Sania menahan nafasnya saat ini dia berdiri di balik tirai menatap obyek di depannya. Seorang wanita muda duduk di pangkuannya dan Ayah. Padahal rumah sepi. Ayahnya seorang pedagang dan memiliki anak buah cukup banyak pekerjaan beliau hanya mengambil barang-barang dan mengedrop saja ke toko-tokonya.
Sang ibu karyawan di perusahaan bank swasta, jadi selalu pulang sore bahkan malam. Terkadang lembur juga. Sania sekolah dan sepulang dari sekolah dia diikutsertakan bimbel dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya sebagi penunjang lainnya.
Saat ini ia pulang awal karena sekolah memulangkan muridnya karena ada staf sekolah meninggal dunia. Rumahnya yang biasanya dikunci sekarang tak terkunci. Pagar rumah minimalis ini tak terkunci, ada mobil ayahnya juga. Jadi dia pikir ia dapat bersenang-senang dengan sang ayah ke Mall.
Fakta sekarang sang ayah bersenda gurau dengan cerianya bersama wanita di pangkuannya. Bahkan mereka sempat berciuman di bibirnya. Ia sudah remaja jadi tahu tentang hal itu. Ia sempat memotret nya beberapa kali dan posisinya intim.
"Ayah siapakah wanita muda itu ?" Teriaknya lantang saat mereka kembali berciuman. Ayah Sania terkejut dan terdiam berdiri langsung hampir saja wanita itu terjatuh ke lantai. Mereka bertiga saling menatap.
"Ayah ...dia teman ayah. Iya begitulah." Katanya gugup. Sania menatap ke arahnya lagi.
"Hormatilah rumah ini ayah. Untuk ibu terlebih-lebih aku. Apa ayah tak mampu menyewa hotel melati ?" Teriaknya lantang.
"Tega ayah membawa masuk barang seperti itu !" Sania pun berlalu naik ke lantai atas menutup pintunya keras-keras. Braakkk.
Lelaki itu hanya dapat mengusap tengkuknya dan menatap wajah kekasihnya, malu pada sang anak. Karena kepergok sedang bermain-main dengan wanita seumuran dengan anaknya.
Yang selama ini dia pikirkan akan aman saja dan bermain cantik.