Dia yang kuperhatikan dari jauh
Dia yang menarik perhatianku saat pertama berjumpa
Dia yang kuucapkan namanya disetiap doaku
Iya..dia!
Dia cinta pertamaku dan cintaku dalam diam.
Muhammad Athar namanya. Biasa dipanggil Athar oleh teman-temannya. Aku memanggilnya kak Athar. Dia seniorku di masa kuliah. Kesanku saat pertama jumpa dia, dia orang yang ramah dan open mind.
Namaku Nabilla Alya, biasa dipanggil Nabil. Aku hanya mahasiswi yang monoton dalam perkuliahan.
Pertemuan pertamaku dengannya, yaitu saat jam istirahat PKKMB. Aku yang saat itu belum mempunyai teman sama sekali, memutuskan istirahat di perpustakaan kampus. Tetapi, hanya karena aku memilih perpustakaan, bukan berarti aku kutu buku. Aku hanya tidak suka sendirian didalam keramaian.
Di perpustakaan itulah pertama kali aku bertemu dia. Aku yang saat itu ketahuan memperhatikan dia berbicara dengan petugas perpustakaan, langsung menunduk tak berani menatapnya. Tetapi, malah justru dia yang mendekatiku duluan. Sejak saat itulah, aku mulai penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang dia. Dan tanpa bisa kucegah, kurasa aku menyukainya. Tetapi, aku tak tahu kalau saat itulah kisah cintaku yang indah dan pahit akan dimulai.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa kak Athar itu orang yang ramah dan open mind. Sehingga, tidaklah susah bagiku untuk tahu tentang dia dari orang lain.
Tanpa terasa masa kuliahku sudah memasuki semester III, dan perasaan ini terus membesar tanpa bisa kucegah. Tetapi, aku masih belum juga memiliki keberanian untuk lebih mendekat dengannya.
Sudah 3 semester kulalui dan hanya berani menatapnya dari jauh. Semenjak pertemuan di perpustakaan saat itu, aku tidak lagi pernah berbicara dengannya. Bukannya dia tidak bisa kuajak berbicara, tetapi aku yang tidak berani memulai bicara dengannya. Padahal, seringkali dia tersenyum menatapku saat kami berpapasan, tetapi aku terlalu malu untuk membalas dan malah memalingkan wajah saat dia tersenyum. Aku yakin, pasti dia berpikir aku ini adik tingkat yang tidak sopan.
Mungkin, memang lebih baik begini saja. Aku yakin orang seperti kak Athar tidak mungkin tidak mempunyai orang yang disukainya. Bahkan, sering kudengar teman seangkatanku membicarakannya.
Karena aku yang masih tidak berani berbicara walaupun hanya sekedar untuk menyapapun, pada akhirnya hanya berakhir menyukai dalam diam. Entah sampai kapan aku sanggup menahan perasaan ini. Atau mungkin, hanya akan berakhir tanpa bisa kuungkap selamanya.
Tak terasa, aku sudah memasuki semester VI, yang berarti INSYAALLAH aku akan wisuda setelah menyelesaikan 2 semester lagi. Dan tepat di semester VI ini, kak Athar telah menyelesaikan kuliahnya.
Sedihlah yang menyelimuti hatiku ini, sudah 3 tahun berlalu sejak aku bertemu dengannya. Dan sampai saat ini, ternyata aku sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan ini.
Setelah kupikirkan sejak semalam, aku memutuskan bahwa aku akan mencoba berani menyatakan semua perasaan yang kupendam kepadanya. Walaupun ada rasa takut akan penolakan, aku memutuskan tetap menyatakannya. Karna aku takut menyesal.
Suasana Aula saat ini tentu saja penuh sesak dengan orang-orang yang berfoto. Beberapa saat yang lalu, acara wisuda baru saja selesai. Sudah sekitar 5 menit aku mencari keberadaan kak Athar, tapi tak kunjung jumpa.
"Nyari athar ya?" tanya seseorang dari arah belakang.
Aku ingat orang ini. Mana mungkin aku tak ingat. Dia satu-satunya teman perempuan kak Athar. Tentu saja aku tahu dia, karena aku sering melihatnya saat memperhatikan kak Athar. Dan kurasa, dia sadar selama ini aku memperhatikan kak Athar diam-diam.
"Iya kak, kakak tahu sekarang Kak Athar ada dimana?"
"Cari saja di perpustakaan, tadi dia bilang mau istirahat disana, karena disini terlalu ramai. Aku mau kesana dulu ya."
Setelah berpamitan, aku langsung berlari ke perpustakaan yang letaknya tak jauh dari aula. Saat aku memasuki perpustakaan, langsung saja aku menemukan kak Athar yang sedang tidur di meja pojok dengan posisi menyandar ke jendela. Dengan perlahan aku mendekatinya, agar tidak mengganggu tidurnya.
Saat aku sudah berdiri dihadapannya, terlintas pikiran untuk kabur. Aku pikir, mungkin lebih baik aku tetap memendam semua perasaan ini. Saat aku ingin beranjak pergi, langkahku terhenti mendengar suara yang tak asing lagi, suara yang sering kudengar saat dia berbicara dengan orang lain saat kami berpapasan.
"Ada apa?"
Dengan jantung yang sudah tidak diketahui lagi bagaimana iramanya, aku memberanikan diri menatap sekilas kak Athar yang sudah berdiri menunggu ku bicara.
"A...ada yang...mau saya bilang ke kakak" jawabku akhirnya.
"Apa?" tanyanya.
Lama aku terdiam memikirkan darimana aku harus mulai menyatakan semuanya. Sampai akhirnya aku berkata,
"Saya gak tahu apa kakak masih ingat sama saya atau tidak. Tetapi, Saya mau bilang, kalau saya udah suka kakak dari 3 tahun yang lalu. Saya sudah suka kakak dari sejak pertama kakak ajak saya berkenalan disini, di perpustakaan ini. Saya tahu saya tidak seperti cewek-cewek lain yang berani menyapa dan mengajak kakak mengobrol. Saya akui kalau saya benar-benar penakut. Saya tau saya gak pantas, tetapi saya masih penakut. Sebelumnya saya takut kakak tolak, dan sekarang saya takut menyesal gak pernah ungkapin perasaan saya ke kakak. Jadi, intinya saya mau bilang saya sudah suka kakak diam-diam selama 3 tahun ini."
Akhirnya semua perasaanku sudah kuucapkan. Lega yang saat ini kurasakan, walau tentu saja ada rasa takut mendengar jawabannya.
Aku yang masih menunduk, memberanikan diri menatap kak Athar saat tak kunjung mendengar jawabannya.
Saat aku menatapnya, hanya wajah kak Athar yang tersenyum yang kutemui, tidak ada jawaban.
Lama kami terdiam, dan kurasa aku sudah mendapat jawabannya. Apalagi yang kutunggu, hanya dengan melihat dia tersenyum dan lalu menunduk tanpa memberi jawaban, aku sudah bisa simpulkan dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan yang kurasakan.
"Aku tahu kakak gak mungkin menyukaiku. kakak gak perlu jawab kalau emang gak mau. Aku permisi dulu ya kak" pamitku dan langsung keluar dari perpustakaan.
Saat aku berjalan dikoridor luar perpustakaan, air mataku jatuh tanpa bisa kucegah. Aneh, padahal aku sudah menduga akan ditolak, tetapi, tetap saja sakit rasanya.
"Nabila Alya!!"
Aku yang masih menangis terkejut mendengar suara kak athar dari belakangku. Saat aku melihat kebelakang, aku lebih terkejut lagi saat melihatnya berlari ke arahku.
"Maafin kakak bil" ucapnya saat sudah berdiri dihadapanku.
"Kakak gak perlu minta maaf. Aku ngerti kok, aku juga gak maksa kakak buat suka juga sama aku"
"Bukan maaf buat itu bil" jawabnya menatapku tepat dimataku.
"Terus buat apa?" tanyaku heran. pasalnya, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan padaku.
"Buat pengecut seperti kakak" ucapnya lirih.
"Maksudnya?"tanyaku makin heran.
"Karena kamu udah ungkapin semuanya, sekarang giliran kakak. Maaf karena kakak juga penakut. Kakak juga suka kamu bil. Malah kakak sudah suka kamu dari 4 tahun yang lalu. kakak suka kamu dari saat kamu belum tahu kakak ada disekitar kamu. 4 tahun yang lau, saat itu kakak liat kamu ditaman. Kakak yang gak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, dapat karma saat itu. Karma karena suka sama kamu pada pandangan pertama. Kakak ini pengecut karena terlalu takut buat berkenalan dengan kamu. Dan kakak menyesal gak ajak kamu kenalan saat itu, karena setelah hari itu, kakak gak pernah ketemu lagi. Kakak pergi ketaman setiap hari buat liat kamu, tapi kakak gak nemuin kamu. Sampai akhirnya, kakak bertemu lagi dengan kamu di perpustakaan ini. Kakak benar-benar gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu. Sampai akhirnya kakak mutusin buat ajak kamu kenalan saat itu. Tetapi, kamu gak pernah membalas senyum kakak saat kita berpapasan lagi setelahnya. Kakak kira kamu gak suka kakak dekati, makanya kakak gak pernah lagi dekati kamu. Kakak takut kamu makin cuek kalau kakak sering senyum ke kamu. Dan ternyata kita berakhir sama, sama-sama memutuskan buat mendam perasaan kita" jelas kak Athar tanpa keraguan.
"jadi, selama ini, aku..kakak.." ucapku bingung dan tak percaya.
"Iya bil, kakak juga suka kamu, malah lebih dulu kakak yang suka kamu bil. Sebenarnya hari ini kakak juga mau nyari kamu buat jujur ke kamu. Tetapi, kakak takut kamu tolak."
"Loh...berarti..." ucapku yang tak tahu mau menjawab apa.
"Bil..."
Aku yang masih bingung dengan semua kebenaran ini, terkejut saat kak Athar memegang tanganku.
"Bil, kakak minta maaf ya. Maaf karena kakak gak berani jujur dan bikin kamu terluka karena mengira kakak gak suka kamu. Kakak tahu ini udah terlambat banget, tetapi, kakak gak mau lagi menyesal bil"
"Kakak bukan cowok sehebat yang kamu kira, kakak masih punya banyak kekurangan bil. Tetapi, kakak gak mau ngajak kamu pacaran bil, kakak...."
"Jadi maksudnya kakak suka aku, tapi gak ada niat jalin hubungan sama aku?" tanyaku terkejut.
"Bukan bil. maksud kakak, kakak bukan cowok sempurna bil. Tetapi, kakak tetap ingin kamu ada disamping kakak. Kakak ingin kamu dukung dan nemanin kakak buat sisa hidup kakak. Jadi, intinya kakak mau nikah bukan pacaran bil."
"Ha?nikah?tapikan aku masih.."
"Iya, kakak ngerti. Kakak akan nunggu kamu wisuda. Dan setelah wisuda, apa boleh kakak jumpa orangtua kamu?"
"Insyaallah boleh kak" jawabku tersenyum
"Makasih bil" jawab kak Athar membalas senyumku.
Aku gak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat ini. Aku yang dulunya mengira dia yang tak mungkin menyukaiku, dia yang tak mungkin ku genggam. sekarang semuanya terbalik.
kini, dia yang ternyata menyukaiku, dia yang yang sekarang ku genggam.
END_-_-