Hari itu awal bulan April dengan rintik hujan yang semakin deras membasahi bumi. Suminten berjalan gontai di pinggir jalan menuju pinggir desa. Langkahnya sedikit tertatih dengan luka disekujur tubuhnya. Wajahnya sedikit lebam dengan luka di sudut bibir yang pecah akibat bogem mentah dari seorang juragan kaya yang mencoba menjadikannya isteri.
Juragan Marsidi ingin menjadikan seorang Suminten gadis kembang desa Wardi Asih sebagai isteri yang ke empat. Dengan berbagai cara Juragan Marsidi mencoba menjerat Suminten termasuk dengan membujuk mbok Karyo ibu Suminten untuk memberikan Suminten kepada dirinya. Tak main - main Juragan Marsidi mengimingi Mbok Karyo dengan sepetak sawah di ujung desa, emas dan juga pelunasan hutang yang sangat banyak. Jika memberikan Suminten sebagai isteri ke empat.
Bapak Suminten adalah seorang mandor kayu di desa sebelah, hanya karena hampir bangkrut karena bermain perempuan sehingga sebelum bapak Suminten meninggal, beliau meminjam uang yang cukup banyak untuk membayar para buruhnya, hingga membuat keluarga Suminten menanggung hutang yang banyak, tegalan dan sawah dijual untuk menutup hutang yang banyak.
Dengan keadaan keluarga Suminten yang jatuh miskin, Juragan Marsudi menjebak Mbok Karyo untuk menuruti permintaannya. Dan bodohnya mbok Karyo menyetujui permintaan Juragan Marsudi. Alhasil siang kemarin dengan kasar Juragan Marsudi membawa Suminten ke rumahnya untuk dijadikan isterinya.
Di rumah Juragan Marsudi, sudah berjajar perangkat desa untuk menikahkan Suminten dengan Juragan Marsudi.
Setelah upacara singkat pernikahan, akhirnya Suminten menjadi isteri ke empat Juragan Marsudi.
Senyum licik tercetak jelas di ujung bibir Juragan Marsudi.
" Akhirnya gadis kembang desa bisa jadi milikku. Akhhh, aku akan semakin kuat dan sempurna, akan semakin kaya raya. Darah perawan akan segera menyempurnakan kanuraganku... hahahaha ... . " gumam Juragan Marsidi sambil terkekeh bahagia. Rencananya untuk mendapatkan Suminten yang ayu berhasil.
" Kau milikku, Minten. Hahaha ... . " ucap Juragan Marsudii tertawa bahagia ketika berada di kamar pengantin yang akan melakukan malam pertama dengan Suminten.
Suminten masih shock karena hari itu dirinya dipaksa untuk menjadi isteri ke empat Juragan Marsudi.
Juragan Marsidi sebenarnya adalah seorang laki - laki dewasa yang rupawan, gagah dan perkasa. Seorang yang kaya raya dan juga digilai para wanita desa Wardi Asih.
Malam itu dengan kasar Juragan Marsudi menunjukkan sisi bengisnya kepada Suminten karena ternyata pernikahan Suminten hanya untuk mengambil kegadisannya sebagai jalan dirinya menjadi bertambah kaya dan kuat.
" Kau jadi milikku Minten. " desis Juragan Marsudi dengan tatapan memerah dan gigi runcing di di sudut bibirnya.
" Kita akan selalu bersama. Aku jatuh cinta padamu. Minten. " desis Juragan Marsudi sebelum berubah wujudnnya.
Suminten sangat terkejut melihat perubahan wujud suaminya dari seorang laki - laki gagah perkasa dengan wajah yang rupawan menjadi seekor buaya putih yang besar dan ganas.
Juragan Marsudi ternyata adalah seorang siluman buaya yang kerap muncul di Sungai Winongo setiap bulan purnama.
Malam yang mengerikan bagi Suminten karena harus kehilangan apa yang paling berharga bagi seorang wanita, karena harus melayani seekor buaya. Tubuh Suminten terluka di hampir semua bagian.
Buaya putih yang merupakan jelmaan Juragan Marsudi menggigit dengan gigi runcingnya dan menghantam tubuh Suminten dengan ekornya berulang kali.
Suminten menjerit kesakitan dan sangat ketakutan. Buaya putih jelmaan juragan Marsudi sangat besar dengan mata tajam dan gigi runcing yang sangat mengerikan.
Tubuh Suminten sudah berlumuran darah. Tenaganya telah habis. Suminten hanya berdoa semoga Tuhan semesta alam membebaskannya dari siluman buaya yang sangat mengerikan.
Entah bagaimana malam itu tiba - tiba hujan turun sehingga bulan purnama yang terang benderang tertutup awan gelap. Juragan Marsudi dalam wujud buaya putih tiba - tiba terdiam dan bergerak ketakutan sehingga masuk ke dalam sungai.
Dengan sisa tenaga Suminten berusaha meninggalkan rumah Juragan Marsudi di pinggir sungai itu.
Suminten berjalan dengan gontai. Tubuhnya terasa remuk. Berulang kali tubuh Suminten hampir ambruk karena tak ada lagi tenaga. Hingga sampai di ujung jalan di dekat jembatan perbatasan desa, tubuh Suminten ambruk dan terjatuh ke dalam sungai Winongo dengan arus sungai yang cukup deras. Tubuh Suminten langsung tenggelam dan tidak muncul lagi ke permukaan. Tak jauh dari jatuhnya tubuh Suminten muncul seekor buaya putih yang nampak sedang menyembulkan kepalanya. Tiba - tiba disekelilingnya air berubah menjadi berwarna merah.
Tiba - tiba langit kembali cerah dengan bulan purnama yang menyembul di balik awan gelap.