Aku menemukan sebuah jam kuno yang biasa di gunakan oleh para orang di jaman modern yang masih dalam masa kerajaan biasanya aku melihatnya kebanyakan orang eropa di jaman kerajaan menggunakannya sebagai pengingat waktu tapi, ketika aku menekan tombol yang mencurigakan untuk membuat jam itu terbuka dari tutupnya.
"Kukira apa ternyata hanya jam biasa." Aku bosan memperhatikan jam itu saja tapi, ketika aku menutup kembali aku melihat ada yang aneh dari jam itu yang ternyata jam itu memiliki tulisan dan aku mengejanya dengan nama 'Andreans.'
Ketika aku akan mendekatkan tulisan itu seketika ponselku berbunyi dan ternyata kakek yang yang menelponku.
Aku langsung mengangkatnya meletakan jam itu begitu saja di atas meja.
Berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu.
Ketika aku selesai melakukan panggilan seketika itu aku terkejut melihat sosok pria tampan dengan pakaian khas anggota politik kerajaan yang masih sangat baru dari segi pakaian wajah yang segar dan Ia juga menatap kearahku sontak aku terkejut, saat itu juga tatapanku turun pada jam itu dan ternyata Eh... tunggu ini hanya asumsiku tak tak pasti. Aku sedikit melangkah mendekat lalu Ia berbalik ke arahku dengan tenang.
"Kau Elina Louisy kau menemukan jam ini dimana kau baru saja membukakannya, terimakasih karenamu membuka jam ini aku bisa bebas," ucapnya dengan tiba-tiba mengambil tanganku menyalami dan membuatku semakin terkejut adalah senyumannya sangatlah indah.
Eh bukan itu sekarang.
"Tunggu kenapa kau tahu namaku dan kau siapa kau datang darimana dan kau pasti sedang menghadiri acara kau pasti siluman atau hantu atau se...."
"Tidak aku bukan semua hal yang kau ucapkan perkenalkan namaku adalah Andreans aku masuk ke dalam jam ini karena aku penasaran rasanya menjadi seorang dengan sihir yang baik dengan waktu aku baru menggunakannya...." Seketika aku menutup mulutnya dan mengisyaratkannya untuk diam dan aku langsung menutup jendela horden memeriksa keadaan di luar kamar juga luar kos-kosanku.
Aku mengunci semuanya dan aku duduk dengan tenang didepan lelaki tampan ini yang namanya Andreans.
"Berarti kau penyihir aku tak mengerti apa maksudnya tapi, apa bisa bagaimana aku tak mengerti sama sekali, sungguh bisa kau jelaskan dengan baik," ucapku menatapnya.
Ia tersenyum dan membuat jam itu bergerak seketika terlihat diruanganku ada cahaya emas seketika cahaya itu menghilang sekejap.
"Tidak.. jangan.. Tidak bisa, maafkan aku aku tak bisa melakukannya aku tak bisa menjelaskannya semua yang kau mau aku tak bisa."
Ada pancaran sendih juga kosong dari tatapan mata sayunya menatap jam di tangannya.
Seketika itu aku tanpa sadar bicara dengan tenang menyentuh tangannya.
"Tak apa tapi, bisakah kau pulang ke rumahmu aku yakin kau hanya bercanda dan kau menipuku ku yakin kau itu penipu, Aahk.. sial hampir aku tertipu. Sekarang pulang lah dan keluar dari rumahku," ucapku menggebu marah.
Aku mengusirnya dan membiarkannya di luar aku yakin dia hanya orang asing yang masuk ke dalam rumahku.
*
Di pagi hari ini aku terbangun dengan segar dan rasa yang lega aku melakukan rutinitas untuk segera berangkat membuka toko barang antik milik kakek ku.
Oiya masalah jam itu aku menemukannya di salah satu kotak buku besar dengan tulisan bahasa asing dan jam itu ada didalam salah satu bukunya. Karena penasaran aku mengambilnya.
Tunggu aku terlambat!
Segera aku menggunakan sepatu sarapan sambil memakai sepatu lalu keluar seketika aku keluar.
"Aaa..." Aku kaget melihat lelaki ini masih berdiri didepan pintu kosan dengan wajah sedihnya dan tampannya. Apa ia tidak tidur sama sekali.
Oh ayolah aku jadi merasa bersalah padanya.
Aku berjalan kaku melewati jalan trotoar bersama lelaki ini dan meneraktirnya sarapan sepanjang jalan Ia hanya diam saja dan makan dengan tenang sambil melihat kesekeliling.
Aku malu sebenarnya tapi, apa boleh buat kasihan juga kalo aku taruh kosan kalo aku taruh kosan juga pasti aku akan mendapat masalah.
Sampai di toko barang antik aku melangkah masuk dan mulai membuka toko aku meminta Andreans duduk di kursi sebelah sana.
*
Hari Ke tiga Ia masih membuntutiku mengikuti kesehharianku juga setiap harinya aku suruh Ia tidur diluar tapi, ia biasa saja dan tak sakit.
Aku menariknya dan mengajaknya ke belakang setelah menutup toko.
"Sekarang bagaimana aku harus mengatakannya, Kau dimana rumah kau pasti punya rumahkan?"
"Tidak aku tidak tahu."
"Orang yang kau kenal?"
"Kau saja."
"Bukan Aku Andreans tapi, keluarga kerabat kenalan atau lainnya," ucapku kesal sekali Ia tak mengerti.
Ia menggeleng aku jadi kasihan.
Seketika jam dinding berdetak menunjukan pukul sepuluh malam tepat aku mengajaknya keluar seketika aku menoleh aku tak melihatnya dimanapun.
"Loh.. dimana kau Andreans," ucapku aku mencarinya ke seluruh toko hingga aku menginap di toko dan pulang kerumah aku tak menemukannya.
Aku kembali lagi ke toko seketika aku tak sengaja menginjak jam itu dan ketika aku masuk toko sudah ada kakek disana tersenyum ke arahku.
"Kau datang siang sekali kebetulan aku sedang ingin buka toko kau malah tak ada aku ingin menemanimu tadi," ucap kakek pada ku.
Aku mendekat dan memperlihatkan jam ini pada Kakek.
Seketika Kakek tersenyum.
"Kau bertemu dengan Andreans." Kata kakeku dengan senyum anehnya aku jadi geli.
"Iya... tapi, kok kakek tahu?" Kata ku heran.
"Kau mencarinya?" Kata kakek lagi membuatku mengangguk dan semakin penasaran aku mendekat.
"Sekarang tunggulah malam ini ia mungkin akan berpamitan padamu," ucap kakekku dengan tenang.
Sungguhan malam ini aku menunggunya sampai pukul sepuluh lebih aku menunggunya seketika aku mengantuk aku melihat jam ini bergerak berdetak dan terlihat sebuah pasir emas keluar dari dalamnya dan membentuk sebuah sosok orang lelaki yang tampan dan itu adalah Andreans.
"Selamat malam Elina Louisy." Suaranya sangat familiar dan itu adalah Andreans aku langsung bahagia meluapkan dengan melompat memeluknya dan aku juga mengeratkan pelukanku.
"Kau kemana saja kau, aku mencarimu kukira kau pergi kau mati atau kau sakit tapi, kau tidak bilang dengan benar jika kau punya saudara atau kenalan." Aku menghentikan ucapanku dan menatapnya sadar terlalu dekat jaraknya aku mundur dan terkekeh sambil mengusap air mataku.
"Maafkan aku karena membuatmu susah, Elina tapi, aku harus jujur padamu, kau sebenarnya orang baik aku sangat tak nyaman aku ini bukanlah manusia kau seharusnya tak perlu sekhawatir itu padaku, Aku ini juga tak..."
"Maaf aku yang harusnya minta maaf Andreans aku membuatmu di luar setiap hari maafkan aku."
Andreans menggeleng dengan mata menatapku dalam dalam aku merasakan jika ia akan mengatakan sesuatu yang aneh.
"Kau mau pergi lagi?" Aku menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus penasaran.
Ia mengangguk.
"Maaf aku harus pergi dan aku tak akan kembali aku berterimakasih karena aku membebaskan ku dan mengajariku tentang dunia baru tapi, kau pasti memiliki rasa bahagia jika tanpa aku didekatmu jadi aku harus pergi," ucapan aneh Andreans membuatku kesal sendiri kenapa kenapa ia mengatakan itu aku kesal.
"Aku bilang jangan pergi tetaplah disini," ucapku memohon dengan menangis memegang kedua tangannya tapi tepat jam dua belas malam dan suara dingdong itu berbunyi Andreans menghilang di hadapanku dan bersamaan jam pasir itu juga.
Aku menyedihkan aku yang salah kenapa Ia yang pergi. Aku aneh kenapa Ia yang selalu meminta maaf padaku setiap hari.
Aku mengajaknya bertengkar Ia yang minta maaf sekarang tak ada Ia kemarin dan sekarang aku merasa kehilangan dan sepi.
Tiga hari waktu yang panjang untuk memintanya segera pergi tapi ketika Ia pergi rasanya baru detik itu juga Ia datang dan sekarang tak ada.
Aku merasakan jika aku sudah sangat nyaman dengannya.
*
Setahun kemudian aku melangkahkan kaki pergi ke pelelangan barang antik bersama kakekku.
Ketika aku ada di dek kapal pesiar yang ramai aku sendirian.
Aku bosan dengan acara itu biarlah kakekku yang aneh mengikuti acara itu.
Seketika aku terkejut ketika seorang lelaki mendekat dan memberikan mantelnya padaku.
"Di luar sangat dingin Lady kau seharunya menggunakan pakaian tebal jika ingin berdiri lama di dek kapal ini," ucapannya dengan suara yang sangat aku kenal.
Aku awalanya terkejut tapi, ketika aku melihat wajahnya dan seketika tatapanku turun ke tangannya yang memegang jam arloji itu.
"Andreans?"
"Ya."