Spin of "Janji mati Arjuna"
Arjuna, namamu akan terus melegenda dalam ruang hatiku. Seperti tokoh wayang, yang tak akan pernah pudar dan lekang oleh waktu.
Pergilah sayang,
tidurlah dengan damai disisi sang penciptamu.
Selamat jalan sayang,
Aku mencintaimu, Arjunaku!!
Dengan airmata kepiluan, Anyelir mengantarkan Arjuna menuju peristirahatan terakhirnya. Gadis itu mencoba tegar ditengah kehilangannya.
Mengikhlaskan memang tidak mudah. Anyelir, dia tahu setiap makhluk pasti akan mati pada akhirnya. Namun terlepas dari itu semua, dia hanya manusia biasa. Kehilangan kekasih tercintanya, sudah pasti membuat dia terperosok dalam jurang kesedihan yang dalam.
Sebulan berlalu setelah kematian kekasihnya, Anyelir mencoba berdamai dengan kesakitannya. Gadis itu kini mulai bisa tersenyum lagi. Ia mencoba bangkit merajut mimpinya yang lain.
"Ma, Anyelir berangkat ya." Ia pamit pada sang bunda, sambil berlari memakan selembar roti tawar.
"Susunya diminum dulu Anye!" Mamanya menarik bagian belakang tas ransel Anyelir, memaksa gadis itu untuk menyesap segelas susu tawar yang telah disiapkan.
Setelah minum susunya dengan tergesa gesa, Anyelir segera melesat meninggalkan mamanya yang hanya mampu menggeleng gelengkan kepala, sekaligus bersyukur kini putrinya sudah mampu tersenyum sejak kematian Arjuna.
Setahun kemudian,
Anyelir kini menjadi seorang mahasiswi yang sangat populer dikampusnya. Semua itu berkat kecantikan paras serta prestasi prestasi gemilang Anyelir yang luar biasa. Begitu banyak kompetisi berbagai bidang dia menangkan. Sebuah lonjakan prestasi yang mengejutkan untuk gadis seperti Anyelir, dimana sebelumnya menganggap nilai dibidang Akademi hanyalah formalitas belaka.
Sejak kematian Arjuna gadis itu memang sangat aktif, dalam mengikuti semua kegiatan dikampus. Dia juga belajar sangat keras untuk menggali semua potensi dalam dirinya. Seolah ia sengaja menenggelamkan dirinya dalam rutinitas.
"Gila stamina lo kuat banget ya" Dila kagum dengan stamina Anyelir, karena sanggup mengikuti semua kegiatan tanpa mengurangi prestasinya.
"Gue suka, jadi enggak merasa capek he he he" Anyelir nyengir menanggapi sahabatnya.
"Eh Anye minggu depan organisasi pecinta alam kampus kita mau ekpedisi ke gunung rinjani loh." Dila yang tomboi begitu semangat mendengar kabar tersebut.
"Lo ikut gak?" Imbuhnya lagi.
"Ikut dong, lu kan tau gue demen banget mendaki." Mendaki merupakan hoby baru Anyelir setahun ini.
Jam tujuh malam, Anyelir sampai dirumah. Seperti biasa gadis itu langsung menuju ke kamarnya setelah selesai menghabiskan makan malam bersama kedua orang tuanya. Anyelir mulai membuka sebuah buku dan menuliskan sesuatu didalamnya. Hal itu bagai sebuah kebiasaan yang tak pernah gadis itu lewatkan sejak menduduki bangku kuliah.
****
"Hai sayang, aku datang." Dengan ceria Anyelir mendatangi makam kekasihnya, sehari sebelum keberangkatan ekspedisi rinjani.
"Apa kabarmu hari ini Arjunaku, oiya kamu ingin aku berdoa seperti apa sekarang?" Anyelir terus berbicara pada gundukan tanah yang mengubur jasad kekasihnya, seolah laki laki itu tengah duduk dihadapannya dan mendengarkan semua pembicaraanya.
"Baiklah, karena kamu diam maka aku akan merahasiakan isi doa doaku darimu hari ini." Suara Anyelir penuh kesenduan, namun segera menghela nafasnya dalam dalam. Gadis itu tidak ingin kembali larut dalam kesedihan.
"Sudah setahun, dan kamu masih belum melupakannya?" Anyelir mendongakkan kepala ketika pundaknya disentuh oleh seseorang.
"Hmm?" Dia menatap sumber suara yang menyapanya.
"Berikan aku sedikit kesempatan untuk mengisi ruang hatimu!" Leo sahabat Arjuna, sudah beberapa kali mengungkapkan isi hatinya pada Anyelir.
Leo memang menaruh hati pada Anyelir semenjak kepergian sahabatnya.
"Hah?" Tubuh Anyelir membeku, mendengar permintaan Leo, bingung harus menjawab apa meskipun permintaan tersebut bukan yang pertama kalinya.
"Please Anyelir, aku serius sama kamu." Leo kembali menekankan kata serius.
"Leo, kamu mengertikan perasaanku?" Anyelir menghirup nafas dalam dalam, mengisi penuh paru parunya dengan oksigen.
"Lihat aku Anyelir!" Leo meremas pelan pundak Anyelir dengan kedua tangannya.
"Baiklah, kita mulai dengan menjadi sahabat dekat." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir mungil Anyelir.
Gadis itu tidak mampu menghancurkan hati Leo. Tatapan permohonan, tulus serta penuh keseriusan tergambar jelas diwajah Leo, membuat hati Anyelir terenyuh.
"Terima kasih Anyelir." Kegirangan yang berlebihan, Leo reflek memeluk gadis yang masih termangu didepannya.
Dan Anyelir hanya membiarkan tubuhnya berada dalam dekapan Leo, ia tidak menghindar ataupun membalas pelukan laki laki itu. Anyelir paham Leo tidak salah jatuh hati padanya, karena dia tidak merebut Anyelir dari siapapun termasuk dari sahabatnya Arjuna.
Tapi sekali lagi, Anyelir dia tidak bisa membohongi hati dan perasaannya. Hatinya tidak mudah berpaling, rasa cinta mendalam membuat gadis ini tetap setia menyesap bayangan Arjunanya. Namun tidak ada salahnya jika kini ia mencoba. Mencoba memberi sedikit celah bagi Leo untuk perlahan menerobos,mendobrak paksa jendela kalbunya, agar terbebas dari perasaan cinta sekaligus kehilangan yang menyesakkan nafasnya selama ini.
Setelah melepaskan pelukannya, masih dalam diam Leo mengantar Anyelir ke kampusnya siang ini.
"Cieee pacar baru nih." Dila menggoda Anyelir, ini pertama kali melihat Anye diantar cowok selama setahun bersahabat dengannya.
"Bukan, hanya teman." Anyelir menjawab dengan jelas, membuat Dila percaya bahwa tidak ada yang spesial.
"Eh Anye, lu diet ya?" Dila mengamati tubuh sahabatnya yang terlihat makin langsing.
"Enggak, lu tau sendiri kan gue kalau makan sebakul." Dengan bercanda Anyelir menanggapi pertanyaan sahabatnya.
"Serius? Tapi kok tubuh lo makin kecil ya gue perhatiin." Heran Dila dengan perubahan tubuh Anyelir yang terlihat lebih kurus.
Sore harinya, Anyelir duduk diteras rumah bersama kedua orang tuanya ditemani segelas teh dan beberapa kudapan,
"Ma, pa besok Anyelir mau ke lombok." Anyelir pamit pada kedua orang tuanya.
"Ngapain jauh banget?" Mamanya merasa tidak rela melepaskan anaknya pergi ke luar pulau sendirian.
"Pendakian ma, acara kampus."
"Kenapa gak yang deket aja sih?" Sanggah mamanya masih kekeh.
"Kamu hati hati ya sayang." Papanya mulai menengahi saat melihat istrinya masih kekeh dengan pendiriannya.
"Tapi pa," Belum sempat sang mama menyelesaikan ucapannya, papa Anyelir mencolek kecil punggung istrinya, memberi kode untuk mengijinkan.
Laki laki paruh baya itu seolah paham dengan keinginan Anyelir. Selanjutnya keluarga itu tidak lagi membahas pendakian anyelir. Mereka memilih bercengkerama sebentar menciptakan suasana hangat.
Namun kehangatan itu nyatanya hanya berlangsung sekejap ketika gadis itu membuka pintu sebuah ruangan. Suasana hati Anyelir dalam sekejap dipenuhi oleh kesenduan, kesepian dan ia kedinginan, seolah bola salju tengah menyelimuti ruangan itu. Kamar Anyelir.
***
Rinjani, 26 September 2019 Lombok, Nusa tenggara barat.
Anyelir terus melangkahkan kakinya tanpa terlihat rasa lelah diwajahnya, meski tubuhnya yang kecil harus menggendong tas carrier besar dipunggungnya. Semburat ketenangan justru tercetak jelas diwajah ayunya.
Disaat tim ekspedisinya sudah mulai frustasi diambang kelelahan akibat melewati "bukit penyesalan", salah satu medan terberat yang harus mereka lewati untuk sampai puncak gunung rinjani. Bagaimana tidak, setelah melewati pos tiga kini mereka masih harus mengarungi tujuh bukit terjal. Bukit yang harus mereka daki untuk sampai puncak Rinjani. Tujuh bukit yang memang ampuh merobohkan mental dan fisik, dengan jalur terus menanjak sampai ke ujung.
Tenda tenda telah berdiri, diperistirahatan bukit plawangan sembalun. Hari mulai pagi, diufuk timur sang mentari mulai membuka tabirnya, menyapu cakrawala dengan sinar indah sebagai tanda terbitnya yang semakin memanjakan mata penikmatnya.
Begitu pula Anyelir, gadis itu kini menatap kilauan indah itu, dari balik tendanya. Hanya sejenak, kini pandangan matanya beralih pada sebuah kotak kado berwarna biru tua dengan aksen hati. Ia meraih kotak yang terbungkus rapi dengan hati hati tanpa berniat membukanya.
"Itu kotak isinya apasih Anye?" Dila penasaran dengan kotak yang selalu Anyelir bawa ditasnya kemanapun dia pergi.
"Isinya bait kematian he he he." Anyelir menjawab pertanyaan Dila asal.
"Hust, jangan ngomong gitu, pamali." Dilla memukul lengan Anyelir, tidak suka mendengar candaan sahabatnya tentang kematian.
"Perasaan, itu kotak lu bawa kemana aja dech." Imbuh Dila kemudian.
"Karna suka aja, nyimpen catetan catetan penting disini. Jadi gampang nyarinya." Anyelir menjelaskan.
Malam menjelang, Anyelir dengan lincahnya menyusuri puncak Rinjani setinggi 3.726 meter diatas permukaan laut tersebut.
Jika setahun yang lalu ia akan menangis ketika berada dalam ruang gelap tanpa cahaya dan bergidik ngeri membayangkan binatang melata, namun tidak untuk sekarang.
Waktu benar benar merubahnya, dengan menekuk kedua kaki memeluk erat dengan kedua tangan mungilnya, lalu menjadikan dengkul sebagai bantal kepalanya,Anyelir duduk dipinggir tebing. Anyelir justru sangat menikmati kesendiriannya.
Disebuah batu besar menghadap ke arah danau segara anakan, yang konon tersohor sebagai Danau vulkanik terbesar dunia, Anyelir sedang bermain dalam gelap. Ia menemukan kebahagian ditengah kesunyian malam, bermandikan kehangatan oleh bait bait kerinduan.
"Arjuna, hari ini aku menyusuri puncak Rinjani." Ia berguman dalam diam.
Hari ini aku akan menyalurkan sejuta kerinduanku untukmu seperti setahun yang lalu. Mari kita saling berpelukan sayang, saling menghangatkan dari belaian hawa gunung yang membekukanku.
Ku mohon Arjuna, hadirlah sekejap saja.
Tidakkah kamu rindu kepadaku yang nestapa?
Peluklah aku dengan biduk kehangatan jiwamu, agar aku tidak lagi tandus dalam kesepian.
Arjuna bangunkan aku sebuah ilusi, ilusi yang menyenangkan tentangmu agar aku tidak bisa membedakan antara hayalan dan kenyataan.
Arjuna,
Seandaainya aku bisa meminta, aku lebih memilih menjadi seorang skizofrenia. Agar aku bisa terus hidup bersamamu dalam hayalanku, agar kita bisa saling mengecap rindu tanpa batas ruang dan waktu.
Arjuna, seperti inikah rasanya kesedihan Laila Majnun terpisah dari kekasihnya? Begitu dalamkah penyesalan Shah Janan, ketika ditinggal mati oleh istrinya Mumtaz Mahal?
Arjuna, Aku merindukanmu!
***
Dua bulan ekspedisi Rinjani, Anyelir sudah menjalani aktifitas seperti biasa. Jika biasanya dia terbangun paling pagi, tidak untuk pagi ini. Dia belum menampakkan batang hidungnya sampai jam setengah delapan pagi.
"Anye bangun, kamu gak kuliah?" Sang mama membuka pintu kamarnya, membangunkan anaknya.
"Iya ma." Suara Anyelir terdengar lirih.
"Anye wajahmu pucat sekali, kamu sakit nak?" Wanita paruh baya itu menghawatirkan anaknya.
"Enggak kok ma, mungkin karena bangun tidur aja." Suara Anyelir terdengar sangat serak dan berat.
"Bener sayang kamu gak apa apa?"
"Kalau sakit mending istirahat aja dulu."
"Anye baik baik aja mama." Anyelir mengecup pipi mamanya, untuk membuktikan bahwa ia sehat.
Dengan langkah gontai, Anyelir berjalan menuju kamar mandi. Namun ada yang aneh, dia meninggalkan jejak merah disetiap langkahnya.
Tetes darah berceceran mengiringi langkah Anyelir.
"Anyelir, kamu berdarah." Mamanya berlari ke arah Anyelir membalik tubuh anaknya dengan paksa.
Wajah anyelir telah dipenuhi oleh darah yang merembes dari hidungnya, kedua tangan gadis itu tengah berusaha menahan agar tidak ketahuan sang mama.
"Hanya mimisan biasa ma." Anyelir masih berkata dengan senyum manisnya.
"No Anyelir, kamu sakit. Kita check up sekarang." Mamanya tidak ingin dibantah.
Anyelir hanya mengangguk pasrah menuruti keingingan wanita yang melahirkannya. Namun,
Braaak,,
Anyelir terjatuh tepat didepan pintu rumahnya, ia ambruk tak berdaya, dengan darah masih mengalir melalui hidungnya.
"Papa, anyeee paaaa,," Teriak mama Anyelir memanggil suaminya.
"Tolong,," Panik menyaksikan tubuh anak sulungnya dipenuhi darah segar.
Anyelir pun dilarikan ke rumah sakit. Gadis itu divonis terkena aneurisme otak, disebabkan oleh kelelahan aktifitas fisik sehingga menyebabkan kelemahan pada pembuluh darah di otak. Berakibat pecahnya pembuluh darah diarea otak yang mengancam jiwa gadis itu.
Anyelir dinyatakan koma oleh tim dokter yang menanganinya. Ia koma dengan dengan menggenggam kotak biru yang selalu menemaninya.
***
Arjuna,
Aku selalu menuliskan namamu pada syair rinduku. Rindu yang entah sudah berapa lama menyengsarakanku. Rindu yang kian lama kian membuncah tanpa bisa aku lawan.
Arjuna,
Aku tau cinta tidak selamanya membahagiakan, terkadang cinta bisa juga dipenuhi kesedihan dan air mata, namun kita juga tak mampu menghapusnya.
Seperti itulah kisah cinta kita.
Kita saling mencintai, memahami, mengagumi dan saling bergantung. Namun dalam kebahagian itu, tawa itu menghilang dalam sekejap tertelan oleh kekuatan takdir.
Arjuna, taukah kamu,
aku sengaja tidak memakai cincin serta kalung yang kau belikan untukku. Karena aku berharap cincin itu kau sematkan sendiri dijari manisku dihari pernikahan kita.
Tapi Tuhan lebih dulu memanggilmu, sebelum mimpi itu terwujud. Sehingga aku lebih memilih meletakkan kenangan kita kedalam kotak. Membungkus rapi kenangan itu dalam hatiku karena aku paham, cincin dan kalung itu tidak akan pernah bisa lagi kau sentuh.
Arjuna,
Akhir akhir ini aku merasa tubuhku sakit, sangat sakit. Aku tidak tahu sakit ini karena menahan rinduku padamu, atau sakit karena rasa dingin yang selalu menyelimuti sepiku. Atau karena aku benar benar sakit.
Arjuna, seperti apakah rasanya sebuah kematian?
Aku takut, akhir akhir ini aku sering bermimpi melihat peti matiku sendiri. Apakah detik detik kematian begitu menyakitkan? Kenapa tubuhku sangat menggigil setiap malam datang?
Jika benar kematianku akan datang, aku akan membawa kotak itu dihari kematianku sayang.
Aku akan datang kepadamu,
Pakaikan cincin serta kalung itu dengan tanganmu sendiri.
Arjuna,
Akankah kita kembali bersama di alam kematian kelak, atau justru terpisah oleh jarak semakin panjang?
Elegi Sepi, Anyelir.
21 November 2019.
The end.
****
Terimakasih sudah membaca karyaku ya, baca juga karyaku yang lain:
1. *It's Hard to Love you* [novel]
2. Janji mati Arjuna [cerpen]
Ikuti terus untuk karya karya baru saya dengan follow akun saya, Terimakasih🙏🙏