apa yang akan kau rasakan jika seorang yang kau cintai malah berbalik mencintai sahabatmu sendiri.
untuk mengejar lelaki itu kau harus melalukan perjuangan selama 3 tahun lamanya, hanya untuk menarik perhatiannya. agar dia bisa merasakan jika aku mencintainya dan berusaha untuk mendapatkanya.
tapi apa, jangankan untuk membuat dia tau perasaan yang ada padaku untuknya, apa yang aku lakukan untuknya tidak membuat dia bergeming dengan sikap cuek dan dinginnya.
dia bahkan hampir tidak pernah melirik ku atau menatapku saat aku menatapnya dia selalu memalingkan penglihatanya dariku.
banyak temanku yang bilang jika aku harus menyerah, karena mereka mengatakan jika aku terus bertahan untuk mengejarnya itu akan membuat diriku semakin terluka, dan benar saja apa yang mereka katakan memanglah benar.
ternyata selama ini aku hanya membuat diriku terluka sekian lamanya hanya untuk mengejarnya.
dikala itu aku pergi kesebuah perpustakaan untuk mengembalikan buku yang aku pinjam di pustakawan sekolah, dan pustakawan di sana menyuruhku untuk aku menaruh buku yang aku pinjam ke tempat dimana aku mengambilnya.
aku pun berjalan ketempat rak buku yang dimana pertama kaki aku mengambil buku yang kupinjam, tapi disaat ingin menaruh buku itu ketempat nya aku melihat laki laki yang kusukai bahkan yang aku cintai sedang mengobrol di sebuah lorong yang dekat yang di sisi kiri dan kanan adalah rak buku.
aku bersembunyi dan mencoba menguping pembicaraan mereka sesekali aku melihat mereka dari celah rak buku, leleki yang aku cintai sedang mengobrol dengan sahabatku sendiri.
aku pikir mereka hanya mengombrol alias membicarakan tentang pelajaran dan tidak ku sangka ternyata laki laki yang aku cintai mengungkapkan perasaannya kepada sahabat ku sendiri.
bak petir di siang bolong laki laki yang aku kejar selama 3 tahun ini adalah sebuah yang sia sia di mana aku mati Matian mengejarnya tenyata menyukai sehabatku.
yang selama ini hatinya sudah diisi oleh sahabatku,
sakit,kecewa, ingin rasanya marah tapi aku sadar aku tidak bisa memaksanya untuk menyukaiku atau mencintaiku karena aku tau jika aku memaksanya untuk mencintaiku hanya akan membuatnya membenciku dan menjauhiku.
aku yang mendengar itu aku hanya bisa menahan air mata yang bergelinang di kelopak mata sambil menutup mulutku dengan tangan agar tak mengeluarkan suara.
dan aku masih mendengar pembicaraan mereka sampai akhir walau sebenarnya aku ingin segera pergi dan mengeluarkan semua yang ada pada dalam hatiku.
" maaf tapi aku tidak bisa menerima mu" jesa
"kenapa?...." jawab lelaki itu dengan lirih.
"karena aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadap mu".Jesa.
"apa karena sahabatmu itu" jawab lelaki itu dengan sedikit kesal.
"maksudmu nira, tidak bukan karena nira tapi melainkan aku memang tidak ada perasaan apapun terhadap mu" jawab Jesa dengan surah khas nya yang datar.
"aku tidak punya perasaan apapun terhadap nira" ujar Yusuf.
"Yusuf asal kau tau aku tidak ada hubungannya dengan perasaan nira. aku tidak ada perasaan apadamu itu murni dariku yang tidak ingin berpacaran, paham". Jesa dengan penuh penekanan di akhir perkataan nya.
"dan hargailah perasaanya walau hanya sedikit" sambung Jesa dan mengatakan "sahabatku itu sudah menyukai mu sejak 3 tahun lamanya aku tidak ingin perjuangannya selam 3 tahun itu tidak di hargai walau hanya sedikit" sambung Jesa lagi dan langsung meninggalkan Yusuf di sana sendirian dengan tangan yang mengepal.
dan aku hanya bisa menangis dalan diam, berusaha menerima kenyataan bahwa cintaku selama 3 tahun ini adalah sia sia dan bertepuk sebelah tangan.
dan disana aku melihat Yusuf pergi dari perpustakaan dengan perasaan yang sedikit marah karena dari raut wajahnya dan sambil mengepalkan tangannya, saat melihatnya pergi aku bergegas menaruh buku yang ku pinjam ketempatnya dan menghapus air mata ku, sambil berulangkali menarik nafas panjang.
setelah itu aku pergi dengan berusaha menyembunyikan kesedihanku dan. berusaha tegar dengan apa yang terjadi di perpustakaan, aku keluar dari ruang perpustakaan dan bergegas kembali ke dalam kelas.
diambang pintu kelas aku kembali menarik nafas panjang dan menyembunyikan kesedihanku dan aku menyabut teman teman satu circel ku.
"Halo beasti, selamat pagi" sapa ku dengan nada suara yang ceria. yah itulah aku selalu pandai menyembunyikan perasaan.
"pagi juga" jawab mereka dengan serempak.
Jesa yang melihatku datang dia sedikit mengeluarkan raut wajah yang cemas dan rasa bersalah, karena di perpustakaan laki laki yang kucintai malah mengungkapkan perasaannya kepadanya.
aku yang melihat tatapan Jesa kepadaku aku hanya melontarkan senyumanku kearahnya tanpa ada nian bermusuhan sama sekali, walau yang sebenarnya aku sakit hati dan kecewa tapi bukan berarti aku membencinya dia tetap sahabatku dan bagaimanapun dia tetap sahabat ku.
Jesa yang melihat aku tersenyum kepadanya dia membalasnya dengan senyum kikuk, rasa bersalahnya semakin besar terhadap diriku dan bergulat dengan pikiran nya tentang diriku.
"nira jika kau tau jika Yusuf malah mengutarakan hatinya padaku apa kau akan marah padaku, atau malah membenciku, aku tidak menyukai dirinya tapi aku takut jika dia kembali dan memberi hatinya pada ku dan kau melihatnya aku takut kau akan memutuskan hubungan persahabatan kita" yah itulah yang di benak Jesa.
"Jesa kau tidak perlu merasa bersalah sedikitpun, karena aku tidak membencimu sobat" benak nira.
dan aku menghabiskan waktu dengan berbincang bincang dengan sahabat circel ku, hingga bel sekolah berbunyi yang menandakan jam mata pelajaran pertama akan segera di mulai.
**************
(bel berbunyi)
menandakan waktu jam pelajaran pertama dimulai aku pergi ketempat dudukku yang tidak jauh dari Yusuf yaitu aku berada tepat di depan meja Yusuf. sebelum itu aku memulai dengan membaca doa agar semua pelajaran yang kami dapat menjadi berkah.
selesai berdoa kami menunggu guru untuk memulai dan memberi mata pelajaran sesuai jadwal nya, tapi gurupun tak kunjung data sehingga membuat satu kelas merasa bosan dan menyuruh perangkat kelas untuk menjemput guru untuk memulai pelajaran.
"heh ketua, sekretaris kalian keruang guru sana panggil gurunya keburu abis jam pelajarannya" protes aliya, dan bla...bla...bla. masih banyak lagi protestan teman teman sekelas.
"iya, iya, aku akan memanggil guru diruanganya jadi diam dan jangan protes" ucap ku dengan tegas, karena para murid sudah protes dengan guru yang tak kunjung datang aku segera pergi keruang guru untuk menjemput guru di ruanganya.
aku pergi keluar kelas dan jalan santai di lorong sekolah untuk pergi keruang guru, baru beberapa langkah keluar dari pintu kelas.
tiba tiba aku dikagetkan dengan ada seseorang yang menarik lengan tangan ku dengan sangat kuat.
"akh..." teriak ku kaget dengan tiba tiba Yusuf menarik tangan ku dengan sangat kuat hingga aku merintih kesakitan.
"Yusuf..... sakit," rintih ku sembil berusaha menyamai langkah kaki Yusuf yang menarikku kearah gudang.
"kenapa kau membawa ku kesini, aku harus memanggil guru, teman teman sudah protes" jelasku pada Yusuf yang hanya menghiraukan ucapan ku. "Yusuf pelahan sedikit jalan nya" pekik ku terhadapnya dan tetao di hiraukan oleh Yusuf.
sesampainya di belakang gudang Yusuf menghentakkan tubuhku Kedinding dan mencekal kedua bahuku dengan kuat sampai aku merintih kesakitan dan hampir mengeluarkan butiran air dari mata.
Yusuf menghimpit ku di antara dinding dan tubuhnya sambil mencengkram kuat kedua bahuku, terlihat jelas dari sorot wajah dan matanya dia sedang terlihat marah dan kesal, dan aku tau yang membuatnya seperti itu yah kejadian saat dia di tolak di perpustakaan benakku di dalam hati.
dengan sorot mata yang tajam dan nafas yang menggebu menahan emosi, aku memberanikan diri untuk membuka suara dan bertanya padanya.
"kenapa kau membawaku kesini?... kau tau kan teman teman sudah mulai protes...... aku haru keruang guru sekarang jika tidak............" ucapan ku terpotong saat Yusuf mengeluarkan kata kata dengan suara lantang dengan mata yang memerah akibat menahan amarahnya.
"JIKA TIDAK APA??? HAH!!" ucap Yusuf dengan nada kasar dan semakin mengencangkan mencengkramnya.
ketika Yusuf mengeluarkan suara lantangnya seketika nyaliku menciut dan satu buliran air mata keluar dan membasahi pipiku.
"APA KENAPA MALAH NANGIS HAH!!!".Yusuf kembali bersuara "BUKAN KAH KAU MENYUKAI KU HAH!!!.... KENAPA MALAH NANGIS HAH!!! SEHARUSNYA KAU SENANG BUKAN!!!!.ucapnya dan semakin mengencangkan kembali cengkramannya, yang membuatku sudah tak bisa menhan tangis lagi."BUKAN KAH INI YANG KAU INGIN KAN NIRAAAA!!!! sambungnya.
Aku tidak berani menatapnya hanya menunduk kebawah dengan Isak tangis, sambil berusaha melepaskan cengkraman Yusuf, naas apa lah daya tenaganya sungguh lah kuat dibandingkan dengan tenaga ku.
"JAWAB PERTANYAAN KU NIRA!!!?...". aku tidak menanggapi pertanyaan itu aku tetap menunduk dan tidak menjawab itu membuat Yusuf kesal semakin dua mengencangkan cengkraman nya "JIKA AKU SEDANG BERBICARA LIHAT DAN TATAP AKU" dan membuat diriku spontan melihat kearahnya.
aku masih tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yusuf, dan dia kembali meluapkan emosinya "KENAPA KAU MASIH DIAM HAH??..... JAWAB AKU NIRA" bilangnya dengan nada penuh amarah.
dengan suara lirih aku berusaha menjawab
"i..iya a.ku memang menyukai mu, se....sesuai dengan u..ucapan mu tadi....". ucap ku sedikit ku jeda dan kembali berbicara."a..aku s..su...sudah mengatakan nya hiks... hiks... boleh aku p..p...pergi" jawabku dengan terbata bata sambil di iringi Isak tangis.
"heh.... kau pikir aku akan membebaskan mu dan membiarkan pergi begitu saja HAH!!!". herdik Yusuf.
Yusuf kembali menarik ku dan mengurung ku di dalam gudang dan menguncinya dari luar, aku berusaha menggedor gedor pintu, memohon kepada Yusuf memintanya untuk membuka kan pintu.
"Yusuf..... hiks..hiks Yusuf.... tolong buka pintunya jangan kurung aku di sini" Yusuf tidak memperdulikan nya dan kembali menuju kelas tanpa sedikit rasa kasihan terhadap nira.
"Yusuf buka pintunya, aku takut sendiri di sini Yusuf hiks ...." tak bisa berbuat apa apa tenaga ku mulai terkuras habis akibat menggedor gedor pintu.
di tambah nya banyaknya debu di gudang membuat ku susah untuk bernafas karena aku alergi terhadap debu.
sementara disisi lain.
*************************************
Yusuf menggantikan nira untuk menjemput guru dari ruangannya untuk menghadiri kelas sesuai jadwal.
namun Yusuf mendapatkan informasi jika guru yang harus mengajar di kelasnya tidak hadir karena ada kendala masalah pribadi yang membuatnya tak bisa hadir mengajar di sekolah.
akhirnya guru itupun menitip pesan dengan Yusuf jika dia diminta oleh guru yang mengajar di kelasnya untuk memberi tugas pada yang lain dan Yusuf pun mencatatnya, dan segera pamit dan kembali ke kelas.
saat Yusuf kembali ke dalam kelas dan langsung mencatat tugas yang di beri guru di papan tulis.
"di papan tulis itu adalah tugas yang diberi oleh guru, guru tidak masuk karena ada kendala masalah pribadi dan membuat beliau tidak hadir di sini". setelah memberi tahu teman teman di kelasnya.
semua jadi bingung kenapa malah Yusuf dan kemana nira dia tidak kunjung kembali dan mereka hanya positif thinking mungkin nira membantu guru lain yah karena nira adalah gadi yang paling di kenal oleh para guru dan mereka tidak terlalu memperdulikan nira kecuali 5 orang sahabat yang
khawatir terhadap nira yah tentunya sahabat sahabatnya.
waktu terus berjalan, sampai jam mata pelajaran terakhir nira tak kunjung menunjukan batang hidungnya yang semakin membuat cemas kelima sahabatnya itu.
tirnggggg....(bel berbunyi).
menandakan jam pelajaran sudah selesai dan artinya para murid sudah di perbolehkan pulang, masih dengan 5 sahabat nira yaitu Jesa, fahirah, Desi, Dina dan umari, yang masih cemas dengan sahabatnya yang tak kunjung menampakan wujudnya.
rasanya mereka berlima enggan untuk pulang sebelum melihat nira, tapi tiba tiba seseorang menghampiri mereka dan mengatakan pada mereka jika Nira menyuruh mereka pulang duluan karena dua masih ada urusan dengan guru.
mendengar hal itu mereka lega jika Nira tidak mengikuti jam pelajaran di kelas karena sibuk membantu guru, mengingat nira paling di butuhkan karena dia suka menolong dan terkenal paling pintar membuat rasa cemas mereka sedikit memudar, walau masih ada hak yang mengganjal dalam hati mereka. dan salah satu mereka bertanya.
" kalo begitu nira di mana sekarang ". tanya Dina yang masih khawatir dengan sahabat nya itu.
"iya apa kita bisa menemuinya" sambung Desi yang sama khawatir nya dengan dina. pertanya mereka berdua mewakili perasaan yang lainya terhadap nira, dan dia mengatakan jika Nira tidak di sekolah melainkan ikut dengan guru kelaut sekolah itu yang nira sampai dan tidak tau pergi dengan guru siapa dan kemana.
mendengar hal itu mereka sedikit kecewa, tapi ya sudah lah khawatir tidak ada gunanya mereka akan menanyakan kabar nya melalui WhatsApp messenger nanti di rumah setelah Nira benar benar selesai dengan urusan nya.
mereka berlima segera pulang kerumah masing masing dengan masih khawatir dengan kondisi nira.
bersambung