Menjadi sekretaris dari bosku yang sangat menyebalkan, yang juga pacarku itu.
"Selamat pagi" Suara dingin itu menyapaku.
"Selamat pagi bapak" kujawab dengan senyum profesionalku.
"Tolong jadwal saya, segera, sekalian kopi saya jangan lupa" Ia melangkah keruangannya.
Namanya Janu Harun, anak dari Irsyat Harun seorang pengusaha handal.
Seperti ini lah kami, jika dikantor. Profesionalitas nomero uno! Itu syarat yang ia berikan padaku saat ia setujuh dengan hubungan ini.
Aku yang terlalu senang hingga tak berpikir lagi. Aku jalani hubungan ini dengan hati suka cita walau kadang membuatku gondok sampai ke ubun-ubun.
Dan kenalkan aku, Ratu Samara. Juga ratu dihati Janu sampai maut memisahkan. AAMIIN YA RABBAL ALAMIN dengan huruf KAPITAL. haha.
***
"Bapak nanti siang, makan siang apa?" Tanyaku. Ya ini salah satu tugasku.
Janu memang agak pemilih dalam makanan. Ia lebih suka masakan rumahan. Sedangkan aku biasa membawa bekal. Pasangan klop bukan.
Kadang aku membagi bekalku padanya, ya, dia sangat suka. Suatu waktu karena bekal yang aku bawa dan ia tahu aku memasaknya sendiri. Dia membawaku kerumahnya, saat itu hubunganku dengannya baru hitungan hari.
Ia membawaku ke acara arisan keluarganya, aku bertemu dengan Mami Rosa. Kami memasak bersama. Lebih tepatnya aku seperti mengikuti ujian mantu merangkap ujian master chef.
Aku memasak ikan acar kuning, bola bola daging asam manis, juga sup merah. Gila! Setelah selesai, ternyata masih ada ujian kelolosan pada makananku itu.
Sumpah beneran kayak ikut master chef. Dimeja makan ada Mami Rosa, Papi Irsyat juga dua adik Janu. Irwin juga Alana,
Juga Janu, tersangka yang menyeretku kesini, ia hanya melihatku dengan tampang datarnya. JAHARA!
Gak tahu apa, pacarnya ini butuh doping, pelukan hangat dari dadanya yang liat, bahaha...
Bisa dibayangkan seberapa gugupnya aing kan.
Dan ya lolos. Katanya masakanku mirip masakan ibu Mami Rosa. Ia terharu kemudian memelukku erat, begitu pun yang lain, mereka menyukainya.
Dari situ aku bertambah akrab juga semakin dekat dengan calon mertua itu hampir tiap minggu aku diajak Mami menemaninya ke acara-acara arisan.
Berasa pacaran bertiga dengan Maminya karna kemana-mana Janu juga selalu ikut. Dan hubunganku dengannya berjalan 3 bulan hingga kini.
"Oh lain kali, saya sudah ada janji hari ini, jadi enggak usah pesankan saya makan siang" Hah! Ada janji? Meeting kah? Kok enggak ada dijadwalnya.
"Okey, Ada lagi bapak?" Sopan.
"Enggak ada, mungkin nanti setelahnya saya tidak kembali kekantor" Kok aku kepo ya. Mau nanya entar malah diputusin. Serba salah adek, Bang!
"Okey Bapak" Aku tutup telponnya. Menatap pada onggokan bekal yang membuatku tak nafsu memakannya.
Si Bos baru keluar lima menit yang lalu. Rona mengajakku makan siang dan aku menyetujuinya. Ia menungguku di lobby.
"Tumben gak makan bareng Bos" Sapanya saat aku sudah berada disampingnya, Aku hanya mengangkat bahuku. Malas menjawab.
Ternyata kami tak hanya berdua ada Firdo, pacar Rona dan teman pacarnya, Gio. Mereka sekantor, digedung sebelah.
Aku duduk dibelakang dengan Gio. Kami akan mencoba restauran baru yang hanya 15 menit dari kantor.
Restauran indonesia bergaya rumah nenek. Menunya ya... masakan indonesia peninggalan nenek sang pemilik. Nuansa kayu berwarna coklat, banyak ukiran juga ada pondok joglo.
Ya membuat seperti ada di luar jakarta. Aku memesan patin kluwak tanpa nasi karna aku akan memakannya bersama bekalku. Rona dengan bebek goreng komplit. Firdo dengan soto babatnya. Dan Gio dengan nasi campur empalnya.
"Mau?" Aku menawarkan. Lauk perkedel jagung, oseng tongkol kecap dan sayur bayam. Menu sederhana nikmatnya tiada tara.
"Mau dong" Rona mengambil dua untuknya, dan dua untuk Firdo, aku memang membawa banyak perkedel jagung. Biasa buat aku cemilin.
"Gi, Sam ini punya sampingan katring dirumahnya, namanya Ramah Sama Kantong, lucukan."
"Aku sama Firdo pelanggan tetap, ada juga beberapa orang kantor, kadang aku pesen lauk juga, macam, tongkol suir, Sambal cumi pete" jabar Rona.
"Makasih promosinya bestie! Aku bayar pake sambel jamur ya" bisikku menaik naikan alisku. Dibalas jempol oleh Rona.
"Oh aku suka sama bebek hitam pedas. Itu juara" timpal Firdo.
"Iya enak kan, cobain Gi lo gak bakal nyesel" Rona menacungkan paha bebeknya pada Gio.
Gio mengulurkan tangannya pada tempat bekalku. Mengambil dua perkedel jagung.
"Cobain ini" Kusodorkan kotak dengan oseng tongkol.
"Gak papa" tanyanya,
"Gak apa-apa dong, anggap aja sample" Gio menyendok potongan ikannya.
"Gimana? Gimana?" Rona penasaran, sama aku juga.
"Wah boleh nih jadi pelanggan." Gio mengangguk, teman Firdo ini ternyata orangnya seru. Aku kira dia setipe Janu. Eh tahunya somplak abis.
"Boleh banget, nanti lo hubungi gue, gue kasih menu bulanannya,"
Setelah makan kami tetap mengobrol, menunggu makanan kami turun dulu. Setelah membayar, Gio pamit kekamar mandi.
Rona dan Firdo jalan duluan keparkiran, mau tak mau aku menunggu Gio.
Melihat kearah pintu masuk, ada Janu mengandeng seorang wanita. Didepanku.
Ia tampak luwes. Becanda, dengan sesekali mengelus sayang kepala wanita itu. Aku terpaku ditempatku.
Tatapan Kami bertemu, "Sorry lama" aku masih fokus pada Janu.
"Sam ayo" Gio menepuk bahuku. Menyadarkan diriku.
"Ah iya" Kesal dan cemburu. Rasa itu bergemuruh naik.
Gio mendahuluiku setelah melihat aku sudah mengikutinya. Disana Janu berjalan lambat, ditarik oleh wanita cantik, berambut panjang juga mengenakan pakaian yang modis.
Kami berpapasan. Ia melewatiku begitu saja. Aku mengerutkan kening. Antara sedih juga marah. Aku tarik baju belakangnya. Ia berhenti. Memandangku juga wanita itu.
"Bapak, siapa nona itu?" Tanyaku padannya. Biarlah kami kan tak sedang dikantor, jam istirahat pula jadi bolehlah ku tanggalkan keprofesionalku.
Lama ia tak menjawab. Yasudah aku lepas cekalan dari kemejanya. Aku berbalik melangkah lebar keluar menyusul Gio. Bete!
"Sar kamu duluan aja, nyari kursi, nanti aku susul" Masih kudengar suaranya.
"Q" Panggilnya. Iya. Dia memanggilku Q dari kata Queen. Dari Ratu namaku.
Ku percepat langkahku. Cemburu menguasaiku. Melihat ia begitu luwesnya dengan wanita lain dan denganku begitu dingin.
Sebulir air menetes dipipiku. Sedih banget.
"Q" Dia masih mengejarku. Bentar lagi aku sampai si mobil Firdo. Melihat Gio menyandar pada pintu mobil, sibuk dengan ponselnya.
"Nah ini dia, Sam aku boleh minta nomor... " Gio menatapku yang kubalas dengan sedikit menaikan sudut bibirku. Perkataannya terputus. Saat Janu memanggilku dengan kencang.
"RATU!" Kurasakan sentakan kuat dilenganku. Aku berbalik dengan cepat dan menabrak sesuatu yang keras.
Hembusan nafasnya memburu menimpa wajahku. Mataku mulai berair. Janu menarikku masuk dalam rangkulannya.
"Sorry, Ratu balik sama Saya" tak berapa lama kudengar suara pintu yang ditutup juga suara mobil menjauh. Janu menyenderkan dagunya diatas kepalaku. Detak jantungnya mulai sedikit tenang.
Aku menangis sendu didadanya. Sengaja aku memeluknya erat. Sekalian buat elap. Ini air mata yang gak mau berhenti sama ingusku yang ikutan keluar.
SROOOOTTT...
Ia menjauhkanku dari pelukannya. Menatapku lamat. Kulihat kemejanya yang basah oleh air mataku lalu kularikan mataku kearah lain. "Lihat Saya" Aku tak mau melihatnya.
Bodo amat! Tadi aja sama itu cewek "nanti aku nyusul!" Bisul! Mana ini air kayak keran enggak berhenti! Kesalku.
"Q, lihat Saya!" Janu menangkup wajahku. Membersihkan airmata dengan jemarinya.
"Udahan nangisnya, ayo ikut Saya" Janu menarik tanganku, tapi aku tak mau bergeser sedikitpun dari tempatku berdiri.
Janu memaksa. Dan ya aku ikuti dia dan kembali masuk kerestauran itu.
Disana sudah duduk wanita cantik tadi. "Sorri nunggu Sar" Janu menarikku mendekat. "Its okay Nu" jawabnya dengan senyuman manisnya.
"Q ini Sarah, sepupuku" Aku terkejut. Merasa malu seketika.
"Sarah ini Ratu, calon istriku" Aku mendongak kearah Janu yang juga menatapku. Sudut bibirnya terangkat, ia menyeringai jahil padaku. Untuk pertama kalinya.
Oh Lord! Mau kumakan saja dia!!! Antara kesal bercampur rasa ingin memberinya ciuman bertubi. Cukup pikiran kotormu Sam!
"Hai Ratu salam kenalnya" Senyuman manisnya membuatku iri. Aku menyalaminya.
"Sama-sama maaf sudah salah sangka, lagian Bapak bisa senyum kayak gitu ke Mbak Sarah masa ke Aku nggak, mana pake aku-kamuan segala" Rajukku diselipi curhat colongan.
"Hahahaha kamu manggil dia Bapak? Bahahahaha..." Tawa Sarah semakin kencang saat aku angguki.
"Memang tampangmu yang gak bisa senyum itu jadi cepat tua" celetuk sesosok yang tiba-tiba datang memeluk Sarah.
"Sayang udah dateng?" Lelaki itu mencium kepala Sarah.
"Macet tadi. Gimana kamu suka?" Sarah mengangguk menatap sayang ke lelaki itu.
"Oiya sayang ini Ratu calonnya Janu,"
"Ratu ini suamiku Darel" Darel mengulurkan tangannya.
"Ratu, Mas darel"
"Darel aja Ra, kok bisa kamu sama manusia kutub ini" kulihat Jamu memutar malas bola matannya. Aku hanya tersenyum canggung.
"Iya panggil aku Sarah aja jangan pake mbak segala, kami enggak mau setua Janu" Sarah terkekeh puas mengejek Janu.
"Udahlah kapan kita makannya? Aku lapar" alihnya. Darel memanggil pelayan dan mulai memesan.
"Bapak belum makan?" Aku mengeluarkan bekalku ada perkedel jagung yang tersisa. Tak ku indahkan sepasang manusia didepanku yang sedang mengejek Janu habis-habisan.
"Mau makan ini dulu?" Kutunjukan perkedel jagung padanya. Ia hanya mengangguk. Kemudian membuka mulutnya didepanku.
"Dasar bujang tua telat puber!" Ejek Sarah.
"Ck! Dasar! Bisa pamer sekarang dia sayang" Darel ikut membuli Janu. Tapi yang dibuli tak mengindahkan dan sibuk mengunyah perkedel jagung buatanku.
"Yaudah kita tinggal dulu ya kalian" Darel dan Sarah pun masuk menuju pintu yang bertulisan staff only.
"Lagi Q aaaa..." Astagaaaa manjanya. Kulirik kanan dan kiri, aman, kukecup cepat bibirnya. Sebelum kusuapkan perkedel jagung kemulut Janu.
Janu mengunyah dengan cepat lalu menandaskan es teh tawarku. Kemudian meneguk kopinya. Membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Lagi dong" ia mengerucutkan mulutnya depan wajahku.
"Ish bapak mesum!" Aku berbisik.
"Tadi aja berani" Dasar! Janu melengos. Ia ngambek ceritanya nih.
"Ish ambekan Bapak mah!" Kataku. Ku raih wajahnya kudekatkan ke wajahku. Kemudian kukecupi. Sebanyak mungkin. Aku melihat tarika sudut bibirnya.
Janu meraih tengkukku. Lalu melumat dalam bibirku. Tanpa jeda ia terus memainkan bibirku.
"Hey get a room please!" Aku melepaskan bibirnya yang membengkak karna ulah kami. Sama bibirku juga. Ia masih menatap sambil memainkan jarinya di bibir bawahku.
"Dasar telat puber!!! Aku kasih tahu Mami Rosa buat nikahin kalian secepatnya!"
"Makasih Rel tapi enggak usah, Mami udah tahu" Jawab Janu. Kemudian ia merogoh kantongnya dan memperlihatkan sebuah cincin didepan mataku. "Will you merry me?"
Bingung. Aku masih menatap cincin yang disodorkan Janu di depanku.
Rasanya sangat entah aku kehabisan kata. "Ini beneran? Kamu lamar aku? Beneran??" Tubuhku bergetar. Tak terbayang si dingin ini melamarku.
"Iya sayang, mana jawabannya?"
Aku mengangguk cepat. "Yes, aku mau"
"Pakein mas"
Janu tertegun aku memanggilnya 'Mas'
"Kenapa, gak suka?"
"Suka" Janu meraih tanganku, dan meligkarkab cincin bermata zambrud itu.
"Beneran?" Aku mendekat mendapati semburat merah menjalar di pipi hingga telinga. Berusaha Janu tutupi dariku.
"Sini liat bentar" kutangkup wajahnya.
"Sayang kamu mas" kataku membuatnya menatap mataku juga. Lagi kuciumi bibirnya bertubi. Membuatnya tersenyum miring.
Alahmaaaakkk nikah kan kami segera! Duh Gusti paringono hamba kesabaran!!
Ya Lord aku cinta mati dengan makhlukmu yang satu ini.
*****
Aku kasik kisah manis menggoudaah~
makasih udah mampir, komen, like dipersilakan~
Lazyafternoon^^