujarku memulai percakapan.
"Maaf, Ris. Aku bingung harus mulai dari mana. Aku sudah dijodohkan dengannya dari kecil. Aku tak ingin menentang keinginan kedua orang tuaku."
"Lalu aku apa, Mas? Sebenarnya selama ini Mas menganggap aku apa? Pelarian sesaat? Aku tulus menyukaimu, Mas. Tapi...." Aku tak melanjutkan kata-kataku. Takut jika air mataku berurai. Aku menggengam erat kedua tanganku. Menahan semua perasaanku yang menbuncah.
"Aku mencintaimu juga, Ris. Aku juga tak ingin berpisah darimu. Maaf, aku menjadi terlalu serakah."
"Sepertinya kita tidak bisa terus seperti ini, Mas. Seperti permintaanmu, kurasa kita memang harus putus."
Andra menggenggam tanganku. "Mendengarnya langsung, aku jadi tak ingin melepaskanmu Ris. Bagaimana kalau kita menikah saja?"
"Hah? Lalu Wina? Bukannya kamu tak ingin menentang pilihan orang tuamu?
"Aku akan mencari caranya."
Aku melepaskan genggaman tangannya. "Tapi aku tak mau, Mas."
Apa Andra salah makan sesuatu hingga mengajaknya menikah. Setelah apa yang ia lakukan selama ini. Aku bukan gadis bodoh yang mau menerima begitu saja. Keluarga Andra sangat menyukai Wina. Ia juga akrab dengannya dam dulu sempat menyukainya. Tak ada yang dirugikan bagi Andra. Jikalaupun Andra menentang perjodohan itu dan memilihku, tak ada jaminan orang tuanya menyukaiku. Kemungkinan terburuk orang tuanya akan membAndrangkan aku dengan Wina.
Aku tak ingin keluarganya berantakan karenaku. Aku tak ingin Andra dan Wina menentang orangtuanya karenaku. Karena aku bukan gadis sebaik itu.
Andra masih mengirimi pesan meminta maaf padaku. Tak sekalipun aku membalasnya. Hubunganku berakhir tepat dua tahun dengan begitu menyedihkan. Aku sadar jika cinta itu tak harus memiliki. Jika memaksakan cinta maka yang ada hanyalah penderitaan. Aku tak membenci mereka berdua. Hanya saja aku tak sanggup melihat keduanya bahagia.
Seusai lulus kuliah, aku kembali ke kampung halamanku. Menjalani hari-hari normalku. Terkadang ada sedikit kekosongan di hatiku. Sebuah undangan pernikahan dikirim lewat pesan padaku. Wina dan Andra, keduanya mengirimkan undangan itu.
Aku tertawa seperti orang gila. Semua teman sekantorku mamandangku heran. Ah... Sepertinya aku harus menemui mereka untuk terakhir kalinya.
Seorang laki-laki muda duduk di sampingku yang tengah terpekur. Menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya pelan.
"Mas, tolong jangan merokok di sini." Aku menatap tajam ke arahnya dengan wajah kesal.
"Oh... Oke. Aku kira Mbak tidur tadi," ujarnya terkekeh pelan. Ia menginjak puntung rokoknya yang masih banyak. Melemparkan ke tempat sampah.
"Kenapa, Mbak? Putus cinta, ya?"
Aku memandangnya sekali lagi dengan risih. Kenapa juga laki-laki ini mengganggu urusannya. Ia berlalu dengan tertawa. Lelucon yang tak lucu.
Mataku terpaku pada awan yang berarak. Langit mulai berwarna jingga. Sepertinya sudah terlalu lama aku duduk di sini. Aku berjalan ke jalan besar. Mencari angkutan yang membawaku pulang ke kota ku.
Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya menginjakkan kaki di kota ini. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Ayo mulai berdamai dengan masa lalu.
"Selamat tinggal sahabatku dan mantan pacarku. Semoga kalian bisa hidup bahagia," ucapku dalam hati.