Kupijakkan kakiku di hotel megah ini. Ya bersiap dengan kata "Kapan Nyusul?" Kuhela nafasku berat.
Whadehel. Itu nanti akan aku katakan setelah aku selesai kondangan. Ya kebiasaan.
Mendekati kerumunan yang aku kenal, menyapa sebentar dan aku habiskan waktuku untuk berburu makanan. Ya dari pada stres diawal. Udah kumpulin aja. Tabung dulu. Ini stres kalo bisa jadi duit udah tajir melintir sayah.
"Mas! Nyimas, kan?" Panggilan yang tak kuindahkan. Pokoknya kau akan makan, makan dan makan.
"Ih sombong!" Suara tinggi itu menepukku.
"Oh hai, mmm..." biarkan saja, lagian udah tahu aku sombong ngapain masih disamperin kan?
"Gue Nurul masa lo lupa, satu bangku kita di smp" siapa yang masih ingat coba. Dengan perawakan kayak kepala sekolah upin ipin itu.
Aku tak merasa punya teman seperti itu waktu smp. Ups. Ya kau salah waktu menyapaku disaat hati ini gundah gulana.
"Hai rul, gimana life?" Nak jaksel banget. "Ya baik lo gimana Mas?"
"Ya begini begini aja single mingle and happy"
"Lo belom nikah?? Padahal lo dulu banyak yang suka, Astaga, anak gue aja udah empat" Tanyanya dengan melebarkan mata. Lha terus aing kudu piye mbake?
Pantes melar. Nah jangan salahkan kejulitanku dalam hati toh dia yang orang asing juga bisa menlabeliku seenak jidat. Kenapa aku harus sok baik, karna, Aku bukan orang baik.
"Hmmm... gue kesana dulu ya Rul" sambil mengangguk dan melihat penuhnya piringku.
"Lo makan segitu? Awas gendut lho, jaga badan, sapa tahu ada yang kepincut sama lo disini"
Aku melirik piringnya yang berisi makanan kambing itu.
Dengusanku kencang. "Lo ngomong buat diri lo sendiri" Sarkasku yang tak bisa lagi ditahan.
Aku mengangguk sekali lagi padanya, melihat mukanya memerah. "Badan kayak lepet sok nasehati gue!" Aku tusuk dimsumku dengan kasar.
"Eh jadi pengen lepet tadi kayaknya ada deh." Aku berdiri, kembali menyisuri stand kue basah. Aha, lepet ada ditangan. Cus balik ke meja.
*****
Sedang asik menikmati makananku, aku tersentak, tiba-tiba ada seseorang yang memijat pinggangku dari samping. Aku meliriknya tajam dengan mulut penuh dengan suapan penuh lagsana.
"Wah ini pinggul bagus, nanti kasih mami banyak cucu ya" Seorang ibu seumur Bunda, Paras syantik sosialita yang sudah melipir menjauh setelah berkata itu padaku.
Dengan tas yang aku taksir mehong mengelendot manjah pada tangannya.
Apa baru saja aku dilecehkan? Aku terbengong bego masih sibuk mengunyah pelan makananku.
*****
Macet, hujan, perut begah kekenyangan, aku memang benar-benar berkeliling stand dikawinan tadi, ku tutup dengan sepiring menu utama. Nasi dan teman temannya di prasmanan tengah ruangan. Dan sekarang aku menahan hasrat buang air besar.
Pengen uuk ini ya Tuhan, batinku.
Keringat dingin ditambah desiran angin dari ac mobil yang membelai kulitku, membuat aing melepaskan gas beracun yang akan aing nikmati sendiri. Cakep!
Setidaknya. Siksaan ini masih bisa kutahan. Sedikit lagi kita sampai bestai. Tunggu jangan keluar dulu bestai. Menepuk pelan perutku.
*****
Sampai di depan rumah aku parkirkan asal mobilku, aku berlari kencang masuk denga berteriak salam. Menuju kamar mandi. Menuntaskan semua.
Lega!
Aku keluar, dengan rok yang aku sampirkan ke pundak tanpa kupakai lagi berlenggang dengan santai menuju kamarku.
Melewati meja makan. Aku terpaku. Eh maksudnya kami. Iya KAMI. Aku dengan lelaki yang berdiri disamping meja makan, ia memegang gelas.
Aku mengerutkan dahi. Memindai sapose gerangan itu. Mata tajamnya juga memindaiku. Melihatku dari atas kebawah dan masih menyorotkan matanya kebawahku. Lama.
Sudut bibirnya naik perlahan, lelaki berbadan bongsor itu matanya terangkat padaku lalu alisnya ikut naik.
Membuat kerutan dahiku menjadi lebih dalam. Kenapose? Bisik hatiku. Aku ikut melihat kebawahku. Dan...
"AAAAAAAAA" Teriakku melemparkan rok yang ada dipundakku padanya lalu menderap kekamarku dilantai atas.
BRAK!
Kututup kencang pintu kamarku. Malu! Anjir cakep banget! Fokus Nyimas! Lo dilecehkan dua kali hari ini, tadi pas dikawinan sama ibuk-ibuk sosialita, terus barusan sama lakik-lakik ganteng yang super hot.
Kukeplak kepalaku yang mulai aneh. "Nyimas kenapa sayang?" Ketukan pada pintu kamarku.
Aku membuka pintu. Bunda memperhatikanku. Dan menghela nafas lelah.
"Kamu itu kebiasaan. Malu udah gede! Ck! Walau pun dirumah kita cuma berdua, kalau kayak tadi gimana?! Udah sana, cepet ganti baju, Bunda mau ngenalin kamu sama temen Bunda" Omel Bunda yang sudah meninggalkanku turun.
Dengan malas aku mengenakan. Baju ganti. Melangkah ke ruang tamu. Aku terpaku. Aku melihat sosok soaialita yang bertemu denganku di peata kawinan tadi.
Aku lalu melihat kesebelahnya ada lelaki yang menatapku dengan datar. Lelaki yang melihatku hanya mengenakan celana dalamku saja.
"Heh! Sini malah ngelamun"
"Ini jeng anakku Nyimas, kenalin ini temen Bunda, Tante Retno sama Raga, anak tante Retno. Katanya ketemu kamu tadi dikondangan" aku mengangguk.
Aku tersenyum kaku ke arah Tante Retno dan anaknya. "Nyimas Tante"
"Ih kok Tante, Mami gitu, kan tadi udah Mami bilangin waktu tadi ketemu" aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, sambil nyengir "Iya Mami"
"Nah gitu, Mantu mami emang cantik, ini kenalin calon Suamimu." Mami Retno, menyenggol anaknya yang menagapku datar.
Aku mengulurkan tangan padanya. Ia hanya menatapnya saja. Lalu Ia memberi sesuatu pada tanganku. Aku melihatnya begantian, antara dia lalu kembali melihat tanganku berulang kali.
Aku tarik tanganku, "Permen coklat" gumanku.
"Kan tadi kamu ngulurin tanganmu, kamu minta permen yang ada dikantong saya ini kan" Jawabnya absurd.
"Keponakan saya kalo ngulurin tangan ke saya dia mau permen" lanjutnya dengan muka datar.
"Hah!" Bingungku, lalu dia mendengus mengejekku. Tak terima.
"Aku bukan anak kecil!" Sungutku sambil membuka permen coklat itu dengan kasar dan mengunyahnya dengan bar bar. Aku menganggap mengunyahnya sekarang. Ck!
Disebelah, Mami Retno dan Bunda tersenyum dengan banyak arti. Aku menyipitkan mataku pada Bunda yang tak menghiraukanku, malah mengajak Mami Retno kedalam rumah.
"Raga, kamu jangan godain Mantu Mami terus, di romantisin, di rayu kek" Sebelum mengikuti Bunda masuk ke dalam.
Aku menatap Raga-Raga ini dengan sengit. Ia malah asik mengunyah lontong entah yang keberapanya. Sama sekali tak menghiraukanku yang siap tempur ini.
Tempur? Tempur apa nih? Tempur bibir? Aku keplak pelan kepalaku. Dewi jalangku sedang merajalela melihat bibir penuh nan merahnya mengunyah lontong.
Wadefak. Aku melihatnya dengan gerakan lambat saat Raga mengigit lontongnya dengan elegan. Please! Nyimas back to your senses!!!
Jangan salahkan aku salahkan dewi jalangku yang sedang merasukiku. Aku masih terus terfokus pada bibir Rga yang mengunyah. Lalu kurasa sudut bibirnya terangkat. Dan berkata tanpa suara. "Saya suka hitam"
Tersadar apa yang lelaki ini maksud, Kuangkat cepat pandanganku. Bertatapan dengan seringaian yang membuat jantungku marathon ditempat.
Kurasakan ada sesuatu hangat menjalar dipipiku. Merah pasti. Malu. Bundaaaaa. Maluu...
Sedangkan Dia terkekeh renyah. Mendapati pipiku yang memerah. Dasar beruang bongsor! Kesalku.
*****
6 bulan berlalu dari pertemuan pertama kami.
Menikmati pemandangan didepanku. Aku tersenyum. Tak menyangka. Aku telah melepas gelar single mingle happyku tiga bulan yang lalu. Rasanya sangat bahagia.
"Ngeliatin apa sih sayang?" Tangan besar dan hangat melingkupi perutku. Ia mengelus pelan. "Masa yang kayak gini dianggurin" Rajuknya lucu. Astagah ini beruang bongsorku.
Kuelus tangannya dengan bulu halus itu. "Makasih sayang, I love you"
Ia membalik tubuhku kehadapannya. "Saya juga terima kasih banyak, kamu sudah memberikan kado terindah. Saya sayang kalian. Terima kasih juga buat celana dalam hitammu"
"Ish apa sih mesum kamu" aku cubit perut liatnya.
"Tapi suka kan" tawanya yang membuat hangat hatiku.
Ia mendekatkan diri, melumat perlahan dan hangat nafasnya menyentuh wajahku. Semakin lama semakin memburu.
"I love you too" melepaskan pangutan yang mulai menganas.
***TamaT***
Lazyafternoon^^