Alexia terbangun dari ketidaksadarannya selama lima hari. Ia melihat kesegala arah dengan expresi wajah yang begitu datar. Alexia duduk termenung di atas ranjang yang berukuran king size. Memikirkan kenapa ia berada di sini, di sebuah kamar mewah yang didominasi warna putih dengan aksen-aksen berwarna gold.
" Di mana aku? " gumam Alexia. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh kecilnya dengan cepat.
" Ahhh... Sakit" keluhnya. Ada rasa nyeri yang menjalar dari pundak sampai ke tangannya. Ia memeriksa lengannya, ada luka berbentuk tiga garis yang masih terlihat dalam.
" Luka apa ini? " Alexia bertanya pada dirinya sendiri dan berusaha mengingat kejadian apa yang menimpanya.
Tok... Tok.. Tok...
Alexia tersentak, ketukan pintu itu membuyarkan lamunanya. Dilihatnya seorang perempuan tua masuk ke kamar, dengan membawakan sebuah dress dengan model yang simpel, berwarna biru soft, dan terdapat renda yang mengiasi pinggiran tepi lengannya.
" Anda sudah bangun Nona? " tanya perempuan itu.
Alexia masih berdiam diri, karena ia masih berkutat dengan fikirannya.
" Perkenalkan nama saya Isabella, Nona " ucapnya sambil membungkuk kepalanya.
Alexia mengganggukkan kepalanya perlahan.
" Bersiaplah Nona, Tuan menunggu anda diruang makan "
" Tuan? " tanya Alexia.
" Ya Tuan Eldric, dia yang telah menolong anda dengan membawa anda ke sini Nona "
Alexia meminta penjelasan kenapa ia bisa berada disini. Isabella menjelaskan bahwa ia ditemukan di tengah hutan dalam keadaan sekarat dan hampir saja jadi santapan serigala. Alexia mencerna apa yang Isabella jelaskan dengan memutar ulang memorinya.
Flashback
Claudia memasuki kamarnya dengan membawakan susu hangat untuk dirinya. Claudia adalah ibu sambung Alexia, yang sudah tiga tahun ia menyandang status istri ayahnya. Alexia meminumnya tanpa ada rasa curiga namun setelah ia meminum susu yang diberikan ibunya, Alexia terjatuh dan tak sadarkan diri.
" Nona.. " Isabella menepuk lenganya dengan pelan.
" Ya... " Alexia menjawab.
" Segeralah bersiap, Tuan Eldric tidak suka menunggu lama " Isabella meninggalkannya pergi menuju kamar mandi, Alexia segera menyusulnya.
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
" Nona cepatlah " Alexia mempercepat langkahnya, mengekor Isabella yang berada tepat di depannya. Kini ia berada di ruangan yang terdapat sebuah meja makan berukuran besar yang sudah tersedia berbagai menu makanan yang menggugah seleranya.
" Kruuukk " Perut Alexia berbunyi, dan ia menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan menahan aroma makan yang ada di depannya.
" Eghm " Suara deheman menganggetkannya.
Pandangan Alexia beralih ke arah sumber suara itu. Ia melebarkan maniknya, tepat di ujung sana ada pria tampan yang menatapnya dengan mata elangnya. Maniknya berwarna hijau, postur tubuh sangat tinggi, memiliki dada bidang, dan rahang yang begitu keras yang ditumbuhi bulu-bulu halus di dagunya.
" Astaga, pria itu tampan sekali " gumam Alexia.
" Nona " Isabella menyadarkan lamunannya. " Silahkan duduk " Isabell menggeser kursi makan untuk Alexia duduk. Tanpa ada suara Alexia menuruti perintah dari Isabella.
" Isabella "
" Ya Tuan "
" Tolong ajarkan dia, mana yang boleh ia lakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sepertinya gadis ini sangat ceroboh " Perintah Eldric kepada Isabella.
" Apa?? Barusan dia bilang aku apa?? Gadis ceroboh " gumam Alexia.
" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat makan Tuan Eldric, dan Nona Alexia " Isabella membungkukkan punggungnya dan pergi meninggal mereka berdua.
"Kenapa dia bisa tahu namaku? Apakah dia seorang penyihir? " Alexia bergidik ngeri.
" Makanlah! Sesudah itu temui Isabella. Dia akan mengajarmu apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh kamu lakukan. Kau mengerti?
" Mengerti Tuan " jawab Alexia.
Mereka berdua menyantap makanannya masing-masing. Tidak ada obrolan, hanya ada suara dentingan sendok serta garpu yang berbunyi.
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
Sudah hampir tiga minggu ia berada di sini, hari-hari yang ia lewati di sini begitu tidak menyenangkan. Ia keluar kastil berkeliling di taman belakang. Di lihatnya ada sebuah pohon apel yang tumbuh begitu subur dan membuatnya tergiur untuk mencicipi buahnya. Ia mencoba melompat, untuk meraih apel itu. Namun usahanya sia-sia.
" Ya, aku akan terus melompat sampai apel itu berada di genggamanku " ucap Alexia dengan tekad yang bulat.
" Astaga, ini sulit sekali " Alexia terus melompat dengan rasa kesalnya. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pinggang kecilnya dan mengangkatnya.
"Eeeeeh " Alexia tersentak. "Ambilah " perintah seorang itu.
Alexia memetik 1 buah apel, lalu pria itu menurunkan tubuh Alexia perlahan. Alexia membalikan tubuhnya, dadanya berdesir hebat saat Alexia menatap wajah seseorang yang menolongnya.
" Tuan "
Eldric terdiam, ia membalas tatapan Alexia dengan tatapan dingin. Alexia memundurkan langkahnya perlahan.
" Terimakasih Tuan " Alexia menetralisir degupan jantungnya.
Eldric membalikan badan dan meninggalkan Alexia disana. Dengan sadar, Alexia melihat noda darah yang tercetak jelas di pakaian Eldric. Alexia mengikuti Elderic dengan langkah cepat.
" Tuan berhenti " cegah Alexia yang kini berada tepat didepannya. Eldric menghentikan langkahnya.
" Tuan, bolehkah aku mengobati luka yang ada dipunggungmu? "
Eldric mengangguk, kini Alexia berjalan beriringan dengan Eldric menuju kastil dan memasuki kamar yang ditempati Eldric.
Sesampainya di sana, Eldric memberikan racikan obat yang terbuat dari dedaunan dan membuka bajunya dengan cepat.
" Ya.. Tuhan, tubuhnya sangat sexi " gumam Alexia. Matanya terus menatap punggung kokoh yang dimiliki Eldric. Dengan segala keberanian, ia mengoleskan obat-obatan ke luka yang ada di punggung Eldric dengan pelan.
Jemari lentik yang dimiliki Alexia, berhasil membuat tubuh Eldric menegang. Ada perasaan yang tidak biasa yang berhasil menyelusup ke relung hatinya.
" Selesai " Mereka saling diam tidak ada kata terimakasih yang terucap dari bibir Eldric.
" Tuan... " Alexia memberanikan diri untuk membuka obrolan diantara mereka.
" Ya.. " jawab Eldric singkat.
" Ketika anda pergi ke kota, bolehkah aku ikut serta? "
" Kau ingin menemui siapa?" tanya Eldric.
" Ayahku " jawab Alexia. " Pasti beliau mengkhawatirkanku "
" Ayahmu sudah tidak ada Alexia "
Alexia melebarkan matanya tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar.
" Hahaha, lelucon apa ini Tuan? "
" Aku akan menunjukkan sesuatu, tapi apa kamu siap? "
" Apa? "
Eldric mengajak Alexia ke sebuah ruangan rahasia yang terdapat di kamar Eldric. Ruangan itu gelap, dan pengap.
Eldric memberhentikan kakinya, dan membuka penutup yang menutupi cermin.
" Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi Alexia, Apa kamu siap melihat apa yang dilakukan ibu sambungmu kepada ayahmu? "
Alexia mengiyakan pertanyaan yang diberikan Eldric. Eldric memejamkan matanya. Tiba-tiba cermin itu menggambarkan peristiwa yang dialami ayahnya. Alexia menyaksikan itu tubuhnya bergetar hebat, kakinya terasa lemas, ia membenamkan kepalanya ke tubuh Eldric yang tepat berada di sampingnya.
" Tolong hentikan Tuan " Tak kuasa ia menahan kesedihannya, suara isak tangis Alexia keluar dari bibirnya. Ia menangis sejadi-sejadinya dalam dekapan Eldric.
" Aku bisa membalaskan apa yang dilakukan ibu sambungmu. "
Alexia mengendurkan pelukannya, kemudian ia menatap Eldric.
" Tapi dengan satu syarat. "
" Apa itu Tuan? "
" Menikahlah denganku ".
Tanpa ada keraguan, Alexia menganggukkan kepalanya.
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
10 Hari berlalu, Eldric balik ke kastilnya dengan membawa kabar bahwa ibu sambung Alexia sudah mati di tangannya. Eldric membawa sisa potongan kain, yang bernodakan darah Claudia. Hal itu membuat Alexia tambah percaya apa yang di ucapkan Eldric.
Perputaran waktu terasa cepat, hari-hari yang dilewati mereka menimbulkan benih- benih cinta di hati mereka.
Hari ini adalah hari tepat bulan purnama akan muncul, mereka akan melangsungkan pernikahan disaksikan bulan besar yang begitu indah.
Eldric meminum sebuah ramuan yang ada di lemarinya, bulu-bulu yang berada ditubuhnya tiba-tiba menghilang. Tanpa ia sadari, Alexia menyaksikan itu semua. Alexia mematung dengan degupan jantungnya yang berdetak kuat, rasa takut benar-benar menguasai dirinya. Nampan yang berisi minuman, terjatuh dan meninggalkan bunyi pecahan gelas yang menghantam ubin.
Eldric dengan langkah tegas, mendekati Alexia dan mendempetkan badan Alexia ke dinding. Alexia takut bukan main, bagaimana mungkin seorang yang ia cintai ternyata seorang siluman.
" Kenapa kau masuk tanpa izin Alexia!!! " Bentak Eldric.
Alexia menelan ludahnya dengan susah payah, hatinya berdenyut sakit.
" Ma.. Maaf " jawab Alexia dengan tergagap.
Alexia tertunduk lemas, air matanya menetes dengan sendirinya. Eldric mengangkat dagu Alexia, ia menatap mata indah kekasihnya dan amarah yang menguasai dirinya meluluh.
" Apakah kau melihat semua? " tanya Eldric. Alexia terdiam seribu bahasa. Eldric memegang pundak Alexia dengan kencang.
" Apakah kau takut?" Alexia masih bergeming.
" Tolong jawab aku Alexia? Apakah kau takut? "
Alexia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
" Tolong lepaskan aku Tuan" Eldric menurunkan tangannya.
" Pergilah Alexia " Nada suara Eldric yang penuh dengan kekecewaan.
" Dan jangan pernah kembali lagi, aku harap kamu tidak akan menyesal "
Alexia benar- benar meninggalkan Eldric. Tanpa menoleh lagi ke arah kekasihnya itu. Eldric melemparkan barang -barang yang berada di kamarnya dan berteriak sekencang-kencangnya.
❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
Sudah 7 hari, Eldric terbaring lemah di ranjangnya. Ramuan untuk ia bertahan hidup, sudah habis tak tersisa. Suhu badannya panas, dan wajahnya sangat pucat. Bulu yang tumbuh di tubuh semakin banyak. Bahkan wajah tampan yang dimilikinya sudah tidak terlihat.
Melihat kondisi Tuannya memburuk, dengan berat hati Isabella meninggalkannya dan pergi ke kota secara diam-diam untuk menemui Alexia.
Perjalanan Isabella ke kota sangatlah cepat, hanya butuh 12 jam ia sudah sampai di sana.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia mudah mengetahui gadis itu berada. Kini ia berdiri tepat di depan rumah Alexia. Ia melihat Alexia yang sedang berdiam diri di depan teras rumahnya. Ia memasuki gerbang dan melajukan kakinya dengan cepat.
" Nona Alexia " Isabella memanggilnya. Lamunan Alexia kabur dan mendapati wanita paruh baya yang begitu ia kenal dihadapannya.
"Isabella... Kenapa kau ada di sini? "
" Tuan membutuhkanmu Nona ". Alexia menerjapkan matanya dengan perlahan.
" Apa terjadi sesuatu dengan Eldric?" Terlihat ada kecemasan di wajahnya.
" Tuan Eldric, sekarat Nona "
" Maksudmu? " Alexia bertanya.
" Hanya ketulusan cinta dari Nona yang bisa menyelamatkannya. "
" Ku mohon Nona, ikutlah balik ke kastil dengan ku, tepat pertengahan malam bulan purnama ke dua tuan akan hilang selama-lamanya bersama sihirnya."
" Aku tidak mengerti ".
Isabella menceritakan kisah singkat apa yang terjadi dengan tuannya. Eldric terkena kutukan dari penyihir beberapa puluhan tahun lalu karena sifat arogan yang dimilikinya. Dan hanya cinta sejati yang bisa menghapus kutukan itu. Alexia berusaha memahami apa yang dijelaskan oleh Isabella.
" Aku akan ikut denganmu Isabella " .
Isabella membawa Alexia balik ke kastil yang tepat berada di hutan. Waktu berganti dengan cepat, malam yang gelap mempersulit mereka untuk sampai ke sana. Dengan bermodalkan lampu minyak, mereka banyak melewati berbagai rintangan. Bahkan kawanan serigala sempat menghadang perjalanan mereka. Dengan kekuatan Isabella mereka bisa melawan kawanan serigala tersebut.
Waktu hampir mendekati pertengahan malam, dan sampailah mereka di kastil. Kondisi kastil berubah menggelap bahkan tanaman yang indah menghias taman terlihat kering.
" Cepatlah berlari Nona, Tuan ada di kamarnya ".
Dengan kekuatan yang tersisa, Alexia berlari untuk menemui kekasihnya.
Brak
Pintu kamar terbuka, Alexia menyaksikan sendiri kekasihnya tergelak lemas. Tubuhnya yang sering ia puji, sudah benar-benar tertutup oleh bulu-bulu serigala. Rasa ketakutanya hilang, karena perasaan rindunya yang membuncah.
Ia mendekati Eldric, dan duduk tepat di sisinya. Jemarinya mengelus kepala Eldric, buliran air matanya terjatuh.
Teng
Suara jam menunjukan pukul 12 malam. Dengan cepat, Alexia membenamkan bibirnya ke bibir Eldric. Ia mencium kekasihnya dengan penuh air mata.
Seketika cahaya keluar dari tubuh Eldric, bulu-bulu yang berada di permukaan kulitnya menghilang perlahan. Alexia melihat wajah kekasihnya, berharap kekasihnya segera bangun. Kemudian ia mengangkat kepala Eldric dan memindahkan ke atas pangkuannya.
"Kenapa kau belum sadar juga? " Rasa ketakutan kini hadir lagi. Ia takut kehilangan lagi orang yang ia cintai.
" Bangunlah Eldric, kalau kau tidak bangun aku bersumpah akan menemuimu di akhirat nanti dan menghukummu ".
Alexia menepuk pipi Eldric. Tidak ada respon sama sekali dari kekasihnya. Kini ia menangis sejadi-jadinya, benar apa yang saat Eldric bilang saat itu, ia menyesal dengan pilihannya.
" Bangunlah Eldric, aku mencintaimu ".
Alexia memeluk erat tubuh kekasihnya, air matanya terus mengalir begitu deras. Hembusan nafasnya tidak beraturan dan hatinya terasa begitu sakit.
Jari-jari Eldric bergerak, dengan gerakan perlahan ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi Alexia yang terasa lembab.
Merasakan pipinya menghangat, Alexia mengurangi pelukannya dan melihat wajah Eldric tengah menatapnya dengan senyuman yang menghias wajahnya.
" Aku juga mencintaimu Alexia ".
✯¸.•´*¨`*•✿ END ✿•*`¨*`•.¸✯