Berbicara itu mudah.
Melakukan tak akan sama dengan berbicara.
Sama halnya dengan dunia,
Berbentuk bulat dan berdiri kokoh menahan beratnya beban berpasang-pasang kaki manusia.
write me another song - The Overtunes
_____
Memasuki ruangan besar dengan banyaknya tumpukan buku buku terbitan baru, langkah kaki ringannya melompat-lompat dengan ceria. Wanita itu - Fira namanya. Ia dengan senyum yang merekah mulai menjelajahi seisi ruang yang ia kunjungi. Kebetulan juga, toko buku yang ia jumpai sedang sepi pengunjung. Dan ini benar benar menjadi kali kesekiannya yang sangat berharga.
`tingakatan tertinggi dalam mencintai ; merelakan.`
Fira tertarik pada salah satu sinopsis dalam buku yang tak sengaja ia lihat. Tangannya tanpa sadar menarik salah satu buku itu, lalu ia baca lamat lamat pada bagian bait yang teracak di balik cover buku yang ia pegang.
`Dari panjangnya deretan sajak yang tersusun apik di sepanjang jalan, sajak mu lebih indah dan memiliki makna yang sangat berharga dari sajak lainnya.. `
- ilo, 2020
"Namanya Rembulan. Arkana Jatukrama?"
Seulas senyum tipis mewarnai garis suram dari pahatan wajah Fira. Wanita itu sempat tertegun beberapa saat ketika ia membaca nama si penulis buku tebal dengan sampul yang sederhana. Matanya terus tertuju pada salah satu bait puisi yang indah ; bermakna dalam, sedalam-dalamnya.
"Namanya indah, bukunya juga indah.. "
🦋
Malamnya, ia mengaduk-aduk secangkir kopi sachet yang sudah di beri air panas. Si punggung tegap berkaos putih tipis berjalan menuju balkon kamar. Yang dimana, tempat itu menjadi suatu ruangan favoritnya.
- sebuah tempat berkeluh kesah, dan melampiaskannya dengan sajak tak terbaca.
"Mas, kalau perutnya sudah bunyi langsung makan, ya?"
"Iya, mam."
"Beneran makan loh, ya? Jangan sampai lupa. Nanti maag nya mas kambuh lagi." Si tampan tersenyum manis. Ia menganggukkan kepalanya, lalu menyeruput kopi yang ia buat beberapa saat lalu.
tring!
Sebuah notifikasi berbunyi. Pertanda jika ada suatu pesan dari salah satu operator di ponselnya. Pria itu menoleh ke arah di mana ponselnya berada, lalu mengambil ponsel itu dan menyalakan layarnya; melihat notifikasi yang berbunyi sebanyak tiga kali.
frasa_fira started following you.
frasa_fira liked your post.
frasa_fira want to send you a message. Accept - Decline
"Followers baru, atau paparazi?" Gumamnya sedikit berbisik. Si tampan melihat isi akun dari pengikut barunya di salah satu aplikasi umum pengguna. Sampai tak sadar, lengkung manis dari bibirnya tercipta.
Jantung nya berdebar tak menentu, hanya dengan kata kata yang menjadi sebuah caption di posting si 'pengikit baru'.
frasa_fira posted a story
[ girls, guitar ]
katanya, tingkatan tertinggi dalam mencintai ialah merelakan. Tapi bagiku, tingkatan yang paling tinggi dalam mencintai itu memperjuangkan. Karena cinta, butuh secercah harapan. Bukan merela dan bergerak mundur dengan setangkai mawar hitam.
- another word, fira dan namanya rembulan.
"Wow."
Satu kata, penuh makna.
🦋
Bermula dari rintik rintik, menjadi deras seketika. Fira berlari mencari tempat berteduh. - setidaknya, agar kepalanya tak terkena basah hujan.
Dimana mana dipenuhi dengan orang orang yang berteduh dan tak menyisakan tempat untuknya. Tak sadar, ia mengumpat. Batinnya merasa kesal karena keterlambatannya dalam membuka mata membuat ia lupa membawa jaket kesayangan beserta kaca mata baca. Dan sepulang kerjanya - saat ini - ia benar benar merutuki keteledoran yang di buatnya pada Kamis malam ini.
"Aah, harusnya ga begadang baca buku itu semalem. Dasar buku puitis jelek."
🦋
Derap langkahnya bergema. Pria berusia dua puluh lima tahun itu masih enggan pergi dari perpustakaan besar kota. Ia membaca, terkadang menulis cerita atau perasaan hati di buku jurnal yang selalu ia bawa kemana saja.
Hari ini bukan hari liburnya. Ini hanya hari cuti lelahnya. Semalam ia mengirim pesan pada sang atasan dengan dalih meminta izin tidak masuk karena ada suatu keperluan penting yang harus diselesaikan dan membutuhkan waktu cukup lama. Padahal, ia hanya ingin mengistirahatkan diri - tanda kutip, si tampan ingin healing.
- jurnal Rama
Mawar hitam, dan mawar merah.
🦋
Bayangkan saja, hampir dua jam menunggu bus ataupun ojek online, Fira tak menemukannya. Semuanya benar benar sibuk. Meninggalkan ia yang terduduk memeluk tubuh menggigilnya.
"Mba, nggak pulang?"
"Eh?" Seorang wanita paruh baya menyapanya. Ia tersentak, segera berdiri dan membungkuk sopan pada orang asing di sampingnya.
"Kenapa mba? Ada masalah?"
"Oh - ah, iya bu. Dari tadi nunggu bus ga ada yang lewat. Driver ojek juga ga terlalu lalu lalang.
.. Harganya juga mahal bu, hehe." Tidak, Fira mengecilkan volume suaranya untuk ini. Jujur saja, ini sedang mendekati akhir bulan. Dan masa ini benar benar menyiksanya.
"Bareng saya mau? Tadi nelfon anak saya buat jemput." Wanita yang lebih tua menawarkan pada yang lebih muda. Di balas gelengan dari Fira. - ia tidak ingin merepotkan.
"Gak usah, bu. Lagipula, nanti saya cari ojek mangkal aja kalau udah reda."
"Ei, jangan gitu. Saya juga mau sekalian jalan jalan sama anak saya. Kamu juga udah menggigil, tuh."
Fira masih setia tersenyum canggung sembari menggelengkan kepalanya. Ia benar benar berada di situasi yang membuatnya tak enak menolak dan tak enak merepotkan.
🦋
--- 1 pesan belum dibaca ---
Jemputnya pakai mobil ya, mas. Hujannya deras di tempat mami.
___
Beberapa saat lalu sebelum ia memutuskan untuk keluar dari perpustakaan kota, notifikasi di ponselnya berbunyi. Tertulis pesan dari sang ibu yang memintanya untuk di jemput.
Alisnya mengernyit bingung. Biasanya, sang ibu akan menelfon ayah atau adiknya untuk di jemput. Namun hari ini, sang ibu meminta padanya..? Tumben sekali.
"Mba, titip buku yang ada di meja dekat jendela sana, ya. Kalau ada waktu, saya ambil."
🦋
Bibirnya membiru. Matanya memejam perih karena suhu tubuhnya melonjak drastis. Sedari tadi, wanita paruh baya di sebelahnya kekeuh ingin mengantarkannya pulang. Padahal, awalnya ia sudah ingin mencari driver ojek saja walaupun harganya mahal.
Tubuhnya akan melemah ketika bertemu dengan suhu dingin. Di tambah hujan dan tubuhnya yang basah kuyup membuat dirinya terjangkit demam. Dan sepertinya, dewi fortuna sedang berpihak padanya, karena esok hari sabtu dan lusanya ialah hari minggu, maka ia masih bisa mengistirahatkan diri selama 2 hari.
"Ssh.. "
".. Bu, maaf. Saya duluan aja, ya? Badan saya hangat, bu."
"Eh? Seriusan kamu?" Kembali lagi Fira merutuki diri. Ia mengangguk canggung.
"Jangan, jangan. Kamu tunggu sebentar, ya? Ini anak saya udah dekat sini katanya." Fira mengangguk lesu, ia kembali duduk berjongkok sembari memijit pelipisnya.
tin tin!
🦋
"Manis, kamar tamu lagi dijadiin gudang karena gudang di lantai dua lagi di renovasi. Kamu di kamar mas arka dulu aja, ya?"
"Loh? Mam? 'Kan ada kamar idan..?"
"Idan lagi kerja kelompok sama temennya di kamar. - udah, kamu pinjemin hoodie dulu buat si manis. Nanti mami ke kamar kamu buat makan nya." Si tampan mendengus, ia melengos pergi ke kamarnya. Meninggalkan Fira yang benar benar merasa tak enak hati padanya.
🦋
"Buburnya dimakan."
Fira menuruti ucapan mutlak dari pria di depannya. Si cantik memakan bubur itu dengan sedikit rakus ; berharap cepat habis dan bisa segera kembali ke rumahnya.
Pria yang di punggunginya tersenyum tipis. Melihat cara makan berantakan ala wanita itu membuatnya ingin tertawa. - seperti.. Ketakutan mungkin?
srek.
Satu lembar tisu mendarat di pipi Fira. Wanita itu tertegun. Jarak ia dan pria asing di depannya membuat dadanya sesak - saking kencangnya jantung ia berdetak.
Tak jauh berbeda, pria di depan Fira pun ikut tertegun. Ia menelan ludahnya susah payah. Menatap sepasang bola mata indah milik si cantik yang sedikit sayu karena demamnya.
"S-sorry." Fira mengangguk, ia membersihkan sisa bubur di pipinya. Dan pria tampan itu kembali duduk di kursi kerja sembari terus menulis di buku khusus ceritanya.
`fokus. Jangan kebawa perasaan.`
`anti romantic, please.. `
🦋
Pukul tujuh malam, Fira mempersiapkan dirinya untuk pulang ke rumah. Sebelumnya, ia menulis sesuatu di kertas yang terbuang di ember sampah sebelah meja kerja si pria yang membantunya dan menyelipkannya di salah satu buku novel yang di tata dengan rapih.
- namun, sebentar. Jantungnya berhenti berdetak beberapa saat..
"Namanya Rembulan. - hah?"
cklek.
"Lo.. Ngapain di meja kerja gue?"
🦋
Setelah berpamitan tadi, Fira diperbolehkan untuk pulang menuju flatnya yang berada lumayan jauh dari rumah si wanita dan sosok pria yang menolongnya.
Tadinya, ia sudah berjalan beberapa langkah menjauhi rumah besar nan sederhana yang sempat menjadi tempat teduhnya. Namun sayang, si wanita paruh baya itu terus membujuk anaknya untuk mengantar Fira. Alhasil, ia hanya berdua di dalam mobil dalam keadaan canggung luar biasa.
"Eum, untuk tadi. Maaf." Si tampan mengernyit. Ia menoleh sekilas pada Fira yang memainkan kedua tangannya.
"Karena.. ?"
"Buku lo. - eum, buku lo sama kayak buku yang gue beli kemarin." Waktu yang tepat, kendaraan diwajibkan untuk berhenti ketika lampu merah. Dan saat itu pula, si tampan memberhentikan mobilnya.
"Di ulang."
"H-huh?"
"Di ulang."
"A-apa?" Wajahnya ia condong kan, membuat si cantik merasa gugup luar biasa disertai degupan jantung nya yang kian berkali lipat lebih kencang dari batas normal.
.
.
.
"Buku yang lo beli, hasil karya gue..
Frasa Fira."
🦋
Keduanya sampai di flat milik Fira. Pipi si cantik di sepanjang jalan terus memerah. Ia benar benar malu dan tak menyangka bisa bertemu dengan idola barunya dalam waktu secepat ini.
Biasanya, ia hanya mendapatkan tanda tangan saja di halaman pertama buku novelnya. Namun, lihatlah. Di depannya itu.. Seorang penulis yang sudah menerbitkan karyanya.
.. Dan bodohnya, ia terlalu jauh bermain dengan akun @/kanakrama dan terlalu mendalami sekian banyaknya kata yang teruntai di dalam buku novel hasil karya si idola barunya.
"Makasih, buat tumpangannya. Maaf ngerepotin." Si tampan - Arka - hanya diam menatap ke arah jendela. Membuat Fira semakin tidak enak dan ingin segera keluar dari mobil yang ia tumpangi.
srak.
"A-arka.. "
Arka menjulurkan tangannya pada Fira. Yang Fira balas dengan uluran tangan ragu ragu nya.
"Gue Arka, calon pacar lo."
"Gue fi -
.. Sebentar, apa tadi?"
Arka terkekeh. Ia mendekatkan wajahnya menuju telinga Fira.
.
.
.
"Gue Arka, calon pacar sekaligus calon suami lo."
Fira tertunduk, wajahnya memerah padam.
"A-arka, kita baru ketemu hari ini." Arka mengusap pipi kanan Fira seraya tersenyum lebar.
"Setidaknya, kita bisa jadi teman 'kan?"
".. Arka.. "
.
.
.
"Salam kenal, another word berbunga mawar hitam."
---
- ila, 1 april 2022