Hawa di sepertiga malam memang tidak wajar untuk manusia normal apalagi untuk seorang gadis polos yang terjebak di hutan belantara seorang diri. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah dan ransel kuning di punggungnya. Rambut panjangnya dikucir satu, hingga saat ia berlari rambutnya bergoyang persis tumbuhan lebat yang ada di sampingnya.
Gadis itu juga bingung bagaimana bisa ia berada di hutan di jam begini dan masih mengenakan seragam sekolah. Dia ketakutan, tubuhnya dingin, tapi tak membendung wajahnya kebanjiran keringat.
Dia terus berlari tanpa tujuan. Pikirannya kacau, ia berlari ke arah mana? Timur kah, barat, selatan atau utara? Dia tidak tahu.
Dia ingin berhenti dan beristirahat, tapi sesosok hewan besar di belakangnya terus terbang mengikuti kemana ia melangkah. Ketakutannya bertambah saat tak sengaja kakinya terpelincir sehingga dengan terpaksa dia tak melanjutkan aksi melarikan dirinya dari hewan yang wajahnya berbentuk love berwarna putih bercahaya.
Jantungnya serasa ingin lepas saat burung hantu itu mendekat kepadanya secara perlahan. Bukan itu saja yang ditakutinya, ukuran hewan itu yang sepuluh kali lebih besar dari ukuran normalnya.
Gadis itu merangkak, masih berusaha lari, tapi ranselnya berhasil digapai sang burung hantu, dibawanya ia terbang dengan air mata yang sudah bercampur keringat.
Pak
Aleagi, disapa Lea terbangun dari mimpi buruknya kala sang ibu memukul meja belajarnya.
"Lea Lea, kenapa tidur di meja, di depan komputer lagi?" marah ibunya.
Lea yang nyawanya belum terkumpul semua plonga-plongo. Ia mengucek matanya sambil berjalan menuju kasur, mengabaikan ibunya yang tengah mematikan komputer.
"Berani banget kamu, Lea. Nonton film horor tengah malem," ujar ibunya.
"Horor apanya, aku nonton kartun kok, Ma," sahut Lea susah.
"Ih, serem banget lagi filmnya." Mama Iris merinding sendiri melihat burung hantu berukuran besar yang ada di film itu.
Tidak ada balasan dari Lea. Gadis itu tertidur kembali.
Saat Mama Iris menutup pintu, dengkuran keras Alea memecah keheningan kamarnya. Tanpa Alea sadari, komputernya menyala sendiri dan kembali memutar film yang kata ibunya seram, padahal seingat Lea dia tidak menonton film horor.
Kelopak mata Lea bergerak, ia terganggu oleh suara bising komputer. "Ma, katanya takut. Kalau mau nonton kecilin suaranya, Ma," pintanya setengah sadar.
Namun bukannya mengecil, suara dari komputer semakim besar saja membuat Lea terbangun dan beralih jadi duduk. Lea terkejut hingga matanya membulat besar melihat komputernya yang tiba-tiba mati sendiri dan ibunya yang ia kira ada ternyata tidak ada di sana.
Lea mengerutkan alis kuat, ia berjalan ke arah komputernya untuk mengecek, apakah ada yang salah dengannya?
Lea tidak menemukan keanehan apa pun, lantas ia kembali ke kasur dengan pikiran yang kacau. Dia yakin komputer itu tadi menyala, ia melihatnya sekilas.
Lea menggeleng kepala, dia tidak ingin memikirkan hal-hal aneh yang hanya merusak pikiran. Lea menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan kembali berbaring.
Lea memejamkan matanya, tapi kejadian aneh tadi terus mengusik pikirannya hingga ia tidak bisa tidur. Lea berbalik ke kiri dan kanan, mencari posisi ternyaman, namun tetap saja ia tidak bisa tidur.
Lea menghela napas sambil duduk kemudian menekan saklar lamp membuat kamarnya saat ini menjadi terang benderang.
Lea mengambil ponselnya yang terletak di samping bantal kepalanya. Lea melihat jam di ponselnya. Masih jam 12.30. Gadis itu yakin kekasihnya saat ini belum tidur.
Lea menghubungi kekasihnya dan yah, tidak butuh waktu lama, panggilannya terjawab.
"Halo, Gas?"
"Kok belum tidur?" jawab Bagas.
"Udah tadi, tapi kebangun jadi nggak bisa tidur deh."
"Besok sekolah lho," peringatnya.
"Tapi nggak bisa tidur, temenin aku ya sampai aku ngantuk nanti."
"Video Call?"
"Iya."
"Emm gimana ya, Sayang. Aku kayaknya nggak bisa deh."
"Kok nggak bisa?"
"Aku ...."
"Kamu kenapa?"
"Bagas, ayo buruan aku-" Suara seorang gadis.
"Itu siapa, Gas?"
"Si siapa, siapa apanya?"
"Suara cewek itu, Gas."
"Suara cewek? Kamu salah denger kali."
"Aku nggak salah denger. Jawab jujur, Gas. Kamu di mana?"
"Aku di rumahnya Vian kok, main PS."
"Vian anak tunggal, dia nggak punya saudara dan tinggal di apartemen sendirian. Jangan bodoh-bodohin aku, Gas."
"Enggak Sayang, kamu salah dengar."
"Jadi pendengaran aku yang salah?"
"Enggak, bukan gitu."
"Udah matiin aja, percuma aku telpon kamu. Abis ini jangan hubungi aku lagi!"
"Lea, nggak gitu. Aku jelas-"
Tut
Panggilan telepon putus.
Lea melempar ponselnya ke kasur. Matanya mulai berkaca-kaca. "Bagas selingkuh?" Lea menolak percaya, tapi suara perempuan tadi?
"Hiks, kamu tega, Gas." Lea menangis dengan wajah yang menempel di bantal. Tiga puluh menit dia terus seerti itu. Menutup wajahnya dengan bantal agar suaranya tidak sampai didengar oleh orangtuanya. Setelahnya Lea mengangkat wajah.
Mata sebam mengenaskan Lea membuat wajah cantik cewek itu ternodai. Rambut Lea acak-acakan, tapi sekarang dia tidak mengeluarkan air mata lagi. Dia mengambil ponselnya dan memusatkan pandangannya pada benda pipi itu. Ada dua belas panggilan tak terjawab dari Bagas.
Lea tersenyum kecut. Dia tidak ingin menjadi perempuan lemah gara-gara seorang lelaki. Lea dengan yakin memblokir nomor Bagas lalu mendengkus lega.
Lea bersandar di dinding. Ia teringat dengan mimpinya tadi. "Burung hantu?"
Seketika bulu kuduk Lea berdiri. Cewek itu mengusap bahunya yang merinding. "Serem banget."
Lea cepat-cepat memainkan ponsel, membuka menu apa saja yang jarinya gapai, tapi sia-sia. Pikiran Lea masih dihantui oleh hal menakutkannya. Tapi seiring berjalannya waktu, Lea hanyut dengan ponselnya saat dia melihat postingan seekor kucing imut dan menggemaskan di media sosial.
"Lucu banget," gemas Lea.
"Kayak kamu," papar seseorang dengan suara berat.
Mata Lea membulat. Dari mana suara itu berasal? Ia ingin menjelajah pandangannya tapi tak berani sampai memilih untuk terus melihat ponselnya.
Kening Lea berkeringat. Jelas suara itu tidak membuat pikirannya tenang, apalagi saat jari telunjuk seseorang menyentuh dagunya.
Lea membatu, ia takut sekali tapi ia memaksa untuk melihatnya karena penasaran, dan yah, saat berbalik ke samping. Lea menemukan seorang lelaki tampan berkacamata dengan pahatan wajah nyaris sempurna.
"Hai, Cantik." Tangannya melambai anggun. Cahaya emas yang entah datang dari mana seakan mengelilingi dirinya.
Namun tepat setelah sapaan itu, Lea kehilangan kesadaran.
Next part dua:)