pukul 20.00: saat semuanya berawal
Malam ini hujan turun lagi. seperti malam-malam yang lalu,menyenangkan. membuat suasana diluar terlihat damai menentramkan. Tidak deras benar. hanya gerimis. itupun jarang-jarang, saya tetapi cukup membuat indah kerlip lampu.
Aku menghela nafas panjang. tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. dingin seketika menyergap ujung jari, mengalir ketelapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian hatiku.
Membekukan seluruh perasaan.
malam ini semua cerita harus usai.
dari lantai dua toko buku paling besar di kota ini, kalian bisa melihat dengan leluasa pemandangan jalan besar yang ramai persis didepannya, juga jalan paling besar di kota ini. jalan itu dibelah pembatas setinggi satu jengkal. Ada lampu putih bundar setiap beberapa meter dipembatas jalan itu, serta pot semen dengan rumpun bunga, meskipun terlihat tak cukup rimbun. Lampu bundar itulah yang terlihat indah. berbaur dengan ratusan cahaya lampu mobil.
dinding tembok Toko Buku ini diganti seluruhnya menjadi kaca kaca tebal. berdiri disini, kalian bak masuk dalam sebuah akuarium. Bebas memandang, bebas dipandang. Arsitektur gaya awan-garde, kaca bukan beton menjadi pilihan terbaik pembatas ruangan.
Di seberang jalan berjejer rapi gerai fotokopian yang besar dan modern. Beberapa orang berpenampilan sebagaimana layaknya mahasiswa, juga karyawan-karyawan terlihat jelas dari atas sini. mungkin mereka menunggu fotokopian untuk bahan ujian besok lusa. Mungkin pula menunggu hujan reda.
warung-warung tenda makanan memadati jalan sepanjang mata memandang. Dipenuhi anak muda yang datang dua_tiga. cuaca dingin dan rinai hujan membuat kepulan asap dari kuali nasi goreng, tungku bakar sate, panci soto, dandang ayam sayur dan puluhan jenis masakan lainnya amat mengundang selera.
Sayang, malam ini aku sama sekli tidak lapar!
*********
Setiap malam aku datang ke toko buku ini. sebab aku memang hobi membaca terutama novel.
Sudah menjadi kebiasaan seminggu terakhir. Satpam toko yang matanya selalu menatap tajam dan suka memperhatikanku dia bahkan sudah mengenaliku. Karwayan toko yang rajin merapikan buku di rak juga tahu. Termasuk dua kasir didekat eskalator yang berjaga bergantian.
Aku membeli satu buku setiap kali kesini. bukan hanya buku yang ingin kubaca juga sebagai tiket masuk karena telah menggunakan lantai dua mereka sebagai tempat menumpahkan segala perasaan. Tempatku terpekur mengenang segalanya. dan tempat nyaman mencari ketenangan.
Tempat ini menyenangkan.
Berjalan-jalan di sepanjang rak buku. Menyentuh satu-dua buku. Membaca sampul belakangnya, mambuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik, menatap pengunjung lain yang sibuk, sedikit banyaknya membantuku berdamai dengan perasaan masa lalu. tempat ini benar-benar berarti banyak bagiku.
"Sendirian, mbak?" seorang karyawan cowok toko buku basa basi menegurku. Dia pura-pura membenahi tumpukan buku-belajar-membaca yang sebenarnya sudah tersusun rapi dua langkah di sebelah kananku.
Aku menyeringai datar. Pertanyaan itu pura-pura, aku tahu persis. Dia tahu, seperti karyawan toko buku lainnya, setiap malam aku datang ke sini selalu sendirian.
Jadi buat apa bertanya?
Akhirnya malam ini dia berani juga menyapa, aku tahu seminggu terakhir dia selalu mencuri-curi pandang. Pura-pura berada di sekitarku saat aku berdiri saat menatap pemandangan di luar. Dia pasti telah meneguhkan hati sepanjang sore hanya untuk mengeluarkan suara dan raut muka setegang ini. membujuk hatinya sepanjang minggu agar berani menegur seorang gadis yang memesonanya.
Tak ada salahnya memberikan hadiah untuk keberaniannya. maka, aku tersenyum tipis, teramat tipis malah, sedikit menoleh meski tak menatap matanya. lantas dengan cepat kembali menatap ke depan.
aku sama sekali tak berselera menanggapinya.
cowok itu menarik nafas pelan. tersenyum tanggung. lantas undur diri pelan-pelan. menunduk.
***
aku tahu bagaiman kehadiranku setiap malam ditoko buku ini bisa menarik perhatiannya. Dan mungkin membuatnya resah sepanjang minggu terakhir. sama tidak mengertinya saat salah seorang teman lamaku, wisnu, melakukan sesuatu yang lebih gila lagi daripada sekedar sapaan cowok tadi setahun silam.
Waktu itu sama seperti sekarang, musim hujan. hujannya deras dan turun membungkus kota ini. suara jutaan butir air yang menghujan bumi terdengar keras hingga ke dalam. Wisnu yang "kebetulan" menemaniku berkeliling mencari buku demi tugas sekolah tiba-tiba menarik tangaku.
"ada yang ingin ku tunjukkan padamu!" wisnu menatapku serius.
wajahnya tegang dan cemas, sama seperti cowok yang tadi.
"apa?" aku mengernyitkan dahi, tidak berselera.
"ayo!" wisnu menyeretku, enggan menjelaskan.
aku terpaksa mengikuti. Tarikan tangannya mengencang. turun ke lantai satu, aku membuntuti dengan tatapam semakin heran saat dia terus menuju hingga keluar toko buku.
"mau kemana?" aku bertanya penasaran
wisnu tak menjawab. dia melangkah menuju pelataran depan toko buku sambil tetap menarik.
"payungnya!" aku mencoba bertahan. maksudku hendak mengambil payung di penitipan barang.
Bagaimana mungkin menerabasnya?
wisnu menoleh menggeleng. tak usah.
Aku semakin bingung. wisnu berhasil menarikku ke dalam tumpah ruah hujan yang membasahi tepi jalan. Basah kuyup. Dia memegang lenganku. Kami berdiri berhadapan. Aku tak mengerti apa maksud semua ini. Orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan sambil membawa payung memperhatikan kami. Orang-orang yang berdiri dan menatap di lantai dua toko buku, yang di bawah di lobi toko buku, yang di gerai fotokopian sebrang, dan yang duduk di warung tenda... menatap kami lamat.
"Tahukah kau aku bisa menghentikan hujan ini!" wisnu berteriak menimpali suara air hujan yang menerpa bebatuan dan suara klakson mobil yang memenuhi macet jalan.
aku menggeleng bukan tidak percaya ucapan anehnya. tetapi memohon. Tolong hentikan kekonyolan ini, aku mendesah dalam hati sambil menyibak rambut panjangku yang basah menutupi mata.
"Hujan..... Berhentilah" wisnu berteriak. mukanya mendongak ke atas. Tak memperdulikan wajah protesku yang hendak sesegera mungkin kembali ke dalam.
"Apa yang kau lakukan?" aku mendesis
wisnu sekali lagi berteriak kelangit. tidak peduli. aku berusaha melepaskan pegangan tangannya. dia justru mencengkramku kencang. menurunkan dongakan kepalanya.
"ketahuilah Anita, aku bisa menghentikan hujan ini.... Tetapi itu hanya bisa kulakukan jika aku tidak bersama orang yang kucintai.... Dan malam ini aku sepertinya tidak bisa menghentikannya..... " wisnu serius menatapku.
Aku terperangah. Lima detik berlalu ganjil sekali. Menyeringai aneh. Maksud semuanya sudah jelas. Dan semua itu konyol. aku mengibaskan tangan wisnu dengan paksa. lantas tak peduli beranjak berlari meninggalkannya sendirian kembali ke dalam toko buku.
"Anita" wisnu berteriak menimpali parau terduduk dibawah hujan sana. membuat orang-orang yang menonton kami menyeringai sambil menelan ludah.
Adegan menarik, mungkin sepanjang sisa malam nanti lebih dari layak menjadi perbincangan mereka saat bertemu orang lain. "Drama" lima menit di depan toko buku terbesar kota ini.