Cit..cit..cuit..terdengar suara burung di halaman belakang rumah Neyza. "Suara ini?", Neyza berjalan menuju ke sumber suara. Terlihat seekor anak burung tergeletak lemah di atas tanah. Neyza secara perlahan mengangkatnya, terlihat sayap kecilnya terluka. Neyza membawanya masuk dan dengan lembut mengobati lukanya.Ia lalu membaringkan burung kecil itu disebuah kotak kecil yang dialasi dengan kain beludru.
Neyza adalah seorang gadis penjual obat-obatan herbal, keahliannya itu diwariskan dari sang nenek yang juga ahli pengobatan tradisional. Neyza hanyalah seorang gadis kecil bermata cokelat, dengan rambut sebatas bahu yang juga berwarna cokelat. Matanya yang bundar dengan kulit sehalus kulit bayi.
Hari-harinya di isi dengan mencari tanaman obat, membersihkannya dan mengolahnya. Pelanggan di tokonya hanyalah orang-orang tua yang tidak percaya dengan pengobatan modern. Bersama dengan neneknya ia mengelola toko obat itu.
Pada suatu hari ia melihat seekor ular yang terluka, warna ular itu tidak biasa, kulitnya berwarna putih dengan sisik yang berkilap. Dengan tenang Neyza mendekatinya, ia lalu berkata kepada ular itu untuk tidak menggigitnya, karena ia akan mengobatinya, seakan-akan mengerti, ular itu pun diam saja. Tak berapa lama, Neyza selesai mengobati lukanya, ia lalu menempatkan ular itu di tempat yang aman.
Kembali berjalan mencari tanaman obat, di sepanjang ia mendapati sebatang tanaman yang tercabut, entah siapa yang melakukannya, ia lalu menanam kembali tanaman tersebut dan menyiramnya dengan air minum yang ia bawa.
Setelah selesai mendapatkan apa yang dibutuhkannya, ia pulang, diperjalanan pulang ia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang terduduk lesu di bawah sebuah pohon. Neyza lalu bertanya kepada kakek itu apa yang ada yang bisa ia bantu. Ternyata kakek itu sedang menahan lapar, mendengar hal itu Neyza memberikan roti bekalnya. Kakek lalu memakannya dan mengucapkan terima kasih, setelah itu kakek melanjutkan perjalanannya.
Setelah berjalan beberapa lama, Neyza baru menyadari bahwa hari itu perjalanan pulangnya membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya. Dan ia juga menyadari perbekalannya sudah habis. Sampai akhirnya ia melihat sebuah gubuk, perasaan ia tadi waktu perjalanan pergi ia tidak melihat ada sebuah gubuk di sepanjang perjalanannya.
Neyza mengetuk pintu gubuk itu sambil mengucapkan salam. Ternyata pintu itu tidak terkunci, perlahan Neyza membuka pintunya, terlihat ruangan itu sangat bersih, ada kasur, walau terlihat usang tapi bersih, terdapat satu teko berisi air dan sepiring roti. Melihat hal itu Neyza menahan air liurnya, ia lapar sekaligus haus, ia lalu meminum segelas air dan juga sepotong roti, ia juga meletakkan dua keping uang sebagai pembayaran atas air dan roti yang ia makan.
Tiba-tiba merasa mengantuk dan badannya terasa letih, tanpa sadar ia tertidur di atas kasur.
Ia tidak menyadari seorang lelaki membuka pintu dan memandangnya dengan lembut sambil tersenyum. Lelaki itu sangatlah tampan rambutnya berwarna putih bersinar, matanya sebiru lautan, dengan tubuh tinggi tegap dan mempesona.
Dia mendekati Neyza yang sedang terlelap, tangannya mengelus pipi yang sehalus kulit bayi itu, ia lalu mengecup lembut kening Neyza.
"Lihatlah betapa kecilnya dirimu gadisku, hehe, menggemaskan, saat ini belum saatnya kamu mendampingiku Neyza ku, sekarang kamu aku izinkan pulang, nenekmu sedang menunggu, satu tahun lagi, aku akan menjemputmu setelah aku dilantik menjadi dewa kemakmuran. Sampai saat itu, tunggulah aku", ia lalu menghilang meninggalkan bau yang harum.
Neyza terbangun, bau harum ini menggelitik indera penciumannya, bau wangi yang membuatnya merasa nyaman. Neyza tersadar, sebentar lagi menjelang malam, ia mengkhawatirkan neneknya, ia membuka pintu, berlari dan berhenti membalikkan badan menatap gubuk tadi, ia terkejut gubuk itu menghilang, didepan matanya terlihat jalan yang menuju kearah rumahnya.
Neyza bernafas lega, berjalan dengan gembira menuju rumahnya. Sesampai di rumah ia melihat nenek sedang membereskan toko, ia meletakkan daun herbal yang ia petik tadi dan membantu nenek. setelah itu ia melihat keadaan burung kecil.
Beberapa hari kemudian burung kecil yang diberinya nama Pipo itu sembuh. Neyza membawanya keluar dan melepaskannya. Pipo terbang mengitari Neyza seakan-akan mengucapkan terima kasih setelah itu dia terbang menjauh.
6 bulan berlalu, Neyza sedang duduk di toko sambil membaca buku, tak lama pintu toko terbuka, tampaklah seorang pemuda yang berwajah buruk rupa memasuki toko, Neyza menanyakan obat apa yang ia butuhkan sambil tersenyum, pemuda itu berkata ia membutuhkan obat yang dapat menyembuhkan hatinya.
Neyza tertegun, ia menyuruh pemuda itu untuk menunggu sebentar karena ia akan menanyakan kepada neneknya apakah obat tersebut tersedia di tokonya. Pemuda itu menganggukkan kepalanya.
Nenek Neyza mendatangi pemuda tersebut dengan meminta maaf bahwa obat itu tidak tersedia di tokonya.
Pemuda itu berkata lagi dengan tegas bahwa toko obat itu mempunyai obat yang ia maksudkan, ia lalu menunjuk Neyza dan berkata bahwa gadis itulah obatnya. Nenek dan Neyza terkejut, nenek menanyakan apa maksud perkataan pemuda itu. Pemuda itu lalu memperkenalkan bahwa dirinya bernama Fanes dan ia jatuh cinta kepada Neyza.
Seketika nenek tidak sadarkan diri, Neyza panik, dengan berlinang air mata Neyza dibantu Fanes membawa nenek ke tempat tidurnya. Pada saat itu Fanes berkata apabila Neyza tidak mau menerima dirinya maka ia akan memastikan Neyza akan kehilangan nenek tercintanya itu. Wajah Neyza pucat seketika. Di benaknya apalah arti dirinya jika nenek tiada. Dengan berlinang air mata dan isak tangis Neyza mengangguk, mengiyakan kalau ia akan menerima Fanes sebagai pendampingnya.
Penduduk desa geger mendengar pernikahan Neyza dengan Fanes, mereka kasihan dengan Neyza yang menikah dengan Fanes, gadis-gadis di desanya mencibir dan menghina Neyza yang akhirnya menikah dengan seorang pemuda yang buruk rupanya itu.
Neyza pasrah, asalkan neneknya tetap bersamanya, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Neyza tetap menghormati suaminya, Fanes ternyata seorang pemuda yang baik, walaupun ia telah menjadi suami Neyza, ia tidak pernah menyakiti Neyza, ia tetap menjaga jarak dengan Neyza, hal ini membuat nenek Neyza kagum melihatnya. Nenek lega melihat Fanes tidak memaksa Neyza untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Bulan berganti, lama kelamaan tumbuh benih cinta di hati Neyza terhadap Fanes, Fanes membuat halaman di sekitar rumah Neyza dipenuhi tanaman sayuran, bawang, cabai dan banyak lagi. Pas tepat setahun pertemuan Neyza dengan seorang lelaki di gubuk. Desa itu terkena bencana alam, gempa berskala besar meluluh lantakkan desa itu, termasuk rumah yang ditempati Neyza dan nenek. Syukurlah Nenek dan Neyza selamat. Hanya saja Fanes menghilang. Betapa remuk hati Neyza menerima kenyataan itu.
Pemerintah daerah melakukan perbaikan di sana sini. Hanya saja sawah dan kebun mereka rusak semuanya, mereka terpaksa mulai dari nol lagi. Setelah menata ulang toko, obat yang tersisa tinggal sedikit. Neyza termenung di belakang rumahnya, ingatannya kembali kepada Fanes.
"Apakah aku yang berada di pikiranmu saat ini Neyza ku", sebuah suara yang ia kenal terdengar, Neyza lalu melihat ke arah sumber suara. Terlihat Fanes tersenyum menatapnya, Neyza lalu menghambur ke pelukan Fanes, air matanya berlinang, pada saat itu ia mencium bau wangi dari tubuh Fanes yang membuatnya nyaman.
"Aku datang, cintaku", mengecup pucuk kepala Neyza dengan lembut. "Saat ini aku akan bertanya padamu kau mencintaiku dengan wujud yang seperti sekarang ini atau yang seperti ini", seketika sebuah cahaya menyinari tubuh Fanes, wajahnya yang tadi buruk rupa berubah menjadi tampan dan mempesona, rambut putih panjang bersinar dengan mata sebiru lautan.
Neyza tertegun lalu berkata," apakah itu engkau Fanes?". Fanes lalu mencium pipi Neyza dan menjawab," iya ini aku, dewa kemakmuran, suamimu".
Fanes lalu menjentikkan jarinya, seketika sawah dan kebun penduduk desa kembali seperti semula. Penduduk desa takjub melihat apa yang terjadi.
Fanes berkata ia akan datang setelah ia menyelesaikan tugas-tugas yang harus diembannya sebagai seorang dewa. Ia memeluk Neyza dengan erat. Neyza tersenyum bahagia , " Siapapun dirimu dan bagaimana pun wujud mu, aku mencintaimu Fanes ku".
Tamat