By : Ayudya Reski
-Kamar, 16 september, 2020.-
Samar-samar suara kicauan burung terdengar. kepakan sayap dan kicauannya menghiasi langit senja.
Tetesan air mengalir di pipiku, menetes jatuh di lenganku. masih terngiang-ngiang suara pukulan itu, tamparan, dan rasa sakit itu masih dapat kurasakan.
Aku hanya manusia tak berdaya nan lemah, yang di peralat semaunya oleh orang. dan di jadikan kelinci percobaan.
Apabila aku tak menurut, tamparan keras melayang di pipiku. pukulan, dan bahkan tendangan tak luput di cicipi tubuhku hingga lebam dan memar.
Mereka menyebutku payah dan sampah. tidak lain karna fisikku yang terbatas ini dan tidak sempurna.
Mereka pikir jika aku tak bisa berjalan, maka aku tak bisa mengejar impian. mereka pikir jika aku tak mampu berbicara, maka aku tak mampu membela dan menegakkan keadilan.
Aku memang seorang manusia yang tidak sempurna dengan fisik terbatas, tapi aku masih memiliki hak seperti manusia umumnya.
Aku masih berhak untuk bahagia, seperti lainnya. aku masih berhak untuk berteman, seperti lainnya. dan bahkan aku berhak mendapatkan kasih sayang serta keadilan, tapi orang-orang tak peduli dengan manusia yang memiliki kondisi sepertiku.
Mereka tak segan-segan melakukan kekerasan untuk kepuasan mereka. mengejek dan memperlakukanku seperti binatang. aku bahkan pernah berpikir, apa benar aku ini manusia?.
Dunia tak menunjukkan keadilannya padaku, aku bahkan tak pernah berhenti untuk mendapatkan keadilan yang kuinginkan! tapi orang-orang itu membuatku putus asa.
Mereka mengatakan bahwa tidak ada keadilan buat anak lemah dengan fisik terbatas di dunia ini. mereka bahkan bilang bahwa mungkin di surga malaikat bahkan tak segan menyuruhku menyentuh surga. dan itu membuatku berada dalam titik terdalam aku terpuruk.
Aku tak punya harapan untuk hidup di dunia ini. setiap hari aku hanya menghabiskan waktuku menatap senja di sore hari.
Sambil menangis aku selalu berdoa pada tuhan untuk menunjukan secuil keadilan untuk anak yang tak sempurna sepertiku.
Setelah berdoa, aku akan langsung berbaring menunggu kapan tuhan menjemputku.