Dari dulu hujan memang telah menjadi musuh bebuyutan Andri. Mulai dari dirinya yang sering terjerembab ke pasir karena licinnya hujan ketika kecil, sampai dewasa ketika mobilnya mogok terkena butiran tangisan dari langit yang terlalu lama. Namun, hari ketika mobilnya mogok itu agak spesial. Untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan wanita yang membuatnya jatuh hati.
Sarah tampak bagai langit yang kelabu bagi Andri, membuat hatinya was-was. Parasnya memang lumayan cantik, tapi perempuan itu susah sekali diajak berbicara. Andri berpikir jika perempuan itu memang sama sekali tidak tertarik padanya, dan mungkin ia harus cepat-cepat menyerah. Hingga mereka berdua terjebak berdua di sebuah kafe karena hujan.
"Astaga! Kenapa hujan lama sekali, ya?" Itu pertama kalinya Andri mendengar suara Sarah yang terdengar semerdu kicauan burung. Ia hendak menjawab, tapi masih ragu apakah memang perempuan itu mengajaknya bicara atau tidak. "Saya kan harus cepat-cepat pulang!"
"Tapi sebenarnya saya suka hujan, kok." Kali ini Sarah menoleh ke arah Andri. "Apa anda juga suka hujan?"
Agak tergagap, Andri menjawab. "Ti-tidak terlalu."
"Anda seharusnya menyukainya, banyak hal di dunia ini yang jadi lebih baik karena hujan…" Dan Sarah pun terus mengoceh tanpa rem. Andri pun tidak bisa melepaskan pandangannya pada perempuan itu di antara bunyi rintik-rintik hujan yang hendak berhenti menangis.
Dan begitulah pertama kalinya mereka berdua dipertemukan. Di bawah atap yang gemericik, di bawah langit yang penuh dengan warna kelabu. Namun, untuk pertama kalinya ia tidak membencinya. Malah, tiap hari ia semakin menikmati harinya yang seperti itu. Seusai pekerjaan kantor beres, mobilnya langsung melesat cepat menuju kafe tempat ia bertemu dengan Sarah. Dan benar saja, tiap kali ia selesai memarkir mobilnya di sana, Sarah duduk di meja paling depan dekat kasir.
"Anda datang lagi," ucap Sarah tiap kali mereka bertemu.
Andri pun balas tersenyum dan memesan kopi hitam seperti biasanya. Setelah itu, mereka berbincang-bincang panjang, mulai dari urusan pekerjaan, masalah teman kantor, masalah keluarga, semua masalah yang ada di dunia mereka bicarakan. Andri tentunya menjadi semakin jatuh hati pada Sarah, mengetahui perempuan itu sangat luwes bercakap, ditambah ia adalah pendengar yang baik.
Setelah hari itu mereka terus bertemu, juga di bawah turunnya hujan. Ratusan pertemuan sampai tidak terasa, padahal Andri selalu mengeluh mengenai tahun yang lama berlalu karena pekerjaan kantor yang membosankan. Hingga pada suatu hari, Sarah mengajaknya untuk jadian. Hati Andri tentunya melayang senang bukan main. Dipeluknya gadis yang sudah lama menjadi pujaan hatinya itu (yang mana ditepuk tangani meriah oleh pegawai-pegawai kafe). Setelah keduanya pulang dari kafe pun di bibirnya Andri masih tersungging senyum.
Semua sempurna hingga ia sampai di depan rumahnya.
"Andriii! Akhrinya kamu pulang!" Dirinya masih linglung melihat Ibunya yang tidak pernah berada di rumahnya datang. "Ini, lho. Perempuan yang Ibu bilang kemarin. Dik Rara. Kenalin, ya. Ini anak saya."
"Kenalin, mas. Saya Rara." Andri menyalami tangannya buru-buru. Masih bingung dengan kehadiran Ibu dan perempuan asing di rumahnya. "Kamu kok bengong, sih? Ini lho ibu carikan perempuan buat jadi istri kamu! Kamu harusnya seneng, lho! Ketemu perempuan kayak Dik Ratih!"
"Maksud Ibu?" Andri hanya bisa balas bertanya.
"Iya, ibu tahu Andri seneng, kok. Kamu kan udah lama sendiri… Ya masa ibu tega tinggalin kamu selamanya jomblo." Ibunya berujar dengan penuh senyum. Hati Andri semakin mencekik dirinya tak karuan. "Makanya ini kebetulan ibu ketemu sama Dik Ratih! Anaknya udah cantik, keluarganya baik-baik dan kaya lagi! Ih!"
Andri menelan ludah. Baru saja Sarah mengajaknya untuk berpacaran, ibunya malah melakukan hal seperti ini. "Tapi, Bu. Saya sudah punya pacar!"
"Eh, beneran, Mas?"
"Halah! Kamu nggak usah bohong! Bentar, ya, Dik Ratih. Saya mau ngomong sama dia. Anak saya memang agak pemalu." Ibunya buru-buru menarik tangannya menuju kamar tidurnya, meninggalkan Ratih bersama langit yang mendung.
"Andri, tolong sekali ini aja, ya, Nak. Turuti permintaan Ibu sekali aja! Dik Ratih itu anaknya perusahaan orang kaya, ndri. Pasti enak juga kamu jadi suaminya Dik Ratih. Lagian itu juga anaknya teman Ibu, nggak mungkin ibu nolak."
"Tapi, Bu…"
Tangisan ibunya memecah. Memang selalu begini, sejak kecil, kalau permintaanya ditolak, ia tidak boleh menangis. Namun, ibunya boleh. Dan itu selalu dimaklumi oleh ayahnya sendiri. Mau tidak mau, Andri harus menuruti permintaan Ibunya itu. "Iya, iya. Bu. Maafin Andri. Nanti aku bilangin ke pacar aku supaya kita putus."
Ibunya pun berhenti menangis dan melenggang ke ruang tamu. Giliran Andri sekarang yang menangis. Ia harus memutuskan Sarah yang membuatnya tidak membenci hujan. Sarah yang selalu bertemu dengannya di bawah kemerduan hujan rintik-rintik dan diantara manis segelas kopi hitam. Sarah yang dicintainya.
Esoknya, ia pun pergi menuju ke kafe itu lagi. Mencari Sarah yang biasanya ada duduk di kursi depan kasir. Anehnya, kali ini malah perempuan lain yang duduk di sana. Melihat Andri yang celingak-celinguk, perempuan itu memanggilnya. "Mas Andri? Benar Mas Andri, ya?"
"Iya, itu saya?"
"Tolong duduk sini, Mas. Mbak, pesen kopinya lagi, ya. Dua cangkir." Si pelayan melesat menuju ke dapur, diikuti dengan Andri yang berdiri di tempatnya berbincang dengan Sarah biasanya.
"Ada apa, ya, Mbak?"
"Duduk dulu, Mas. Saya bicarakan kalau mas sudah duduk."
Andri pun menuruti kata perempuan di depannya itu. Segera setelah ia duduk, perempuan itu bicara lagi. "Mas pacarnya Sarah, ya?"
"Lho, anda, tahu?"
Perempuan itu berkedip beberapa kali. "Iya, saya temannya, Mas. Jadi gini…" Ia menelan ludah, wajahnya memucat. "Sarah meninggal karena kecelakaan kemarin malam."
Petir serasa menyambar seluruh badannya. Bersamaan dengan itu, hujan ikut menghantam tanah dengan keras. Ia masih tidak bisa percaya dengan perkataan perempuan di depannya. Kemarin, Sarah dengan wajahnya yang penuh dengan kebahagiaan itu mengajaknya untuk jadian. Dan sekarang ia dikatakan meninggal?
"Maaf, ya, mas. Kejadiannya tiba-tiba sekali. Saya juga turut sedih…"
Andri tidak bisa mendengar sisa ucapan perempuan di depannya. Kakinya melangkah menuju keluar kafe, mengabaikan perempuan yang berteriak memanggilnya di tengah hujan. Ia tidak peduli, walau sebenarnya ia benci dibasahi hujan. Ia tidak peduli lagi dengan kakinya yang mungkin akan tergelincir di tengah hujan. Matanya kini sudah dipenuhi oleh air hujan, dan Sarah tidak akan menceritakannya kisah-kisah kehidupan yang kadang membuatnya tertawa.
Di tengah hujan yang deras, ia malah melihat Sarah berdiri melambaikan tangannya. Kenapa perempuan itu berdiri disitu? Bukannya Sarah sudah mati? Sudahlah, Andri tidak peduli. Entah Sarah telah menjadi hantu ataupun roh hujan, ia tidak peduli. Sarah pasti menipunya karena tidak ingin Andri memikirkan perempuan pilihan Ibunya. Sekarang ia harus berlari mengejarnya. Ia tidak boleh meninggalkannya lagi.
***
Mas Andri! Mas Andri! Perempuan itu terus memanggil pria yang terus berjalan melewati hujan. Di depan ada truk! Pria yang dipanggilnya tetap tidak peduli dan terus melaju, tanpa memperhatikan truk yang melesat tanpa berniat berhenti. Dalam sepersekian detik, tubuhnya melayang. Menyisakan cipratan darah yang menodai jalan.
Ratih dan Ibunya yang kebetulan lewat menjatuhkan payungnya. Minggir, Bu! Minggir! Bunyi Ambulan dan mobil polisi memenuhi langit. Dari kejauhan, seorang pria tersenyum tanpa beban hendak ditutup dengan karung hitam. Andri! Andri! Ibunya terus berteriak, tapi pria itu tidak bisa mendengarkannya lagi.