BUKAN LGBT
Beberapa tahun lalu aku sempat bekerja di sebuah salon yang nyaris bangkrut karena manajemen yang buruk. Aku terpaksa bekerja di situ saat mengundurkan diri dari sebuah perusahaan finance kenamaan karena alasan yang terlalu sederhana; seorang teman yang katolik tiba-tiba menceramahi aku tentang riba saat aku membujuknya untuk mengambil kredit mobil baru menggantikan mobil butut warisan dari mendiang ayahnya. Itu cerita lain, cerita kali ini fokus di salon saja.
Di salon, aku bekerja di bagian perawatan wajah dan rambut karena memang aku pernah mengisi waktu libur kuliah dengan kursus salon di sebuah lembaga pelatihan. Hitung-hitung untuk biaya hidup di perantauan, aku memaksa diri menerima pekerjaan ini agar bisa bertahan hidup meskipun saat itu aku telah mengantongi ijazah S1.
Seorang rekan di salon, satu-satunya pria yang bertugas sebagai capster usianya masih sangat muda namanya sebut saja Rano bukan Rano Karno ya, dia menjadi teman baik yang mengajariku banyak hal tentang dunia salon, meski masih muda namun saat itu aku bisa melihat betapa besar energi yang Rano curahkan untuk passion dalam dunia salon yang kami geluti. Ada beberapa orang pekerja di salon tersebut tapi Rano salah satu yang sangat dekat denganku karena pembawaannya yang periang dan sangat supel sedangkan aku jarang sekali bisa cepat akrab dengan orang baru.
Rano sangat disukai semua karyawan karena tingkah lakunya yang seperti perempuan kadang menjadi bahan lelucon buat semua karyawan salon yang kesemuanya perempuan. Rano tak pernah menampik keadaannya yang demikian, malah terlihat senang karena bisa membuat kami tertawa dengan tingkah laku dan leluconnya yang sering meniru banci yang sedang mengamen.
Beberapa bulan bekerja, Rano yang tinggal di lantai atas salon seorang diri karena diberi tanggung jawab untuk menjaga salon oleh sang pemilik, sering kutemui tidak turut bergabung makan siang ketika kami semua makan dengan bekal kami masing-masing yang dibawa dari rumah. Aku menyelinap diam-diam ke lantai atas ke ruangan tempat Rano tinggal. Betapa aku terkejut mendapati Rano hanya makan nasi dengan garam saja sebagai makan siangnya.
"Ada apa No?" tanyaku pelan, "Kenapa tidak makan bersama di bawah?" sedangkan mataku menatap ke piring makannya dan sebotol garam yang ada di sebelahnya.
Rano menunduk, tepat sebelum air matanya tumpah. "Bapakku di kampung sakit yuk..., butuh biaya untuk operasi." ia berusaha menahan tangisnya.
"Jadi kau kirim semua uangmu ke kampung?" tanyaku lagi.
Rano mengangguk, menambah keprihatinan di hatiku. Kuambil sebuah kursi dan duduk di dekatnya. kubuka kotak bekalku dan kusendokkan potongan ikan serta tumis sayur kangkung untuk Rano.
"Makanlah No. Pekerjaan kita membutuhkan energi yang cukup banyak, nasi dan garam saja tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan energinya. Apalagi kau lelaki."
Rano tersenyum manis sekali, "Hanya Ayuk yang menganggap aku lelaki di sini." Ujarnya sembari menyendok sesuap nasi dengan sayur kangkung ke mulutnya.
Perawakan Rano memang seperti seorang perempuan, jemarinya lentik mungkin karena terlalu sering menyentuh rambut wanita, juga gerak-geriknya yang gemulai sangat anggun dan menawan seperti seorang Puteri Raja negeri antah berantah. Hampir semua karyawan salon memperlakukannya tak berbeda dengan wanita, kecuali aku. Di mataku dia laki-laki yang terlalu lembut dan perasa, itu saja.
Sejak hari itu aku maklum, tanggung jawab sebagai anak lelaki tengah diemban oleh Rano untuk membantu ekonomi keluarganya saat ayahnya tengah terbaring sakit. Aku tak banyak bertanya tentang sakitnya karena kulihat Rano sangat bersedih jika bicara tentang ayahnya. Setiap hari aku melebihkan bekal yang kumasak sendiri di rumah. Kadang aku hanya punya tempe yang kugoreng kecil-kecil dan kutambah sambal, lain waktu hanya dadar telur saja tanpa embel-embel apa pun sebagai temannya selain nasi. Selalu aku beralasan ingin makan bersama Rano saja, agar teman-teman yang lain tidak ikut tahu keadaan Rano. Itu berlangsung beberapa lama.
Suatu kali, Rano pernah meminjam motor milikku untuk dipakai ke sebuah terminal. Seorang kerabatnya menitipkan beras dari kampungnya untuk Rano lewat mobil travel yang biasa mangkal di terminal. Kupinjamkan motorku beserta STNK tanpa banyak bicara karena aku baru saja akan melakukan facial di lantai dua.
Cukup lama Rano pergi, saat selesai dengan pasien facial-ku. Aku berusaha menghubungi Rano. Ternyata, anak itu melanggar lalu lintas karena tidak terlalu paham kondisi jalanan di terminal tersebut sehingga harus berurusan dengan polisi. Aku baru tahu kalau dia tak punya SIM. Segera aku pergi ke pos polisi tempat Rano ditilang.
Rupanya Rano tidak terlalu paham kenapa dia ditilang padahal sudah memakai helm dan juga membawa STNK. Rano tampak keukeuh tidak mau ditilang tentu saja dengan gaya kemayunya yang sangat khas. Saat aku datang, polisi yang berurusan dengan Rano memberondongku dengan pertanyaan.
"Mbak rekan kerjanya ya? Kerja di salon mana sih? Ini bener teman mbak namanya Rano? Jangan-jangan namanya Rani atau Rina ya?" Polisi itu sempat mengerlingkan sebelah matanya pada Rano di sebelahku yang langsung bergidik ngeri merapatkan duduknya padaku seakan minta perlindungan.
Melihat itu semua naluriku mengatakan bahwa ini tak bisa dibiarkan. Aku berdiri dan menggebrak meja.
"Namanya Rano. Dan dia lelaki tulen. Kerjakan saja pekerjaan anda, kalau memberi surat tilang berikan sekarang. Saya tidak mau mendengar anda melecehkan orang lain seakan dia lebih rendah derajatnya dari pada anda."
Polisi itu cukup terkejut mendengar suaraku yang lebih menggelegar dari ledakan bom atom. Dia segera menulis surat tilang dan menyerahkannya padaku. Aku segera mengambil surat tilang dan menyeret Rano pergi dari sana, kembali ke salon. Saat aku mengendarai motor, Rano menangis terisak-isak di belakangku. Aku mengerti dia merasa sudah dilecehkan dengan kata-kata polisi tersebut. Tapi aku mesti bilang apa, keadaannya memang mirip sekali dengan wanita, hanya saja dia tidak berdandan layaknya wanita.
Sejak kejadian itu seringkali aku tegaskan pada Rano untuk lebih tegas dan bersikap lebih seperti lelaki. Meski seperti menolak karena Rano merasa tak ada yang salah dengan dirinya tapi aku bisa melihat perlahan-lahan Rano mulai berubah terlihat lebih maskulin.
Kebersamaan kami sebagai karyawan salon itu hanya beberapa bulan saja sebelum aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang menawarkan gaji jauh lebih besar. Saat itu salon tersebut berada di ujung tanduk karena sang pemilik yang kurang fokus mengurus manajemen salonnya dan sibuk dengan bisnis lain. Setelah keluar dari salon tersebut, tak lama salon pun tutup. Kabar terakhir yang kudengar Rano pulang ke kampung halamannya.
"Bapak sudah pulih yuk, aku disuruh pulang. Ada sedikit modal dari hasil jualan motor milik bapak akan kugunakan untuk membeli peralatan salon." Demikian yang ia kabarkan padaku sebelum ia pulang kampung.
Bertahun-tahun sejak itu, tak ada kabar darinya. Hingga sore kemarin kudapati sebuah pesan di messenger dari Rano.
'Yuk Yossy.., apa kabar? Rano kangen deh ama ayuk. Ingat masakan Ayuk yang enak-enak, rasanya paling best di dunia. Apalagi aku dibawain setiap hari.'
Pesan itu sudah cukup membuatku terharu mengingat hari-hari kami waktu bekerja di salon yang sama.
'Waktu itu cuma Ayuk Yossy yang perduli sama Rano. Makasih ya yuk.' Lagi pesan dari Rano membuat sudut mataku basah.
Kujawab pesan Rano dengan hati bergetar.
'Sudah menikah kau No?'
Sebuah foto dikirim Rano, fotonya sedang memeluk seorang gadis kecil yang cantik sekali.
'Sudah yuk, ini foto anakku. Cantik kan yuk. Dia mau jadi penerus usaha salonku nanti. Sudah kelihatan bakat dandannya yuk.'
Ah.., bahagia sekali aku melihat foto itu. Lalu meluncur pesan-pesan cerita bahagia dari Rano tentang isteri cantiknya yang pandai sekali mengatur keuangan sehingga usaha salonnya kini sangat berkembang.
Di akhir pesannya tadi malam Rano mengirim sebuah pesan yang tak bisa aku lupakan.
'Terima kasih Ayuk selalu percaya kalau Rano bukan pencinta sesama jenis. Rano benar-benar lelaki yuk.'
Air mata haru mengembang di pelupuk mataku.
~END~
Ayuk : panggilan untuk kakak perempuan