Sampah berserakan di setiap sudut kamar berukuran 3x4 Meter itu. Baju terletak dimana-mana, sudah tidak bisa dibedakan lagi antara baju bersih dan baju kotor. lantai berdebu, sepertinya sudah berminggu-minggu tidak disapu. Gelap, pengap, kamar itu seperti sudah lama tidak ditempati. Tapi jangan salah, disana, diatas sebuah kasur yang terletak disudut kamar seorang gadis sedang tidur uring-uringan seperti menunggu sesuatu.
Matanya tampak kosong memandang langit-langit kamar yang dipenuhi bercak-bercak coklat akibat air dari genteng kamar yang bocor. Tidak tahu sedang memikirkan apa dan ekspresinya tidak bisa ditebak sedang merasakan apa. Sedikit aneh memang.
Gadis itu bernama Aen, dia sudah lama tidak mengenal rasa, sudah seperti benda mati saja, padahal terkadang dia meneteskan air mata dan kemudian tiba-tiba dia akan tertawa. Aneh mamang. tapi itulah Aen, gadis yang terlalu lama bersandiwara hingga dia lupa bagaimana rasanya sakit dan bahagia.
Tinggg....
Sebuah pesan masuk di Ponselnya, Aen segera meraih Ponsel yang terletak di atas lantai kemudian melihat siapa si pengirim pesan. Bolamatanya berputar, tidak tau apakah dia sedang merasa senang karena mendapatkan pesan atau kesal karena tidak mengharapkan pesan itu.
Di layar ponsel tertera nama THAT’S OKAY, katanya pesan yang dikirimkan That’s okey dapat memecehkan setiap masalah. Kita lihat saja bagaimana hasilnya.
***
T.OK : Rasa sakit tak selamanya bisa disembuhkan dengan obat, kebahagiaan tak selamanya harus dihiasi dengan senyuman, dan tahukah kamu hati tak selamanya mau menurut pada pikiran, terkadang hati bisa berontak dengan pikiran, hati tetap terasa sakit meski pikiran sudang mengatakan semuanya baik-baik saja.
AEN : Apa itu sakit ?, apa itu bahagia ?, apakah semua itu benar-benar ada?
T.OK : Angin yang tak terlihat mampu menerbangkan sehelai daun jauh dari pohonnya, meski tak terlihat tapi angin bisa dirasakan, tak terlihat bukan berarti tak ada, begitu juga dengan sakit dan bahagia.
AEN : Jika sakit dan bahagia itu ada, kenapa aku hanya melihat kekosongan di depan sana, orang-orang mengatakan sakit itu seperti langit mendung yang menyirami kesedihannya ke permukaan bumi, bahagia itu bagai musim semi yang menghadiahkan bunga mekar dan memberikan kehangatan. Tapi kenapa hanya kegelapan kosong yang ada di depan sana.
T.OK : Air mata yang mengalir di pipimu, senyuman di wajahmu bukan hanya sekedar hiasan. apakah kau tahu itu?
AEN : Bagiku air mata dan senyuman sama halnya dengan matahari terbit kemudian terbenam, hal itu akan terus terjadi berulang kali tidak ada yang istimewa di sana.
T.OK : Sebelum perbincangan ini dilanjutkan, aku ingin bertanya padamu, sejak kapan kau merasa hidup ini terasa hambar, bahkan disaat hari penuh air mata maupun penuh senyuman. sejak kapan kau merasa semuai itu hanya sebuah rutinitas.
AEN : Mmmmm, aku juga tidak tahu semuanya mengalir begitu saja, tanpa sadar aku mulai menyembunyikan diriku yang sesungguhnya kemudian berlahan hati ini mati rasa.
T.OK : Sejak kapan hatimu berhenti berdebar?
AEN : Tidak tahu.
T.OK : Sungguh, kau tidak tahu?
AEN : Mungkin sejak seseorang itu meninggalkanku, mengatakan aku hanyalah boneka mainan yang kini telah usang, sudah saatnya untuk dibuang, tidak dibutuhkan lagi.
T.OK : Jadi maksutmu, kau menerima begitu saja ucapan terakhirnya itu, memikirkan kemudian memasukkannya dalam hati.
AEN : Apa lagi yang bisa kulakukan selain itu.
T.OK : Melupakannya, bukankah harimu masih panjang. kenapa kau begitu lama terjebak di masa lalu, masa depan masih panjang di depan sana. kau tidak melihat pintu di dapan sana, pintu masuh untuk masa depan yang dapat menggetarkan jiwamu kembali.
AEN : Bisakah aku melakukannya.
T.OK : Kamu berhak bahagia, berubahlah, tunjukkan pada dunia siapa kau sesungguhnya, tunjukkan kau bukan boneka yang bisa dibuang jika telah usang, tunjukkan bahwa kau manusia berharga yang berhak bahagia, dan yakinlah semua akan baik-baik saja.
AEN : Aku tidak tahu cara melakukannya, bahkan untuk memulainya aku tidak memiliki gambaran jelas.
T.OK : Bersinarlah dengan caramu sendiri, untuk memulai ini pertama-tama bukalah hatimu biarkan rasa sakit dan bahagia itu menyusup masuk ke hatimu.
AEN : Maksutmu aku harus mengingat semua kenangan dengannya lagi.
T.OK : Berdirilah di depan cermin, katakan pada yang ada di depanmu semuanya akan baik-baik saja.
AEN : Rasanya sangat canggung.
T.OK : Tatap matanya, untuk menghadapi masa lalu yang menyiksa, hadapi dirimu terlebih dahulu.
AEN : Ini sangat sulit.
T.OK : Hadapilah dengan yakin, aku hanya memintamu untuk menghadapinya bukan untuk melupakannya, ketahuilah baik itu kenangan baik maupun buruk itu tetap berharga karena dari situ kita bisa mendapat pelajaran agar kesalahan yang pernah dilakukan tidak terulang kembali.
AEN : Baiklah, aku akan melakukannya.
T.OK : Tidak apa-apa meluapkan semua emosi yang tersimpan di hati, ingatlah waktu juga bisa menyembuhkan rasa sakit itu.
AEN : Mmmm, kau benar, terimakasih karena sudar menyadarkanku atas kesalahan yang telah kulakukan.
T.OK : Besok waktunya untuk menggores cerita baru di lembaran yang baru juga, percayalah kebahagiaan bahkan kesedihan akan tetap menghampirimu tapi yakinlah semua akan baik-baik saja , itu merupakan sebuah proses.
AEN : Ya, mulai besok kenangan bahagia akan kembali terukir.
T.OK : Semangat, bunga di depan rumah telah mekar.
Aen membaca pesan terakhir itu lambat-lambat, kemudian kakinya melangkah ke arah jendela mengibaskan tirai ke samping kemudian membuka jendela lebar-lebar. Disana Aen hanya menemukan kerikil yang tidak beraturan dan rumput liar yang menghiasi pekarangan.
“Tidak ada bunga” ucap Aen lirih kemudian menutup jendela kembali.
Saat Aen akan menjauh dari jendela langkahnya terhenti, kembali memikirkan setiap pesan yang dikirimkan THAT’S OKAY. Setelah terdiam cukup lama Aen memutuskan kembali kearah jendela, kembali membukanya lebar-lebar memibiarkan hawa dingin malam memasuki kamarnya.
Aen mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, dan tampak terkejut dengan kondisi kamar yang dia tempati saat ini.
“apa yang telah kulakukan” lirihnya mengusap kepala tak percaya dengan apa yang telah dia lakukan selama ini.
Aen kembali mengedarkan pandanganya mencari sesuatu, pandangannya terhenti pada sebuah koper yang sepertinya sudah menjadi sarang kocoa, dia raih koper itu kemudian memasukkan baju yang berserakan dilantai ke dalam koper mengganti seprai kasur dengan yang baru. Aen akan melaundyi koper dan semua baju-bajunya.
Sampah yang berserakan dimasukkan kedalam pelasti, serpihan-serpihan makanan di buang kedalam tong sampah yang sudah memuntahkan beberapa sampah. Lantai yang dipenuhi debu disapu kemudian di pel berkali-kali sampai mengkilap.
Kamar Aen yang kotor, pengap dan gelap kini sudah berubah 180%. Sama seperti kamarnya, Aen juga akan mengubah hidupnya. Membuka hatinya yang telah lama terkunci. Membuka lembaran baru yang akan di warnai dengan berbagai hal baru tentu saja akan ada tawa dan tangisan didalamnya. Dengan begitu semua akan baik-baik saja.